
"Aaakkkhhh ... !" Pendekar Tangan Baja menjerit tertahan. Tubuh tua itu terpelanting. Kedua pangkal lengannya terluka, dan tampak mengeluarkan darah!
Rupanya ketika pukulannya telak menghantam dada si iblis, ia menjadi terkejut setengah mati. Karena tangannya seperti menghantam segumpal besi yang keras dan licin. Dan bukan itu saja. Dari tubuh Dedemit Bukit Iblis itu pun keluar daya dorong yang sangat kuat! Akibatnya, tubuh Pendekar Tangan Baja terlempar dengan kuatnya.
Belum lagi hilang rasa terkejutnya, sepasang cakar si iblis itu sudah mencengkram bahunya. Ki Teja Laksana segera mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi bahunya, yang dibarengi dengan sentakan ke belakang. Untunglah, cengkraman itu hanya melukai kedua pangkal lengannya.
Pendekar Tangan Baja meringis menahan rasa sakit yang hebat pada lukanya. Untung saja bahunya masih dapat diselamatkan. Kalau tidak, pasti bakal remuk terkena, cengkraman jurus 'Tangan Pengejar Roh' yang sangat mengerikan itu. Cepat Pendekar Tangan Baja mengerahkan hawa murni ke arah luka itu, untuk menghilangkan rasa nyeri pada luka akibat cengkraman tadi.
Sedangkan yang dialami Dedemit Bukit Iblis, tidaklah separah Pendekar Tangan Baja. Iblis itu hanya terdorong mundur sejauh tiga langkah. Namun dadanya sempat bergetar akibat pukulan yang dilancarkan Pendekar Tangan Baja. Mau tidak mau iblis itu juga harus mengakui kehebatan tenaga lawannya.
Dan pada saat yang hampir bersamaan di saat tubuh Dedemit Bukit Iblis terjajar mundur, guci di tangan Pendekar Pemabuk melayang dengan kecepatan tinggi ke arah punggungnya.
Wuuukkk!
Guci arak itu meluncur deras menimbulkan suara mengaung karena digerakkan oleh tenaga dalam penuh! Jangankan tubuh manusia batu pun akan hancur apabila terkena hantamannya.
Namun Dedemit Bukit Iblis yang dihadapinya kali ini tidaklah sama dengan beberapa bulan yang lalu. Kemajuan yang dicapai iblis itu saat ini sangatlah pesat Selain itu, dia juga sudah Pernah merasakan kelihaian Pendekar Pemabuk Maka, kini dengan mudahnya iblis itu menggerakkan tangan kanannya untuk menangkis serangan Pendekar Pemabuk. Bahkan langsung disusulnya dengan sebuah tendangan berputar yang menuju ke dada lawan.
Klaaannng!
Dheerr!
"Ouuugghhh .... !”
Terdengar suara bagaikan dua batang besi dibenturkan keras! Tubuh Pendekar Pemabuk bergetar bagaikan menghantam sebuah tiang baja kokoh! Sebelum Pendekar itu menyadari keadaannya, sebuah tendangan yang berkekuatan tenaga dalam penuh menghantam telak dadanya. Dengan sebuah keluhan pendek, tubuh Pendekar Pemabuk terlempar sejauh dua tombak. Dan dari mulutnya menyembur darah segar Yang berhamburan ke sekitarnya.
"Adi Panggal...!" seru Pendekar Tangan Baja seraya berlari memburu laki‐laki itu dengan, wajah pucat pasi.
"Adi Panggal! Kau... kau tidak apa‐apa?" tanyanya cemas.
"Uuuh..., Kakang Teja! Tendangan iblis itu hebat sekali! Dadaku serasa remuk! Mungkin ada beberapa tulangku yang patah! Ah, maafkan aku, Kakang! Rasanya aku tidak mungkin dapat membantumu lagi! Hati‐hatilah, Kakang! Kepandaian iblis itu sudah, maju sedemikian pesatnya," kata Pendekar Pemabuk. Sedangkan Pendekar Tangan Baja hanya dapat mengangguk dengan, wajah sedih.
"Istirahatlah dulu, Adi! Aku akan mencoba menghadapinya. Mudah‐mudahan nasibku sedang baik hari ini," tegas Pendekar Tangan Baja, penuh harap. Kemudian pendekar itu pun melangkah meninggalkan Pendekar Pemabuk yang sudah tak berdaya. Dengan wajah gusar, Pendekar Tangan Baja segera melesat ke arena pertarungan.
Pada saat itu, pertarungan antara Dedemit Bukit Iblis melawan pendekar‐pendekar lain sudah memasuki jurus ketiga puluh. Kesaktian Dedemit Bukit lblis benar‐benar telah menggentarkan hati mereka. Pada tiga jurus terakhir tadi, tujuh orang pendekar kembali menjadi korban cengkeraman iblis tersebut Mereka tewas dengan batok kepala berlubang.
"Aarrggghhh ... !"
Kembali terdengar lengking kesaidtan yang disusul dengan terlemparnya tiga orang Pendekar. Isi perut mereka berhamburan, karma pecah dirobek tangan Dedemit Bukit Iblis yang sekeras baja. Benar-benar mengerikan jurus 'Tangan Pengejar Roh' Itu.
"Iblis keji! Mam puslah!" bentak Ki Teja Laksana sambil melancarkan serangan‐serangan yang menimbulkan angin bersiutan.
Pendekar Tangan Baja yang marahnya sudah memuncak itu segera mengerahkan seluruh tenaganya. Serangannya dilancarkan secara bertubi‐tubi.
Dedemit Bukit Iblis yang sudah mengetahui kekuatan lawan, segera mengelak. Langsung didesaknya lawan dengan serangan serangan yang ganas dan mengerikan. Sepasang tangannya bergerak cepat, dan menimbulkan hawa yang menggetarkan. Memang, sepasang tangan itu juga dialiri kekuatan gaib, sehingga kehebatan jurus iblis itu berlipat ganda.
Jurus demi jurus berlalu cepat tidak terasa pertarungan telah melewati lima belas jurus. Meskipun para pendekar sudah dibantu Ki Teja Laksana, namun beberapa orang kembali menggeletak dengan leher patah!
"Gila! Iblis kepa rat! Bia dab!" teriak Ki Teja Laksana penuh kemarahan.
__ADS_1
Ternyata, iblis itu kembali membunuh beberapa orang kawannya tanpa mampu dicegah. Bahkan ini terjadi di depan hidungnya. Betapa terpukulnya hati Pendekar Tangan Baja melihat hal itu. Dan dengan kemarahan yang meluap‐luap, Pendekar Tangan Baja kembali memperhebat serangan‐serangannya. Namun celakanya, ke mana saja ia menyerang, Dedemit Bukit Iblis itu selalu dapat mengelak. Kemarahan Ki Teja Laksana semakin menjadi‐jadi saja.
Di saat pertarungan sudah memasuki jurus yang kesembilan belas, Pendekar Tangan Baja melontarkan dua buah pukulan disertai pengerahan tenaga dalam penuh ke arah leher dan ulu hati Dedemit Bukit Iblis.
Terkesiap hati Dedemit Bukit Iblis ketika melihat serangan maut itu. Segera digerakkan tangannya secara bersilangan, untuk menangkis serangan lawan. Terdengar suara yang keras ketika kedua tangan mereka bertemu. Ternyata, Dedemit Bukit Iblis masih meneruskan kedua telapak tangannya yang terbuka untuk menghantam dada Pendekar Tangan Baja.
Dheeesss ... !
Bagai layang‐layang putus, tubuh Pendekar Tangan Baja terlempar dan jatuh di tanah. Darah menyemprot dari mulutnya sehingga membasahi pakaian lawan. Ki Teja Laksana tergeletak dengan napas satu‐satu. Dirasakan dadanya hancur akibat hantaman telapak tangan Dedemit Bukit Iblis yang menggunakan jurus 'Tangan Pengejar Roh'. Cairan merah masih mengalir dari sela‐sela, bibirnya. Jelas, kalau pendekar itu terluka dalam cukup parah.
Sementara itu, ketika melihat gedorannya menemukan hasil, Dedemit Bukit lblis segera melompat untuk menghabisi lawan yang sudah tidak berdaya itu. Kedua tangan iblis itu terkembang dan siap mengirim lawannya ke akhirat. Pendekar Tangan Baja yang sudah tidak berdaya itu, hanya dapat memandang tak berkedip. Dia hanya pasrah, menantikan tangan‐tangan maut itu menghunjam batok kepalanya.
Dheerrr!
Terdengar sebuah ledakan dahsyat yang memekak telinga! Disusul dangan terlemparnya Dedemit Bukit Iblis di iringi dengan dengan jeritannya yang parau. Rupanya pada saat yang gawat itu, tiba‐tiba sesosok bayangan putih keperakan berkelebat memapak kedua tangan Dedemit bukit Iblis.
Bumi bagai bergetar akibat pertemuan dua tenaga dalam penuh. Sedangkan sosok tubuh berjubah putih itu terjajar mundur sejauh lima langkah! Dia tak lain adalah Panji. Pemuda yang dikenal sebagai Pendekar Naga Putih ini merasa terkejut juga ketika mendapat kenyataan bahwa tenaga dalam lawannya ternyata begitu dahsyat!
Pendekar Pemabuk yang masih dalam keadaan lemah hanya mampu memandang takjub kejadian itu. Sedangkan Pendekar Tangan Baja hampir tak percaya mendapati dirinya dalam keadaan selamat.
"Pendekar Naga Putih...!" seru Pendekar Tangan Baja dan Pendekar Pemabuk berbarengan. Kedua orang pendekar Sakti itu pun menarik. napas lega dengan wajah berseri‐seri.
"Tidak salah lagi! Dia pasti Pendekar Naga Putih! Lihat saja salah satu ciri dari ilmunya yang mukjizat itu!" seru Pendekar Pemabuk yang pernah mendengar ciri‐ciri Pendekar Naga Putih itu.
"Grrhh..., Anak Muda! Kaukah yang berjulukan Pendekar Naga Putih itu? Rasanya tak percaya kalau kau telah membunuh Tiga Iblis Gunung Tandur!" kata Dedemit Bukit Iblis dengan suara parau dan menjijikan.
“Begitulah orang‐orang menyebutku! Dan sekarang bersiaplah kau untuk menerima kematianmu, iblis kepa rat!" bentak Panji berang. Dia memang merasa terpukul sekali melihat mayat‐mayat pendekar yang telah dibantai secara kejam itu.
"Hhm..!" dengus Panji ketika melihat serangan itu. Secara spontan 'Tenaga Dalam Gerhana Buminya bergolak dan membentuk selapis kabut bersinar putih keperakan yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Tangannya lalu digerakkan membentuk cakar naga. Dengan menggunakan ilmu 'Naga Sakti', Panji segera menyambut serangan lawan.
Kini keduanya segera terlibat dalam sebuah pertarungan seru dan mendebarkan! Tubuh mereka yang sama‐sama terselubung jubah putih itu, saling serang dengan cepatnya. Kalau saja tubuh Panji tidak mengeluarkan sinar putih keperakan, Cukup sulit juga untuk dapat membedakan keduanya.
Memang sukar sekali mengikuti gerakan mereka yang luar biasa cepatnya! Kalau dilihat dari gerakan yang sama‐sama gesit dan sama‐sama ringan itu, rasanya ilmu meringankan tubuh keduanya berimbang! Kadang‐kadang tubuh dua orang sakti itu melambung tinggi melakukan serangan dari udara. Angin pukulan itu membuat daun‐daun pohon di sekitar tempat itu bagai dilanda angin topan dahsyat! Debu dan pasir beterbangan akibat pukulan‐pukulan jarak jauh yang dilancarkan masing‐masing lawan.
Tanpa terasa, pertarungan dua orang sakti itu telah berlangsung empat puluh jurus. Dan pada suatu kesempatan, Panji berhasil memancing lawannya. Pemuda itu melontarkan sebuah pukulan yang mengarah lambung. Sengaja dikerahkan separuh dari tenaganya untuk mengetahui reaksi lawan. Angin pukulannya berdesing tajam karena didorong tenaga dalam penuh!
Melihat pukulan itu, Dedemit Bukit Iblis tidak berani untuk memberikan tubuhnya. Segera digeser kaki kanannya ke b elakang dan sambil memutar tubuhnya, segera dilepaskannya sebuah tendangan disertai pengerahan tenaga dalamnya ke perut Panji suara mengaung keras menandakan kalau serangan itu disertai tenaga dalam yang cukup sempurna.
Panji yang memang sudah memperhitungkan hal itu, segera memutar tubuhnya dengan kuda‐kuda sangat rendah. Sehingga tendangan Dedemit Bukit Iblis hanya lewat sedikit di atas kepalanya. Kemudian dengan posisi kuda‐kuda 'Sepasang Kaki Berakar Di Bumi', Pendekar Naga Putih itu segera mendorongkan kedua telapak tangannya sekuat tenaga ke dada Dedemit Bukit Iblis. Hembusan angin yang luar biasa dinginnya mengiringi dorongan tangan Pendekar Naga Putih itu.
Deeesss!
"Aaarrrhhkk...!"
Dedemit Bukit lblis meraung dahsyat ketika dorongan telapak tangan Panji telah mengenal dadanya. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh iblis itu terlempar sejauh lima tombak, dan terus bergulingan sampai satu tombak jauhnya. Namun, karena ilmu kekebolan tubuhnya yang mengharuskan dia menghisap darah seorang bayi yang baru lahir, dorongan itu seperti tidak berpengaruh. Iblis itu langsung melompat berdiri meskipun agak limbung. Memang luar biasa sekali kekebalan tubuh yang dimiliki iblis itu.
Meskipun keadaan Panji tidak separah keadaan Dedemit Bukit Iblis, tapi pemuda itu cukup terkejut juga! Walaupun kuda‐kudanya tidak sampai tergempur, namun tubuhnya terdorong sejauh setengah meter. Bahkan sampai meninggalkan bekas sedalam setengah anak panah di atas tanah!
"Gila! Iblis ini mempunyai daya tolak yang kuat!" kata pemuda itu dalam hati.
__ADS_1
Sementara itu Dedemit Bukit Iblis menjadi murka sekali ketika mendapati ada cairan merah yang merembes dari sela‐sela bibirnya. Matanya yang memancarkan sinar kehijauan itu bergerak‐gerak liar. Rupanya, pengaruh pukulan Panji tadi memang berjalan lambat, tapi hasilnya cukup memuaskan juga.
"Hm.... cabutlah pedangmu, Anak Muda! Cabutlah.... Aku adalah tuanmu. Turuti semua perintahku! Cabutlah pedang dan bunuhlah dirimu sendiri, sebagai tanda baktimu kepadaku!" bujuk Dedemit Bukit Iblis, sambil menatap kedua mata Panji.
Tentu saja disertai kekuatan gaib yang mempengaruhi jalan pikiran. Suaranya menggeletar memasuki alam bawah sadar dan menguasai pikiran. Pengaruh kata‐kata yang di ucapkan iblis itu sangatlah kuat dan seakan‐akan tidak dapat dibantah lagi.
Beberapa orang pendekar yang menyaksikannya, sudah siap mencabut pedang. Ternyata pengaruh kekuatan gaib yang terkandung dalam suara Dedemit Bukit Iblis juga mempengaruhi mereka. Dan para pendekar itu pun segera mengacungkan pedangnya tinggi tinggi dan siap dihunjamkan ke perutnya masing‐masing.
Tiba‐tiba terdengar lengkingan tinggi yang menindih getaran suara Dedemit Bukit Iblis. Terjadilah sebuah letupan kecil di udara yang menandakan musnahnya pengaruh sihir iblis itu. Mendadak tubuh Dedemit Bukit Iblis terdorong sambil menekap dadanya yang bergetar hebat akibat lengkingan yang dikeluarkan Panji tadi.
Merasa ilmu sihirnya tidak dapat mempengaruhi lawannya, Dedemit Bukit Iblis menggereng bagaikan binatang terluka. Disertai teriakan yang merontokkan jantung, tubuh iblis itu meluncur ke arah Panji dengan kecepatan yang sukar ditangkap mata biasa. Dia langsung mengirim serangan dengan, jurus 'Tangan Pengejar Roh' yang sangat mengerikan itu.
Panji yang sudah ingin menyelesaikan pertarungan ini, segera mengempos semangatnya. Hasilnya, 'Tenaga Dalam Gerhana Bulan' semakin deras mengalir ke seluruh anggota tubuhnya. Dengan sebuah teriakan yang mengguntur, Panji segera melompat menyambut serangan lawan.
Pertarungan pun kembali berlangsung dengan hebatnya. Debu dan pasir beterbangan dilanda angin Pukulan yang dahsyat itu. Daun‐daun pohon berguguran membuat suasana pertarungan semakin menegangkan.
Para pendekar yang menyaksikan pertarungan itu merasa terbelak kagum! Mereka benar‐benar tercengang menyaksikan semua itu. Selama hidup, baru kali inilah mereka dapat menyaksikan pertarungan yang benar hebat dan dahsyat!
Tiga Puluh jurus pun kembali berlalu dengan cepatnya. Dan kali ini Dedemit Bukit Iblis benar‐benar terdesak oleh serangan‐serangan gencar yang dilakukan lawannya. Nyalinya pun mulai gentar merasakan kehebatan anak muda yang menjadi lawannya itu. Secara diam‐diam, mulai dipikirkan jalan keluar untuk menyelamatkan dirinya.
Justru hal inilah yang menjadi pantangan bagi seorang ahli silat. Karena dengan demikian perhatiannya telah terbagi. Dan hal semacam ini tentu saja dapat merugikan dirinya sendiri.
Memasuki Jurus ketiga puluh tujuh, Panji mulai tahu apa yang dipikirkan lawannya. Maka semakin diperhebatlah serangannya! Dan ketika Dedemit Bukit Iblis melontarkan sebuah pukulan ke arah bawah perutnya, pemuda itu segera melompat ke samping sambil melepaskan tendangan beruntun yang mengancam tujuh jalan darah kematian di tubuh lawan.
Tentu saja iblis itu menjadi terkejut setengah mati! Dengan gugup dilempar tubuhnya ke belakang. Namun Panji juga tidak tinggal diam. Pemuda itu segera melompat ke atas tubuh lawannya dan langsung dicengkramnya leher iblis itu. Dengan pengerahan tenaga saktinya, disentakannya kuat-kuat.
Brettt! Brettt!
"Krrooohhhk...!"
Terdengar suara mengorok yang keluar dari kerongkongan iblis itu. Darah segar memancur dari batang lehernya yang bolong akibat cengkraman Panji tadi.
Tubuh Dedemit Bukit Iblis berkelojotan meregang nyawa, lalu, terdiam untuk selama‐lamanya. Dedemit Bukit Iblis akhirnya tewas dalam keadaan yang tidak berbeda dengan korban‐korbannya.
Panji berdiri mematung sambil menengadahkan wajahnya ke langit yang sudah mulai agak terang itu. Ditariknya napas penuh kelegaan. Senyumnya terkembang ketika melihat Dewi Tangan Merah atau Sundari berlari menghampirinya.
"Kau.... Kau tidak apa‐apa, Kakang Panji...?" tanya Dewi Tangan Merah cemas.
Tanpa disadarinya tangannya telah pula menggenggam kedua tangan pemuda itu penuh kehangatan. Tiba‐tiba tubuh Panji melorot jatuh di atas rerumputan tebal, disertai suara keluhan pendek yang keluar dari mulutnya.
Tentu saja Dewi Tangan Merah menjadi terkejut setengah mati! Wajahnya yang cantik itu mendadak pucat karena kekhawatiran yang amat sangat.
"Kakang Panji! Kau..., kau kenapa?" teriak Dewi Tangan Merah sambil mengguncang‐guncangkan tubuh pemuda itu. Dan kecemasannya pun semakin memuncak ketika dilihatnya kedua mata Pendekar Naga Putih itu terpejam.
Namun, tiba‐tiba Panji tersenyum sambil membuka kedua matanya.
"Aku hanya kepingin tidur!" kata Pendekar Naga Putih singkat.
“Kurang ajar Rupanya kau sengaja menggodaku, Awas kau!" rutuk Dewi Tangan Merah dengan wajah kemerahan karena malu.
__ADS_1
Panji cepat‐cepat bangkit dan berlari, karena Dewi Tangan Merah sudah menggerakkan tangannya untuk memukul. Panji terus berlari sambil tertawa terbahak‐bahak. Rasanya senang sekali la telah berhasil membohongi dara jelita yang sangat cerdik itu.
Angin pagi bertiup lembut seolah‐olah ikut gembira menyaksikan dua muda‐mudi yang sedang bersenda gurau itu. Cahaya kemerahan pun mulai muncul dari ufuk timur. Pertanda sang matahari sudah memulai tugasnya.