Pendekar Naga Putih

Pendekar Naga Putih
23


__ADS_3

Kesembilan orang pendekar yang juga merasa curiga akan tempat itu, segera mengikuti petunjuk yang diberikan Ki Teja Laksana. Mereka kini sudah menghunus senjata masing‐masing. Hanya Ki Teja Laksana saja yang masih bertangan kosong. Tapi justru pada kedua tangan itulah terletak keistimewaan pendekar tersebut!


Dengan kesiagaan penuh, kesepuluh orang pendekar itu pun melangkah memasuki padang ilalang. Ki Teja Laksana yang menjadi pimpinan, berjalan di depan. Setelah Ki Teja Laksana berjalan sejauh tiga tombak salah seorang pendekar segera melangkah mengikuti Pendekar Tangan Baja, dan begitu seterusnya.


Ki Teja Laksana sudah berjalan sejauh lima belas tombak. Dan Berarti sudah empat orang pendekar yang mengikutinya. Mendadak, pendengarannya yang tajam menangkap suara suara mencurigakan yang datangnya dari rimbunan ilalang. Secara spontan, tenaga dalamnya menyebar ke seluruh tubuh untuk menghadapi segala kemungkinan.


"Awas! Hati‐hati!" teriak Pendekar Tangan Baja.


Sementara dirinya sendiri sudah melangkah mundur, sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya. Ki Teja Laksana masih belum dapat menduga, apa gerangan yang akan terjadi. Suara berkeresekan itu semakin lama semakin keras, dan tampaknya menuju ke arah para pendekar yang berada di tengah padang ilalang itu. Pendekar Tangan Baja atau Ki Teja Laksana mulai dapat menduga, apa yang telah menimbulkan suara demikian ribut dalam rimbunan ilalang itu.


"Kawan‐kawan, munduuur!!" teriak Ki Teja Laksana keras memperingatkan para pendekar lainnya. Sedangkan ia sendiri sudah melangkah mundur, sambil meningkatkan kewaspadaannya.


Terlambat! Ternyata secara tiba‐tiba saja benda hitam pekat, dan panjangnya kurang lebih dua jengkal telah beterbangan ke arah mereka. Pendekar Tangan Baja bergulingan menghindari serangan benda‐benda itu. Begitu meloncat bangun, di tangannya telah tergenggam sebatang pedang yang bersinar kuning. Segera dikelebatkan pedang itu membabat ke arah Benda‐benda hitam pekat. Namun hati Pendekar Tangan Baja menjadi tercekat, ketika benda‐benda hitam itu dapat mengelak dari sambaran pedangnya.


"Gila! Apa ini...?" teriaknya kaget.


Di tempat lain, tiga orang pendekar yang telah ikut masuk ke dalam rimbunan ilalang juga mengalami hal serupa. Mereka segera membabatkan pedang ke arah benda tersebut. Seperti halnya Ki Teja Laksana, mereka juga menjadi terkejut, karena benda‐benda hitam pekat itu dapat mengelak dari sambaran pedang mereka!


Benda‐benda hitam pekat yang panjangnya hanya dua jengkal itu kini beterbangan mengincar tenggorokan dengan kecepatan yang luar biasa!


Wess… wes... wes...!


Crebb ... ! Crebb...!


"Aaahhhkkk ... !"


Salah seorang dari tiga orang pendekar itu berteriak ngeri. Dua buah benda yang berwarna hitam pekat itu telah menembus tenggorokannya. Tubuhnya terjungkal, lalu berkelojotan dengan mata mendelik. Beberapa saat kemudian orang itu pun tewas dengan tenggorokan bolong!


"Lariii...! Cepat! Lari keluar ... !” Pendekar Tangan Baja berteriak panik sambil memutar‐mutar pedang untuk melindungi tubuhnya dan sambaran benda‐benda itu.


Ki Teja Laksana melompat‐lompat dan bergulingan ke arah jalan keluar. Kembali terdengar teriakan menyayat dari dua orang pendekar yang lainnya. Ketika ia menemukan mayat ke tiga kawannya yang tergeletak di sepanjang jalan menuju keluar, wajah Ki Teja Laksana pucat dan merah berganti‐ganti. Perasaan marah dan ngeri bercampur menjadi satu. Sedangkan benda‐benda berwarna hitam pekat itu menggeliat geliat di sekujur tubuh tiga orang pendekar yang kini telah menjadi mayat. Benar‐benar sebuah pemandangan yang mendirikan bulu roma!


"U... ular... terbang…!" desis Ki Teja Laksana dengan wajah pucat dan bibir gemetar! Seketika itu juga pendekar pemimpin rombongan itu menghambur keluar, sambil memutar pedangnya sekuat tenaga. Benda‐benda hitam pekat yang disebut ular terbang itu berjatuhan terbabat pedangnya.


Sementara itu, enam orang pendekar yang masih berada di luar hanya dapat menunggu dengan wajah penuh ketegangan. Mereka hanya mendengar teriakan Pendekar Tangan Baja memperingatkan kawan‐kawannya.


Namun ketika mendengar teriakan ngeri dari ketiga kawannya yang berada di dalam tempat rimbunan ilalang itu, wajah keenam orang pendekar itu menjadi pucat. Serentak mereka menghunus senjata untuk menjaga segala kemungkinan. Keenam orang pendekar itu tidak mengetahui secara pasti kejadian yang menimpa Ki Teja Laksana dan ketiga orang pendekar lainnya. Namun dari teriakan dan jeritan tadi, tentulah mereka tengah menghadapi sesuatu yang mengerikan!

__ADS_1


Dengan pedang di tangan, keenam orang pendekar itu berniat memasuki tempat itu membantu kawan‐kawannya. Keenam orang pendekar itu segera melesat ke arah padang ilalang. Namun, sebelum mereka memasuki daerah itu, tiba‐tiba sesosok bayangan melesat keluar dari jalan yang akan mereka masuki.


"Munduuur! Jauhi tempat ini ... !" Bayangan yang ternyata adalah Pendekar Tangan Baja itu, berteriak gugup memperingatkan keenam orang pendekar tersebut.


Keenam orang pendekar yang sedianya akan membantu teman‐temannya, segera menarik senjatanya. Mereka pun berlompatan mundur menjauhi daerah yang ditumbuhi ilalang itu.


"Hah ... ?!" Enam orang pendekar itu terbeliak memandang Ki Teja Laksana. Di wajah mereka tergambar kengerian yang amat sangat!


"Ada apa?!" seru Pendekar Tangan Baja sambil melintangkan pedangnya di depan dada.


"Bajumu, Ki...! Bajumu!" teriak mereka sambil menunjuk pakaian Ki Teja Laksana.


Dengan wajah tegang, Pendekar Tangan Baja segera memandang pakaian yang dikenakannya itu. Alangkah terkejutnya hati pendekar itu, ketika melihat pakaiannya yang tak ubahnya seperti yang dikenakan para jembel.


"Aaah!!! " Pendekar Tangan Baja melangkah mundur. Wajahnya semakin memucat. Bagaimana hati pendekar itu tidak ngeri? Sebab pakaian yang dikenakannya telah menjadi compang camping. Benar‐benar seperti seorang jembel saja.


"Gila! Benar benar mengerikan!" ujar Pendekar Tangan Baja. Suaranya bernada penuh kengerian. Pendekar itu menarik napas panjang sambil memandang ke arah hamparan padang ilalang dan pakaiannya berganti‐ganti.


"Apa yang terjadi, Ki...?" tanya keenam pendekar itu. Mereka masih belum mengerti kejadian yang telah menimpa Ki Teja Laksana dan kawan‐kawannya itu.


"Ular terbang?!" seru keenam orang pendekar itu heran.


"Bukankah ular‐ular itu hanya terdapat di daerah Utara? Lagi pula, ular jenis itu sudah langka sekali!" kata salah seorang pendekar yang agaknya lebih mengetahui dari pada kelima orang kawannya.


"Benar! Aku pun pernah mendengar hal itu dari guruku. Tapi kalau melihat bentuk padang ilalang itu, nampaknya dedemit itu sengaja memelihara ular terbang! Jelas, maksudnya agar tempatnya tidak mudah didatangi sembarang orang!" ujar Ki Teja Laksana pula.


"Ya! Rasanya ucapan Ki Teja Laksana cukup beralasan. Mungkin dedemit itu memang sengaja memeliharanya, supaya aman dari gangguan musuh‐musuhnya," ucap seorang pendekar yang bertubuh tinggi besar.


Untuk beberapa saat lamanya, keadaan di sekitar tempat itu menjadi sunyi. Ketujuh orang pendekar itu sama‐sama terdiam, terbawa arus pikiran masing masing.


"Ayo, kita kembali ... !" seru Ki Teja Laksana tiba‐tiba membuyarkan lamunan pendekar‐pendekar lain.


Keenam orang itu tersentak kaget. Tanpa berkata sepatah pun, keenam, orang pendekar itu segera mengikuti langkah Pendekar Tangan Baja.


Belum lagi jauh berjalan, tiba‐tiba Ki Teja Laksana menghentikan langkahnya. Kening Pendekar Tangan Baja berkerut‐kerut, bagai tengah memikirkan sesuatu. Secara serentak enam orang pendekar yang berada di belakangnya ikut pula menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Ki?" tanya salah seorang dari keenam orang pendekar itu. Sedangkan lima orang lainnya ikut memandang Ki Teja Laksana dengan sinar mata penuh pertanyaan.

__ADS_1


Pendekar Tangan Baja terdiam sejenak, sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Cobalah perhatikan keadaan di sekitar sinil" kata Pendekar Tangan Baja, tanpa mempedulikan keheranan keenam pendekar itu. Pandangannya pun tak lepas memperhatikan sekitarnya.


Meskipun keenam orang pendekar itu tidak mengerti maksudnya, namun mereka tetap mengikuti apa yang diinginkan Pendekar Tangan Baja itu. Dengan wajah keheranan, keenam, orang pendekar itu segera memperhatikan ke sekeliling tempat itu.


"Rasanya tidak ada yang aneh pada tempat ini, Ki...?" jawab salah seorang pendekar itu, setelah tidak menemukan apa yang dianggapnya aneh ataupun mencurigakan.


Berturut turut kelima orang pendekar lainnya mengatakan hal serupa. Mereka juga tidak menemukan apa yang dimaksud Pendekar Tangan Baja.


"Apakah kalian sudah memperhatikan secara teliti?" tanya Pendekar Tangan Baja lagi.


"Rasanya sudah, Ki...!" jawab enam orang pendekar itu pasti.


"Hm.... Sekarang, coba kalian perhatikan sekali lagi! Dan ingat‐ingatlah! Apakah ini jalan yang tadi kita lewati?" tanya Ki Teja Laksana. Wajahnya mulai diliputi ketegangan.


Ketika mendengar ucapan Pendekar Tangan Baja, keenam orang pendekar itu baru menyadari kesalahan mereka. Wajah mereka mendadak pucat, ketika memperhatikan sekitar tempat itu.


"Benar! Jalan ini bukanlah jalan yang kita lalui sewaktu kita datang!" ujar salah seorang pendekar yang wajahnya dipenuhi cambang bawuk yang lebat.


"Ah … ! Tapi, bukankah kita bisa mencari jalan lain?


“Kan hanya salah salah jalan saja?" bantah seorang pendekar yang bertubuh tinggi kurus. Rupanya la masih belum mengerti, apa yang dimaksudkan Pendekar Tangan Baja.


"Hm..., tidak sesederhana itu, Kawan! Kurasa, kita telah masuk dalam perangkap yang dibuat Dedemit Bukit lblis!" jelas Pendekar Tangan Baja. Tentu saja hal ini membuat keenam orang pendekar itu semakin tegang saja.


"Lalu..., apa yang harus kita lakukan, Ki? Apakah kita harus menyerah begitu saja?" tanya salah seorang pendekar yang sudah dapat menangkap maksud pembicaraan Pendekar Tangan Baja.


"Marilah kita berpencar, untuk mencari jalan yang semula kita lalui. Dan, apabila salah seorang dari kita telah menemukannya, harus memberikan tanda dengan siulan! Bagaimana? Setuju?" usul Pendekar Tangan Baja.


Keenam orang pendekar itu segera menyetujui usul yang dikemukakan Ki Teja Laksana. Mereka lalu berpencar, untuk menemukan jalan yang semula mereka lalui.


Pendekar Tangan Baja menuju sebelah Timur. Sedangkan enam orang pendekar lainnya menuju ke sebelah Barat, Utara, dan Selatan secara berpasangan.


Ketujuh pendekar yang tersesat itu melangkah dengan kesiagaan penuh. Tangan mereka masing‐masing telah menggenggam senjata yang sewaktu‐waktu siap digunakan. Memang disadari bahwa di sekitar mereka banyak bahaya yang mengancam. Bahkan dapat mencabut nyawa setiap saat.


Pendekar Tangan Baja telah berpesan kepada keenam kawannya untuk memberi tanda pada setiap jaIan yang mereka lewati. Agar mereka tidak kehilangan arah dan dapat kembali ke tempat semula.

__ADS_1


__ADS_2