Pendekar Naga Putih

Pendekar Naga Putih
17


__ADS_3

Para pendekar yang menyaksikan pertarungan itu, segera berlarian ke tempat yang terlindung. Memang batu-batu kerikil yang beterbangan itu terasa menyakitkan apabila mengenai tubuh mereka. Dalam sekejap saja sekitar arena pertempuran menjadi porak-poranda bagaikan habis diobrak-abrik ribuan gajah.


Pendekar Pedang Langit dan Pendekar Topeng Hitam yang juga ikut menghindar, berdecak kagum menyaksikan kepandaian dua orang yang sedang bertempur itu. Selama hidup mereka, baru kali inilah menyaksikan sebuah pertarungan yang demikian dahsyat dan mengerikan.


Di hati mereka terbesit perasaan minder melihat kepandaian dua orang sakti itu. Mereka belum apa-apa dibanding keduanya.


"Luar biasa! Hebat sekali kepandaian pemuda itu! Pantas saja kalau tokoh sesat seperti Laba-Laba Beracun, bisa sampai tewas di tangannya! Hm! Pendekar Naga Putih.... Sungguh sebuah julukan yang tepat. Entah, murid siapakah anak muda


itu...," gumam Pendekar Pedang Langit pelan.


"Ya! Rasanya kepandaian kita tidak ada apa-apanya, Kakang!" Jawab Pendekar Topeng Hitam sambil menghela napas berat.


Sementara, pertarungan semakin bertambah seru saja. Lodra yang menggunakan jurus 'Sepasang Tangan Pengacau Lautan', benar-benar terlihat mengerikan! Sepasang tangannya yang kokoh, menyambar-nyambar sehingga menimbulkan putaran angin dingin yang menerbangkan apa saja di dekatnya. Pohon-pohon yang terlanggar pukulan Lodra, langsung tumbang menimbulkan suara yang ribut. Memang tidak berlebihan apabila ia dijuluki Iblis Tangan Maut.


Sedangkan Panji, tidak kalah hebatnya! Dengan ilmu "Naga Sakti’, pemuda itu bagaikan seekor naga yang sedang murka. Gerakan-gerakannya yang kokoh kuat Itu, benar-benar sulit dicari kelemahannya. Tubuhnya diselimuti kabut bersinar putih keperakan sehingga pemuda itu bagaikan seekor naga putih yang sedang bermain-main di angkasa. Pantaslah kalau orang menjulukinya Pendekar Naga Putih!


Pada jurus yang keenam puluh tiga, tampak Panji mulai mendesak Lodra dengan serangan susul-menyusul. Iblis Tangan Maut benar-benar tidak diberi kesempatan sekali pun untuk membalasnya. Orang pertama dari Tiga Iblis Gunung Tandur itu mulai kelabakan menghadapi tekanan lawannya yang masih muda itu. Dapat dipastikan, tidak lama lagi iblis itu tentu akan rubuh di tangan Panji.


Namun sebelum hal itu terjadi, tiba-tiba dua bayangan meluncur memasuki kancah pertempuran, dan langsung melancarkan serangan ke arah Panji. Ledakan-ledakan suara cambuk terdengar memekakkan telinga. Rupanya Iblis Cambuk Api dan Iblis Golok Terbang, yang sudah agak pulih dari lukanya ikut maju mengeroyok pemuda itu.


Pertempuran pun semakin sengit dan menegangkan. Panji yang dikeroyok Tiga Iblis Gunung Tandur, tampak mulai terdesak. Pemuda itu kini tidak lagi mampu membalas serangan tiga orang lawannya. la mulai merasakan tekanan berat dari lawan-lawannya.


Memasuki jurus yang kesembilan puluh, posisi pemuda itu benar-benar dalam keadaan gawat. Cambuk api di tangan Badra meledak-ledak ke arah ubun-ubunnya. Sedangkan sepasang golok terbang di tangan Sudra, meluncur cepat bagai kilat ke arah lambung dan tenggorokannya. Sementara Lodra pun sudah pula mendorongkan telapak tangannya ke arah punggung Panji dari belakang. Keadaan Panji, benar-benar bagai telur di ujung tanduk!


Para pendekar yang menyaksikan jalannya pertempuran, sama-sama menahan napas dengan wajah tegang. Sudah bisa dibayangkan kalau pemuda ini akan tewas di tangan Tiga Iblis Gunung Tandur.


Tiba-tiba, entah dari mana datangnya tahu-tahu di tangan Panji telah tergenggam sebatang pedang bersinar berwarna putih keperakan. Dengan gerakan yang tak tampak oleh mata biasa, Panji segera mengibaskan pedangnya membabat cambuk milik Badra dan kedua tangan Sudra yang menggenggam golok terbang. Dan dengan menekuk kedua kakinya, dilontarkan pukulan tangan kiri untuk menyambut serangan Lodra.


Crasss! Crasss!


"Aaakh...!" '


Brettt..!


Blarrr...!


Tubuh Iblis Golok Terbang terhuyung-huyung sejauh dua tombak disertai jeritan panjang. Kedua tangannya putus sebatas pergelangan, dan langsung menyemburkan darah segar yang tak henti-hentinya.


Sedangkan tubuh Iblis Cambuk Api terdorong sejauh sepuluh langkah. Dari sela-sela bibirnya tampak mengalir cairan merah. Sementara cambuk di tangannya terbabat putus hingga jadi dua bagian.


Tubuh Panji sendiri jatuh berguling-guling akibat berbenturan dengan sepasang tangan Lodra yang mengandung tenaga dalam dahsyat itu.


"Huakkk...!"


Segumpal darah segar menyembur dari mulut Panji. Sedangkan sinar putih keperakan yang selalu menyelimuti tubuhnya mendadak lenyap. Ini pertanda aliran tenaga dalamnya mengalami hambatan. Dengan sigap, Panji segera mengatur pernapasannya untuk melancarkan kembali aliran tenaga dalamnya yang terhambat.


Di Iain pihak, keadaan Iblis Tangan Maut tidaklah lebih baik. Tubuhnya terlempar keras lalu terbanting ke tanah yang menimbulkan suara berdebum. Lodra mendekap dadanya yang berguncang akibat tangkisan Panji yang mengandung "Tenaga Sakti Gerhana Bulan' itu.


Tubuh Iblis Tangan Maut terbungkuk-bungkuk. Dan ketika ia terbatuk, langsung memuntahkan darah segar dari mulutnya.


Untuk beberapa saat lamanya pertempuran pun terhenti. Panji maupun Iblis Tangan Maut, sama-sama terdiam untuk memulihkan tenaga masing-masing.


"Hiaaat..!"

__ADS_1


Tiba-tiba Iblis Cambuk Api berteriak nyaring. Tubuhnya yang tinggi besar meluncur deras ke arah Panji. Dengan menggunakan sebatang golok besar, dia siap merajam tubuh pemuda itu. Suara senjatanya berdesing tajam mengarah ke leher Panji.


Panji yang sudah mulai pulih tenaganya, segera memutar kepalanya dan langsung membabatkan pedangnya ke tubuh lawan.


Pertarungan pun kembali berlangsung hebat. Pedang di tangan Panji membentuk gulungan sinar putih keperakan, bagaikan seekor naga yang sedang bermain di angkasa.


Dalam beberapa jurus saja, Iblis Cambuk Api mulai terdesak hebat. Dia hanya mampu bermain mundur. Pada saat yang gawat itu, Iblis Tangan Maut juga segera melesat membantu adiknya, yang berada dalam posisi berbahaya. Iblis Tangan Maut sudah pula mencabut sepasang trisulanya, dan langsung menerjang dengan serangan-serangan yang cepat dan ganas.


Setelah Iblis Tangan Maut ikut membantunya, barulah Iblis Cambuk Api dapat menarik napas lega. Sebab serangan-serangan Panji yang ditujukan ke arahnya mulai berkurang.


Panji memang harus juga membagi perhatiannya terhadap Iblis Tangan Maut.


Dua puluh jurus pun terlewat sudah. Panji tampak mulai meningkatkan serangannya. Pedangnya yang bersinar putih keperakan, bergulung-gulung menekan senjata lawannya.


Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Iblis Tangan Maut dan Iblis Cambuk Api mulai dapat didesak oleh pemuda itu. Darah-darah di dalam tubuh serasa membeku. Mereka bagaikan terkurung dalam sebuah lingkaran salju saja. Segera dikerahkan seluruh tenaganya untuk mengusir hawa dingin yang mempengaruhi gerakan-gerakan mereka.


"Gila! Bocah ini benar-benar memiliki ilmu iblis!" Umpat Iblis Tangan Maut sambil melompat menghindari sabetan pedang lawan.


Semakin lama ruang gerak kedua iblis itu semakin menyempit. Serangan-serangan yang dilancarkan Iblis Tangan Maut maupun Iblis Cambuk Api, selalu kandas bagai membentur sebuah dinding salju yang kokoh.


Para tokoh persilatan yang menyaksikan pertandingan itu dari kejauhan, tersentak kaget. Ternyata mereka pun tidak terlepas dari pengaruh hawa dingin yang memenuhi sekitar situ. Cepat-cepat tokoh-tokoh persilatan itu mengerahkan hawa murni untuk melindungi tubuh dari pengaruh hawa dingin yang luar biasa itu.


Saat itu, pertarungan sudah menginjak pada jurus yang ketiga puluh lima. Tiba-tiba kedua Iblis Gunung Tandur itu berteriak nyaring, dan langsung menerjang secara berbarengan. Senjata mereka berkelebat mengarah ke bagian-bagian yang berbahaya di tubuh Panji.


Jurus 'Tangan Maut', milik Iblis Tangan Maut kini dimainkan dengan menggunakan senjata trisula. Senjata itu berkelebatan mengancam Panji sambil mengeluarkan suara berdesingan bagai suara ribuan ekor lebah yang sedang marah. Sementara Iblis Cambuk Api yang kini menggunakan golok, juga masih cukup dahsyat serangannya, sungguhpun kini tidak menggunakan senjata andalannya.


Melihat kedua serangan yang dahsyat itu, Panji segera memutar pedangnya, disertai kekuatan penuh tenaga dalamnya. Mendadak cahaya yang semula menyelimuti pedangnya, berpijar ke segala penjuru bagaikan ada pesta kembang api.


Sebelum kedua manusia iblis itu sempat berpikir banyak, Panji segera melesat menerjangnya. Karuan saja Iblis Tangan Maut dan Iblis Cambuk Api tersentak kaget dan menjadi kalang kabut. Dengan secara serabutan, mereka menggerakkan senjatanya ke segala arah.


Tranggg! Tringgg!


Brettt!


"Akh...!"


"Akh...!"


Iblis Tangan Maut dan Iblis Cambuk Api, berhasil menangkis beberapa serangan yang dilakukan. Namun tak luput sebuah bacokan pemuda itudapat melukai pinggang Iblis Cambuk Api. Cairan merah pun merembes keluar, dan membasahi pakaiannya.


Sedangkan Iblis Tangan Maut terhuyung-huyung sambil memegangi lengannya yang terbabat putus sebatas siku. Cepat-cepat Iblis Tangan Maut menotok di beberapa tempat untuk menghentikan darah yang terus mengalir.


Wajah kedua iblis itu berubah pucat Kini mata mereka baru terbuka dan mengakui kepandaian pemuda yang menjadi lawannya ini. Bahkan kini rasa takut pun mulai menjalari perasaan mereka.


Panji kembali menerjang kedua iblis yang sudah terluka itu. Segulung sinar putih keperakan, segera mengurung kedua orang lawannya. Iblis Tangan Maut dan Iblis Cambuk Api berusaha mati-matian menghindari serangan yang dilancarkan Panji. Namun ke mana saja mereka menghindar, sinar putih keperakan Itu tetap mengurung mereka.


Bukan main terkejutnya hati dua manusia iblis itu. Keringat dingin mulai mengalir membasahi tubuh. Merasa tidak mungkin mendapat ampunan dari lawannya, Iblis Tangan Maut dan Iblis Cambuk Api pun nekad menerjang ke arah Panji. Senjata di tangan Iblis Tangan Maut berkelebatan cepat dan sukar diikuti mata biasa. Suaranya mengaung membelah udara.


Tiba-tiba senjata itu meluncur deras ke arah lambung Panji. Dan pada saat yang bersamaan, Iblis Cambuk Api pun telah pula membabatkan golok besarnya ke pinggang lawan. Melihat kedua serangan yang luar biasa itu datang, Panji segera memutar pedangnya dari luar ke dalam. Ini dilakukan untuk mematahkan serangan kedua iblis itu.


Trang! Trang!


Terdengar dua kali benturan keras di udara, yang menimbulkan percikan bunga api. Memang, betapa kuatnya tenaga benturan tadi.

__ADS_1


Dengan kecepatan yang luar biasa, tubuh Panji melambung ke depan sambil mengayunkan pedangnya. Suara gemuruh disertai hawa dingin yang hebat, mengiringi ayunan pedangnya.


Brettt! Brettt!


"Akh...!"


Terdengar suara raungan dahsyat yang mendirikan bulu roma, ketika pedang Panji membabat kedua leher manusia iblis.


Tubuh Iblis Tangan Maut dan Iblis Cambuk Api terjungkal ke belakang. Darah mengucur deras dari luka di leher mereka. Sebentar mereka berkelojotan, lalu tewas dengan leher hampir putus!


Melihat kedua musuhnya telah tewas, Panji menjatuhkan lututnya ke atas tanah. la merasa lelah sekali, karena telah bertarung hampir dua ratus jurus untuk menghadapi musuh-musuhnya.


Tiba-tiba Panji tersentak ketika mendengar desiran angin yang bersiulan. Cepat bagai kilat ditolehkan kepalanya ke arah sumber suara itu.


Panji segera memutar kepalanya ketika sebuah tendangan yang dahsyat meluncur ke arah kepalanya. Rupanya tendangan itu berasal dari Iblis Golok Terbang yang telah dibuntungi lengannya oleh pemuda itu. Dengan tendangan kilat, Iblis Golok Terbang menyerang Panji secara bertubi-tubi.


Panji segera berkelit menghindari tendangan geledek itu. Segera dicarinya kelemahan dari serangan lawannya. Hingga pada jurus yang kelima, Panji memiringkan tubuhnya sehingga tendangan dari Iblis Golok Terbang hanya lewat di sebelah kirinya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Panji segera melepaskan pukulan ke arah lutut Iblis Golok Terbang, kemudian disusul dengan sebuah tendangan yang meluncur ke dada.


Krakkk!


Desss!


"Akh...!"


Sudra meraung keras! Pukulan Panji telah mematahkan lutut kanannya. Sedangkan tendangan pemuda itu, telak sekali menghajar dadanya hingga melesak ke dalam. Setelah berkelojotan sejenak, Iblis Golok Terbang langsung tewas dengan dada hancur.


Panji berdiri limbung, karena rasa lelah yang amat sangat. Satu persatu pemuda itu memandangi wajah musuh-musuhnya yang telah menjadi mayat.


Tiba-tiba, dari arah Timur dan Barat tampak para pendekar berlarian mendatangi bekas arena pertempuran. Rupanya para pendekar sudah pula menyelesaikan pertarungan melawan anak buah Tiga Iblis Gunung Tandur.


Betapa tercengangnya para pendekar yang baru datang itu, ketika melihat Tiga Iblis Gunung Tandur telah menggeletak tanpa nyawa.


Selagi para pendekar itu sibuk satu sama lainnya, Panji cepat melesat meninggalkan tempat itu. Gerakannya yang disertai ilmu meringankan tubuh, tidak diketahui para tokoh persilatan yang tengah sibuk itu. Ilmu meringankan tubuhnya, memang sudah hampir pada taraf kesempurnaan.


"Eh! Kemana perginya Pendekar Naga Putih tadi?" Tanya Pendekar Pedang Langit ketika tidak melihat Panji di tempatnya.


"Pendekar yang mana?" Tanya para tokoh persilatan tak mengerti.


"Pendekar Naga Putih," tegas Pendekar Topeng Hitam.


"Dialah yang telah membunuh Tiga Iblis Gunung Tandur itu!" Sambungnya.


"Pendekar Naga Putih...!" Seru para tokoh persilatan terkejut.


"Jadi, dia juga berada di sini tadi?" Tanya yang lainnya.


"Benar! Dan kini, pendekar itu telah pergi entah ke mana!" Desah Pendekar Pedang Langit pelahan.


Sementara, matahari semakin naik tinggi. Sinar yang garang memancar ke seluruh permukaan bumi dan terasa menyengat kulit. Hembusan angin yang sepoi-sepoi, bagaikan elusan tangan bidadari yang terasa sejuk dan melenakan.


Nun di bawah kaki Gunung Tandur, tampak seorang pemuda berjubah putih melangkah mengikuti ayunan kakinya, tanpa tahu arah mana yang akan dituju. Dia adalah Panji yang mendapat Julukan Pendekar Naga Putih.

__ADS_1


__ADS_2