
Kegelapan malam kini telah menyelimuti bumi. Angin dingin yang membawa titik‐titik air, terasa berhembus keras. Sementara cahaya rembulan yang seharusnya menghiasi sang malam, nampak lebih suka bersembunyi di balik gumpalan awan hitam. Suasana pada malam itu semakin hening dan mencekam!
Demikian pula keadaan Desa Ganjar yang terletak di wilayah sebelah Barat. Di kedai‐kedai makan hanya terlihat satu dua orang saja yang tengah menghangatkan badan, dengan segelas teh panas. Sedangkan di jalan‐jalan, tampak lengang dan sepi. Padahal, malam belum begitu larut.
Namun, di balik kesunyian yang mencekam itu terlihat beberapa penduduk yang berkelompok di tempat‐tempat yang tersembunyi. Mereka berjaga‐jaga dengan senjata di tangan. Memang, ada sesuatu yang bakal mengancam desa itu.
Di pintu masuk, maupun di batas desa, tampak telah dijaga ketat. Puluhan orang dengan senjata di tangan, telah siap di posnya masing‐masing. Di sebuah pos jaga yang terdapat di mulut desa, kurang lebih lima belas orang laki‐laki tampak tengah mengelilingi sebuah api unggun. Mereka sengaja membuatnya untuk mengusir hawa dingin yang seperti menusuk tulang.
"Hm..., malam sudah semakin larut. Ayo, kita keliling!" ajak salah seorang dari para peronda Itu.
"Ah! Kakang Jarwa, nanti sajalah! Sebentar lagi, Kakang!" bantah beberapa orang saling bersahutan, sambil menggosok‐gosokkan tangannya dekat api unggun.
Udara malam yang semakin dingin, rupanya membuat mereka merasa malas untuk meronda keliling desa. Orang yang dipanggil Jarwa itu menghela napas sejenak. Dia sendiri pun sebenarnya merasa enggan untuk keliling dalam suasana seperti ini. Namun, pada saat‐saat desa tengah mengalami bencana begini, rasanya tidak pantas untuk mementingkan diri pribadi. Apalagi ia yang mendapat kepercayaan sebagai kepala keamanan desa.
Sebab pada akhir‐akhir ini, Desa Ganjar telah diteror oleh peristiwa penculikan bayi. Dalam dua hari, ini saja, tiga orang bayi yang baru dilahirkan di Desa Ganjar lenyap tanpa jejak. Malah, keluarga dari salah satu bayi yang hilang itu, kedapatan tewas dalam keadaan yang hampir tak dapat dikenali lagi.
Desa Ganjar pun menjadi gempar! Para penduduk desa dibayangi rasa takut yang hebat! Terlebih lagi, Para wanita yang sedang hamil tua. Kehadiran sang bayi yang biasanya mereka tunggu‐tunggu, kini malah jadi beban yang menakutkan!
Sebenarnya, kejadian itu bukan hanya terjadi di Desa Ganjar saja. Tetapi juga dialami oleh hampir seluruh desa yang terletak di wilayah Barat. Oleh karena itulah, mengapa pada malam ini hampir di setiap sudut Desa Ganjar tampak para penduduk berjaga‐jaga. Baik yang sembunyi‐sembunyi maupun secara terang‐terangan.
Sementara, sang malam kian larut. Meskipun hujan belum turun, namun hembusan angin terasa semakin dingin, membekukan tulang.
"Ayolah! Apakah kalian ingin menunggu hujan?" ajak Jarwa lagi, yang menjadi kepala jaga di gardu depan.
Dengan rasa malas, beberapa orang dari para peronda itu segera bangkit dari duduknya.
"Kalian bertujuh, tetaplah di sini. Awas! Jangan ada seorang pun yang boleh meninggalkan tempat ini tanpa sepengetahuanku! Mengerti?!" tegas suara Jarwa memberi perintah.
"Baik, Kakang! Berhati‐hatilah!" jawab mereka.
Kedelapan orang itu pun, segera beranjak meninggalkan pos jaga itu. Dengan diterangi tiga buah obor, mereka mulai mengadakan perondaan di sekitar Desa Ganjar.
Tok! Tok! Tok!
Suara kentongan terdengar saling bersahutan. Para peronda yang dipimpin Jarwa berjalan menerobos kegelapan malam yang dingin. Kadang-kadang, mereka berhenti di sudut‐sudut yang agak gelap. Setelah memastikan keadaan di tempat itu aman, para peronda itu pun segera meneruskan langkahnya.
Tanpa sepengetahuan para peronda, sesosok bayangan putih nampak berkelebat menerobos kepekatan malam. Gerakan bayangan putih itu bukan main cepatnya! Sepertinya bayangan itu memiliki tingkat kepandaian yang tinggi. Bayangan putih itu berkelebat bagai secercah sinar yang samar‐samar.
Bayangan putih itu berloncatan dengan lincahnya dari satu atap rumah penduduk ke atap lainnya, tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Rambutnya yang panjang dan berwarna putih itu berkibaran tertiup angin. Sosok yang bagaikan hantu yang berkeliaran itu terus melesat ke arah sebelah Timur Desa Ganjar.
Waktu sudah lewat tengah malam, ketika Jarwa bersama ketujuh orang kawannya sampai di Balai Desa yang terletak di tengah‐tengah desa itu. Sementara dari arah yang berlawanan, tampak para peronda lain yang sudah tiba pula di tempat itu.
"Selamat malam, Kang Jarwa.... tegur salah seorang dari mereka, yang bertindak selaku pimpinan dari para peronda itu.
"Ah..., Adi Lugat! Selamat malam," sambut Jarwa, yang kemudian diikuti oleh para peronda lainnya yang saling berteguran.
"Bagaimana keadaan di batas desa, Adi Lugat!" tanya Jarwa kemudian.
"Yah..., sampai saat ini masih aman, Kakang!" jawab orang yang dipanggil Lugat itu.
"Oh..., syukurlah kalau demikian. Mudah‐mudahan malam ini tidak ada kejadian apa‐apa..,"ujar ujar Jarwa mengharap.
__ADS_1
"Begitulah yang kita semua harapkan, Kakang!" ujar Lugat senada.
"Eh! Mari, Kakang! Kami ingin meneruskan perondaan!" pamitnya kemudian.
"Oh! Silakan...,silakan, Adi Lugat!" sahut Jarwa pula.
Setelah berbasa‐basi sejenak, kedua rombongan itu pun berpisah. Jarwa beserta rombongannya meneruskan perondaan ke arah batas desa. Sedangkan rombongan Lugat, menuju ke arah yang berlawanan.
Tok! Tok! Tok!
Suara kentongan kembali terdengar mengiringi langkah kaki mereka, dengan Irama yang tetap. Baru saja beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba terdengar jerit ketakutan yang melengking tinggi memecah kesunyian malam.
"Aaaaaawwww ... !"
Dengan sigap, Jarwa beserta rombongannya segera berbalik ke tempat semula. Demikian juga dengan rombongan Lugat. Sehingga kedua rombongan itu bertemu kembali.
"Adi Lugat! Kau dengar jeritan itu?" tanya Jarwa dengan wajah diliputi ketegangan.
"Tentu saja, Kakang! Sepertinya dari arah Timur!" jawab Lugat tidak kalah tegangnya.
"Bunyikan kentongan tanda bahaya!" perintah Jarwa dan Lugat berbarengan.
Tanpa diperintah dua kali, kentongan segera dipukul. Suaranya segera disambut oleh kentongan‐kentongan lainnya. Maka terdengarlah bunyi kentongan yang bertalu‐talu dan bersahut‐sahutan. Suasana malam yang semula sunyi dan mencekam itu pun berubah menjadi ramai, bagai ada pesta rakyat saja. Dalam sekejap saja, keadaan di Desa Ganjar berubah menjadi terang benderang oleh puluhan batang obor yang bermunculan dari segala penjuru.
Sementara itu, rombongan Jarwa dan Lugat telah lebih dahulu berlari ke arah asal suara jeritan tadi. Semakin lama, rombongan mereka semakin bertambah banyak. Karena di dalam perjalanan menuju tempat itu, banyak penduduk desa yang bergabung dengan kedua rombongan itu. Meskipun demikian, sebagian dari mereka tetap siaga di posnya masing‐masing.
Tidak lama kemudian, rombongan itu tiba di tempat yang dituju. Ternyata, di situ juga telah banyak para penduduk dengan senjata di tangan. Mereka mengurung sebuah rumah, yang merupakan sumber suara teriakan tadi. Rumah yang tidak begitu besar, dan berdinding bilik.
"Kakang Jarwa...!" sambut mereka penuh harap.
Jarwa segera melangkah mendekati rumah itu. Setelah memperhatikan sejenak ia pun segera berteriak keras;
"Hei, manusia, iblis! Keluarlah! Rumah ini sudah dikepung!"
Ketika tidak mendapat jawaban sepatah kata pun, mereka mulai tidak sabar untuk segera bertindak Para penduduk Desa Ganjar memang merasa geram sekali oleh malapetaka yang selalu, menimpa desa mereka akhir‐akhir ini. Mereka ingin sekali memergoki orang biadab itu, untuk dicincang.
Melihat keadaan yang semakin memanas, Jarwa dan Lugat kemudian mengatur siasat. Mereka lalu memerintahkan beberapa orang penduduk untuk berjaga‐jaga di depan. Sementara Jarwa dan beberapa orang lainnya bersepakat untuk menerobos ke dalam.
Dengan satu teriakan nyaring, Jarwa menendang pintu rumah itu hingga jebol. Tubuhnya langsung bergulingan dengan sigapnya. Disusul kemudian beberapa orang lainnya, yang berlompatan masuk.
Apa yang mereka saksikan dalam rumah itu, benar‐benar telah melenyapkan nyali mereka. Beberapa orang penduduk yang telah berlompatan masuk Itu menjadi lemas kakinya. Sehingga hanya dapat memandang saja dengan kaki gemetar! Bahkan ada pula yang terhuyung‐huyung jatuh sambil menekap mulutnya, karena menahan rasa mual yang amat sangat.
Siapa yang tidak akan, gemetar, apabila di hadapan mereka tampak mayat suami istri pemilik rumah tergeletak dalam keadaan yang mengenaskan sekali. Kedua mayat itu tidak dapat dikenali lagi. Tubuh mereka terpisah‐pisah bagai habis dicabik‐cabik seekor binatang buas yang amat liar. Percikan‐percikan darah yang masih segar membanjiri hampir seluruh ruangan itu!
Dan yang lebih mengerikan lagi, di hadapan mereka berdiri sesosok tubuh berjubah putih sambil menghirup darah bayi yang masih merah. Rambutnya yang panjang dan berwarna putih berjuntai hampir menutupi sebagian wajahnya. Matanya yang bersinar kebiruan memandang dengan liar orang‐orang yang berdiri di depan pintu. Tapi, sepertinya dia tak peduli, dan terus menggigit leher bayi itu untuk dihisap darahnya.
"Hmmrrr! Nikmat sekali!" terdengar suara yang serak dan menyeramkan dan mulutnya yang dibasahi darah segar bayi itu.
"Ibb... Ilisss ... !" dengan susah payah Jarwa dan Lugat dapat juga mengeluarkan suara. Kerongkongan mereka bagaikan tercekik, seperti berat untuk mengeluarkan suara.
"Hi hi hi...!"
__ADS_1
Diiringi tawa yang mendirikan bulu roma, iblis itu berkelebat sambil melemparkan mayat bayi yang telah pucat itu ke arah Jarwa dan Lugat. Bayi yang telah mati itu terus melesat menghantam Jarwa.
Bluk!
Kedua orang yang bagaikan tersihir itu tak sempat lagi untuk menghindar. Dan anehnya, tubuh Jarwa terjengkang keras ke belakang. Lugat yang berada di belakang Jarwa ikut terjengkang. Padahal lemparan tadi nampak pelahan sekall. Dan lagi, kedua orang itu bukanlah tokoh kosong. Dapat dibayangkan, betapa kuatnya tenaga iblis itu.
Sedangkan tubuh iblis itu melesat ke atas atap dan menjebol wuwungan rumah itu hingga hancur. Tubuhnya langsung berloncatan, melalui atap‐atap rumah penduduk.
Beberapa orang penduduk yang berjaga‐jaga di luar segera memburu bayangan itu.
"Hei, lihat! iblis itu melarikan diri... !" teriak salah seorang penduduk sambil menunjuk ke atas atap.
“Serang... !" teriak yang lainnya.
Tanpa diperintah dua kali, para penduduk Desa Ganjar itu pun segera melemparkan senjata‐senjata mereka ke arah bayangan itu.
Trakk! Trakk!
Ketika iblis Itu mengebutkan tangannya untuk menangkis senjata‐senjata itu, tombak dan golok yang beterbangan langsung berjatuhan ke tanah. Bahkan ada beberapa di antaranya yang jatuh dalam keadaan patah!
"Gila! iblis itu memiliki ilmu kebal... !" teriak beberapa orang penduduk kaget.
Rupanya, Iblis itu tidak ingin memperpanjang urusan. Sebab, selagi para penduduk itu terpaku, iblis itu pun segera berkelebat meninggalkan tempat itu.
Beberapa saat setelah kepergian iblis itu, nampak seekor kuda yang ditunggangi seorang lelaki gagah mendatangi tempat itu. Usia lelaki itu kurang lebih lima puluh tahun. Sementara di belakangnya terlihat dua orang yang mengawalnya.
"Ki Selangkit...!" seru para penduduk serentak, sambil menganggukkan kepalanya kepada orang tua itu.
Orang yang bernama Ki Selangkit Itu balas menganggukkan kepalanya sedikit. Kemudian dengan gerakan gesit, dia melompat turun dari kudanya. Demikian pula kedua orang pembantunya itu, yang tak kalah gesit melompat dan alas punggung kudanya.
"Ah! Nampaknya aku sudah terlambat!" ujar Ki Selangkit dengan wajah yang menggambarkan kekecewaan.
"Benar, Ki! iblis itu baru saja pergi!" jawab salah seorang dari para penduduk
"Hhh.... Lalu, di mana Jarwa dan Lugat?" tanya Ki Selangkit, ketika tidak menemukan kedua orang kepercayaannya itu di antara kerumunan penduduk.
"Kami di sini, Ki...!" tiba‐tiba terdengar sahutan dari arah rumah yang terkena musbah tadi.
Para penduduk desa yang berkerumun itu segera menoleh ke arah datangnya suara tadi. Tampaklah dua orang yang dicari Ki Selangkit, keluar dari dalam rumah itu.
"Apa yang terjadi Jarwa..., Lugat..." tanya Ki Selangkit, ketika kedua orang itu sudah dekat di hadapannya.
"Hhh...! Kepandaian iblis itu ternyata hebat sekali, Ki!" lapor Jarwa. Di wajahnya tergambar rasa ngeri yang masih tersisa.
"Benar, Ki Dan hampir saja kami tewas di tangannya!" sambung Lugat melengkapi laporan Jarwa.
"Lalu, bagaimana keadaan di dalam rumah itu?" tanya Ki Selangkit dengan wajah yang menggambarkan rasa ingin tahu yang besar. Jarwa dan Lugat segera menceritakan segala kejadian yang dialaminya, tanpa mengurangi ataupun menambahkan sedikit pun.
Setelah mendengar cerita Jarwa dan Lugat, Ki Selangkit menghela napas dalam. Lalu dilangkahkan kakinya ke arah rumah yang kini jadi pusat perhatian itu. la terpaku di ambang pintu rumah itu. Wajahnya memucat. Sebentar kemudian wajahnya berubah merah, karena menahan geram yang amat sangat. Selama sepuluh tahun memimpin Desa Ganjar, baru kali inilah ia merasa benar‐benar sangat terpukul.
"Kumpulkan semua anggota tubuh mayat‐mayat itu! Esok baru kita kebumikan sebagaimana mestinya!" perintah Ki Selangkit, kepada para penduduk yang masih berkumpul di tempat itu.
__ADS_1
"Baik, Ki!" jawab mereka serempak.
"Dan ingat! Kejadian inii jangan kalian ceritakan kepada anak dan istri kalian! Ingat itu!" pesan Ki Selangkit sebelum melangkah meninggalkan tempat itu.