
Marah, Jerome Sian kemudian mencoba melakukan fitnah dengan mengumumkan ke seluruh sekolah bahwa dia telah berbuat dosa dengan Tinia Atmaja, bahkan sampai mengklaim bahwa gadis itu telah melakukan aborsi demi dia. Tindakan bodohnya terlalu dibesar-besarkan, dan tidak ada yang mempercayai klaim itu. Namun, pelampiasan dendamnya tetap berhasil, kehormatan dan reputasi Tinia Atmaja jadi hancur.
Seorang gadis elite seperti Tinia Atmaja tidak akan pernah hanya berdiri di sana dan menerima kejahatan ini begitu saja, alih-alih memilih untuk membicarakannya baik-baik dengan Jerome Sian. Pembicaraan itu tidak berjalan dengan baik dan berakhir dengan beberapa tamparan lagi di wajah Jerome Sian, mendorongnya ke ujung jurang. Dia kemudian membuat ancaman bahwa dia akan meminta beberapa pria untuk melakukan ruda paksa padanya suatu hari nanti.
Sayangnya, rumor jahat ini sampai ke telinga Alan Atmaja, kakak laki-laki Tinia Atmaja. Roland Pratama tidak akan pernah melupakan sore musim hujan itu sepanjang hidupnya. Sebuah Limosin hitam berhenti di depan sekolah dan dari dalamnya keluarlah seorang pemuda jangkung dan kekar. Dia tidak membuang waktu dan langsung pergi ke lapangan, di mana Jerome Sian berada.
Jerome Sian belum mengerti apa yang akan terjadi dan tidak menerima kehadiran Alan Atmaja dengan baik. "Siapa yang peduli siapa kamu? Kamu hanya besar di tubuh saja! Camkan ini di kepala kosongmu itu, tidak peduli seberapa kuat kamu, kami memiliki banyak orang di sisi ini. Kamu tidak bisa menakuti siapapun di sini, pulang sana, bodoh!" Alan Atmaja hanya berbicara satu kalimat menanggapi ocehan Jerome Sian, "Bocah, kata-katamu menyakitkan juga, tapi tidak masalah. Cukup siarkan permintaan maaf kepada Tinia Atmaja, dengan begitu aku akan melepaskanmu."
Jerome Sian hanya tertawa dengan antek-anteknya pada peringatan itu, mereka mengklaim bahwa dia belum pernah mendengar hal yang lebih konyol dalam hidupnya dari hal ini. Alan Atmaja tidak ingin repot-repot berdebat dengan orang bdooh. Jadi, dia melepaskan tendangan keras ke perut Jerome Sian sebagai tanggapan, membuatnya terbalik di udara. Saat dia hendak jatih ke tanah, Alan Atmaja menghantamkan tinjunya, tubuh Jerome Sian kembali melambung dan suara retakan tulang seketika memenuhi udara.
Antek-antek Jerome Sian telah melakukan pertarungan brutal, tetapi tidak ada yang mendekati apa yang dilakukan pria ini kepada mereka sebelumnya. Jelas sekali bahwa mereka tidak berada di level yang sama. Itu adalah wujud kemarahan asli yang datang dari Alan Atmaja. Tinia Atmaja adalah hartanya, adik kesayangannya. Jerome Sian telah menganiayanya, mempermalukannya, dan mengancamnya. Dia telah melewati batas. Dia sudah sangat bermurah hati karena tidak membunuhnya.
__ADS_1
Roland Pratama adalah salah satu antek Jerome Sian pada saat itu, dia juga berdiri di tengah kerumunan saat Jerome Sian menggeliat di tanah dengan darah yang keluar dari setiap lubang yang ia punya, dia dibantai dan terlihat sangat menderita. Gambar itu bahkan sampai ke mimpi buruknya, membangunkannya dengan sentakan di hari-hari berikutnya.
Kesombongan Jerome Sian berasal dari kekuasaan keluarganya yang advokat, tetapi pihak lawan lebih kuat lagi. Keluarga Atmaja bukanlah sesuatu yang bisa ditangani oleh keluarga Sian, karena itu bukan tempat mereka untuk melibatkan diri dengan keluarga Pahlawan Negara.
Alan Atmaja, di sisi lain, mendapat kerugian, dan peristiwa itu berdampak buruk pada posisi Alan Atmaja di pasukan, tetapi hanya itu saja. Dia hanya mendapat teguran dan beberapa hukuman ringan berkedok pendisiplinan.
Keluarga Jerome Sian yang bahkan kalah kuat hanya dengan latar belakang Alan Atmaja sendiri, menjadi kelabakan ketika mengetahui mereka sudah sangat menyinggung keluarga Atmaja. Ada banyak orang berpengaruh di sana yang bahkan beberapa diantaranya memiliki kekuatan untuk menenggelamkan keluarga Sian hanya dengan satu kali panggilan telepon.
Namun, Alan Atmaja merupakan pria yang murah hati, menyatakan bahwa dia tidak menginginkan masalah lebih lanjut dengan keluarga Sian ketika mereka berkunjung untuk meminta maaf, tetapi dia dengan sangat tegas menyebutkan bahwa kehadiran Jerome Sian memiliki efek yang tidak sehat pada kesejahteraan saudara perempuannya. Keluarga Sian segera memahami maksudnya, memindahkan putra mereka ke sekolah lain yang sangat jauh keesokan harinya.
Tidak banyak yang mengetahui peristiwa yang terjadi. Hanya mengingat wajah Jerome Sian saat itu sudah cukup untuk membuat Roland Pratama bergidik. Tinia Atmaja berada di luar kemampuannya, jauh lebih banyak daripada yang bisa dia kunyah. Bahkan bisa jadi Tinia Atmaja lebih kuat daripada Angkara Elvira.
__ADS_1
Roland Pratama menginjak yang lemah, tetapi bahkan dia tahu untuk mundur sepenuhnya di hadapan seseorang sekaliber Alan Atmaja. Ayahnya memang mengrim beberapa petarung yang baik di bawah komandonya, tetapi jika dia melawan Tinia Atmaja, anggota pasukan khususlah yang akan mereka lawan.
Roland Pratama gelisah, dia berjalan ke kursi Ardian Prasetya. Dia mengetuk meja dalam upaya untuk mengintimidasi dia. "Apa maksudnya ini?" Ardian Prasetya bertanya dengan datar saat dia mengangkat kepalanya, ada sedikit ketidaksabaran di matanya. Dia tersenyum, hanya mulutnya yang tersenyum.
Lee Rion menoleh, setelah mendengar percakapan itu. Roland Pratama sama sekali bukan seseorang yang harus dipusingkan Ardian Prasetya. "Hadapi aku dengan benar jika kamu punya nyali!" Roland Pratama melotot, suhu di sekitarnya panas dan sangat penuh dengan kemarahan.
"Aku sedang belajar, maaf." Ardian Prasetya menjawab sambil mengalihkan perhatiannya kembali ke buku teks. "Pftt, ciut, kan? Dasar tikus." Roland Pratama mengejeknya dengan hati-hati, kemudian berbalik dengan napas yang lega. Dengan kaki yang terasa lemah dia kembali ke tempat duduknya. Roland Pratama menilai bahwa Ardian Prasetya mungkin bekerja di tempat penjagalan kerbau. Jadi, dia cukup kuat. Dia tidak bisa melawannya sendirian. "Ingat ini. Kamu tidak bisa lari selamanya, aku akan menunggumu sepulang sekolah!"
"Apa? Hey, Ardian. Bagaimana kamu bisa membuat orang itu kesal?" Lee Rion berbisik setelah Roland Pratama pergi. "Kamu tidak terlihat seperti orang yang suka mencari penyakit, apa mungkin ada semacam kesalahpahaman di antara kalian?"
Ardian Prasetya hanya bisa tersenyum pahit. Sejujurnya dia juga berharap itu hanya salah paham. Namun, dia benar-benar sudah membuat orang itu kesal. Dia menendangnya, menghancurkan rahang anak buahnya, bahkan ada adegan menjijikan di toilet juga. Semua skenario penghubung Ardian Prasetya dengan Roland Pratama ini sangat menarik, sayangnya itu bukan sesuatu yang bisa dikatakan pada Lee Rion. "Bukan apa-apa. Mungkin karena aku menginjak kaki Seok Ma yang terluka saat dia mencoba menjegalku tadi pagi, hahaha. Jangan Khawatir."
__ADS_1