
Hari sudah mulai beranjak sore. Namun Pendekar Tangan Baja belum juga menemukan jalan yang dicari. Demikian juga dengan keenam orang pendekar lainnya.
Ketujuh orang pendekar itu mulai merasa cemas. Sebab apabila, kegelapan sudah menyelimuti sekitarnya, pupuslah harapan untuk dapat keluar dari Bukit lblis itu. Bahkan kematianlah yang akan mereka temui!
Pada dasarnya, Bukit lblis memang tempat yang angker dan mengerikan. Tidak ada seorang pun yang dapat keluar dari tempat ini dalam keadaan selamat. Karena, di bukit itu banyak terdapat binatang yang sangat berbisa dan lumpur hidup yang menyedot apa saja yang lewat di atasnya. Apalagi, pohon‐pohon besar yang tumbuh di sekitarnya, semakin menambah keangkeran saja.
Semenjak didiami oleh seorang tokoh sesat yang amat jahat, Bukit Iblis semakin terlihat angker saja. Tokoh sesat juga menambahkan jebakan‐jebakan yang tidak kalah berbahayanya. Bahkan di tempat itu juga dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat menyesatkan orang yang datang tanpa diundang!
Jalan yang berliku‐liku dan berkotak‐kotak itu, dibuat mirip satu sama lain. Sehingga sulit membedakan satu sama lainnya. Kadang‐kadang para pendekar itu menemui jalan buntu yang tertutup semak belukar, sehingga terpaksa harus kembali ke tempat semula. Benar‐benar sebuah tempat yang membingungkan!
Pada saat itu, dua orang pendekar yang menuju ke arah Barat telah tiba pada sebuah lapangan rumput yang cukup luas. Rumput‐rumput yang tumbuh di tempat itu memang tidak terlalu tinggi, paling‐paling hanya seukuran anak panah saja.
Dua orang pendekar itu paling berpandangan satu sama lain, seolah minta pendapat masing‐masing. Tanpa dikomando, mereka mengangguk berbarengan. Dengan penuh kewaspadaan, dua orang pendekar itu melangkah memasuki daerah lapangan berumput itu. Mereka terpisah kurang lebih sekitar dua meter. Tiba‐tiba....
Bress!
Rumput yang terpijak salah seorang dari mereka melesak hingga sebatas lutut. Dengan sekuat tenaga ia berusaha keluar dari lumpur itu. Tapi alangkah terkejutnya pendekar itu, ketika dirasakan setiap gerakannya justru semakin menambah daya sedot lumpur itu.
"Adi Ragil, tolooong .. !" dengan wajah pucat pendekar itu berteriak meminta pertolongan kawannya.
Orang yang dipanggil Ragil itu tersentak kaget ketika melihat kawannya terperosok sebatas pinggang. Cepat bagai kilat Ragil segera mendekati kawannya.
"Adi Ragil! Jangan mendekat! Jauhi daerah berumput ini. Cepat...!" pendekar itu berteriak memperingatkan Ragil yang sedang menuju ke arahnya.
Terlambat! Tiba‐tiba saja tubuh Ragil telah melesak dalam rerumputan yang dipijaknya.
"Kakang Juminta, awas! Ini lumpur hidup!" teriak Ragil. Wajahnya pucat pasi. la berontak untuk membebaskan diri dari lumpur maut yang menjepitnya itu. Namun semakin keras memberontak, semakin dalam pula tubuhnya terperosok!
Bukan main takutnya Ragil ketika melihat kenyataan ini. Tanpa malu‐malu lagi, la pun melolong sekuat‐kuatnya
"Tolooong...! Tolooong...!"
Teriakan Ragil bergema ke sekitar tempat itu. Kelima, orang pendekar lainnya, serentak berlari menuju tempat semula. Pendekar Tangan Baja tiba lebih dulu dari yang lainnya. Sejenak mereka semua saling pandang dengan wajah tegang!
__ADS_1
"Mana Ragil dan Juminta?" tanya Ki Teja Laksana alias Pendekar Tangan Baja kepada empat orang kawannya.
"Pasti teriakan itu datang dari mereka, Ki" seru seorang pendekar yang bercambang bawuk.
Tanpa membuang‐buang waktu lagi, lima orang pendekar itu pun segera melesat ke arah Barat. Mereka berlari sambil mengikuti tanda‐tanda yang telah dibuat Ragil dan Juminta itu. Tentu saja perjalanan itu tidak secepat yang diharapkan, karena harus berhenti untuk mencari tanda‐tanda yang dibuat oleh kedua kawannya ltu. Selang beberapa waktu kemudian, lima orang pendekar itu pun tiba di tempat Ragil dan Juminta terperosok.
Ketika melihat dua pasang lengan sebatas siku yang menggapai‐gapai, tiga orang dari mereka segera melesat untuk memberi pertolongan.
"Hei! Awaaass…!" Pendekar Tangan Baja terlambat memperingatkan tiga orang kawannya yang ceroboh itu. Akibatnya, tiga orang pendekar tersebut juga terjebak dalam lumpur hidup itu.
"Diam! Jangan banyak bergerak! Kalau terus bergerak, lumpur itu akan semakin kuat menyedot tubuh kalian!" teriak Pendekar Tangan Baja kepada rekannya yang terperosok itu. Sementara matanya mencari‐cari sesuatu yang kira‐kira dapat dipergunakan untuk menyelamatkan mereka.
Sementara tiga orang pendekar itu terus bergerak‐gerak sambil menggaruk di sana‐sini. Mereka merasakan ada binatang kecil yang menggigit sekujur tubuh. Terasa panas dan perih! Ketiganya terus bergerak dan berteriak‐teriak, tanpa mempedulikan peringatan Pendekar Tangan Baja.
Pendekar Tangan Baja segera berlari menghampiri segerombolan pohon bambu yang terdapat di sekitar tempat itu. Dipilihnya sebatang pohon bambu yang besar. Terdengar suara batang bambu yang patah oleh hantaman tangan pendekar itu.
Dengan mengerahkan tenaga saktinya, Pendekar Tangan Baja melemparkan batang bambu itu ke lapangan berumput, tempat tiga orang kawannya tengah berjuang melawan maut. Sedangkan dua orang lagi, dipastikan telah tewas. Batang bambu itu melayang dan jatuh melintang di hadapan tiga orang pendekar itu.
"Cepat! Pegang bambu ini kuat‐kuat!" teriak Pendekar Tangan Baja. Dengan dibantu seorang kawannya yang masih tersisa itu, Pendekar Tangan Baja segera menarik batang bambu itu.
Begitu keluar dari lumpur maut, ketiga orang pendekar itu segera melepaskan pakaian mereka. Pendekar Tangan Baja dan pendekar yang tadi ikut membantunya memandang ketiga kawannya dengan wajah bingung. Namun, kebingungan itu segera berganti dengan rasa kaget yang luar biasa.
Pendekar Tangan Baja dan seorang kawannya melangkah mundur sambil terbelalak! Sebab, di tubuh tiga orang pendekar yang baru saja diselamatkan itu, menempel ketat puluhan binatang sebesar ibu jari kaki. Sekujur tubuh mereka telah basah oleh darah akibat gigitan binatang‐binatang itu.
"Lintah Kelabang...!" sera Pendekar Tangan Baja.
"Jangan sentuh! Lintah‐lintah itu sangat beracun!" teriaknya lagi, ketika melihat kawannya akan menolong ketiga orang pendekar itu. Ketika mendengar peringatan Pendekar Tangan Baja, orang itu pun segera menarik kembali tangannya yang sudah terulur itu.
"Tapj.., tapi..., mereka harus ditolong, Ki!" bantah pendekar itu, yang merasa tidak tega melihat penderitaan tiga orang kawannya.
"Terlambak Adi Jalung! Mereka sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Racun Lintah Kelabang amatlah ganas, dan cepat sekali menyebar ke seluruh tubuh! Maafkan aku, Adi Jalung! Bukan tidak mau menyelamatkan mereka. Tapi, harus pula dipikirkan keselamatan kita!" ujar Pendekar Tangan Baja. Sinar matanya memancarkan rasa penyesalan.
"Huh! Dedemit itu benar‐benar tidak punya jantung!" geram orang yang dipanggil Jalung itu. Wajahnya kelihatan gusar.
__ADS_1
Kedua orang pendekar itu memandang tiga orang kawannya yang berkelojotan dan bergulingan di tanah sambil menggaruk‐garuk sekujur tubuhnya. Mereka berteriak‐teriak dan melolong menyayat hati.
"Aaah..., gatal.... Gatal sekali! Aduh..., arrrhh...!" ketiga orang pendekar itu meratap‐ratap sambil terus menggaruk‐garuk sampai kulit tubuh mereka terkelupas dan berdarah. Tidak berapa lama kemudian tiga orang pendekar itu pun tewas dalam keadaan yang menyedihkan.
Pendekar Tangan Baja dan Jalung memalingkan wajahnya. Tidak tega melihat kematian tiga orang kawannya yang mengenaskan itu. Titik air mata pun bergulir dari dua pasang mata pendekar gagah itu. Walaupun sudah terbiasa hidup dalam dunia yang penuh dengan kekerasan dan bunuh-membunuh itu, mereka juga merasa tidak sanggup melihat penderitaan tiga orang kawannya itu.
"Apakah tidak sebaiknya kita kuburkan mayat mereka, Ki?" ujar Jalung yang merasa tidak tega melihat mayat kawan‐kawannya dibiarkan begitu saja.
"Ah! apakah kau sudah lupa, Jalung! Tubuh mereka sudah tercemar racun‐racun kepa rat itu!" jawab Pendekar Tangan Baja mengingatkan kawannya.
"Ah! Maaf, Ki! Mengapa aku begitu pelupa?" ujar Jalung sambil menepak kepalanya.
"Sudahlah! Yang penting sekarang, bagaimana kita dapat keluar dari tempat keparat ini!" ucap Pendekar Tangan Baja. Wajahnya menerawang lesu.
"Ki! Apakah kita akan dapat keluar dari tempat ini?" tanya Jalung dengan nada putus asa.
Jalung memang nampaknya sudah merasa putus asa! Kematian kawan‐kawannya yang berturut turut dan mengerikan itu, telah membuatnya terpukul. Kini dia hanya pasrah menanti maut yang akan datang menjemputnya.
"Hm.... Apakah engkau ingin menantikan kematian tanpa melakukan perlawanan sedikit pun? Ingatlah, Jalung! Selagi masih hidup, kita harus mempertahankan hidup kita ini sampai titik darah yang terakhir! Tidak malukah dirimu dengan julukan pendekarmu? Ke manakah perginya sifat kependekaran yang selama ini ditanamkan oleh gurumu? Hm.... Alangkah kasihannya orang tua itu, yang bertahun‐tahun mendidik dan menanamkan sifat‐sifat kependekaran dalam dirimu. Ternyata kini usahanya sia‐sia! Ah, sungguh sayang sek ujar Pendekar Tangan Baja sambil menggeleng‐gelengkan kepalanya. Kelihatan ada kesedihan pada wajahnya.
Pada mulanya Jalung hanya menunduk tanpa mempedulikan perkataan Pendekar Tangan Baja yang terdengar gusar itu. Namun, ketika Pendekar Tangan Baja mulai menyinggung‐nyinggung tentang gurunya, wajah Jalung merah seketika. Terbayang olehnya wajah orang tua yang penuh kasih itu. Orang tua yang telah mendidiknya tanpa mengharapkan imbalan sedikit pun! Ilmu yang telah diberikan gurunya selama bertahun‐tahun itu, kini akan dihancurkannya begitu saja, hanya karena rasa takut mati.
"Tidak! Aku tidak boleh berputus asa! Aku harus bangkit! Harus!" Demikian kata hati Jalung yang telah dibakar semangat hidupnya oleh perkataan Pendekar Tangan Baja.
"Maafkan aku, Ki! Ah.... Betapa memalukannya sikapku tadi," desah Jalung yang telah menyadari kekeliruannya. Sikapnya memang memalukan karena tidak mencerminkan sikap seorang pendekar.
"Sudahlah, Jalung! Maafkan juga sikapku yang agak keterlaluan tadi!" ucap Pendekar Tangan Baja tersenyum.
"Tidak, Ki! Akulah yang telah berbuat bodoh! Semua yang kau katakan itu memang benar! Aku yang bodoh, dan aku jugalah yang seharusnya minta maaf!" bantah Jalung lagi.
"Ah..., sudahlah. Hari sudah hampir gelap. Marilah kita bergegas, Jalung!" ajak Pendekar Tangan Baja. Dia segera beranjak meninggalkan tempat itu.
"Baiklah, Ki! Mari ...... Jalung pun segera melangkah mengikuti Pendekar Tangan Baja yang telah melangkah lebih dahulu.
__ADS_1
Kedua orang pendekar itu pun memulai lagi usahanya untuk mencari jalan keluar dari tempat yang mengerikan itu. Kali ini mereka benar‐benar harus berpacu dengan waktu. Karena tidak lama lagi seluruh desa itu akan tertutup oleh kegelapan.