Pendekar Naga Putih

Pendekar Naga Putih
2


__ADS_3

Padepokan Naga Terbang, terletak di sebelah Utara Desa Karang Jati. Pohon-pohon besar tampak berdiri kokoh di sekelilingnya. Tidak jauh dari pusat padepokan itu, terdapat sebuah anak bukit yang terdiri dari batu-batu cadas. Malam mulai jatuh, ketika serombongan orang berkuda yang tidak lain adalah Tiga Iblis Gunung Tandur memasuki daerah itu. Mereka berhenti tepat di pintu gerbang Padepokan Naga Terbang Salah seorang dari mereka segera melompat turun dari atas kudanya.


Orang itu ternyata adalah Sudra, si Iblis Golok Terbang. Setelah menoleh sejenak ke arah kakaknya, Sudra mundur beberapa langkah ke belakang. la mulai mengempos kekuatannya, sehingga tenaga dalamnya segera bergolak dan membanjir ke seluruh tubuhnya. Jarak antara Sudra dengan pintu gerbang tersebut, kurang lebih lima batang tombak. Dengan satu teriakan menggeledek, segera dilontarkan pukulan 'Membentur Seribu Gunung' yang cukup dahsyat ke arah pintu gerbang.


Wusss!


Brakkk...!


Pintu yang terbuat dari kayu jati pilihan yang tebal dan kuat itu, seketika ambrol menimbulkan suara hingar-bingar. Debu dan kepingan kayu beterbangan ke segala penjuru, bagai dilemparkan tangan-tangan raksasa.


Para murid si Tiga Iblis Gunung Tandur tergetar mundur, sambil menahan gelaran dalam dada mereka akibat pengaruh pukulan itu. Mereka berdecak kagum sambil bergumam tak jelas melihat hasil yang ditimbulkannya. Setelah pintu terdobrak, Sudra kembali naik ke punggung kudanya.


Sementara itu para murid Padepokan Naga Terbang, sangat terkejut mendengar suara ledakan itu. Salah seorang murid segera melaporkan kejadian itu kepada gurunya dengan wajah tegang. Sebagian murid berjaga-jaga dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.


"Apa?! Bang sat! Orang gila dari mana yang berani mati itu?"


Seorang murid utama yang bemama Soga, bangkit dengan wajah merah padam.


"Sabarlah, Soga.... Tenangkan hatimu. Jangan kau turuti hawa nafsumu!" Tegur sang guru dengan suara tenang.


"Oh... maaf, Guru! Tapi... rasanya mereka sudah keterlaluan sekali! Datang-datang sudah membuat kerusakan!" Soga masih mencoba membantah. Meskipun suaranya sudah dapat ditekan, namun masih terkandung rasa geram di dalamnya.


"Hm.... Mari kita lihat! Siapa sebenarnya mereka itu?" Ajak sang guru dengan suara dalam.


Soga segera berkelebat cepat, mendahului guru dan murid-murid utama lainnya. Gerakannya cepat bukan main, seolah-olah mampu menghilang saja. Soga memang murid berbakat. Hampir seluruh kepandaian gurunya telah diwarisi. Maka dapatlah dibayangkan, betapa tinggi kepandaian yang dimilikinya. Ketika ia telah sampai di halaman depan, para murid Padepokan Naga Terbang lainnya telah berdiri berjajar menghadang gerombolan pengacau tersebut.


Sementara itu, kecuali si Tiga Iblis Gunung Tandur, seluruh anggota rombongan telah berloncatan turun dari kudanya. Seorang berkepala botak yang tak lain adalah si Cakar Maut melangkahkan kakinya ke hadapan Soga.


"Hei! Mana orang yang bernama Paksi Buana?" Bentak Cakar Maut, bertanya. Nada suaranya meremehkan.

__ADS_1


"Suruh dia keluar!" Sambungnya lagi.


Merah padam seluruh wajah Soga melihat kesombongan orang itu. Tubuhnya bergetar menahan amarah yang menggelegak. Gerahamnya bergemeletuk. Namun dia masih berusaha bersabar, sambil menghela napas berulang-ulang.


"Ada keperluan apa kau mencari guruku?" Tanya Soga dingin, tanpa mempedulikan pertanyaan Cakar Maut.


Kini si Cakar Mautlah, yang berang. Sepertinya dia diremehkan. Pertanyaannya tak dipedulikan, tapi sebaliknya malah orang di hadapannya yang bertanya.


"Bang sat! Ba bi buntung! Apa kau sudah bosan hidup, hah?" Dengus Cakar Maut Suaranya menggelegar kerena kemarahan yang meluap-luap.


Sebaliknya Soga tidak marah mendengar ma kian itu. Dia malah tersenyum tipis, melihat kegusaran lawannya. Matanya tetap tajam memancarkan ketegarannya.


"Bukankah wajar kalau tuan rumah bertanya kepada tamunya?" Kata Soga dengan senyum yang makin mengembang.


"Kurang ajarrr! Mam puslah kau! Ciaaat!" Sambil berteriak mengguntur, Cakar Maut menerjang lawannya. la betul-betul sudah tidak dapat menahan amarahnya.


Melihat lawannya sudah menyerang, Soga menggeser kakinya ke belakang. Dengan tidak kalah garangnya, dibalasnya serangan itu. Maka pertempuran yang seru dan mendebarkan tidak dapat dihindari lagi. Masing-masing lawan berusaha saling menjatuhkan secepat mungkin. Namun kelihatannya pertempuran berjalan alot dan seimbang.


"Berhenti!!"


Tiba-tiba terdengar satu bentakan keras disertai pengerahan tenaga dalam. Suara itu menggema ke segala penjuru.


Tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan ke arena pertempuran. Belum lagi gema suara tersebut lenyap, sesosok tubuh jangkung telah berdiri tegak di tengah-tengah arena pertempuran.


Pertempuran berhenti seketika, semuanya serentak menoleh ke arah bayangan itu. Semua yang ada di situ seperti terkesiap, diam seribu bahasa. Baru setelah orang berjubah hitam yang bernama Lodra bertanya kepada orang yang berdiri di tengah-tengah arena, kebisuan itu terpecahkan. Dengan wajah seperti orang to lol mereka berpandangan satu sama lain!


"Hm.... Engkaukah yang bemama Paksi Buana?" Tanya Lodra dengan suara dingin.


"Benar! Akulah Paksi Buana!" Jawab orang itu. Suaranya tegas penuh wibawa.

__ADS_1


Memang, dialah yang bernama Paksi Buana. Walaupun usianya sudah cukup tua, namun masih jelas pancaran ketegasannya. Tubuhnya tertutup jubah putih, dengan sulaman benang emas berbentuk naga pada dadanya. Matanya menatap tajam ke arah Lodra Dipandanginya wajah orang itu dengan dahi berkerut. Kemudian pandangannya beralih pada Badra dan Sudra.


"Kalau aku tidak salah lihat, bukankah kalian yang berjuluk Tiga Iblis Gunung Tandur itu?" Tanya Paksi Buana memastikan.


"Bagus! Rupanya kau sudah mengenal kami." Ujar Lodra angkuh.


"Siapa yang tidak mengenal kalian? Nama dan kejahatan kalian sudah terkenal di mana-mana. Lalu, apa maksud kalian datang dengan membuat keonaran di sini?" Tanya Paksi Buana hati-hati.


"Kedatangan kami ke sini, untuk meminta tanggung jawab atas perbuatanmu pada sepuluh tahun yang lalu!"


"Hm...." Paksi Buana bergumam pelan, lalu berpikir sejenak.


"Telah banyak yang kulakukan pada waktu itu. Tapi, rasanya aku tidak pernah jumpa dengan kalian?"


"Memang! Kau memang tidak pernah berurusan secara langsung dengan kami. Sebab apabila kau berurusan dengan kami, mungkin kau sekarang sudah tidak melihat matahari lagi!" Jawab Lodra pongah.


Mendengar hal itu, Soga melangkah kedepan dengan wajah terbakar. Dia sudah tidak tahan lagi melihat kesombongan orang itu. Panas hatinya mendengar ucapan Lodra. Namun langkahnya segera terhenti, ketika tangan gurunya itu menyentuh lengannya dan mengisyaratkan untuk tetap tenang. Laki-laki berusia sekitar dua puluh lima tahun itu kembali berdiri di samping gurunya, sambil menghela napas berat.


"Lalu, apa maksud kalian?" Lanjut Paksi Buana dengan suara datar, seolah-olah tidak ingin terpengaruh oleh ejekan lawan bicaranya itu. Padahal, sesungguhnya hatinya telah terbakar. Tapi dia masih bisa menenangkan dirinya, dan bersikap wajar.


"Baiklah," ujar Lodra datar.


"Dengar, baik-baik. Ingat kah kau akan sebuah tempat yang bernama Hutan Jatra? Dan ingatkah kau kepada orang yang bernama Cakra Ganda, yang telah kau bunuh itu?"


Paksi Buana termenung sejenak. Dia segera teringat saat-saat terakhir pengembaraannya. Waktu itu ia sudah berniat mengundurkan diri dari dunia persilatan. Suatu saat ia melewati Hutan Jatra, dan melihat sebuah pertempuran. Rupanya, pertempuran itu menarik perhatiannya. Apalagi di tempat itu terdapat sebuah kereta kuda yang mengangkut barang. Paksi Buana segera mengambil kesimpulan bahwa pasti itu adalah perampokan. Dia pun segera terjun ke arena pertarungan, dan membantu saudagar yang dirampok itu. Akhirnya dia berhasil membunuh perampok itu, yang belakangan diketahui bahwa orang itu sering melakukan kejahatannya di Hutan Jatra. Namanya Cakra Ganda.


"Hm..., aku ingat sekarang! Lalu, apa hubungannya dengan kalian?" Tanya Paksi Buana.


"Dia adalah murid kami! Dan...." Belum lagi Lodra menyelesaikan ucapannya, Sudra memotong pembicaraan itu sambil melompat turun dari kudanya.

__ADS_1


"Dan kau harus membayar hutang nyawa itu berikut bunganya! Lihat serangan!" Belum lagi hilang suara Sudra, tubuhnya sudah melesat melancarkan serangan yang ganas. Kedua tangannya berputar bergantian menimbulkan angin yang menderu-deru.


__ADS_2