
Dewi Tangan Merah tidak sempat lagi memperhatikan senyuman Panji, karena pada saat itu delapan orang lawannya sudah datang menyerbu. Tanpa membuang‐buang waktu lagi Dewi Tangan Merah langsung menggerakkan pedangnya untuk menghalau serangan lawan.
Pertarungan pun kembali berlangsung sengit. Namun kali ini Dewi Tangan Merah benar‐benar terkejut! Ternyata serangan‐serangan lawan kini semakin mengandung tenaga yang berlipat ganda, sehingga dalam beberapa jurus saimja Dewi Tangan Merah sudah terdesak hebat.
Dewi Tangan Merah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membendung serangan yang datang bagai air bah itu. Pedangnya yang bersinar kehijauan bergulung‐gulung membentuk sebuah benteng Pertahanan yang sangat kuat, dan sulit untuk ditembus,
Lima jurus pun berlalu cepat memasuki jurus keenam, empat buah pedang lawan meluncur keempat bagian tubuhnya! Suaranya berdesing tajam. Jelas betapa kuatnya tenaga yang terkandung dalam serangan itu.
Traanng!
Triinng!
Traanng!
"Aaahh ... !" pekik Dewi Tangan Merah tertahan.
Tubuh Dewi Tangan Merah terjengkang akibat tangkisan yang dilakukannya sendiri. la merangkak, berusaha bangun dengan tangan yang terasa bagai patah! Sama sekali tidak diduga kalau tenaganya sudah tidak mampu mengatasi lawan‐lawannya. Dewi Tangan Merah meringis menahan rasa sakit pada tangan kanannya.
Sedangkan keempat orang lawannya hanya terdorong mundur sejauh empat langkah. Melihat lawannya masih belum dapat bangkit, keempat orang itu segera menerjang Dewi Tangan Merah dengan serangan yang mematikan! Empat batang pedang Itu meluncur ke arah leher dan lambungnya!
Dewi Tangan Merah hanya mampu memandang dengan wajah pucat Rasanya tidak ada lagi waktu untuk menghindar. Lengannya pun belum lagi dapat digerakkan. Keadaan Dewi Tangan Merah saat itu benar‐benar di ambang kematian.
Pada saat yang berbahaya Itu, seberkas sinar putih keperakan meluncur. Kecepatannya luar biasa menyambutserangan keempat batang pedang itu.
Siiinnng!
Traaannng! Triiinnng!
Craatt! Sreett!
“Oouuuggh ...! Aaakkhhh...!”
Terdengar suara berdenting yang memekak telinga, bercampur jerit kesakitan! Tubuh keempat orang penyerang itu terpelanting ke segala penjuru. Pedang mereka pun terpental dalam keadaan patah! Keempat orang itu meringkuk disertai keluhan seperti orang yang menderita rasa dingin yang hebat!
Setelah beberapa saat menggigil, mereka pun mengeluh untuk kemudian diam tak bergerak lagi.
Sementara itu, keempat orang lainnya kontan berloncatan mundur, karena pada saat hendak menyerang, dirasakan sambaran hawa dingin yang luar biasa menerpa tubuh mereka.
__ADS_1
"Pendekar Naga Putih ... !" teriak Dewi Tangan Merah penuh kagum.
Kini dara jelita itu sudah tidak ragu‐ragu lagi ketika melihat sosok tubuh berjubah putih yang diselimuti selapis kabut bersinar putih keperakan itu.
Orang yang memang Panji itu segera membalikkan tubuhnya ke arah Dewi Tangan Merah sambil tersenyum.
"Kau tidak apa‐apa, Nisanak?" tanya Panji ramah. Pemuda itu mengulurkan tangannya untuk membantu Dewi Tangan Merah bangkit.
"Ah, tidak apa‐apa! Terima kasih alas pertolonganmu!" ucap, Dewi Tangan Merah. Mata wanita itu tetap tertuju pada wajah pendekar yang telah mengguncang dunia persilatan. Sepak terjangnya langsung mencuat ketika menewaskan tiga pentolan kaum sesat yang berkepandaian tinggi.
Sementara itu, Panji segera berbalik untuk menghadapi keempat orang pendekar yang masih dalam pengaruh sihir Dedemit Bukit Iblis Itu.
Pendekar Naga Putih itu menjadi terkejut ketika melihat sinar mata mereka mulai melemah. Belum lagi hilang rasa herannya, tiba‐tiba keempat orang pendekar itu mengeluh lalu roboh pingsan!
Panji segera melompat ke arah empat orang pendekar yang kini tergeletak di tanah. Hatinya pun menjadi lega setelah mengetahui keadaan mereka.
"Apa yang terjadi terhadap mereka, Kisanak?" tanya Dewi Tangan Merah yang sudah berada dekat pemuda Sakti itu. Di wajahnya terbayang keheranan, karena keempat orang pendekar itu tahu‐tahu roboh tanpa disentuh pemuda berjubah putih itu.
"Ah! Tidak apa‐apa, Nisanak! Mereka hanya pingsan! Mungkin ini disebabkan oleh lenyapnya pengaruh gaib dari Dedemit Bukit Iblis!" jelas Panji.
Setelah berkata demikian, Pendekar Naga Putih itu melangkah menghampiri tubuh empat orang lainnya yang juga masih tergeletak pingsan akibat tangkisan dan serangan yang dilakukannya tadi.
Sementara Panji sudah berjongkok dan memeriksa keadaan empat orang pendekar itu. Pendekar Naga Putih menotok di beberapa bagian tubuh salah seorang dari mereka. Setelah beberapa kali tangannya menotok dan memijit, warna kebiruan di tubuh orang itu pun pelahan memudar.
"Iiihh ... !" pekik Dewi Tangan Merah tertahan, dan cepat‐cepat menarik Pulang tangannya. Wanita Itu mencoba‐coba menyentuh tubuh salah seorang dari empat orang yang tergeletak pingsan tersebut. Dan Dewi Tangan Merah pun menjadi terkejut ketika mendapat kenyataan bahwa tubuh orang itu terasa dingin bagai segumpal salju. Dingin dan keras!
"Apa yang terjadi dengan mereka? Mengapa tubuh mereka begitu dingin?" tanya Dewi Tangan Merah.
Panji yang langsung menoleh karena mendengar pekikan tadi, segera tersenyum mellhat gadis jelita yang tengah kebingungan Itu. Pemuda itu tidak segera menjawabnya, ia pun melangkah menghampiri orang yang tadi disentuh Dewi Tangan Merah. Kemudian jari‐jarinya pun bergerak melakukan hal yang sama seperti yang tadi dilakukannya.
"Mereka hanya terserang hawa dingin akibat goresan pedangku tadi! Untunglah tubuh mereka cukup kuat, sehingga keadaannya tidaklah membahayakan," Jelas Panji sambil menotok dan memijit orang itu.
"Hm.... Seorang Pemuda yang mengagumkan!" ucap gadis itu dalam hati.
"la tidak membanggakan kehebatan tenaga saktinya, namun memuji kekuatan tubuh keempat orang lawannya. Benar‐benar sikap seorang pendekar sejati!"
Panji menarik napas lega setelah berturut‐turut melakukan pengobatan kepada empat orang pendekar itu. Tidak berapa lama kemudian, terdengar keluhan‐keluhan dari mulut empat orang pendekar itu rupanya mereka mulai sadar dari pingsannya.
__ADS_1
"Eh Sudah mulai siuman," seru Dewi Tangan Merah dengan wajah terseri. Kedua anak muda itu pun bergegas menghampirinya.
"Oooh... ! Siapakah Kisanak dan Nisanak ini Apa... apa yang terjadi dengan diri kami? Dan, mana Iblis jahat itu?" tanya salah seorang dari empat pendekar itu memberondong begitu tersadar dari pingsannya.
Setelah berkata demikian, orang itu pun segera melompat berdiri. Tapi alangkah terkejut hatinya ketika ia kembali terjatuh karena kedua kakinya terasa lemas sekali.
"Tenanglah, Kisanak! Kesehatanmu belum pulih benar. Tenaga dalammu telah terkuras habis ketika bertanding tadi!" ujar Panji sambil menggerakkan tangannya ketika melihat orang itu akan bangkit kembali.
"Berkelahi? Menguras tenaga? Apa... apa maksudmu?" tanya pendekar itu heran. Dia memang tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya.
"Nantilah aku ceritakan! Sekarang lebih baik melakukan semadi untuk mengembalikan tenagamu. Mudah‐mudahan, setelah semadi tubuhmu segera pulih kembali," kata Panji menasehati.
"Benar apa yang dikatakannya, Kisanak! Kalau kurang percaya, cobalah kerahkan tenagamu sekarang!" timpal Dewi Tangan Merah. Dia juga telah dapat mengerti apa yang telah diucapkan Pendekar Naga Putih tadi.
Meskipun merasa bingung, namun orang itu segera mencoba mengerahkan tenaga saktinya. Tapi, betapa terkejutnya dia ketika ternyata tenaganya benar‐benar lenyap! Maka tanpa ragu‐ragu lagi, segera dipusatkannya untuk segera memulihkan tenaganya. Seperti yang disarankan Panji tadi. Demikian pula dengan ketujuh orang Pendekar lainnya. Begitu tersadar, mereka pun ikut melakukan hal yang sama.
"Hm, Kisanak! Bagaimana dengan Dedemit Bukit Iblis? Apakah sudah kautemukan?" tanya Dewi Tangan Merah.
Memang, sewaktu Panji memburu Dedemit Bukit Iblis, Dewi Tangan Merah tak tahu kalau iblis itu telah melesat pergi. Dan, Pendekar Naga Putih tak berhasil mengejarnya.
Pengawal kepala desa yang kini tinggal empat orang itu ikut berkumpul bersama Panji dan Sundari. mereka semua duduk di atas batu‐batu padas yang banyak terdapat di sekitar tempat itu. Sedangkan Ki Palaran, sang kepala desa, sudah dibawa kerumah. Dia mengalami luka‐luka yang cukup parah, sehingga harus beristirahat beberapa hari untuk mengembalikan kesehatannya.
Sementara itu, Panji yang mendengar pertanyaan Dewi Tangan Merah tadi, menjadi tertunduk dengan wajah kecewa. Melihat sikap pemuda itu, Dewi Tangan Merah pun merasa heran.
"Ah..., menyesal sekali, Nisanak! Aku tidak berhasil menemukan Dedemit Bukit lblis itu. Padahal telah kucari ke sekitar tempat ini, namun iblis itu tidak juga kutemukan," jawab Panji lesu.
"Hm..mungkin Dedemit itu merasa gentar meIihat kepandaianmu, lalu mengambil keputusan untuk kembali ke sarangnya!" Ujar Dewi Tangan Merah yang berniat memancing pendapat pemuda itu.
"Ah! Aku rasa tidak begitu, Nisanak! Menurut khabar yang kudengar, kepandaian Dedemit Bukit Iblis sangatlah tinggi. Dan selama dalam perjalanan, aku pun mendengar bahwa dia juga memiliki ilmu sihir dan ilmu kebal yang sangat hebat! Jadi menurut pendapatku, iblis itu sangatlah berhati‐hati dalam mengambil suatu tindakan. Dan kalau tidak dalam keadaan yang sangat terpaksa, dia tidak ingin bentrok dengan siapa pun!" jelas Panji.
Dia memang cukup cerdik dalam mengemukakan sebuah alasan yang sangat tepat. Mau tidak mau Dewi Tangan Merah harus mengakui bahwa apa yang dikatakan pemuda itu sangat tepat dan tidak dapat disangkal kebenarannya.
"Memang benar apa yang dikatakan Kisanak ini. Karena menurut yang kuketahui, Dedemit Bukit Iblis itu selalu menghindar apabila bertemu dengan para peronda desa. Padahal kalau mau, dengan kepandaiannya yang tinggi ia dapat membunuh para peronda itu semudah membalikkan telapak tangannya!" tegas seorang dari para pengawal kepala desa itu.
"Memang, hal itu pun tidak kusangkal! Tapi aku pun yakin, iblis kepa rat itu akan lari terbirit‐birit apabila sudah merasakan kehebatan ilmu dan ajian Pendekar Naga Putih yang mukjizat itu. Lihat saja apa yang dilakukannya terhadap tokoh sesat yang berjuluk Laba‐ Laba Beracun dan Tiga Iblis Gunung Tandur. Padahal mereka sudah terkenal kepandaian dan kehebatannya!" bantah Dewi Tangan Merah tidak mau kalah.
"Ah! Nisanak terlalu memuji! Padahal mereka itu tewas karena kesombongan mereka sendiri. Kalau saja lebih berhati‐hati, mana bisa aku mengungguli kepandaian mereka?" jawab Panji lagi. Dia memang tidak ingin menonjol‐nonjolkan kepandaiannya.
__ADS_1
"Oh, jadi begitu?!" ujar Dewi Tangan Merah sambil membelalakkan kedua matanya. Lagaknya seperti orang terkejut.
Panji menganggukkan kepalanya tanpa meninggalkan senyumnya. la mulai dapat menduga kalau dara berbaju Merah itu sengaja hendak menjajaki sifatnya.