Pendekar Naga Putih

Pendekar Naga Putih
31


__ADS_3

"Hm..., benar‐benar gadis yang cerdik dan pandai bicara. Aku harus lebih berhati‐hati dalam menanggapi ucapannya. Salah‐salah bisa terjebak oleh jawabanku sendiri," ucap Panji dalam hati.


"Nini Dewi Tangan Merah, benarkah sahabat muda yang gagah ini yang berjuluk Pendekar Naga Putih?" tanya seseorang yang tiba‐tiba saja ikut meramaikan pembicaraan itu.


Keenam orang itu pun segera menoleh ke arah asal suara itu. Panji dan Dewi Tangan Merah sedikit terkejut juga, karena keduanya tidak mendengar suara langkah kaki yang mendatangi tempat itu. Namun, mereka tersenyum senang ketika mengetahui bahwa orang yang bertanya tadi adalah salah seorang dari delapan orang pendekar yang telah menyelesaikan semadinya.


Panji dan Dewi Tangan Merah saling berpandangan, kemudian meledaklah tawa kedua orang muda‐mudi itu. Mereka telah mengetahui apa yang ada dalam pikiran masing‐masing.


Sedangkan keempat orang pengawal kepala desa itu hanya dapat saling pandangan dengan wajah bingung, karena tidak mengerti apa yang ditertawakan dua pendekar muda itu.


"Hai, mengapa kalian malah tertawa? Apakah pertanyaanku ada yang salah?" tanya pendekar itu tak mengerti.


Pendekar yang telah diselamatkan Panji itu pun bangkit dan menghampiri enam orang yang tengah berkumpul. Ketujuh orang pendekar lainnya yang juga sudah menyelesaikan semadinya, ikut pula bangkit menghampiri tempat itu. Panji yang khawatir kalau‐kalau pendekar itu akan merasa tersinggung, buru‐buru bangkit menyambut kedatangan mereka.


"Ah! Mari..., mari Kisanak semua! Silakan..., silakan!" ucap Panjisambil tersenyum ramah.


Kedelapan orang pendekar itu pun segera mengambil tempat duduk masing‐masing. Tiga orang di antaranya duduk di alas hamparan rumput tebal, karena tidak ada batu‐batu lagi yang dapat digunakan untuk tempat duduk. Empat buah sinar obor yang ditancapkan di empat penjuru, ikut pula menyemaraki tempat pertemuan yang sederhana itu.


"Maaf, Kisanak. Terpaksa kuulangi pertanyaanku! Apakah yang menyebabkan kalian tertawa begitu lepas? Ataukah pertanyaanku ada yang salah? Kalau benar demikian, mohon dimaafkan, Nini Dewi Tangan Merah!" kata pendekar itu sambil membungkukkan kepalanya kepada Dewi Tangan Merah dan Panji.


“Begini, Kisanak….,” Panji menghentikan kata-katanya karena belum mengenal nama pendekar itu.


"Panggil saya Ludira, Kisanak," jawab Pendekar itu cepat


"Oh, ya. Panggil juga saya Panji. Hm..., begini Kakang Ludira! Sebenarnya kami bukan menertawai pertanyaan Kakang, tapi adalah kebodohan diri kami Sendiri! " jawab Panji sambil tersenyum geli. Dia masih teringat dengan tingkahnya itu.


"Menertawakan diri sendiri? Mengapa begitu?" tanya pendekar yang bertubuh tinggi besar dan kokoh. Tampak otot‐otot yang melingkar di tangannya.


"Begini, Kisanak semua! Sebagai orang persilatan yang telah terlatih semenjak kecil, maka kepekaan kita pun terlatih dalam hal pendengaran. Nah! Pada saat Kakang Ludira mengeluarkan pertanyaan secara tiba‐tiba tadi, kami berdua merasa terkejut, Sebab sama sekali tidak mendengar suara langkah sedikit pun pada saat kedatangannya. Tentu saja kami menduga bahwa orang yang bertanya itu pastilah memiliki kepandaian tinggi. Dan ketika kami menoleh ke tempat asal suara, ternyata orang itu adalah Kakang Ludira yang baru saja menyelesaikan semadinya. Tentu saja kami tidak dapat mendengar langkahnya, karena dia tengah duduk bersila dengan santainya!" tutur Dewi Tangan Merah sambil tertawa terpingkal‐pingkal.


Meledaklah gelak tawa kedelapan orang pendekar dan keempat orang Pengawal kepala desa itu. Bahkan beberapa di antaranya sampai mengeluarkan air mata, karena cerita itu benar‐benar menggelikan.


*


Sementara malam sudah mulai berganti pagi. Kokok ayam jantan terdengar bersahut‐sahutan menyambut datangnya fajar. Pertanda sebentar lagi kehidupan akan segera dimulai kembali. Setelah kedelapan orang pendekar itu benar‐benar pulih tenaganya, Panji pun minta diri. Pemuda itu berniat untuk menyatroni, Bukit lblis.


Namun, maksudnya itu tidak diceritakan kepada mereka semua sebelum meninggalkan tempat ini, Panji berpesan kepada kedelapan orang pendekar itu untuk menjaga keamanan Desa Pasiran selama Dedemit Bukit Iblis masih berkeliaran mencari mangsa.


"Hendak pergi ke manakah, Kakang Panji?" tanya Dewi Tangan Merah atau Sundari yang sudah menyebut Panji dengan panggilan 'Kakang'.


Memang, sejak peristiwa itu, mereka sudah saling mengenalkan nama masing‐masing. Bahkan semakin akrab saja.


"Aku hendak melanjutkan perjalananku, Adik Sundari. "


"Hm.... Kalau begitu, aku pun hendak pamit pula. Rasanya sudah tidak ada lagi yang dapat kukerjakan di sini!" ujar Dewi Tangan Merah seraya bangkit dari duduknya untuk berpamitan kepada yang lainnya.

__ADS_1


"Kau... kau hendak ke mana, Adik Sundari?" tanya Panji cemas. Dari senyuman gadis baju merah itu, sudah dapat diduga kalau gadis itu sengaja hendak menggodanya.


"Tentu saja hendak melanjutkan perjalananku! Apakah tidak boleh?" Dewi Tangan Merah pura-pura membelalakkan matanya sambil berkacak pinggang. Sengaja diberi tekanan pada kata 'tidak boleh', untuk memancing perhatian Panji.


Pemuda itu menjadi tertegun. karena tentu saja tidak mempunyai hak untuk melarang kepergian gadis itu.


"Ah! Bukan begitu, Adik Sundari! Aku hanya bertanya saja, kok. Tentu saja kau boleh pergi ke mana kau sutra!" jawab Panji tersenyum masam. Dan dia pun tidak berkata‐kata lagi, karena khawatir kalau kata‐katanya nanti dijadikan senjata oleh gadis yang pandai bicara itu.


"Nah, begitu dong! Mari kita berangkat sama sama, Kakang!" ujar Dewi Tangan Merah sambil menarik tangan Panji untuk segera meninggalkan tempatitu.


"Eh…., eh…., bagaimana ini?!" Panji menjadi bingung bercampur malu. Dan untuk beberapa saat lamanya pemuda itu tidak mampu berkata‐kata.


"Kalau kutolak gadis ini pasti akan marah. Tapi, kalau kuterima, tentu akan membuat repot perjalananku! Hm..., apa yang harus kukatakan agar ia tidak marah?" lanjut Panji dalam hati.


Sementara itu, kedelapan orang pendekar dan empat pengawal kepala desa tersenyum geli melihat Panji yang tidak berdaya menghadapi Dewi Tangan Merah atau Sundari yang memang pandai bicara itu.


"Sudahlah, Adi Panji. Turuti saja kemauannya! bukankah lebih menyenangkan daripada melakukan Perjalanan sendirian! Apalagi yang menemani seorang Dewi?" goda Ludira sambil tertawa terbahak‐bahak melihat kebingungan pemuda yang mereka kagumi itu.


"Hm..., baiklah! Baiklah, aku mengalah! Mari, Kakang!"akhirnya Panji pun mengalah, walaupun di wajahnya menyemburat merah menahan malu. Terpaksa dituruti kehendak gadis itu karena tidak ingin membuat gadis itu tersinggung. Maka, Panji segera berpamitan kepada yang lainnya.


"Nah, begitu baru enak! Lagi pula apa sih ruginya melakukan perjalanan bersamaku?" ujar gadis itu lagi sambil mencibirkan bibirnya yang merah menantang.


Panji tidak menjawab perkataan gadis itu, tapi hanya menoleh sambil tersenyum melihat keriangan Dewi Tangan Merah. Memang pada dasarnya, dia adalah gadis yang periang dan pandai bicara.


Diiringi gelak tawa kedua belas kawannya, sepasang muda‐mudi itu segera berjalan meninggalkan Desa Pasiran dan menuju ke Bukit Iblis. Angin fajar berhembus lembut mengantar kepergian sepasang pendekar muda yang akan melaksanakan kewajibannya sebagai penegak keadilan.


*


Bayangan itu terus berlari ke arah mulut hutan yang terletak jauh di luar Desa Pasiran. Setelah cukup memakan waktu, barulah ia tiba di mulut hutan itu. Padahal, perjalanan itu biasa ditempuh orang selama satu hari. Tapi oleh bayangan itu hanya ditempuh kurang dari seperempat hari! Dapat dibayangkan, betapa tingginya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki bayangan putih itu!


Bayangan putih itu terus melesat melewati hutan belantara yang sukar dan gelap. Dan kini dia tiba pada sebuah daerah perbukitan yang tegak berjajar bagaikan raksasa‐raksasa yang sedang tidur.


Mendadak bayangan putih yang ternyata Dedemit Bukit Iblis itu, menghentikan larinya. Kepalanya ditengadahkan ke langit yang nampak mulai cerah itu. Cuping hidungnya bergerak‐gerak, seolah‐olah mengendus sesuatu yang tidak berkenan di hatinya. Perlahan‐lahan sinar matanya yang menyeramkan itu berubah kehijauan. Otot‐otot di seluruh tubuhnya menegang! Ternyata nalurinya yang tajam memperingatkan adanya bahaya mengancam yang tengah mengintainya. Iblis itu terdiam sejenak seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.


Beberapa saat setelah hatinya mantap, Dedemit Bukit Iblis melangkah pelahan menuju tempat kediamannya. Langkah kakinya yang satu‐satu itu, menandakan kalau ia tengah bersiap‐slap menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi. Dan, tiba‐tiba....


Siiinnng! Seennng! Siiinng!


Terdengar suara berdesing yang disusul meluncurnya beberapa buah senjata yang menyambar ke arah tubuhnya! Namun dengan gerakan yang sangat mengagumkan, kedua tangan Dedemit Bukit lblis menangkap empat batang tombak yang mengancam kepalanya. Sedangkan yang mengancam tubuhnya, sama sekali tidak digubris.


Tappp! Tappp!


Trakkk! Trakkk!


Luar biasa sekali! Senjata‐seniata yang menyentuh tubuhnya langsung patah dan runtuh ke tanah!

__ADS_1


Sementara empat batang tombak yang ditangkapnya, langsung dikembalikan dengan kecepatan empat kali lipat dari semula. Senjata‐senjata itu meluncur menuju semak‐semak yang berada lima depa di sebelah kirinya.


Krosakkk!


"Aaarrggghhh...


Terdengar raungan tinggi, disusul munculnya empat sosok tubuh yang berdiri limbung. Tangan mereka memegangi tombak yang telah menembus dada dan lehernya. Cairan merah seketika membasahi pakaian mereka. Empat orang itu ambruk ke tanah dan tidak bergerak‐gerak lagi. Belum lagi iblis itu dapat menarik napas lega, tiba‐tiba bermunculan beberapa sosok tubuh dari sekitar tempat itu. Dalam waktu yang singkat saja Dedemit Bukit lblis sudah terkurung oleh puluhan orang yang bersenjata.


"Hm..., iblis busuk! Bersiaplah menerima kematianmu! Seraaanng ... !" seru seseorang yang memimpin penyerangan itu.


Tanpa diperintah dua kali puluhan orang itu pun segera berlompatan k e arah Dedemit Bukit Iblis. Senjata‐senjata mereka berdesingan dan menyambar‐nyambar dengan kuatnya.


"Arahkan senjata‐senjata kalian ke bagian kepala!" kembali terdengar perintah yang dikeluarkan oleh seorang lelaki gagah yang berusia sekitar lima puluh tahun. Wajahnya masih terlihat tampan dan berwibawa. Pada dagu dan pipinya ditumbuhi bulu-bulu halus yang lebat dan hitam.


Orang tua gagah itu tak lain adalah Ki Teja Laksana atau yang lebih dikenal berjuluk Pendekar Tangan Baja.


Di sebelah kiri Pendekar Tangan Baja, terlihat seorang pendekar yang selalu membawa‐bawa guci arak. Tidak salah lagi, pendekar itu adalah Pendekar Pemabuk. Kedua orang pendekar itu hanya berdiri di tepi arena pertandingan, sambil memperhatikan jalannya pertarungan itu. Rupanya kedua orang pendekar itu sedang mengamati gerakan maupun kelebihan Dedemit Bukit lblis, untuk mencari kelemahan‐kelemahannya.


Dedemit Bukit Iblis yang lagi dikeroyok puluhan orang pendekar itu, memang benar‐benar lihai. Dalam beberapa jurus saja, tiga orang pendekar telah menggeletak tewas dengan leher berlubang! Namun meskipun demikian, para pendekar itu tidak menjadi gentar. Mereka tetap bersemangat menyerang dengan semangat yang tinggi.


Menghadapi serangan yang susul‐menyusul itu, Dedemit Bukit Iblis menggeram gusar. Dengan teriakan yang mendirikan bulu roma, tubuhnya melesat melompat mundur. Tiba‐tiba kedua tangannya berputar‐putar dengan kecepatan yang sukar diikuti mata. Dari sela‐sela bibirnya terdengar suara desisan yang menggetarkan jantung! Itulah jurus 'Tangan Pengejar Roh' yang merupakan, gabungan antara ilmu silat dengan ilmu sihir. Tentu saja pengaruh dan kedahsyatannya pun sangatlah hebat!


Pada saat itu, dua orang pendekar melancarkan serangan berbahaya yang mengarah pada mata dan tenggorokan si iblis. Tapi entah dengan cara bagaimana, tahu‐tahu kedua tangan Dedemit Bukit Iblis sudah mencengkram leher kedua orang itu.


Krekkk! Krakkk!


Terdengar bunyi tulang leher yang patah ketika Dedemit Bukit Iblis itu mengerahkan tenaga pada cengkramannya. Tanpa dapat menjerit lagi, dua pendekar itu tewas. Dan dengan sekali sentak, dua tubuh yang telah menjadi mayat itu terlempar dan langsung menimpa kawan‐kawannya. Seketika para pendekar itu serentak mundur sambil menahan senjatanya. Meskipun telah menjadi mayat, namun sungguh tidak diinginkan kalau pedang mereka membelah tubuh dua Pendekar itu.


"Wah, Kakang! Kalau didiamkan terus, bisa‐bisa semua pendekar tewas di tangan iblis terku tuk itu!" ujar Pendekar Pemabuk geram.


Pendekar Tangan Baja atau Ki Teja Laksana pun menjadi gusar melihat keadaan itu. Maka ketika melihat Pendekar Pemabuk sudah tidak sabar, dia pun segera melesat ke arena pertempuran.


"Mari, Adi. Kita gempur iblis itu!" ujar Pendekar Tangan Baja.


"Mari, Kakang!" sahut Pendekar Pemabuk.


Setelah berkata demikian, Pendekar Pemabuk pun segera menggerakkan tubuhnya mengikuti Pendekar Tangan Baja yang telah mendahului melesat ke arena pertarungan.


Para pendekar yang semula sudah mulai gentar, menjadi bangkit semangatnya ketika melihat dua pemimpinnya telah memasuki arena pertarungan. Mereka pun kembali menyerbu ke arah Dedemit Bukit Iblis itu.


Pendekar Tangan Baja dan Pendekar Pemabuk yang tidak ingin melihat kawan‐kawannya terbantai, segera menghadang serangan‐serangan iblis itu dengan ilmu andalannya. Maka dikerahkanlah ilmu yang terkenal yaitu jurus 'Sepasang Kepalan Baja'.


Sepasang kepalan Ki Teja Laksana menyambar‐nyambar menimbulkan suara menderu tajam karena disertai oleh tenaga dalam penuh! Bukan main hebatnya serangan itu! Kedua tangannya benar‐benar kuat seperti baja. Jangankan kepala manusia, bahkan batu karang pun akan hancur apabila terlanggar pukulannya. Pantaslah kalau ia dijuluki orang Pendekar Tangan Baja!


Dedemit Bukit Iblis sempat terkejut ketika mendengar suara angin pukulan yang kuat mengancam dadanya. Tapi sebagai tokoh sesat yang selalu percaya akan kekuatannya, Dedemit Bukit Iblis tidak mempedulikannya. Dipapaknya serangan itu, bahkan dibarenginya dengan cengkraman kedua tangannya ke arah pundak dan kepala Iawan.

__ADS_1


Bukkk!


Breettt! Breettt!


__ADS_2