
Orang tua sakti itu bernama Eyang Tirta Yasa. Empat puluh tahun yang lalu ia telah menggemparkan dunia persilatan berkat ilmunya yang sangat dahsyat, 'Telapak Tangan Petir. Itulah sebabnya, mengapa ia dijuluki si Malaikat Petir!
Banyak sudah tokoh persilatan dari kalangan sesat telah tewas di tangannya. Memang zaman itu merupakan masa yang sangat suram bagi golongan sesat. Kemunculan Eyang Tirta Yasa yang tiba-tiba bagai malaikat, menyebabkan banyak tokoh sesat berpikir dua kali untuk menghadapinya.
Sepak terjangnya yang sangat menggiriskan itu memang membuat resah lawan-lawannya. Akibatnya, pada masa itu sulit untuk menemukan tindak kejahatan. Para perampok yang biasanya tidak kenal rasa takut, terpaksa harus menyembunyikan diri. Sebab si Malaikat Petir, tidak kepalang tanggung dalam bertindak. Siapa pun yang berbuat kejahatan, maka dapat dipastikan, tidak akan dapat menikmati hangatnya sinar matahari esok pagi.
Memang pada masa itu terdapat juga beberapa tokoh sakti yang setingkat dengan si Malaikat Petir. Mereka adalah, Dewa Tanpa Bayangan. Kemudian si Raja Obat, dan beberapa nama lainnya. Mereka semua merupakan pendekar ternama dan sangat disegani kawan maupun lawan. Di samping itu dari golongan sesat pun masih banyak tokoh hitam yang berkepandalan tinggi.
Dalam waktu yang singkat, nama Malaikat Petir telah mampu menggeser tokoh-tokoh tua golongan putih yang telah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia persilatan. Tentu saja, ada beberapa dari mereka yang ingin menjajagi sampai di mana kepandaian yang dimiliki si Malaikat Petir itu. Namun sampai sekian jauh, uji coba kepandaian antara si Malaikat Petir melawan tokoh tua, tidak sampai jatuh korban ataupun terluka parah. Juga, tidak menimbulkan rasa permusuhan di antara mereka.
Sementara sebagian tokoh banyak juga yang merasa bangga, karena tugas-tugas mereka telah diambil alih oleh si Malaikat Petir. Dengan demikian mereka dapat mengasingkan diri dengan aman dan tenteram.
Setelah kurang lebih sepuluh tahun nama Malaikat Petir menggema dalam dunia persilatan, tiba-tiba saja pendekar besar itu menghilang tak tentu rimbanya. Si Malaikat Petir, lenyap bagaikan ditelan bumi! Dunia persilatan pun gempar! Para tokoh hitam bersorak dan berpesta setelah mendengar kabar itu. Sementara masyarakat kembali resah. Jelas kehidupan mereka bakal kembali terancam dirongrong gerombolan perampok.
Para sahabat si Malaikat Petir pun telah berusaha mencari kabar tentang pendekar sakti itu. Namun si Malaikat Petir benar-benar lenyap bagai ditelan bumi. Tahun-tahun selanjutnya, nama si Malaikat Petir mulai dilupakan orang. Di kedai-kedai maupun di jalan-jalan, tidak terdengar lagi nama si Malaikat Petir diperbincangkan orang. Namanya benar-benar telah tenggelam.
Tiga puluh tahun telah berlalu semenjak la lenyap bagai ditelan bumi. Dan kalangan rimba persilatan, telah menganggap si Malaikat Petir telah meninggal dunia. Namun, tiba-tiba saja pendekar sakti itu muncul ditengah rimba belantara yang sunyi dan menyeramkan. Dan sekaligus telah menyelamatkan jiwa Panji dari kematian.
Kini, bayangan tubuh orang tua sakti itu tengah berloncatan mendaki sebuah bukit yang permukaannya terdapat batu-batu yang bertonjolan. Meskipun demikian, tubuh orang tua sakti itu sama sekali tidak merasa terganggu. Ilmu meringankan tubuhnya memang telah mencapai taraf kesempurnaan. Tubuh orang tua itu, melayang-layang dengan gesit, bagaikan seekor burung yang tengah bermain-main di angkasa.
Sementara tubuh Panji yang berada di tangan kanannya itu, telah tertidur pulas. Rupanya Ia merasa aman dalam lindungan kakek sakti itu. Tanpa disadari keletihan yang selama ini disembunyikannya itu terlepas sudah. Sehingga ia jatuh terlelap seketika itu juga.
*
Bukit Goa Harimau, adalah salah satu bukit di antara sekian banyak bukit yang terdapat di sekitar Hutan Randu Apus. Mungkin karena di atas bukit itu terdapat sebuah goa yang berbentuk kepala harimau maka dinamakan Bukit Goa Harimau.
__ADS_1
Di atas puncak bukit ini terdapat sebuah tanah datar yang cukup luas. Di tengah-tengah tanah lapang itu berdiri sebuah pondok yang cukup besar dan kuat. Sementara di belakang pondok itu mengalir sebuah sungai jernih, yang bersumber dari sebuah air terjun tidak jauh dari pondok. Rupanya di sinilah tempat si Malaikat Petir menyembunyikan dirinya selama puluhan tahun. Suatu tempat yang sukar didatangi. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mencapai tempat itu. Bukan saja bukit itu sangat sulit untuk didaki. Ternyata di dalam Hutan Randu Apus terdapat banyak binatang buas yang sangat berbahaya.
Matahari mulai memancarkan sinarnya. Pelahan-lahan suasana yang semula redup menjadi terang. Kehangatan yang dipancarkannya mulai terasa menyengat kulit.
Sementara itu di sebuah pondok di atas Puncak Bukit Goa Harimau, tampak dua sosok tubuh tengah duduk berhadapan. Mereka duduk bersila dengan keheningan yang menyelimuti sekitarnya. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Ternyata, dua sosok tubuh itu adalah Eyang Tirta Yasa dan Panji. Mereka memang telah menetap di tempat ini. Sebuah tempat persembunyian Eyang Tirta Yasa, sejak penyepiannya puluhan tahun yang lalu.
"Cucuku," ujar orang tua itu lembut memecah keheningan.
"Mulai pagi ini, Eyang akan memberikan dasar-dasar segala ilmu silat. Oleh karena itu, Eyang berharap agar engkau tekun dan sabar dalam mempelajarinya. Karena, tanpa kesabaran dan ketekunan, sulit akan mencapai hasil yang sempurna."
"Baik, Eyang! Saya berjanji akan selalu mengikuti segala petunjuk Eyang," jawab Panji dengan kepala tunduk. Kata-katanya halus, namun di dalamnya tersembunyi sebuah tekad yang kuat.
Eyang Tirta Yasa mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil sesekali mengelus janggut putihnya itu. Ia semakin suka dan sayang kepada anak itu. Anak seperti inilah, yang dicarinya selama ini untuk diwariskan ilmu olah kanuragan dan kesaktian. Anak seperti inilah yang akan mengangkat namanya pada masa-masa mendatang.
Orang tua itu menarik napas sejenak, sambil menatap Panji yang masih memperhatikan pohon besar itu. Kemudian, Eyang Tirta Yasa mengajak Panji ke bibir bukit, lalu menunjuk ke sebuah bukit lain yang tidak jauh dari Bukit Goa Harimau.
"Nah! Sekarang lihatlah bukit yang berada didepan itu!" ujarnya pelan.
"Coba kau terangkan, hubungan antara bukit itu dengan ilmu yang telah kau serap tadi," lanjut orang tua itu, sambil menoleh kepada Panji.
Anak itu berdiri tegak sambil memandang ke bukit yang dimaksud Eyang Tirta Yasa. Kedua alisnya bertaut, pertanda ia tengah berpikir keras.
"Eyang, menurut pengamatan saya yang bodoh ini, bagian bawah dari bukit itu terlihat lebih besar daripada bagian atasnya. Sedangkan ilmu olah kanuragan harus memiliki dasar yang lebih besar pula. Jadi, menurut hemat saya, pada bagian bawah itulah yang berhubungan dengan dasar ilmu silat!" Jawabnya tanpa ragu-ragu lagi.
"Bagus, Cucuku! Sudah kuduga bahwa engkau adalah anak yang cerdas!" Ujar kakek itu, dengan wajah berseri-seri.
__ADS_1
"Jadi, untuk menguasai ilmu silat kita harus mempunyai dasar yang kuat seperti pohon dan gunung tadi. Apakah engkau sudah paham, Cucuku?" Tanya orang tua itu lebih lanjut.
"Ya, Eyang! Saya paham," jawab Panji.
Panji memang seorang anak yang keras hati dan tekun dalam mempelajari segala sesuatu. Selain itu, ia pun seorang anak yang rajin dan cerdas. Maka tidaklah aneh apabila latihan-latihan dasar yang diberikan gurunya itu dapat dikuasainya dalam waktu yang singkat. Pelajaran-pelajaran dasar tersebut selalu diterapkan dalam setiap kesempatan, Dalam beberapa bulan saja, gerakan-gerakannya sudah terlihat mantap dan bertenaga. Demikian juga dengan posisi kuda-kudanya yang nampak kokoh dan indah.
*
Sang waktu terus bergulir cepat. Tanpa terasa, lima tahun sudah Panji tinggal bersama orang tua sakti di Puncak Bukit Goa Harimau.
Hari belum lagi menjelang sore, ketika sesosok tubuh yang bertelanjang dada, tengah bergerak dengan lincahnya. Kadang-kadang sosok tubuh itu melenting ke udara sambil melepaskan tendangan berantai. Sungguh sebuah serangan yang berbahaya! Kemudian dengan manis sekali kakinya menjejak tanah.
Tiba-tiba, Ia berteriak keras, sambil kedua kakinya membentuk kuda-kuda dengan posisi menunggang kuda. Kedua kakinya bergeser ke kiri dan ke kanan, sementara kedua telapak tangannya terkepal di kedua sisi pinggang. Dari sela-sela bibirnya terdengar desisan halus. Rupanya dia tengah berlatih dalam menghimpun tenaga dalam.
Hari sudah menjelang sore. Di ufuk Barat, sinar kemerah-merahan menyemburat merah. Suatu pertanda sang surya akan kembali ke peraduannya. Sementara sosok tubuh itu pun nampaknya sudah pula mengakhiri latihannya. Dadanya yang tidak berbaju itu telah basah oleh peluh. Wajahnya yang tampan tampak berwarna kemerahan hingga makin menambah ketampanannya. Sosok tubuh itu ternyata seorang anak remaja! Walau usianya sekitar tiga belas tahun, namun kepandaiannya sudah demikian hebat.
Baru saja anak itu hendak melangkah meninggalkan tempat latihannya, tiba-tiba terdengar teguran dari arah belakangnya.
"Cucuku, temuilah Eyang di ruang seperti biasa, sesudah engkau membersihkan tubuhmu lebih dahulu!"
Anak yang ternyata adalah Panji itu terkejut bukan main karena kedatangan orang tua itu, sama sekali tidak diketahuinya.
"Luar biasa sekali kepandaian Eyang Tirta Yasa! Sampai-sampai kedatangannya pun tidak terdengar sama sekali! Sungguh luar biasa!" Gumam Panji dalam hati.
Panji memiliki sifat serba ingin tahu. Maka, ia berniat menanyakan langsung kepada gurunya itu. Namun ketika ia menoleh ternyata orang tua itu sudah tidak ada di situ lagi. Semakin terkejutlah anak itu. Dia benar-benar mengagumi kesaktian gurunya itu.
__ADS_1