
Malam sudah mulai turun. Kegelapan pun pelahan-lahan mulai menyelimuti bumi. Nyanyian binatang malam mulai terdengar bersahutan, seolah-olah mengucapkan selamat datang kepada sang malam.
Pada saat itu Panji tengah duduk berhadapan dengan gurunya, Eyang Tirta Yasa alias si Malaikat Petir di sebuah ruangan yang cukup besar tapi hanya diterangi lampu minyak yang bergoyang-goyang tertiup angin malam.
"Cucuku," ucap Eyang Tirta Yasa, memecah keheningan malam.
"Eyang rasa, sudah saatnya kau kuwarisi ilmu-ilmu kesaktian yang tinggi. Karena Eyang lihat, kau sudah cukup mampu untuk menerimanya. Namun, Eyang tidak akan menurunkan ilmu 'Telapak Tangan Petir. Ilmu yang akan Eyang turunkan nanti adalah ilmu ciptaan Eyang Selama tiga puluh tahun belakangan ini," ujarnya lembut.
"Eyang, bagi saya hal itu bukanlah persoalan. Sebab saya percaya bahwa semua yang Eyang turunkan adalah yang terbaik buat saya!" sahut Panji penuh hormat.
"Benar, Cucuku! Ilmu 'Naga Sakti', yang belakangan ini Eyang ciptakan rasanya lebih cocok untukmu!"
"Terima kasih, Eyang! Sungguh besar sekali budi Eyang kepada saya. Entah dengan cara apa, saya bisa membalasnya!" Ucap Panji dengan kepala tertunduk. Dadanya terasa sesak, karena menahan rasa haru yang dalam.
"Berjanjilah untuk berlatih sungguh-sungguh, Cucuku! Dengan begitu berarti engkau sudah membalasnya!" Jawab si Malaikat Petir bijaksana. Wajahnya kelihatan bersungguh-sungguh.
"Saya berjanji! Dan saya akan selalu mengingat segala nasihat Eyang!" jawab Panji mantap. Dari matanya terpancar semangat yang membaja.
Dan pada keesokan harinya, Eyang Tirta Yasa pun telah mulai menurunkan ilmu-ilmu tingkat tinggi kepada Panji. Dengan penuh kesabaran orang tua sakti itu memberikan petunjuk-petunjuk tentang ilmu 'Naga Sakti', yang merupakan ilmu terdahsyat yang telah diciptakan selama dalam pengasingannya.
Selain ilmu itu, juga ada beberapa ilmu lainnya. Seperti ilmu 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'. Ilmu yang disebutkan terakhir inilah yang berguna untuk menunjang penggunaan ilmu 'Naga Sakti'.
Dengan semangat yang tinggi dan penuh kesungguhan, Panji melatih ilmu-ilmu itu tanpa mengenal lelah. Tidak peduli pagi, siang ataupun malam. Setiap kesempatan yang sedikit saja selalu dipergunakannya untuk bertatih.
*
Waktu berlalu demikian cepat. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan pun berganti tahun. Tahun ini, genap sudah tahun kelima, semenjak Eyang Tirta Yasa menurunkan ilmu-ilmu ciptaannya kepada Panji. Itu berarti usia Panji kini kira-kira delapan belas tahun.
__ADS_1
Sementara, pagi ini suasana di sekitar Bukit Goa Harimau yang dingin mendadak menjadi gelap. Sinar matahari terhalang oleh awan hitam. Nampaknya, tidak akan lama lagi hujan akan segera turun! Angin dingin bertiup keras. Pohon-pohon besar bergoyang-goyang dengan kuatnya, bahkan sampai menimbulkan suara berderak. Pelahan-lahan titik air mulai nampak sering jatuh ke bumi. Sesekali terseling gelegar halilintar yang bersahut-sahutan memekakkan telinga. Hujan pun turun dengan derasnya.
Di tengah-tengah derasnya air hujan, nampak sebentuk sinar berwarna putih keperakan bergulung-gulung bagaikan seekor naga tengah bermain-main di angkasa. Gulungan sinar itu bergerak secara bergelombang turun naik dengan cepatnya, sehingga menimbulkan angin yang menderu-deru. Sinar itu ternyata berasal dari sebilah pedang yang dikelebatkan oleh seorang pemuda remaja, yang berusia delapan belas tahun. Desiran angin pedang itu mengaung dahsyat di antara kilatan petir yang menggelegar di angkasa. Sungguh sebuah ilmu pedang sangat dahsyat!
Pemuda tampan yang rambutnya telah mencapai bahu itu, jelas adalah Panji! Gerakan-gerakan pedangnya hebat bukan main! Benar-benar mirip dengan gerakan seekor naga! Kecepatannya laksana kilat yang menyambar-nyambar di angkasa raya. Dan yang lebih hebat lagi, tak ada setetes air hujan pun yang membasahi tubuhnya! Tidak salah lagi, ilmu pedang yang sedang dimainkan Panji adalah 'Ilmu Pedang Naga Sakti'. Sebuah ilmu pe-dang yang diambil dari ilmu tangan kosong 'Naga Sakti'. Dan inilah salah satu keistimewaan ilmu 'Naga Sakti' yang diwariskan si Malaikat Petir. Ilmu itu dapat dimainkan dengan tangan kosong maupun dengan pedang!
Kini, Panji telah menutup latihan iimu silat pedangnya. Dililitkan pedangnya di pinggang. Ternyata pedang itu sangat tipis dan lemas, sehingga dapat dijadikan ikat pinggang! Sebuah pedang pusaka yang hebat. Dan jarang dimiliki oleh tokoh-tokoh dunia persilatan.
Baru saja Panji menyimpan pedangnya, ia pun segera menggeser kakinya, membentuk kuda-kuda dalam posisi menunggang kuda. Sementara kedua tangannya saling bersilang didepan dada, dengan jari-jari tangan membentuk cakar naga. Tangan kanan terjulur ke samping kiri depan, sedangkan tangan kiri terjulur ke samping kanan depan. Dengan satu teriakan nyaring, pemuda itu menggeser kaki kanannya ke samping, dibarengi dengan gerakan tubuhnya yang meliuk-liuk mirip seekor naga. Inilah awal dari jurus 'Naga Sakti'.
Disertai pengerahan ilmu 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan', Panji segera memainkan ilmu 'Naga Sakti'. Perlahan namun pasti di sekujur tubuhnya diselimuti sinar putih keperakan. Dan hawa yang dingin mulai menyebar di sekitar Panji. Kemudian Panji mulai bergerak. Akibatnya, sungguh luar biasa! Setiap gerakan tangan dan kakinya menimbulkan satu gelombang tenaga yang dahsyat! Pohon-pohon di sekitarnya bergetaran kuat sehingga daun-daunnya berguguran jatuh ke bumi. Padahal pohon-pohon itu terpisah kurang lebih tiga tombak dari tubuh Panji. Dapat dibayangkan, betapa dahsyatnya tenaga sakti pemuda tampan yang memiliki mata tajam itu.
Tak lama kemudian, tubuh pemuda itu melenting ke udara dibarengi teriakan yang mengguntur. Tubuhnya berputar beberapa kali di udara, lalu mendarat dengan manis di depan sebatang pohon yang berukuran dua pelukan orang dewasa. Jarak antara tubuh pemuda itu dengan pohon, sekitar tiga batang tombak. Dengan posisi kuda-kuda silang, tangan kanannya memukul ke depan. Sementara telapak tangan kirinya yang terbuka, berada di bawah tangan kanan. Rentetan angin tajam menderu ke arah pohon besar itu.
Wusss!
Terdengar suara berderak keras ketika pohon besar itu terangkat berikut akar-akarnya dan patah menjadi tiga bagian!
Bukan main hebatnya akibat yang ditimbulkan oleh pukulan itu. Panji masih berdiri termangu, ketika melihat kedahsyatan hasil pukulannya itu. Napasnya agak sedikit terengah-engah karena tenaganya dikerahkan hampir seluruhnya.
"Bagus..., bagus, Cucuku! Tenaga dalammu, sudah cukup sempurna!"
Tiba-tiba saja di tempat itu telah berdiri seorang kakek tua yang tidak lain adalah Eyang Tirta Yasa. Kakek sakti itu gembira sekali karena usahanya dalam mendidik Panji selama sepuluh tahun ini tidak sia-sia.
"Oh! Eyang!" Seru Panji terkejut.
"Sungguh saya tidak mendengar langkah kaki Eyang," ujarnya heran.
__ADS_1
"Ha ha ha....Tentu saja engkau tidak mendengarnya, Cucuku! Karena Eyang sudah berada di sini semenjak engkau memainkan 'Ilmu Pedang Naga Sakti' tadi!" Jawab Eyang Tirta Yasa tenang.
"Oh...!" Panji menjadi sedikit terhibur mendengar jawaban yang diberikan oleh gurunya itu.
Sementara, hujan sudah mulai reda. Dan matahari pun mulai memancarkan sinarnya ke seluruh Puncak Bukit Goa Harimau. Kabut sudah mulai lenyap, tersaput oleh kehangatan sinar matahari. Tidak lama kemudian, Panji dan Eyang Tirta Yasa melangkah meninggalkan tem-pat itu. Mereka terus melangkah, menuju pondok yang terletak di tengah puncak Bukit Goa Harimau.
Akhir-akhir ini, Panji merasa heran melihat sikap gurunya yang tampak lain dari biasanya. Dia merasa kakek itu, seperti menyimpan sesuatu. Panji terus mengikuti langkah kaki gurunya hingga ke dalam pondok.
Eyang Tirta Yasa meneruskan langkahnya ke ruang tengah, yang biasa digunakan untuk pertemuan mereka. Panji segera mengambil tempat duduk di hadapan gurunya. Setelah terdiam sejenak, Eyang Tirta Yasa mulai membuka percakapan.
"Cucuku...," suara Eyang Tirta Yasa terdengar bergetar. Seolah merasa berat dengan apa yang diutarakannya itu.
"Hari ini, genap sudah sepuluh tahun kau tinggal bersama Eyang. Dan semua kepandaian Eyang telah diturunkan kepadamu, hingga tidak ada lagi yang dapat Eyang turunkan padamu! Rasanya sudah waktunya engkau turun ke dunia ramai untuk membasmi kejahatan yang akhir-akhir ini merajalela!"
"Tapi, Eyang.... Ini..., ini," Panji tak mampu meneruskan ucapannya. la terharu sekali dengan kebaikan dan kasih sayang yang dilimpahkan gurunya selama ini.
"Sudahlah, Cucuku! Esok sebelum matahari terbit, kau sudah harus berangkat!" Ujar Eyang Tirta Yasa tegas.
Panji membisu Rasanya memang berat untuk meninggalkan orang tua itu sendirian di sini. Tapi mengingat bahwa kejahatan telah merajalela, maka pemuda itu harus melaksanakan tugas yang diberikan gurunya itu.
"Nah! Sekarang, Eyang akan bersemadi dan tidak ingin diganggu lagi!" Ujar Eyang Tirta Yasa sambil melangkah meninggalkan Panji yang duduk termangu itu.
Beberapa saat kemudian, Panji tersadar dan segera berlari. Dikejar gurunya itu, dan langsung bersimpuh di hadapan orang tua sakti itu.
"Eyang...," ucapnya serak, sambil memeluk kedua kaki Eyang Tirta Yasa.
Setelah mengusap kepala Panji, Eyang Tirta Yasa bergegas meninggalkan tempat mondoknya. la tidak ingin menunjukkan kesedihannya yang malah akan memberatkan langkah muridnya nanti.
__ADS_1