
"Kalau habis kesabaranku, bisa-bisa kau tidak mempunyai mulut lagi!" ancam orang tua itu, karena merasa kalah bicara dengan pemuda yang ternyata pandai memutar balikan kata-kata itu.
"Huh! Tentu saja tahu, aku sedang berhadapan dengan siapa?" jawabnya lagi, berwajah sungguh-sungguh.
"Eh eh eh. Rupanya kau sudah pula mengenal diriku, Anak Muda! Coba sebutkan siapa diriku?! Mungkin nanti bisa kupertimbangkan, apakah kau akan kuampuni atau tidak?!" teriak orang tua itu. Rupanya dia merasa senang karena namanya sudah dikenal sampai sedemikian jauh.
"Hm, aku tahu!" jawab anak muda itu sambil tersenyum geli.
"Engkau adalah kakek buruk, gendut, dan usil dengan urusan orang!"
Setelah berkata demikian meledaklah tawa kelima belas orang pemuda itu. Ini karena mereka dapat membalas hi naan orang tua itu tadi.
Bukan main terperanjatnya orang tua itu. Wajahnya yang semula berseri gembira itu mendadak gelap. Matanya mencorong tajam berwarna merah seperti darah! Selama hidup belum pernah dia mengalami hi naan yang sedemikian itu. Masalahnya sampai saat ini tak ada seorang pun yang berani menghi na tokoh sesat macam dirinya yang kejam seperti iblis. Jangankan menghi na, baru mendengar namanya saja orang pasti lari pontang-panting!
"Hm! Kalau belum menghirup darah kalian, belum puas hatiku! Dengarlah baik-baik! Aku adalah Gandaruwo Hutan Jagal! Maka akan kucerai-beraikan tubuh kalian semua!" ancam orang tua yang berjuluk Gandaruwo Hutan Jagal itu. Suaranya begitu parau dan menggeletar karena amarah yang menggelegak.
Mendengar ancaman itu, mau tidak mau bulu kuduk lima belas orang pemuda itu meremang. Sungguh tidak pernah dibayangkan kalau mereka akan berjumpa iblis itu di tempat ini. Apalagi lima orang pemuda yang mengejeknya tadi. Mereka pernah mendengar kekejaman Gandaruwo Hutan Jagal yang suka makan daging manusia. Terutama daging anak muda yang merupakan kesukaannya.
Kelima belas orang pemuda itu menggigil hebat. Mereka benar-benar dilanda ketakutan luar biasa. Kengerian pun tergambar di wajah masing-masing. Bahkan beberapa di antaranya sampai terkencing- kencing, karena rasa ngeri yang mencekam.
Lalu terdengar teriakan-teriakan ngeri, ketika Gandaruwo Hutan Jagal itu mulai membantai mereka. Dalam waktu singkat, kelima belas orang pemuda itu tewas dengan keadaan yang sangat mengerikan. Tubuh-tubuh mereka cerai-berai, bagai diamuk segerombolan binatang liar. Darah merah pun membanjiri rerumputan tebal yang semula bersih dan menghijau itu.
Setelah puas membunuhi dan memakan anggota tubuh, dan meminum darah lima belas orang pemuda, dengan langkah santai Gandaruwo Hutan Jagal itu segera meninggalkan tempat itu. Wajah iblis itu kembali berseri-seri penuh kepuasan.
Angin gunung bertiup lembut menerobos sela-sela dedaunan menimbulkan suara gemerisik lembut, bagai kan senandung alam yang melenakan. Seolah-olah sang angin ingin menyampaikan berita duka kepada orang-orang yang tengah dilanda kesibukannya masing-masing.
*
Beberapa hari setelah pembantaian lima belas orang pemuda yang malang itu, tampak serombongan pemuda yang berjumlah sepuluh orang bergegas menuruni Lereng Gunung Salaka. Mereka adalah murid Perguruan Gunung Salaka yang mendapat tugas untuk membeli bahan-bahan makanan untuk keperluan sehari-hari.
Tujuh hari sekali beberapa murid Perguruan Gunung Salaka turun ke Desa Cikunir, yang merupakan desa terdekat dari gunung itu. Kesepuluh orang itu melakukan perjalanan dengan penuh kegembiraan. Kadang-kadang diselingi derai tawa apabila salah seorang menceritakan hal-hal yang menggelitik perut.
"He he he! Rupanya Kakang Rupaksa sudah tidak sabar lagi untuk bertemu si jantung hati, sehingga tega-teganya meninggalkan kita!" ledek salah seorang ketika melihat orang yang dipanggil Rupaksa itu melangkah mendahuluinya.
Mendengar gurauan itu, yang lain kontan tertawa geli sambil mempermainkan bola matanya melirik Rupaksa. Mereka memang sudah tahu apa yang dimaksud salah seorang kawannya itu.
"Ah! Kau bisa saja, Adi! Aku hanya ingin memeriksa keadaan di depan kita saja!" bantah Rupaksa sambil terpaksa menghentikan langkahnya, masalahnya kalau langkahnya diteruskan, pastilah mereka akan terus menggodanya.
"Hm! Kalau begitu, silakan teruskan maksud Kakang. Siapa tahu di balik semak-semak depan sana ada anak gadis kepala desa yang cantik itu! Ha ha ha...!" goda orang itu, kemudian tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
__ADS_1
Demikian pula kedelapan orang lainnya. Mereka tidak dapat lagi menahan geli di hati, yang tergelitik oleh perkataan kawannya itu. Dan tanpa dapat dicegah lagi, meledaklah tawa mereka sambil terbungkuk-bungkuk memegangi perut.
Rupaksa yang kali ini menjadi bahan godaan kawan-kawannya, hanya dapat berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa mampu berkata-kata. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah, karena jengah dan malu. Namun meskipun demikian, Rupaksa sama sekali tidak merasa tersinggung. Memang, hal seperti itu sudah biasa bagi mereka. Lagipula, ia tidak ingin merusak suasana yang menggembirakan itu, hanya karena masalah sepele.
"Hm. Tapi kali ini aku sungguh-sungguh, Adi. Entah mengapa, sejak berangkat tadi, hatiku selalu was-was. Dan hal ini tidak pernah kualami sebelumnya," ujar Rupaksa sungguh-sungguh, ketika tawa kawan kawannya mulai mereda.
Melihat wajah dan suara yang sungguh-sungguh itu, tawa kesembilan orang kawannya itu pun berhenti seketika. Untuk beberapa saat lamanya, mereka hanya saling pandangan dengan wajah bingung. Seolah-olah saling meminta pendapat masing-masing, apakah akan melanjutkan godaan itu atau tidak.
"Hm..., maksud Kakang, bagaimana?" tanya salah seorang ragu-ragu.
"Entahlah Adi? Sebaiknya tingkatkanlah kewaspadaan kita! Yahhh, mudah-mudahan saja tidak ada apa-apa," desah Rupaksa penuh harap.
Maka kesepuluh orang murid Perguruan Gunung Salaka itu kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini tidak lagi terdengar gelak tawa atau senda gurau. Memang, mereka sudah mulai terpengaruh perkataan Rupaksa tadi.
"Uuufff, bau apa ini?" teriak salah seorang ketika mereka melewati sebuah hutan yang cukup jauh dari Kaki Gunung Salaka. Orang itu mengendus-enduskan hidungnya, seolah-olah ingin memastikan bau yang tercium itu.
"Eh! Seperti bau bangkai! Mungkin bangkai binatang hutan yang mulai mengering!" teriak yang lain sambil menutup hidung.
Lain halnya Rupaksa. Saat teman-temannya mulai ribut, ia hanya termenung sambil mengernyitkan dahinya. Setelah berpikir beberapa saat lamanya, segera dilepaskan sabuk merah yang melilit pinggangnya.
"Kalian tetaplah di sini, aku akan memeriksa sebentar!" perintah Rupaksa sambil mengikatkan sabuk pada wajah untuk menutupi hidungnya. Dan dengan langkah pelahan-lahan, mulai dimasuki mulut hutan itu.
"Aku ikut, Kakang...!" teriak dua orang kawannya yang segera mengikuti langkah Rupaksa memasuki hutan. Mereka juga ikut melepaskan sabuk masing-masing untuk menutupi hidungnya, akibat bau yang menyengat.
Dengan penuh kewaspadaan, ketiga orang itu mulai memasuki hutan yang menjadi sumber bau sehingga mengusik hidung. Tentu saja hal itu tidak terlalu sulit. Dengan semakin santernya bau busuk itu, berarti semakin dekat pula ke arah sumbernya.
Selang beberapa waktu kemudian, Rupaksa dan kedua orang kawannya mulai mendekati tempat lima belas orang pemuda yang dibantai secara mengerikan!
"Aaahhh...!" lenguh ketiga murid Perguruan Gunung Salaka itu, tertahan.
Mata mereka membelalak dengan wajah pucat. Apa yang disaksikan ini, benar-benar membuat hati terguncang! Di hadapan mereka kini terbentang sebuah pemandangan yang dapat membuat hati siapa saja akan menggigil ketakutan, karena rasa ngeri yang hebat! Memang, yang disaksikan mereka adalah belasan mayat yang sudah tidak mungkin dapat dikenali. Tubuh belasan mayat itu sudah mulai mengering, dan tidak satu pun yang anggota tubuhnya masih lengkap. Ada sosok mayat yang tanpa kepala. Ada pula yang tanpa kaki. Bahkan ada yang isi perutnya berhamburan!
Rupaksa dan kedua orang kawannya segera berlari meninggalkan tempat itu, dengan langkah terhuyung-huyung. Mereka tidak sanggup lagi menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerang. Seluruh tubuh mereka kini dibanjiri keringat dingin. Dan begitu tiba di tempat kawan-kawannya, tubuh ketiga orang itu ambruk bagai sehelai karung basah. Dengan cepat mereka segera melepaskan sabuk yang menutupi mulut dan hidungnya.
"Huaaakkk...!"
Tanpa dapat dicegah lagi, tiga orang itu langsung muntah-muntah. Rasanya seluruh isi perut ingin dikeluarkan saat itu. Setelah tidak ada lagi yang dimuntahkan, ketiga orang itu masih belum dapat berkata-kata. Tubuh mereka lemas seolah-olah tenaga ikut pula tersedot.
"Ada apa, Kakang? Apa yang sudah terjadi?" tanya kawan-kawannya, cemas. Memang mereka tidak tahu apa yang telah dialami tiga kawannya itu. Mereka memang tidak sempat bertanya sebab begitu tiba ketiganya langsung ambruk dan muntah-muntah hebat. Sehingga, ketujuh orang kawannya itu hanya dapatmemandang, disertai wajah bingung. Mereka segera membantu mengurut-urut tubuh ketiganya, agar pernapasannya lebih longgar.
__ADS_1
Selang beberapa waktu kemudian, Rupaksa dan dua orang lainnya sudah mulai pulih kembali lagi. Wajah ketiganya tampak sudah segar seperti semula. Ketiganya pun segera melangkah menghampiri tujuh orang kawannya yang sudah pula berdiri menyambutnya.
"Ayolah, Kakang. Kami sudah tidak sabar mendengar ceritamu," pinta salah seorang kawannya, ketika mereka sudah duduk di atas bebatuan.
"Baiklah. Akan kuceritakan kepada kalian, apa yang telah kami temukan dalam hutan itu," jawab Rupaksa kalem.
Rupaksa pun mulai menceritakan semua yang disaksikan di dalam hutan itu. Ketujuh orang temannya itu berkali-kali berseru kaget bercampur ngeri. Sama sekali tidak disangka kalau bau busuk itu berasal dari mayat-mayat manusia yang hampir mengering. Sungguh di luar dugaan sama sekali.
"Menurut cerita Kakang, mayat itu berjumlah belasan banyaknya. Aku jadi curiga, jangan-jangan...," orang itu tidak meneruskan ucapannya. Hal ini memang dapat berakibat buruk bagi Perguruan Gunung Salaka, maka segera dibuang jauh-jauh pikiran yang bukan-bukan itu.
"Hm, mengapa tidak kau teruskan ucapanmu, Adi? Katakanlah apa yang menjadi dugaanmu. Nanti baru kita teliti benar tidaknya," ujar Rupaksa penasaran.
"Benar! Katakanlah apa yang menjadi dugaanmu. Siapa tahu misteri pembunuhan itu dapat disingkap," bujuk kawan yang lain, ikut menimpali.
"Sebenarnya aku takut tentang dugaanku itu. Sebab hal ini akan besar sekali pengaruhnya bagi nama besar perguruan kita. Maka sebaiknya, kubuang jauh-jauh pikiran itu," bantah orang itu cemas.
"Jadi, kejadian itu bisa berpengaruh pada perguruan kita? Gila!" ujar kawannya yang lain.
"Nanti dulu, nanti dulu! Mmm..., belasan orang yang terbunuh dan mayatnya sudah hampir mengering. Jadi paling sedikitnya sudah dua atau tiga hari terbunuh. Dan hari kejadian pembunuhan ini, paling tidak berbarengan dengan hari penerimaan murid-murid baru. Aaahhh..., benarkah dugaanku?" ujar Rupaksa. Wajahnya terlihat agak pucat.
"Kalau memang demikian, berarti malapetaka akan menimpa perguruan kita!"
"Benar! itulah yang kutakutkan, Kakang!" ujar kawannya, yang memang berpikir demikian.
"Kalau begitu, kita harus bertindak cepat! Kalian bertujuh, tetaplah pada tugas semula. Sedangkan aku dan dua orang teman lainnya akan kembali keperguruan untuk melaporkan kepada Guru. Biar bagaimanapun, pembunuhan itu terjadi di wilayah kita. Maka sudah merupakan kewajiban kita untuk menyelidikinya," usul Rupaksa.
"Baiklah, kalau memang sudah menjadi keputusanmu, Kakang!" jawab mereka, segera menyetujui usul itu.
Maka murid-murid Perguruan Gunung Salaka itu pun berpisah. Rupaksa dan dua orang lainnya bergegas kembali keperguruan, sedang tujuh orang lainnya segera meneruskan perjalanannya.
Sementara itu Rupaksa mengerahkan ilmu meringankan tubuh untuk mempercepat perjalanan, diikuti dua orang kawannya. Kini Rupaksa dan dua orang kawannya tiba di Puncak Gunung Salaka. Tanpa membuang-buang waktu lagi, mereka memasuki bangsal utama perguruan itu untuk menghadap guru besar mereka.
"Hei, berhenti dulu! Mau ke mana, kalian?" tegur seorang murid yang sedang mendapat tugas membersihkan bangsal utama itu.
"Kami ingin menghadap Guru. Ada sesuatu yang ingin dilaporkan!" jawab Rupaksa. Suaranya dibuat hormat karena yang menyapa mempunyai tingkatan yang lebih tinggi daripadanya.
"Hm, penting sekalikah kabar itu? Tidak dapatkah ditunda hingga nanti sore, Adi Rupaksa?" tanya orang itu mulai ragu.
"Tidak bisa, Kakang! Ini menyangkut nama besar perguruan kita. Dan kalau Guru Besar marah, biarlah akan kutanggung akibatnya!" ujar Rupaksa. Suaranya begitu tegas.
__ADS_1
"Ah! Bukan begitu maksudku. Adi Rupaksa! Kalau begitu masuklah. Biarlah resikonya kita tanggung bersama-sama."
Maka keempat orang itu segera melangkah menuju bangsal utama yang dijadikan tempat pertemuan. Letaknya di tengah-tengah bangunan besar Perguruan Gunung Salaka. Rupaksa dan dua orang temannya segera memasukinya. Sedangkan orang yang mengantar sudah kembali meneruskan pekerjaannya yang tertunda karena kedatangan mereka.