Pendekar Naga Putih

Pendekar Naga Putih
15


__ADS_3

Ki Umbaran yang ikut menyaksikan saat-saat terakhir iblis itu, menarik napas lega. Hilang sudah rasa khawatir dalam dirinya. Dengan tewasnya Laba-Laba Beracun, berarti Desa Tambak terbebas dari kehancuran.


"Sekali lagi, kuucapkan terima kasih kepadamu, Panji! Kau telah membebaskan Desa Tambak dari kehancuran! Entah dengan cara bagaimana kami dapat membalasnya?" Ujar Ki Umbaran sambil menjabat erat tangan Panji.


Kemudian secara berturut-turut warga desa yang masih berada di tempat itu, ikut pula menyalami Panji. Demikian pula dengan sepasang mata yang semula memancarkan sinar iri. Sepasang mata yang berasal dari seraut wajah yang cukup tampan berusia sekitar tiga puluh tahun. la pun ikut pula menyalami pemuda yang telah menewaskan Laba-Laba Beracun itu. Sepasang mata itu telah berubah dengan tatapan penuh rasa kagum dan hormat. Telah disadari kekeliruannya.


Demikianlah, mulai malam ini nama Pendekar Naga Putih mulai dibicarakan orang di pasar-pasar dan di kedai-kedai minuman, nama Pendekar Naga Putih menjadi pokok pembicaraan yang hangat. Pelahan-lahan berita itu meluas hingga ke desa-desa sekitarnya.


Setelah beberapa hari tinggal di Desa Tambak, Panji berniat untuk melanjutkan perjalanannya. Ki Umbaran berusaha untuk menahan pemuda itu beberapa hari lagi karena sudah terlanjur menyukai pemuda sederhana itu. Terpaksa akhirnya Panji membuat janji untuk mengunjungi Desa Tambak setelah urusannya selesai.


Biar bagaimanapun, perpisahan adalah sesuatu yang sangat berat. Meskipun setiap orang tidak menyukainya, namun perpisahan selalu menjadi bagian dalam kehidupan setiap manusia.


Hari masih pagi. Matahari hanya mengintip malu di ufuk Timur. Embun pun bak mutiara berceceran di dedaunan. Sementara itu, Panji tengah berjalan menuju perbatasan Desa Tambak. Ia merasa heran sekali, ketika tidak menjumpai Kenanga di antara orang yang melepas kepergiannya.


"Ke mana perginya bidadari jelita itu? Apakah aku


mempunyai kesalahan terhadapnya? Ataukah... aaah! Sudahlah! Mengapa aku harus memikirkan yang bukan-bukan, sedangkan urusanku sendiri masih banyak!" Kata batin Panji. Dan tanpa sadar ia menepak kepalanya keras-keras.


"Huh! Manusia tak tahu malu! Apa yang kupikirkan?" Gumam pemuda itu sambil meringis menahan sakit akibat tepakannya yang terlalu keras.


Beberapa orang yang berpapasan dengannya di jalan, tersenyum-senyum melihat tingkah laku pemuda itu yang terasa aneh. Mirip orang gila.


Panji jadi malu hati, ketika menyadari kesalahannya. Tapi tak urung dia pun menjadi tersenyum sendiri menyadari kelakuannya yang aneh itu. Dan ketika lihat pemuda itu tersenyum-senyum sendirian, maka makin yakinlah orang-orang itu bahwa pemuda tampan itu benar-benar tidak waras! Dan akibatnya mereka pun berjalan menjauhi Panji.


"Sialan! Mungkin aku dikira orang sinting barangkali!" Gerutu Panji sambil bergegas mempercepat langkahnya.


Belum jauh melewati perbatasan, Panji mendengar suara mencurigakan di kerimbunan semak yang terdapat di tepi jalan itu. Pemuda itu pun segera menghentikan langkahnya seraya berpaling ke arah datangnya suara yang mencurigakan itu. Alangkah terkejutnya Panji ketika melihat seraut wajah yang cantik, berdiri menatapnya dengan mata basah.


"Kenanga...?" Tegur Panji dengan suara bergetar.


Bagaimana hati pemuda itu tidak terkejut? Sepanjang jalan hanya wajah dara jelita itulah yang selalu mengganggu pikirannya. Dan secara tiba-tiba saja, wajah itu sudah berdiri di hadapannya. Sungguh sulit untuk dipercaya!


"Kakang Panji...!" Kata gadis itu. Suaranya serak, seperti tercekat di tenggorokan.


Entah siapa yang lebih dahulu, yang jelas kedua orang itu telah melangkah saling mendekat dan saling berpegang tangan. Tubuh keduanya bergetar. Aliran darah mereka seperti berbalik. Untuk beberapa saat lamanya, keduanya tidak mampu untuk berkata-kata. Hanya kedua pasang mata mereka yang saling bercerita mewakili perasaan masing-masing.


Panji yang lebih dahulu dapat menguasai perasaannya, segera membawa bidadari jelita itu ke sebuah tempat yang banyak terdapat batu besar, dan mengajaknya duduk di salah satu batu besar.


"Kenanga, maafkan aku! Aku tidak sempat berpamitan kepadamu, karena tidak melihatmu sejak kemarin malam. Apakah aku punya salah?" Ujar Panji ketika kedua insan itu telah duduk di bebatuan.


"Maafkan aku, Kakang! Aku tidak ingin orang lain mengetahui, kalau aku tidak sanggup melepaskan kepergianmu, Kakang!" Ungkap Kenanga. Suaranya masih tetap merdu. Sementara, beberapa butir air telah menetes dari kedua matanya.

__ADS_1


Panji segera mengulurkan kedua tangannya untuk menghapus air mata di pipi dara jelita itu. Untuk beberapa saat, jari-jari pemuda itu gemetar ketika menyentuh kulit yang halus bagai sutera itu.


Kenanga segera menangkap tangan Panji, yang masih sibuk menghapus sisa-sisa air mata di pipinya itu, Seketika dilekatkannya lebih erat di pipinya, olah-olah tidak ingin untuk melepaskannya kembali. Sejenak kedua mata yang indah itu terpejam, sehingga nampaklah sebaris bulu mata yang lentik dan mempesona.


Dada Panji berdegup keras, ketika daya tarik mata itu menguasai dirinya. Cepat-cepat ditundukkan wajahnya untuk melawan rangsangan itu.


"Kakang, begitu pentingkah kepergianmu?" Desah Kenanga lembut. Sementara kedua matanya masih juga terpejam. Seolah-olah bidadari jelita itu tengah mengigau.


"Kenanga, sebenarnya berat sekali langkahku untuk meninggalkan desa ini, tapi masih banyak urusan yang harus kuselesaikan."


"Jadi, bukan karena aku?" Potong Kenanga dengan wajah cemberut.


"Ah! Tentu saja karenamu, Kenanga! Mengapa engkau harus bertanya lagi?" Jawab Panji tersenyum menggoda.


"Lalu, urusan apakah yang demikian pentingnya itu, Kakang?" Tanya Kenanga lagi.


"Hm, Kenanga. Maukah kau disebut sebagai anak yang tidak berbakti?" Panji balik bertanya.


"Tentu saja tidak, Kakang!" Jawab gadis itu tegas.


Kenanga yang tengah merasa bahagia itu, memandang wajah lelaki yang dipujanya dengan mata yang berbinar-binar.


Panji yang melihat mata gadis idamannya bersinar bagai bintang Timur itu hampir tak sanggup untuk memandangnya.


Sejenak pemuda itu terbawa lamunannya, baru ia tersadar, ketika Kenanga tertawa geli melihat pemuda idamannya terbengong-bengong.


"Hei! Kakang Panji. Pertanyaanku belum kau jawab, Kakang!" Seru Kenanga lagi.


"Oh! Pertanyaan yang mana?" Jawabnya bingung.


Setelah terdiam beberapa saat lamanya, barulah ia dapat mengingatnya. Panji pun lalu menceritakan tujuan perjalanannya itu. Setelah mendengar keterangan dari Panji, gadis jelita itu termenung sejenak. Wajahnya terlihat murung, karena pasti akan berpisah dalam waktu yang tidak dapat dipastikan. Matanya kosong memandang jauh ke depan.


Panji menjadi iba melihat wajah jelita itu menjadi murung. Namun kepergiannya kali ini, betul-betul tidak dapat ditundanya. Wajah kedua orang tuanya selalu terbayang. Seolah-olah memintanya untuk segera membalas kematian mereka.


"Kakang, apakah setelah urusanmu selesai, kau akan segera mengunjungiku?" Tanya Kenanga tiba-tiba. Sedangkan matanya tetap memandang lurus ke depan.


"Tentu, Kenanga! Begitu urusanku selesai, maka aku akan segera mengunjungimu. Aku berjanji, Kenanga," ucap Panji bersunguh-sungguh.


"Sungguh, Kakang?" Tanya Kenanga minta kepastian sambil menoleh dengan mata bersinar.


Panji memandang wajah Kenanga seraya mengangguk dengan bibir tersenyum. Kemudian diraihnya kedua tangan gadis itu, lalu dikecupnya jemarinya penuh perasaan.

__ADS_1


"Aku berjanji, Kenanga!" Ucap Panji lembut.


"Baiklah, Kakang! Aku akan selalu menantimu!" Ujar Kenanga. Wajahnya kembali berseri.


Kedua insan itu pun bangkit dari duduknya. Sebelum berpisah, Panji mengecup lembut dahi Kenanga. Segera dilangkahkan kakinya meninggalkan Kenanga yang masih berdiri memandangnya. Setelah bayangan pemuda itu lenyap, barulah Kenanga beranjak meninggalkan tempat itu.


Sementara tak terasa sang mentari semakin meninggi. Sepertinya si raja siang itu tersenyum ketika menyaksikan perpisahan sepasang kekasih yang dimabuk cinta.


*


Hari masih sangat pagi, ketika serombongan orang berkuda melintasi daerah perbukitan yang terdiri dari batu cadas. Kepulan debu membumbung tinggi diterjang derap kaki kuda yang bergemuruh.


Rombongan berkuda itu kurang lebih berjumlah empat puluhan orang. Wajah mereka terlihat gagah dan tenang. Tatapannya yang tajam bagaikan mata seekor burung elang. Di bahu dan punggung mereka, tampak tersembul gagang-gagang senjata. Suatu tanda bahwa rombongan itu terdiri dari orang yang pandai ilmu olah kanuragan.


Paling depan, terlihat dua orang yang merupakan pimpinan rombongan itu. Yang pertama, berusia sekitar lima puluh tahun lebih. Wajahnya cukup tampan, bersih, dan berwibawa. Sebaris kumis yang lebat dan berwarna agak keputihan menghias atas bibirnya. Sementara di punggungnya, nampak sepasang pedang. Pada gagangnya dihiasi batu-batu merah delima, membuat pedang itu semakin indah dipandang mata.


Sedangkan orang kedua sukar ditaksir usianya, karena mengenakan sebuah topeng hitam. Di punggungnya tergantung sebuah tombak yang berujung golok besar tanpa gagang. Dia terkenal dengan julukan Pendekar Topeng Hitam.


Memang, rombongan itu terdiri dari pendekar persilatan dari berbagai aliran. Mereka sengaja berkumpul untuk menggempur Tiga Iblis Gunung Tandur, karena kejahatannya yang telah melampaui batas. Ketiga Iblis Gunung Tandur itu telah membumi hanguskan beberapa padepokan terkenal yang tidak bersedia tunduk di bawah kekuasaan mereka.


Perbuatan ketiga iblis itu telah mendatangkan kemurkaan di hati para pendekar persilatan. Mereka lalu bergabung di bawah pimpinan dua orang pendekar yang berjuluk Pendekar Pedang Langit dan Pendekar Topeng Hitam. Setelah mendapatkan kata sepakat, rombongan pendekar itu pun segera bergerak menuju Gunung Tandur yang menjadi sarang ketiga manusia iblis itu.


Setelah kurang lebih setengah harian melakukan perjalanan, maka rombongan itu tiba di bawah kaki Gunung Tandur. Dan untuk beberapa saat lamanya, mereka segera beristirahat sambil mengamati keadaan di sekitar tempat itu.


Pendekar Pedang Langit dan Pendekar Topeng Hitam segera berembuk untuk mengatur siasat dalam mengadakan penyerbuan. Lalu dua pendekar sakti itu, segera mengumpulkan pendekar lainnya untuk diminta pendapat.


Setelah mendapat kata sepakat, para pendekar itu pun segera dipecah menjadi tiga bagian. Rombongan pertama yang dipimpin Pendekar Pedang Langit, bergerak dari arah Timur. Rombongan kedua yang dipimpin Pendekar Topeng Hitam, bergerak dari arah Barat. Sedangkan rombongan ketiga yang dipimpin tiga pendekar lainnya, bergerak dari Utara.


Tidak lama kemudian, ketiga kelompok itu pun segera bergerak dari tiga jurusan. Kelompok yang dipimpin Pendekar Pedang Langit berjumlah sekitar sebelas orang. Mereka segera mendaki gunung itu.


Disusul kemudian kelompok kedua dan ketiga secara berurutan. Kini, kelompok pertama telah tiba di atas Puncak Gunung Tandur. Kesebelas orang pendekar itu bergegas menghampiri sebuah bangunan mewah yang terdapat di tengah-tengah puncak gunung. Sekejap saja mereka telah berada didepan pintu gerbang yang tebal dan kuat.


Pendekar Pedang Langit segera memerintahkan beberapa orang pendekar untuk mendobrak pintu gerbang. Dengan menggunakan sebuah batang pohon kayu yang cukup besar, enam orang dari mereka segera mengerahkan tenaga sekuat-kuatnya.


"Hiaaat...!"


Brakkk...!


Pintu gerbang yang terbuat dari kayu pilihan itu langsung pecah, menimbulkan suara hiruk-pikuk.


Maka begitu pintu itu pecah, para pendekar itu serentak berloncatan masuk sambil menghunus senjata masing-masing. Namun betapa herannya mereka, ketika melihat keadaan di dalamnya ternyata sunyi sekali! Akibatnya kesebelas orang pendekar itu menjadi tegang!

__ADS_1


Para pendekar itu langsung menyebar dan mendekati bangunan mewah itu melalui semak-semak yang banyak terdapat di sekitar tempat itu. Keadaan yang mencurigakan itu, membuat para pendekar menjadi tegang.


Apalagi mereka tidak mengetahui secara pasti di mana musuh berada, sebaliknya, justru keadaan merekalah yang sudah diketahui musuh!


__ADS_2