Pendekar Naga Putih

Pendekar Naga Putih
26


__ADS_3

Hembusan angin sejuk mengiringi langkah kaki seorang laki‐laki muda. Langkahnya mantap menyusuri Jalan berbatu‐batu di daerah perbukitan tandus. Wajahnya yang bersih dan tampan itu, selalu dihiasi senyum cerah. Jubahnya yang berwarna putih berkibar lembut diterpa angin yang sesekali berhembus agak kuat.


Laki‐laki muda yang berusia sekitar Sembilan belas tahun itu ternyata adalah Panji. Dia lebih dikenal sebagai Pendekar Naga Putih. Pandang matanya yang cerah menandakan bahwa Panji adalah seorang yang menganggap bahwa hidup adalah untuk dinikmati dari segi‐segi yang menyenangkan.


Kaki‐kaki Panji melangkah tetap dan kokoh. Dia berniat mengunjungi Desa Pasiran yang terletak di wilayah Barat, karena mendengar berita tentang mengganasnya Dedemit Bukit Iblis di sana. Dan sebagai seorang yang memiliki jiwa kependekaran dan kesatriaan, dirinya merasa terpanggil untuk ikut bertanggung jawab mengatasi keadaan itu.


Pada saat memikirkan tentang sebuah desa, tiba-tiba terlintas dalam bayangannya akan sebuah desa yang telah mendatangkan kesan terindah dalam hidupnya. Terlintas bayangan seraut wajah yang cantik dan mempesona. Wajah seorang gadis jelita yang telah mencuri sekeping hatinya.


"Kenanga...," desah Panji penuh getaran rasa rindu yang menyeruak dari dalam relung hatinya.


"Ah, tidak ada salahnya kalau aku mengunjunginya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah mengunjungi Desa Pasiran yang menjadi tujuan semula," gumamnya pada diri sendiri.


Setelah berpikir demikian, Panji segera, membelokkan langkah kakinya ke arah Selatan. Mendadak pemuda itu menghentikan langkahnya. Keraguan mulai menyelimuti hatinya.


"Hm.... Mana yang harus didahulukan?" ujarnya seorang diri.


Rupanya dalam dirinya terjadi pertentangan batin. Pertentangan yang berkecamuk dalam hatinya itu, membuat Panji menunda langkahnya. Pemuda itu berdiri termenung sambil mengangguk‐anggukkan kepalanya. Keningnya berkerut‐kerut, pertanda bahwa ia tengah berpikir keras. Sehingga, untuk beberapa saat lamanya Panji bagaikan sebuah patung bisu.


Di saat Panji tengah dilanda kebimbangan, tiba‐tiba terngiang kata‐kata gurunya.


"Panji! Sebagai seorang yang memiliki kepandaian, engkau harus lebih mementingkan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi. Dengan dianugerahi kepandaian, berarti kita telah ditugaskan untuk menggunakannya demi menegakkan kebenaran." Demikian kata‐kata yang telah ditanamkan Eyang Tirta Yasa atau Malaikat Petir ke dalam jiwa murid kesayangannya itu.


Panji kini tertunduk dalam‐dalam. Bukan kata‐kata gurunya yang menyentuh hatinya, tapi justru bayangan orang tua itulah yang membuatnya tertunduk haru. Laki‐laki tua yang telah mendidik dan mengasuhnya sehingga, kini ia menjadi pendekar digdaya.


"Eyang..., maafkanlah cucumu! Ternyata batinku masih terlalu lemah, Eyang!" desah Panji mengakui kesalahannya.


Beberapa saat kemudian, Panji kembali meneruskan perjalanannya menuju Desa Pasiran.


"Nantilah! Setelah tugas ini selesai, baru aku akan segera mengunjungimu, Adik Kenanga," ujar Pendekar Naga Putih atau Panji dalam hati.


Setelah cukup lama melakukan perjalanan, tibalah Panji pada sebuah hutan kecil. Letaknya tidak begitu jauh dari perbatasan Desa Pasiran. Baru saja la berniat meneruskan perjalanannya, tiba‐tiba pendengarannya yang terlatih menangkap suara pertempuran. Tanpa berpikir panjang lagi, Panji pun melesat ke arah asal suara‐suara itu.


Suara benturan pedang yang disertai bentakan‐bentakan itu semakin jelas terdengar, sehingga, Panji semakin mempercepat larinya. Dan dari kejauhan, pemuda itu melihat lima orang laki‐laki gagah tengah bertarung melawan belasan orang yang berwajah kasar dan bengis!


Panji yang belum mengetahui sebab‐sebab terjadinya pertempuran itu, tidak ingin cepat‐cepat mencampurinya. Pemuda itu berjalan mengendap‐endap, di balik rimbunan semak di tepi jalan. Dia terus melangkah semakin mendekati arena pertempuran itu.


"He he he.... Apakah kalian masih belum bersedia menyerahkan peti harta itu?" ejek salah seorang di antara belasan orang itu. Suaranya berat dan parau.


Orang itu bertubuh tinggi besar dan berotot kekar di kedua lengannya. Sehingga ia terlihat sangat kokoh dan kuat! Kepalan tangannya yang sebesar kepala bayi, menyambar‐nyambar dan menimbulkan angin yang menderu‐deru. Jelas sekali kalau orang itu memiliki tenaga yang amat besar.


"Huh! Jangan mimpi kau, bang sat! Lebih baik kami mati daripada hidup menjadi seorang pengecut!" bentak salah seorang dari kelima orang gagah itu. Setelah berkata demikian, lelaki itu menyabetkan pedangnya ke pinggang orang yang bertubuh tinggi besar itu.


"Hm.... Rupanya kau ingin merasakan kepalan Setan Bertenaga Gajah! Nah, sambutlah!" Disertai egosan badan untuk menghindari sabetan pedang, orang yang berjulukan Setan Bertenaga Gajah itu langsung melontarkan kepalannya ke dada lawan.


Bukkk!

__ADS_1


"Uugghhh...!"


Lelaki gagah itu menjerit tertahan ketika hantaman Setan Bertenaga Gajah tepat mengenai dadanya. Orang itu terjungkal dengan kerasnya! Dadanya bagai dihantam palu godam yang berat! Lelaki gagah itu terbatuk‐batuk. Dadanya, serasa remuk. Darah segar keluar bersama batuknya yang menghebat!


Sementara dua orang kawannya yang lain berteriak ngeri, ketika senjata di tangan anak buah Setan Bertenaga Gajah melukai tubuhnya. Tanpa ampun IagI dua orang itu terjungkal dan tewas seketika.


"He he he..., Gotawa Lihatlah dua orang anak buahmu itu! Apakah itu yang kau inginkan?" kembali Setan Bertenaga Gajah tertawa menge jek.


"Sudah kubilang, lebih baik aku mati, ib lis!" teriak orang yang ternyata bernama Gotawa itu.


Wajahnya terlihat merah padam. Dengan teriakan keras, Gotawa menerjang lawannya. Ternyata meskipun luka yang dideritanya akibat pukulan Setan Bertenaga Gajah cukup parah, namun laki‐laki gagah itu masih cukup berbahaya bagi lawannya.


"Huh, manusia to lol! Rupanya kau memang menghendaki kematian! Tidak semudah itu, mo nyet! Kau harus menerima siksaan terlebih dahulu, agar kau mati secara pelahan‐lahan!" ancam Setan Bertenaga Gajah sambil menyeringai kejam. Sedangkan kakinya berloncatan menghindari sabetan pedang lawan yang berdesingan mengancam tubuhnya.


Sementara itu, beberapa orang anak buah Setan Bertenaga Gajah sudah menghampiri sebuah kereta Yang ditarik empat ekor kuda. Kereta itu cukup bagus dan indah, seperti yang dimiliki para saudagar kaya.  


"Ayo! Keluar kau, mo nyet gendut!" bentak salah seorang perampok sambil memasang wajah bengis. Ditendangnya pintu kereta itu hingga hancur berantakan. Sambil menimang‐nimang senjatanya, orang itu terus membentak‐bentak dua orang yang berada di dalam kereta.


"Tolong..., jangan bunuh kami! Ambillah semua Yang kau suka, asal kami berdua dibebaskan," rintih orang yang berperut gendut dan berkepala botak sambil melangkah turun. Kedua kakinya gemetar ketakutan. Sedangkan pada bagian tengah celananya telah dibasahi cairan yang berbau tak sedap.


Seorang wanita cantik berusia sekitar tiga puluh lima tahun, ikut pula melangkah turun. Wajah wanita itu telah dibasahi air mata yang mengalir tak henti‐hentinya. Dari perutnya yang membukit, mudah diduga kalau wanita cantik itu tengah hamil tua.


"He he he.... Istrimu cantik juga, bandot tua!" ujar salah seorang dari Iaki‐laki berwajah bengis itu. Matanya liar merayapi wajah cantik itu, sambil menelan sudah.


"Hm.... Sayang sedang hamil tua," desisnya pelan.


Usianya sekitar lima puluh tahunan. Ia lalu berlutut di depan kaki orang‐orang berwajah bengis itu dan merintih‐rintih mohon dikasihani.


Seorang di antara pengikut Setan Bertenaga Gajah itu langsung menyambar pinggang wanita cantik tadi. Diciuminya wanita itu dengan penuh nafsu. Namun, tiba‐tiba, laki‐laki itu menjerit tertahan dan terkulai di bahu si wanita cantik.


"Iiihhh ... !" Wanita cantik itu melangkah mundur, sehingga tubuh laiki‐laki bengis itu ambruk ke tanah tanpa nyawa lagi.


"Hei! Apa yang kaulakukan kepadanya?" bentak salah seorang yang lainnya sambil menodongkan pedangnya ke leher wanita cantik itu. Sedangkan seorang lagi segera memeriksa tubuh kawannya yang sudah tak bernyawa itu.


"Ah, dia.... Dia sudah tewas!" teriak orang itu kaget. Ternyata, didapati kepala kawannya terdapat luka yang membiru dan amat dingin. Rupanya luka Itu telah menghancurkan urat‐urat saraf di kepalanya sehingga membuatnya tewas seketika.


Laki‐laki bengis yang tengah menodongkan ujung pedangnya ke leher wanita cantik itu menjadi terkejut setengah mati! Bergegas didekati dan diperiksa mayat kawannya itu.


"Bang sat! Siapa yang telah melakukannya?" geramnya gusar.


"Aku! Akulah yang telah membunuh manusia bejad Itu! Apakah kalian ingin mengikuti jejaknya?" Entah dari mana datangnya, tahu‐tahu saja di dekat wanita itu telah berdiri sesosok tubuh berjubah putih. Jelas dia tak lain adalah Panji si Pendekar Naga Putih. Pemuda itu berdiri tegak, dengan kedua, kaki terpentang. Sinar matanya mencorong tajam bagai mata seekor naga yang sedang murka.


"Se tan...! Kau harus bayar mahal perbuatanmu itu!" teriak salah seorang laki‐laki bengis itu sambil menyabetkan pedangnya ke tubuh Pendekar Naga Putih. Tapi serangan itu mudah sekali dielakkannya. Bahkan Pendekar Naga Putih langsung mengirimkan tamparan ke arah kepala orang itu.


Seketika terdengar lolong kematian, disertai terpentalnya tubuh orang itu. Orang itu tewas dengan kepala pecah!

__ADS_1


Melihat salah seorang kawannya mati, maka yang lain serentak menerjang Pemuda sakti itu. Pendekar Naga Putih segera membagi‐bagi pukulannya Yang mengandung tenaga sakti yang hebat itu. Kontan saja tubuh para penyerangnya berpentalan ke segala Penjuru dalam keadaan telah menjadi mayat.


Setan Bertenaga Gajah yang masih berusaha melumpuhkan lawannya menjadi terkejut melihat anak buahnya berpentalan diiringi jeritan yang memilukan. Dengan wajah merah padam, tubuh tinggi besar itu segera meninggalkan lawannya, melayang ke arah kereta kuda itu. Bukan main murkanya Setan Bertenaga Gajah ketika mendapati para pengikutnya telah tewas bergelimpangan.


“Se tan belang! Siapa kau, Anak Muda?! Rupanya kau belum mengenalku, sehingga berani jual lagak di hadapanku!" bentak Setan Bertenaga Gajah murka.


"Hm..., bukankah kau yang bejuluk setan, Orang Tua?! Dan mengapa pula kau campuri urusanku?" tanya Pendekar Naga Putih alias Panji sambil tersenyum menge jek.


Sementara, para pengikut Setan Bertenaga Gajah yang lain sudah pula berdatangan ke tempat itu. Rupanya mereka telah melupakan lawannya yang masih tersisa, tiga orang itu.


"Bang sat! Kalau tertangkap, akan kukuliti seluruh tubuhmu biar tau rasa!" Begitu ucapannya selesai, Setan Bertenaga Gajah langsung menyerang Pendekar Naga Putih dengan pukulan‐pukulan yang menimbulkan angin kuat!


Pendekar Naga Putih sama sekali tidak merasa gentar menghadapinya. Sebab diketahui bahwa lawannya hanyalah mengandalkan kekuatan tenaga luarnya saja. Sedangkan kekuatan tenaga dalam laki‐laki itu sama sekali tidak berarti bagi Pendekar Naga Puth.


Pukulan‐pukulan yang selalu mengenai tempat kosong itu, semakin membuat Setan Bertenaga Gajah geram dan penasaran. Laki‐laki tinggi besar itu segera mengerahkan seluruh kemampuannya. Dia bermaksud memecahkan kepala lawannya dengan sekali pukul.


Pada jurus yang kedelapan, Pendekar Naga Putih sengaja ingin membuka mata lawannya. la sama sekali tidak menghindar ketika pukulan lawan meluncur deras menuju dadanya. Diam‐diam dikerahkan tenaga saktinya untuk melindungi tubuh. Dan entah dari mana datangnya, tahu‐tahu saja di sekujur tubuh pemuda itu terlihat selapis kabut yang bersinar putih keperakan.


Bukkk!


Kepalan sebesar kepala bayi itu mendarat keras di dada Pendekar Naga Putih. Sungguh aneh luar biasa. Ternyata tubuh Setan Bertenaga Gajah malah terlontar ke belakang sejauh tiga tombak. Tubuh yang tinggi besar itu merintih kesakitan sambil memegangi kepalan tangan kanannya yang telah membengkak dan tulang‐tulangnya terasa hancur!


Bukan main terkejutnya hati Setan Bertenaga Gajah menghadapi kenyataan yang sungguh di luar dugaannya itu.


Sementara, tubuh Pendekar Naga Putih yang terhantam pukulan itu, sama sekali tidak bergeming! Dan sebelum Setan Bertenaga Gajah menyadari hal itu, Pendekar Naga Putih sudah melayang ke arahnya diiring pukulan sisi telapak tangannya. Angin dingin berhembus keras menyertai dorongan tangan pemuda sakti itu.


"Pendekar Naga Putih...!" seru tiga orang lelaki gagah yang juga turut menyaksikan pertarungan itu.


Semula ketiga orang lelaki gagah itu sama sekali tidak mengenali Pendekar Naga Putih. Tapi, begitu melihat selapis kabut yang bersinar putih keperakan menyelimuti tubuh pemuda itu, ketiganya segera paham. Jelas itu adalah ciri‐ciri Pendekar Naga Putih. Namanya memang sering dibicarakan orang, karena kedigdayaannya dalam menumpas kejahatan.


Ketika pertarungan memasuki pada jurus ketiga belas, Setan Bertenaga Gajah yang sudah semakin terdesak itu sepertinya tidak mampu lagi menghindari serangan Pendekar Naga Putih. Pendekar muda ini bagai seekor naga, yang tengah murka! Maka akibatnya memang sudah bisa diduga. Sebuah hantaman telapak tangan pemuda itu telak menghantam dadanya.


Deeesss!


Tiba‐tiba terdengar raungan kematian yang panjang dan parau, disertai terlemparnya tubuh Setan Bertenaga Gajah dari arena pertempuran. Tubuh tinggi besar itu berkelojotan sesaat, lalu diam tak bergerak lagi. Dada pemimpin perampok itu remuk. Pelahan‐lahan tubuhnya mulai membiru, bagai orang kedinginan.


Melihat pemimpinnya mati, para pengikut Setan Bertenaga Gajah yang tinggal delapan orang serentak menjatuhkan dirinya bersujud di hadapan Pendekar Naga Putih.


"Ampuni kami, Tuan Pendekar...!" seru delapan orang kasar itu, sambil membentur‐benturkan dahinya ke tanah. Bahkan beberapa orang di antaranya ada yang sampai berdarah!


"Hm…. Pergilah kalian! Awas, kalau melakukan hal ini lagi, aku tak akan segan‐segan membunuh kalian! Mengerti?!" bentak Pendekar Naga Putih dengan suara keras.


Sambil mengangguk‐angguk dan berkali‐kali mengucapkan terima kasih, delapan orang itu segera berlari tanpa menoleh‐noleh lagi. Gerakan mereka cukup cepat, sehingga dalam waktu yang tak lama telah lenyap dari pandangan.


Setelah orang‐orang itu pergi, Pendekar Naga Putih segera berkelebat meninggalkan tempat itu. Tiga orang laki‐laki gagah itu hanya sempat melihat bayangannya saja, karena kepergiannya begitu cepat.

__ADS_1


Mereka hanya bengong dan bergumam, seolah ingin mengucapkan rasa terima kaslh kepada pendekar muda itu.


__ADS_2