
Paksi Buana terkejut melihat serangan yang tidak disangka-sangka itu. Untunglah pada saat yang gawat Itu, sebuah bayangan melesat dari sebelah kirinya memapak serangan Sudra yang cepat dan ganas itu. Ternyata dia adalah Soga, si murid utama Padepokan Naga Terbang.
Plakkk!
Terdengar letupan kecil di udara, menandai pertemuan dua tenaga dalam yang tersalur melalui telapak tangan keduanya.
Kedua orang itu terdorong mundur beberapa langkah, sambil memegangi tangan yang terasa nyeri. Ternyata dalam adu tenaga tadi, kekuatan keduanya berimbang.
Sudra dan Soga kembali tegak berhadapan, seolah-olah mengukur kepandaian masing-masing. Dibarengi satu teriakan dahsyat, Soga menerjang lawannya. Tangan kanannya yang terkepal, meluncur deras ke ulu hati Sudra, sedangkan tangan kirinya dengan jari-jari terbuka meluncur ke arah tenggorokan lawan. Kali ini Soga mengerahkan tenaga sepenuhnya, karena tidak ingin serangannya gagal.
Namun, lawan yang dihadapinya bukanlah tokoh sembarangan. Sudra adalah salah seorang gembong kaum sesat. Kepandaiannya memang tidak dapat dipandang ringan. Kedua serangan itu dengan mudah dielakkan Sudra. Dia hanya menggeser kaki kanannya dan langsung membalas serangan itu tidak kalah ganasnya. Kini keduanya saling serang dengan jurus-jurus berbahaya dan mematikan!
Sementara itu, melihat salah seorang pemimpinnya telah terlibat dalam satu pertempuran, Cakar Maut segera memberikan isyarat kepada para bawahannya. Dan mereka pun segera menerjang ke arah murid-murid Paksi Buana, yang masih menanti perintah dari gurunya itu.
Karena pertarungan tak mungkin dapat dihindari lagi, Paksi Buana pun segera menggerakkan tangannya ke depan. Tanpa menunggu dua kali, para murid Padepokan Naga Terbang segera berlari menyongsong kedatangan musuh. Kembali pertempuran terjadi. Kali Ini dalam jumlah yang banyak.
Suara pekik dan jerit pertempuran membahana membelah angkasa, ditimpali dengan denting senjata beradu. Pedang-pedang dan golok-golok, berkelebatan mencari sasaran. Bunga-bunga-api akibat senjata beradu, memercik ke mana-mana.
Sementara malam semakin larut, namun sang dewi malam enggan memancarkan keindahan sinarnya. Angin dingin pun berhembus keras, seakan-akan ingin melerai pertarungan berdarah itu. Bintang pun nampaknya Ikut larut dalam kegundahan tersebut.
Badra yang melihat jalannya pertarungan, menjadi gatal tangannya. Dia segera menoleh ke arah Paksi Buana, yang juga sedang termenung menyaksikan pertempuran itu. Laki-laki berjubah coklat dan berjuluk Iblis Cambuk Api itu segera melesat ke arah Paksi Buana. Dengan sebuah teriakan yang mengguntur, segera diterjangnya Paksi Buana dengan serangan beruntun.
Tentu saja Paksi Buana tidak mungkin membiarkan tubuhnya jadi sasaran pukulan. Dengan gerakan yang sangat indah, digeser kedua kakinya guna menghindarkan serangan itu. Kini dia pun tak ingin sungkan-sungkan lagi. Dipersiapkannya jurus-jurus terampuhnya untuk menghadapi Badra. Keduanya pun kini segera terlibat dalam pertarungan sengit.
Badra adalah orang kedua dari Tiga Iblis Gunung Tandur. Namanya pun sudah terkenal dalam dunia persilatan. Maka sulit untuk mengukur tingkat kepandaiannya. Begitupun sebaliknya. Paksi Buana adalah seorang pendekar digdaya yang tidak kalah terkenalnya dibanding dengan Tiga Iblis Gunung Tandur. Malah dalam dunia persilatan, julukannya yang bernama Naga Sakti, sangatlah disegani kawan maupun lawan. Dan nama besar itu diukirnya sepuluh tahun yang lalu.
Maka dapatlah dibayangkan, betapa hebatnya pertempuran kedua tokoh itu. Keduanya sama-sama tangguh dan gesit. Dalam waktu singkat telah sepuluh jurus dilalui. Meskipun demikian, sampai sejauh ini belum dapat dipastikan, siapa yang akan memenangkan pertarungan itu.
__ADS_1
Di arena yang lain, Soga tampak mulai terdesak. Serangan-serangan Sudra, semakin lama semakin ganas. Hingga menutup ruang gerak murid utama Padepokan Naga Terbang ini. Tidak disangkanya kalau kepandaian lawan demikian hebat. Gerakan-gerakannya penuh gerak tipu yang sangat mengejutkan.
Menyadari keadaannya yang berbahaya Itu, Soga segera mempersiapkan jurus andalannya. Dengan satu bentakan keras, Soga segera merubah gerakannya. Kedua telapak tangannya menegang kaku berbentuk cakar. Gerakannya cepat dan saling mendahului hingga menimbulkan angin tajam.
"He he he... Ayo! Keluarkan seluruh kepandaianmu, ku nyuk! Sebelum kubeset kulit tubuhmu!" Sudra tertawa terkekeh, ketika melihat Soga telah mengeluarkan jurus andalan perguruannya. Eje kannya memang membuat panas telinga lawannya.
Dengan tidak kalah garangnya, Sudra pun segera memapaki serangan Soga. Tanpa ragu-ragu lagi ia mengeluarkan jurus pamungkasnya. Terdengar suara mengaung kerika Sudra mendorongkan kedua tangannya menyam-but serangan telapak tangan Soga.
Wusss!
Bham!
"Akh...!"
Tubuh Soga terlempar deras dibarengi teriakan kesakitan dari mulutnya. Dia terjerembab sehingga menimbulkan suara keras. Dari sela-sela bibirnya yang pucat, tampak mengalir darah segar. Namun dia berusaha untuk bangkit. Kedua tangannya mendekap dada yang terasa sesak.
"Huh! Jangan dulu mengangkat dada, i blis! Aku masih belum kalah!" Setelah berkata demikian, Soga segera mencabut pedangnya. Dibarengi dengan teriakan yang keras segera diputar pedangnya.
Tubuh Soga yang terbungkus oleh sinar pedang itu, meluruk deras ke arah Sudra. Pedang yang digerakkan oleh tenaga dalam sepenuhnya itu, menimbulkan suara mendesing tajam. Bagaikan suara ribuan lebah yang sedang marah.
Menyadari dahsyatnya serangan Itu, Sudra mencabut golok terbangnya yang tersusun rapi di pinggang dan dadanya itu. Dengan kedua golok terbang Itu, disambut-nya serangan Soga. Dari gulungan sinar pedang Soga, kadang-kadang mencuat ujung pedang yang bergetar menjadi delapan buah banyaknya. Itulah sebabnya, mengapa jurus ini dinamakan 'Delapan Jalan Utama'. Sementara itu kedua golok milik Sudra pun berkelebatan dan meliuk-liuk seperti terbang Mungkin itulah sebabnya, mengapa dia berjuluk Iblis Golok Terbang.
Pada pertarungan lain tampak di kedua belah pihak, korban sudah mulai berjatuhan. Darah pun mengalir membasahi bumi. Nampaknya murid-murid Padepokan Naga Terbang, mulai terdesak mundur dan mulai banyak korban. Lawan mereka ternyata rata-rata memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi.
Sedangkan murid-murid Padepokan Naga Terbang masih bawahnya. Belum lagi, sepak terjang si Cakar Maut. Laki-laki botak ini benar-benar seperti iblis yang haus darah. Setiap musuh yang berada di dekatnya, pasti tewas dengan leher hampir putus ataupun perut sobek. Telapak tangan yang membentuk cakar itu, bagaikan tangan malaikat maut.
Di tempat lain, Paksi Buana mulai merasakan tekanan-tekanan berat dari lawannya. Badra yang berjuluk Iblis Cambuk Api, mulai mendesak lawannya. Jurus 'Tangan Seribu' yang digunakannya, benar-benar mem-buat Paksi Buana mati langkah!
__ADS_1
Sampai pada jurus yang ketiga puluh, Paksi Buana sudah tidak dapat lagi mempertahankan posisinya lagi. Sebuah tamparan telak menghantam dadanya.
Desss!
"Huaaakkk!"
Paksi Buana terhuyung sejauh dua tombak, lalu memuntahkan darah segar. Wajahnya pucat, dan baju pada bagian dadanya terlihat hancur. Sedangkan pada kulit dadanya, terdapat bekas telapak tangan yang membiru. Jelas dia telah terluka dalam. Buru-buru disalurkan hawa murni untuk menghilangkan rasa sakitnya itu.
"Ha ha ha.... Sebentar lagi Raja Maut akan segera menjemputmu! Bersiaplah!" Tawa Badra bergema memenuhi arena pertarungan tersebut.
Paksi Buana tidak menanggapi ucapan lawannya. la masih berusaha menahan rasa nyeri dalam dadanya. Dihirupnya udara banyak-banyak, lalu dihimpunnya seluruh kekuatan tenaga dalamnya.
Dengan teriakan mengguntur, dicabutnya sepasang pedang yang bertengger di balik punggungnya. Sepasang pedang yang telah membuat namanya terkenal dalam dunia persilatan. Paksi Buana kembali menerjang Badra, yang masih tegak dengan penuh kesombongan. Kedua batang pedangnya membabat dengan gerakan menggunting. Suaranya bergemuruh membelah udara malam yang semakin dingin.
Kembali sepuluh jurus terlewat dengan cepat. Sampai saat ini keduanya nampak masih seimbang. Paksi Buana menguras seluruh kemampuannya untuk menguasai lawannya. Pada saat yang memungkinkan, Paksi Buana membabatkan pedangnya secara mendatar dengan jurus 'Sabetan Ekor Naga'. Gerakan ini ditunjang dengan tenaga dalam yang kuat, hingga menimbulkan desingan angin yang tajam.
Namun Badra yang sudah menemukan titik kelemahan ilmu pedang lawan, hanya tertawa dingin. Dengan kecepatan bagai kilat diarahkan cambuknya ke wajah lawan. Cambuk itu menggeletar sehingga menimbulkan percikan-percikan bunga api yang mengaburkan pandangan Paksi Buana.
Badra melihat lawannya telah terpengaruh percikan-percikan api, tidak melewatkan kesempatan itu. Selagi lawannya silau, segera dilecutkan cambuknya ke arah pergelangan tangan lawannya. Dan....
"Aaakh!"
Terdengar suara kesakitan dari mulut Paksi Buana. Betapa terkejutnya Paksi Buana setelah menyadari pergelangan tangan kanannya buntung. Segera dipegangi pergelangan tangan kanan itu. Darah mulai merembes di antara jari-jari tangan kiri yang memegangi tangan yang buntung itu. Dan di saat itulah Cambuk Api Badra kembali beraksi ke leher Paksi Buana. Laki-laki ketua Padepokan Naga Terbang itu tak sempat menghindar lagi.
"Aaakh...!"
Paksi Buana kembali menjerit menyayat. Tubuhnya terjungkal, lalu tewas seketika dengan leher yang hampir putus.
__ADS_1