
Para penduduk berlarian cerai-berai sambil mendekap kedua telinganya, tanpa mempedulikan arah lagi. Bahkan banyak di antara mereka yang jatuh terguling-guling menahan sakit. Sementara dari mulut dan hidung mengalir darah segar! Dalam sekejap saja, gemparlah suasana di halaman balai desa itu.
Ki Umbaran sendiri, sudah duduk bersila menghimpun hawa murninya untuk melawan pengaruh tawa yang dahsyat dan menyakitkan itu. Untuk beberapa saat lamanya ia masih dapat bertahan dari pengaruh suara tawa itu. Namun tidak lama kemudian tubuhnya mulai bergetar, karena suara tawa itu mulai mendesak hawa murninya. Tenaga dalam dari tawa itu begitu kuatnya.
Untunglah saat kejadian itu, Kenanga berada di samping Panji. Pemuda itu segera menempelkan telapak tangannya ke punggung gadis itu, sehingga Kenanga tidak lagi terpengaruh oleh suara tawa yang dahsyat itu. Tidak hanya sampai di situ saja tindakan Panji. Segera ia mengerahkan tenaganya. Tidak lama kemudian, terdengar suara lengkingan halus yang kian meninggi sehingga menindih gema suara tawa yang menyakitkan itu.
Tiba-tiba, suara tawa itu pun lenyap terhimpit oleh suara lengkingan halus yang keluar dari mulut Panji. Dan untuk beberapa saat lamanya, suasana di sekitar tempat itu menjadi hening. Panji yang telah menghentikan lengkingannya, segera mengedarkan pandangannya ke atas pohon besar yang berada di sekitarnya.
"Hm.... Hanya seorang pengecut sajalah yang tidak berani menyerang secara terus terang!" Teriak Panji keras disertai pengerahan tenaga dalamnya.
Belum lagi gema suara pemuda itu hilang, mendadak telinganya yang terlatih menangkap desiran angin halus yang menuju ke arahnya.
Serrr! Serrr!
Panji segera menduga, bahwa desiran angin yang halus itu berasal dari senjata-senjata rahasia. Cepat bagai kilat, pemuda itu berbalik menghadap ke arah serangan itu berasal. Dan, dugaan pemuda itu ternyata tidak meleset! Dalam keremangan sinar obor, terlihat tujuh buah sinar meluncur ke arah tujuh jalan darah kematian di tubuhnya. Kecepatannya sukar diikuti mata biasa.
Dari cara penyerang gelap itu memperdengarkan tawa maupun melepaskan senjata rahasianya, Panji sudah dapat menilai bahwa orang itu tentu memiliki kepandaian yang tinggi. Oleh karena itu, ia pun tidak ingin main-main lagi. 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan” langsung dikeluarkannya.
Pelahan namun pasti sekujur tubuh Panji diselimuti cahaya putih keperakan. Dan seiring dengan munculnya sinar putih keperakan itu, hawa dingin pun perlahan menyebar di sekitar Panji. Kian lama kian dingin menggigilkan!
Cepat bagai kilat, pemuda itu segera mengibaskan lengan kirinya. Maka terdengarlah suara bergemuruh yang dahsyat disertai hembusan angin dingin yang hebat mengiringi kibasan tangannya. Akibatnya, senjata-senjata rahasia itu berguguran di tengah jalan.
Tidak sampai di situ saja! Panji yang sudah tidak ingin bertindak kepalang tanggung, segera mengirimkan sebuah pukulan jarak jauh ketika senjata-senjata rahasia itu kembali menyerangnya.
Wusss!
Angin yang amat dingin berhembus keras memapak serbuan senjata-senjata rahasia yang mengarah ke tubuhnya. Seluruh senjata rahasia itu langsung runtuh ke tanah, disertai suara berderak keras yang ditimbulkan oleh sebuah pohon besar di sebelah kiri panggung. Pohon besar itu kontan tumbang diterjang angin pukulan dari Panji.
Berbarengan dengan tumbangnya pohon itu, sesosok bayangan hitam melayang turun dan mendarat dua tombak dari Panji berdiri. Tubuhnya tinggi besar dan kokoh bagaikan batu karang. Wajahnya tertutup brewok yang tak terurus. Jubah hitamnya berwarna abu-abu yang di dada sebelah kirinya terdapat sulaman benang emas berbentuk seekor laba-laba.
Ki Umbaran yang sudah bangkit dari duduknya, menatap orang yang baru datang itu, dengan wajah pucat bagai mayat. Tidak disangkanya kalau ib lis itu akan datang demikian cepatnya. Buru-buru ia melangkah menghampiri Panji yang masih berdiri mengamati manusia di hadapannya itu.
__ADS_1
"Dia... dia... Laba-Laba Beracun! Hati-hati, Panji! Kepandaian ib lis itu hebat sekali!" Bisik Ki Umbaran dengan hati gentar.
"Heh, Anak Muda! Engkaukah yang mempunyai julukan Pendekar Naga Putih?" Tanya orang berjubah abu-abu, yang berjuluk Laba-Laba Beracun itu.
"Dan yang telah membunuh kedua orang muridku?" Sambungnya dengan suara dingin.
Memang, Laba-Laba Beracun telah mendapat pengaduan dari para pengikut Sepasang Harimau Terbang yang dilepaskan Panji waktu itu. Mereka menceritakan dua orang pemimpinnya telah tewas di tangan seorang pendekar yang memiliki gerakan bagai seekor naga dan mengeluarkan sinar yang berwarna putih keperakan dari tubuhnya.
Pendekar Naga Putih, demikian kata mereka. Oleh karena itulah, mengapa si Laba-Laba Beracun pun menyebut Panji sebagai Pendekar Naga Putih.
"Hai, orang tua! Aku tidak tahu, siapa yang kau maksud! Dan siapa pula yang telah membunuh kedua muridmu itu?" Ujar Panji balik bertanya.
Memang pemuda itu tidak tahu, siapa yang memiliki julukan Pendekar Naga Putih. Diakah? Dan dia pun ingin memastikan, apakah yang dimaksud dengan kedua orang muridnya adalah Sepasang Harimau Terbang. Meskipun telah diberitahu Ki Umbaran, namun ia ingin mendengarnya langsung dari mulut orang yang bersangkutan.
"Hm.... Ternyata kau adalah seorang pengecut, Pendekar Naga Putih! Tidak mau mengakui perbuatanmu yang telah membunuh Sepasang Harimau Terbang itu! Hutang nyawa harus dibayar nyawa! Tapi kalau kau mau minta ampun padaku, dan bersujud di kakiku, mungkin aku akan mempertimbangkan, apakah aku harus mengampunimu atau tidak!" Ujar Laba-Laba Beracun dengan nada yang amat menghi na.
Sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan haus akan kesaktian, Laba-Laba Beracun penasaran sekali ketika mendapat laporan dari para pengikut muridnya. la yang sudah lama malang-melintang dalam dunia persilatan, tentu saja paham betul dengan ilmu-ilmu tinggi dari berbagai aliran. Tapi ketika mendapat laporan dari pengikut muridnya yang selamat, ternyata ia sama sekali tidak dapat menduga, ilmu apa yang dipergunakan oleh pemuda itu untuk membunuh muridnya. Kecuali dugaan kasar bahwa pemuda yang berjuluk Pendekar Naga Putih itu menggunakan jurus naga!
Memang, Panji paling pantang disebut pengecut. Amarah pemuda itu pun segera bangkit.
"Hm, orang tua! Memang benar! Akulah yang membunuh Sepasang Harimau Terbang Aku, Pendekar Naga Putih!" Dalam kemarahannya Panji mengiyakan julukan yang baru pertama kali didengarnya.
"Huh! Tidak penting, apakah engkau berjuluk Pendekar Naga Putih, Naga Belang, Naga Buduk pun. Aku tidak peduli! Yang jelas, engkau harus membayar nyawa dua orang muridku dengan nyawamu dan nyawa seluruh penduduk Desa Tambak! Setelah itu barulah kuanggap lunas!" Tegas Laba-Laba Beracun geram.
Setelah berkata demikian, tubuh Laba-Laba Beracun segera melesat ke arah Panji disertai serangan yang dahsyat! Jari-jari tangannya yang berbentuk taring laba-Jaba itu, meluncur ke arah ubun-ubun dan ulu hati Panji. Kelebatannya menimbulkan angin yang bersiutan. Sebuah serangan yang berbahaya!
Panji segera menggeser tubuhnya ke kiri, sambil menggerakkan tangannya menangkis serangan lawan. Sengaja dikerahkan sebagian dari tenaganya untuk mengukur kekuatan lawannya.
Dukkk!
Keduanya terdorong mundur. Kuda-kuda Panji tergempur, dan tubuhnya terdorong sejauh tiga langkah. Sedangkan Laba-Laba Beracun terjajar sejauh lima langkah ke belakang. Dari sini saja sudah bisa diketahui, bahwa tenaga dalam Laba-Laba Beracun masih di bawah Panji. Padahal, ia baru mengerahkan tiga perempat bagian dari tenaganya.
__ADS_1
Bukan main terkejutnya Laba-Laba Beracun. Tangkisan pemuda itu bukan saja membuatnya terjajar, dan dadanya tergetar. Tapi juga telah membuat sekujur tubuhnya diselusupi hawa dingin yang membekukan darah!
Buru-buru dikerahkan tenaganya untuk mengusir serangan hawa dingin yang menggigilkan itu. Bukan main! Baru kali inilah ditemui lawan yang berat, padahal usia lawannya masih sangat muda. Benar-benar sulit untuk dimengerti.
"Huh! Pantas saja sudah berani berlagak! Rupanya kau memiliki kepandaian yang lumayan! Sekarang cobalah kau sambut ini! Hiaaat...!" Tubuh Laba-Laba Beracun kembali melayang ke arah Panji. Kali ini serangannya terlihat lebih ganas dan cepat. Kedua tangannya menyerang berganti-ganti, dan menyambar-nyambar ganas.
Panji yang sudah menduga kalau lawannya memiliki kepandaian yang tinggi, tidak ingin tubuhnya menjadi sasaran pukulan lawan. Tubuh pemuda itu segera berkelebatan di antara sambaran tangan lawannya. Tidak sampai di situ saja! Pemuda itu pun mulai melancarkan serangan-serangan balasan yang tidak kalah ganasnya.
Keduanya segera terlibat dalam pertempuran sengit! Tubuh Laba-Laba Beracun maupun Panji sudah tidak terlihat lagi. Keduanya bergerak sangat cepat, sehingga yang terlihat hanyalah dua bayangan hitam dan putih yang saling terjang dengan hebatnya.
Pertempuran kedua orang sakti itu, demikian seru dan mencekam. Ki Umbaran memperhatikan perkelahian itu dengan hati yang berdebar-debar. Bagaimana tidak? Sebab, nasib seluruh warga desanya berada di tangan Panji. Maka kalau pemuda itu tewas di tangan Laba-Laba Beracun, berarti kehancuran bagi Desa Tambak!
Lain yang dipikirkan Ki Umbaran, lain pula yang dipikirkan gadis jelita yang berdiri di sampingnya. Kenanga memandang ke arah pertempuran dengan hati yang tidak karuan. Apabila melihat bayangan hitam itu dapat mendesak bayangan putih, maka ia meremas-remas tangannya disertai perasaan gelisah. Dan kalau bayangan hitam terdesak, wajahnya kembali tenang. Tapi, biar bagaimanapun pertarungan itu telah membuat hatinya kacau.
Sementara pertarungan sudah memasuki jurus yang keempat puluh. Dan secara pelahan-lahan, bayangan putih sudah mulai mendesak bayangan hitam. Panji terus melancarkan serangan-serangan dahsyat dan berbahaya sehingga memaksa lawannya untuk mundur.
Sedangkan Laba-Laba Beracun, mulai merasakan tekanan-tekanan berat dari lawannya. Apalagi setelah Panji mengeluarkan ilmu 'Naga Sakti' nya di jurus ke empat puluh satu. Laba-Laba Beracun segera terdesak. Ruang geraknya semakin sempit, sehingga hanya dapat bertahan tanpa mampu membalas. Rupanya kali ini ia harus melihat kenyataan pahit! Terpaksa dikuras seluruh kemampuannya untuk menandingi seorang pemuda yang pantas jadi cucunya!
Pada jurus yang ke empat puluh dua, Panji menyerang dengan jurus 'Raja Naga Membuka Jalan'. Kedua tangannya yang membentuk cakar naga itu, meluncur deras ke arah perut dan tenggorokan Laba-Laba Beracun. Serangkum angin yang dingin berhembus keras mengiringi serangannya.
Melihat serangan yang berbahaya itu, Laba-Laba Beracun berusaha menghindar. Dengan jurus 'Laba-Laba Melepas Jaring’, laki-laki tua itu berputar setengah lingkaran. Dengan posisi kuda-kuda yang rendah, dihentakkan kedua tangannya
ke arah kedua tangan lawan dengan jari-jari terbuka.
Namun, rupanya serangan Panji hanyalah serangan tipuan saja! Karena, secara tiba-tiba pemuda itu menarik pulang kedua serangannya. Entah dengan cara bagai-mana, tahu-tahu saja kaki kiri pemuda itu sudah meluncur ke arah sambungan lutut lawan. Bukan cuma itu saja! Sapuan kaki itu pun, langsung disusul oleh dorongan kedua tangannya. Hebat sekali serangan mendadak itu.
Desss! Bukkk!
"Aaakh...!"
Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh Laba-Laba Beracun melambung ke udara disertai jeritan menyayat. Kedua serangan pemuda itu telak mengenai sasarannya. Tubuh Laba-Laba Beracun terbanting ke tanah dengan keras. Sementara darah segar berhamburan dari muhitnya, disertai suara gemeletuk gigi karena hawa dingin yang hebat.
__ADS_1
Panji segera menghampiri tubuh lawannya yang sedang sekarat itu. Sejenak Panji termenung, ketika melihat tubuh lawannya itu berkelojotan meregang nyawa. Tidak lama kemudian, tubuh Laba-Laba Beracun itu pun diam untuk selama-lamanya. Tokoh sakti yang sesat itu tewas dalam keadaan yang menyedihkan!