Pendekar Naga Putih

Pendekar Naga Putih
9


__ADS_3

"Tolooong...! Lepaskan aku, bang sat! Manusia ib lis!"


Teriak tiga orang wanita, di dalam sebuah hutan lebat. Keadaan mereka sudah tidak karuan. Pakaian yang dikenakan pun sudah robek di sana-sini. Sehingga menampakkan kulit tubuh mereka yang putih dan mulus.


Ketiga orang wanita itu berteriak-teriak, diselingi isak tangis yang memelas. Sementara kedua tangan mereka sibuk menutupi bagian-bagian tubuh mereka yang terbuka.


"Kasihani kami, Tuan.... Jangan sakiti kami!" Ratap salah seorang wanita dengan air mata yang mengalir membasahi pipi.


Di sekeliling ketiga orang wanita itu, nampak wajah-wajah bengis berdiri berjajar sambil menatap liar penuh nafsu! Tubuh-tubuh putih mulus itu dijilati oleh pancaran mata liar. Apalagi, keadaan ketiga orang wanita itu sudah setengah telan jang.


Seringai mereka makin bertam-bah lebar. Sementara, dua orang lelaki kasar dan berwajah seram terus saja mempermainkan ketiga orang wanita malang itu. Sambil tertawa terbahak-bahak mereka mengejar-ngejar tiga wanita itu. Rasanya seperti seekor kucing yang sedang mempermainkan seekor tikus sebelum disantap habis.


Semakin lama keadaan wanita-wanita itu semakin tidak karuan. Setiap kali tubuh mereka tertangkap, langsung dilepaskan kembali, setelah pakaian mereka dirobek terlebih dahulu.


"Ha ha ha.... Ayo, Manis! Larilah! Ayo! Ha ha ha...!" Ujar salah seorang dari dua laki-laki kasar itu sambil tertawa penuh kebuasan.


Setelah dilempar kesana kemari, tubuh ketiga orang wanita itu benar-benar polos, tanpa benang sehelai pun! Maka, sibuklah ketiga wanita malang itu menutupi bagian-bagian terlarang dari tubuh mereka.


"Ha ha ha.... Lihatlah, anak-anak! Tiga ekor kelinci ini ternyata memiliki bentuk tubuh yang indah! Ha ha ha...!" Ujar seorang lagi sambil menoleh ke arah kawan-kawan-nya.


Orang-orang yang berdiri berjajar membentuk lingkaran itu makin memperkecil lingkarannya. Karena mereka pun ingin melihat lebih jelas lagi ketiga orang wanita yang telah benar-benar polos!


Ketiga orang wanita malang itu hanya mampu berteriak-teriak sambil menangis. Mereka sudah hampir mati ketakutan. Wajah-wajah di sekitarnya menjilat tubuh mereka dengan liar. Mereka merasa ngeri, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Dua orang laki-laki kasar yang tadi mempermainkan ketiga wanita itu, melangkahkan kakinya mendekati tubuh-tubuh polos itu. Lalu dengan penuh nafsu, keduanya segera menerkam dua di antara tiga wanita itu. Kedua orang wanita itu meronta-ronta dan menjerit-jerit ketakutan. Namun mereka tak berdaya menghadapi kebuasan laki-laki kasar yang telah dipengaruhi hawa nafsu itu.


Sementara, yang seorang lagi menggigil ketakutan dengan wajah pucat pasi. Belum lagi kedua orang laki-laki kasar itu melaksanakan niatnya, tiba-tiba terdengar suara tawa menggelegar memenuhi seluruh penjuru hutan! Suara tawa itu bergema bagaikan suara jin penunggu hutan, yang tidak ingin melihat tempat itu dikotori manusia-manusia biadab.


Belasan orang laki-laki yang masih berjajar dalam bentuk lingkaran itu tersentak dengan wajah pucat. Tubuh mereka pun menggigil kedinginan. Ternyata suara tawa itu diiringi dengan hembusan angin yang sangat dingin. Demikian pula halnya dengan kedua orang lelaki kasar tadi. Mereka menghentikan perbuatannya sejenak. Namun di wajah mereka, sama sekali tidak terlihat rasa takut. Bahkan sebaliknya malah marah karena merasa terganggu oleh suara tawa itu. Belum lagi mereka dapat menguasai hati yang terguncang karena kaget, suara tawa itu kembali terdengar.


"Ha ha ha.... Manusia-manusia bejat! Cepaaat tinggalkan tempat ini sebelum kemurkaanku datang! Cepaaat! Ha ha ha...!" Suara tawa itu kembali bergema di dalam rimba yang gelap ini.


Angin dingin pun berhembus semakin keras, sehingga pakaian mereka berkibar. Baru, dua laki-laki kasar itu mulai agak ciut hatinya. Dengan wajah agak pucat, kedua orang laki-laki kasar yang rupanya bertindak selaku pimpinan, melangkah maju beberapa tindak. Seolah-olah ingin mencari sumber suara tadi.


"Hei! Siapa kau?! Tunjukkan dirimu! Jangan coba-coba menakut-nakuti Sepasang Harimau Terbang. Heh!" Teriak salah seorang dari laki-laki kasar itu. Sengaja dikerahkan tenaga dalam untuk menutupi rasa gentar dalam hatinya.

__ADS_1


"Kakang Lujita, apakah dia bukan hantu?" Bisik lelaki yang satunya lagi dengan hati-hati.


"Huh! Tidak mungkin! Dia pasti manusia biasa yang mencoba menakut-nakuti kita!" Jawab orang yang dipanggil Lujita keras. Sengaja tidak ingin ditunjukkan rasa takutnya di hadapan para pengikutnya itu. Padahal, ia sendiri pun merasa ragu akan perkataannya itu.


Setelah beberapa saat kemudian, keadaan menjadi hening sejenak. Masing-masing menunggu dengan hati berdebar-debar. Belum lagi mereka berpikir lebih jauh, kembali angin dingin bertiup keras. Seiring dengan hembusan angin dingin itu, suara tawa itu kembali berkumandang.


"Ha ha ha.... Rupanya kalian ingin membangkang, hah! Baiklah! Kalau itu yang kalian inginkan!!! Ha ha ha...!" Gertak suara berat dan serak itu.


Tiba-tiba dari sebuah pohon yang besar sesosok bayangan putih melayang turun dengan pelahan sekali! Kedua tangannya terlipat di dada. Sedangkan kedua kakinya dalam posisi bersila. Rambutnya yang putih keperakan itu berkibar tertiup angin.


Sementara, seluruh wajahnya penuh dengan bulu-bulu lebat dan tak terurus! Yang membuat hati bergetar adalah, sinar putih keperakan yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Sosok tubuh itu, benar-benar seperti iblis! Dan yang lebih mengejutkan lagi, bayangan putih itu seperti mengambang di udara! Sungguh suatu peman-dangan yang mustahil! Jarak antara sosok bayangan putih dengan pemukaan tanah, sekitar tiga tombak Sedangkan dahan yang berada di atasnya, kurang lebih dua tombak jauhnya. Dan anehnya, posisi bayangan tersebut masih dalam keadaan bersila, dengan kedua tangan terlipat di dada! Sosoknya memang laksana hantu penghuni hutan ini!


Walaupun dua orang lelaki kasar yang berjuluk Sepasang Harimau Terbang itu banyak ditakuti orang, namun pemandangan yang ada didepan mereka sekarang ini benar-benar telah membuat hati mereka bergetar.


"Aaah! Set... setaaan!" teriak para pengikut Sepasang Harimau Terbang yang langsung berlarian meninggalkan tempat itu, tanpa mempedulikan panggilan pemimpin mereka.


"Iblisss...! Mustahil...!" Lujita, orang tertua dari Sepa-sang Harimau Terbang mencoba membantah penglihatannya. Dipejamkan kedua matanya dan dibukanya kembali. Namun, apa yang dilihatnya itu benar-benar suatu yang mustahil dapat dilakukan oleh seorang manusia! Betapa-pun tingginya kepandaian seseorang, sangatlah tidak mungkin bila dapat bergantung di udara sampai sedemikian lamanya!


Maka tanpa dapat dicegah lagi, Sepasang Harimau Terbang itu pun langsung melesat meninggalkan tempat itu! Demikian pula halnya dengan ketiga orang gadis itu. Mereka memandang bayangan putih tersebut dengan tubuh gemetar hebat. Seumur hidup, baru kali inilah mereka melihat apa yang disebut hantu!


Dengan langkah pelahan, bayangan putih itu menghampiri ketiga orang wanita malang yang masih belum dapat menggerakkan tubuhnya. Wajah mereka pucat. Keringat dingin mengalir membasahi tubuh mereka. Ketiga orang wanita itu benar-benar merasakan takut yang hebat!


Sementara si Bayangan Putih yang telah berjalan beberapa tindak segera menghentikan langkahnya. Dibukanya buntalan yang tergantung di bahunya.


"Di dalam buntalan ini ada tiga stel pakaian yang mungkin agak kebesaran sedikit! Pakailah!" Seru bayangan putih itu, sambil melemparkan buntalan itu. Setelah itu, dibalikkan tubuhnya membelakangi ketiga orang wanita itu.


Untuk beberapa saat lamanya, ketiga wanita itu tidak dapat berkata-kata. Setelah memperhatikan orang yang berjubah putih tersebut, salah seorang dari mereka memberanikan diri untuk membuka suara.


"Jadi..., Tuan bukan... hantu...?" Tanyanya takut-takut.


"Apakah wajahku demikian menakutkan?" Bayangan putih itu balik bertanya tanpa membalikkan tubuhnya.


Mendengar pertanyaan itu, ketiga orang wanita tadi menundukkan mukanya karena tersipu malu.


"Aaah! Bukan begitu, Tuan! Tapi, tadi tubuh Tuan tergantung di udara. Mana mungkin seorang manusia dapat berbuat seperti itu?" Tanya yang satunya lagi. Gadis tersebut berwajah manis sekali, dengan kedua lesung pipit di pipinya.

__ADS_1


Sementara itu ketiga wanita itu telah selesai mengenakan pakaian yang diberikan bayangan putih.


"Kami sudah selesai, Tuan!" Ujar yang seorang lagi.


Sosok bayangan putih itu, segera membalikkan tubuhnya menghadap ke arah ketiga orang wanita yang kini telah berpakaian. Begitu wajah bayangan putih itu terlihat jelas, ketiga orang wanita itu tertegun bercampur heran. Ternyata bayangan putih tadi telah berganti menjadi seorang pemuda tampan dan tegap. Rambutnya yang putih keperakan, terurai sampai ke bahu. Matanya yang tajam, memancarkan ketegaran dalam menantang hidup.


"Ini..., tadi.. Tttuan... oooh...!" Seru mereka tergagap.


"Oh, maaf! Aku tadi menggunakan ini!" Jawab pemuda itu, ketika menyadari kebingungan tiga wanita itu. Segera ditunjukkannya rambut, cambang, serta jenggot yang dikenakannya tadi. Rupanya semua itu palsu belaka.


"Oh!" Seru mereka serempak.


"Lalu, mengapa tubuh Tuan bisa ngambang di udara tadi..?" Lanjut yang seorang.


"Hm, dengan tali ini!" Jawab pemuda itu sambil memperlihatkan seutas tali hitam yang terbuat dari kulit binatang.


"Kami mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan Tuan! Entah apa jadinya dengan diri kami, apabila tidak ada Tuan!" Ujar wanita yang berwajah paling cantik dengan wajah bulat telur, dan berambut paling panjang sampai ke pinggang.


"Hm! Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menolong!" Ujar pemuda itu.


"Hm, bolehkah kami tahu nama Tuan?" Tanya yang seorang lagi. Wanita yang berambut sebahu.


"Namaku Panji," Jawab pemuda itu singkat.


"Di manakah kalian tinggal? Mari kuantarkan pulang!"


Ketiga dara itu memandangi wajah tampan di hadapannya itu. Wajah seorang yang menjadi penolong mereka. Pemuda itu memang sopan. Jadi ketiga wanita itu tidak takut-takut lagi.


Panji yang dipandangi seperti itu menjadi kikuk. Untuk menyembunyikan kegugupannya itu, ia pun melangkahkan kakinya. Ketiga orang gadis itu pun segera mengikuti langkah kaki Panji yang menuju pinggiran hutan. Mereka berjalan tanpa berkata sepatah pun.


Setelah menerobos semak dan perdu, mereka pun tiba di pinggiran hutan. Namun baru beberapa langkah keluar dari pinggiran hutan, terdengar sebuah bentakan nyaring. Tidak lama kemudian berloncatan beberapa sosok tubuh yang langsung menghadang perjalanan mereka.


"Berhenti...!"


"Ha ha ha.... Lihatlah, Adi Lukita! Bukankah firasatku benar? Kita telah dikibuli mentah-mentah oleh bocah se tan ini!" Seru orang yang tidak lain adalah Lujita, sekaligus orang tertua dari Sepasang Harimau Terbang. Dia rupanya masih penasaran.

__ADS_1


__ADS_2