Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 23 : Kertas Tisu


__ADS_3

"Bukankah itu sama saja? Entah itu penjaga atau teman belajar, kamu masihlah seorang pelayan. Kamu penjaga, kan? Seorang penjaga juga harus menjaga agar Nonanya tidak kelaparan. Jadi, jangan banyak alasan, cepat sana!" Tinia Atmaja langsung membantahnya dengan masuk akal saat dia menatap Ardian Prasetya dengan tengil.


"Saya mengerti, tetapi Saya adalah penjaga Nona Muda Angkara. Jadi, Saya hanya akan menuruti perintahnya." Meskipun membuat makanan bukan apa-apa bagi Ardian Prasetya, tapi itu tampaknya berada di luar lingkup pekerjaannya.


Ardian Prasetya tidak sebodoh itu membiarkan dirinya diperintah hanya karena pihak lain tersenyum menggoda padanya. Itu hanya akan memberi Angkara Elvira metode lain untuk membuatnya kacau jika dia sampai memergokinya sedang memasak untuk Tinia Atmaja.


"Itu juga sama saja! Aku sahabat Angkara Elvira. Kalau kamu menjaganya kamu juga harus menjagaku, kalau kamu akan selalu berada di dekatnya, kamu juga akan selalu berada di dekatku. Jadiz perintahku setara dengan perintahnya!" Ketika Tinia Atmaja melihat bahwa setelah semua yang dia katakan, masih belum ada tanda-tanda Ardian Prasetya akan melakukan sesuatu, dia menjadi sedikit kesal.


"Hmp!" Tinia Atmaja merajuk dengan kesal. Di sudah memberikan kesan awal yang bagus untuknya, tetapi Ardian Prasetya bahkan tidak tahu cara menghargai bantuannya. Dia dan Angkara Elvira adalah Dewi di kehidupan nyata, orang-orang senantiasa memuji dan berusaha keras untuk dekat dengan mereka. Bahkan, biasanya orang-orang akan dengan senang hati mencoba untuk membantu mereka, tetapi tidak diizinkan untuk melakukan itu.


"Sudahlah, kalau kamu tidak mau melakukannya maka bantu aku merebus air saja, aku akan memasak mie instan sendiri!"


"Baik." Ardian Prasetya tidak keberatan melakukan itu karena ketel listrik berada tepat di sebelah jendela. Jadi, Ardian Prasetya mengulurkan tangannya dan menyalakan ketel.

__ADS_1


Sambil menunggu air mendidih, Tinia Atmaja meraih remot televisi dan menekan tombol power. Tinia Atmaja ingin menonton musik video dari penyanyi dan pemusik populer Mayuna Yon yang selalu diputar saat ini di saluran hiburan.


"Ti-tidak..." Tindakan Tinia Atmaja membuat Ardian Prasetya panik. Namun, sebelum dia bisa bereaksi lebih jauh untuk menghentikannya menyalakan televisi, layar sudah terlebih dahulu menyala dan di atasnya ditampilkan saluran terbaru yang dikunjungi oleh penonton sebelumnya, saluran dewasa.


Pemanasan sudah selesai dan artis film dewasa, Rara, sedang melakukan adegan yang sangat intensif dengan aktor laki-laki bertopeng.


"Uwah!!" Tinia Atmaja berteriak sangat keras sebelum menutup mulutnya dengan tangan. Dia kemudian mulai menatap tajam ke arah Ardian Prasetya yang langsung membuang muka ke arah lain.


Ardian Prasetya merasa ingin mati seketika itu juga. "Sialan, sungguh sialan! Bagaimana aku bisa begitu sial!? Sekarang bagaimana? Kakek tidak pernah mengajarkanku apa yang harus aku lakukan ketika berada di situasi tidak menyenangkan ini!"


"Ardian Prasetya, beraninya kamu menonton video cabul seperti itu di sini!?" Tinia Atmaja saat ini sangat marah. Dia semakin menyesal sudah membantu Ardian di hari sebelumnya. Belum genap satu hari mereka tinggal bersama, tetapi Ardian Prasetya sudah begitu tidak tahu malu. Tidak heran dia bangun pagi-pagi sekali, rupanya dia memiliki fantasi tinggi karena tinggal dengan dua gadis cantik, dia tidak bisa menahan hasratnya sehingga menonton video-video semacam ini.


"Tolong tenangkan diri Anda. Bukankah Saya bilang itu bukan Saya." Ardian Prasetya menjelaskan dengan tenang dan polos. Meski dia berbohong, tetapi dia juga tidak sengaja menemukan saluran ini. Jika mereka memang membenci hal-hal semacam ini, seharusnya mereka berhenti berlangganan saluran seperti ini sejak awal atau paling tidak, pakai kata sandi yang lebih rumit, bagaimana bisa kata sandinya cuman enam digit angka yang sama, itu sama saja dengan meminta untuk ditemukan.

__ADS_1


"Betapa tidak masuk akal. Apa kamu pikir akan ada yang percaya dengan itu? Siapa lagi yang bisa melakukannya jika bukan kamu? Apa kamu pikir aku menonton sesuatu yang tidak senonoh seperti itu atau kamu menuduh Elvira? Kami hanya menonton saluran anak-anak dan musik kemarin!" bantah Tinia Atmaja dengan suara yang sangat keras.


"Kami bahkan mengonfigurasi kontrol orang tua untuk mencegah kami menemukan saluran ini secara tidak sengaja saat menjelajah melalui saluran lain. Anda tidak dapat melihat saluran ini kecuali Anda memasukkan kata sandi yang kami atur!" Saat Tinia Atmaja mengatakan ini, dia merasakan pertentangan dengan kata-katanya. Merekalah yang sudah mengatur kata sandi saluran ini, bagaimana Ardian Prasetya bisa mengetahuinya?


Ardian Prasetya tidak berharap Tinia Atmaja mengingat detail seperti itu. Sekarang, tidak ada gunanya dia terus berpura-pura tidak bersalah. Jadi, daripada masalah ini menjadi lebih besar dan menyeret ke arah lain, dia mengakuinya dan menjelaskan dengan sejujurnya, "Baiklah, itu benar Saya. Ketika Saya tidak sengaja menemukan saluran ini, karena penasaran, Saya memasukkan kata sandinya. Saya tidak berharap kata sandinya benar. Saat Saya menyadari bahwa itu adalah saluran dewasa, Saya langsung mematikan televisi, saat itulah Nona turun."


"Benar begitu?" tanya Tinia Atmaja dengan ragu sambil menatap Ardian Prasetya dengan tidak percaya. "Ya, Nona." Ardian Prasetya menjawab dengan suara yang sangat sedih, meski dia menyembunyikan beberapa hal, apa yang dia katakan sudah sangat mendekati kebenaran.


"Hmp!" Tinia Atmaja mendengus. Karena dia tidak ingin berdebat dengan Ardian Prasetya tentang hal itu lagi, dia meraih remot di atas meja untuk mengganti saluran televisi sebelum Angkara Elvira terbangun. Saat itulah, dia melihat bola kertas tisu di tempat sampah samping meja. Kertas tisu itu tidak membulat sempurna. Jadi, dia bisa melihat sekilas cairan berlendir di atasnya.


"Dasar gila, apa ini?" Wajah Tinia Atmaja menjadi hijau karena jijik, bahkan suaranya mulai bergetar saat dia berbicara, "Jadi, kamu berbohong? Kamu tidak hanya menonton saluran dewasa, tetapi juga melakukan ritual sesat seperti ini? Kamu benar-benar sudah gila!"


"Maaf? Ritual sesat apa yang Anda maksudkan?" Ardian Prasetya bingung dan melihat ke arah yang dilihat oleh Tinia Atmaja. Dia melihat bola tisu yang dia gunakan beberapa waktu lalu. Seketika, dia mengerti apa yang dimaksud Tinia Atmaja. Wajahnya membiru cemas dan segera mengutuk kembali betapa sialnya dirinya di dalam hati.

__ADS_1


Ardian Prasetya tahu bahwa Tinia Atmaja telah salah paham. Bola kertas tisu dan cairan berlendir di dalamnya, ditambah fakta bahwa dia baru saja menonton film dewasa. Segalanya mengarah pada satu ritual sesat yang tidak menyehatkan. Melihat petunjuk-petunjuk ini, tidak heran Tinia Atmaja curiga.


__ADS_2