
"Jadi, kekuasaannya sebesar itu di Provinsi ini." Informasi itu tidak mengguncang Ardian Prasetya sedikitpun. Baginya, tidak ada ketua atau bos mafia yang cukup kuat untuk berhadapan dengannya, di misi-misi terakhirnya di Provinsi Timur, dia bermain dengan Pemerintah, tentara bayaran, dan kelompok separatis. Mereka tidak normal dan cenderung tidak peduli dengan nyawa, hal ini sangat jauh berbeda dengan mafia-mafia kota besar yang hidup dalam dunia malam dengan nyaman.
"Yah, jika dibandingkan, keluarganya tidak seberapa dibandingkan dengan keluarga Angkara Elvira." Lee Rion merasa sedikit tidak senang ketika obrolan ini membahas tentang Roland Pratama. Ardian Prasetya dapat melihat bahwa Roland Pratama tidak berperingkat sangat tinggi dalam daftar kesukaannya.
"Keluarga Roland Pratama hanya memiliki beberapa em... Bagimana menyebutnya, ya. Ah, benar. Mereka hanya memiliki beberapa outlite hiburan lokal, sedangkan keluarga Angkara memiliki satu pertalian perusahaan, Angkara Murka Grub. Cabangnya tersebar jauh dan luas di seluruh negara ini. Aku harap kamu bisa mengerti, cukup sulit bagiku untuk menjelaskannya." Lee Rion menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Ardian Prasetya memiliki informasi sendiri tentang kekuatan Angkara Murka Grub. Jika bisnis keluarga Angkara digambarkan sebagai kapal induk, maka bisnis milik keluarga Pratama hanyalah perahu kecil seorang nelayan. Maka wajar saja jika kejenakaan Roland Pratama tidak lebih dari mengganggu Angkara Elvira.
"Tidak masalah, aku masih mengerti intinya. Jangan khawatir, kamu punya banyak pengetahuan tentang ini, itu sudah sangat luar biasa." Ardian Prasetya tersenyum. Wajah Lee Rion sedikit memerah karena pujian itu. "Ehem. Bagaimanapun juga itu tadi hanya tentang Angkara Elvira. Sebagian besar anak laki-laki di sini tahu setidaknya sebanyak itu tentang dia. Informasi tentang Tinia Atmaja sedikit lebih misterius."
__ADS_1
"Benarkah?" Ardian Prasetya penasaran, kebetulan dia belum pernah bertemu keluarga Tinia Atmaja sebelumnya dan tidak pernah diberi tahu tentang itu. Dia awalnya berpikir Tinia Atmaja hanya mengikuti Angkara Elvira dan memanfaatkan betapa kuatnya keluarga Angkara, dia pulang dengan mobil Angkara Elvira dan bahkan makan di rumahnya. Namun, kata-kata Lee Rion menunjukkan kebenaran yang sebaliknya.
"Aku dengar kalau kakaknya adalah seorang prajurit operasi khusus. Kamu tahu? Dia seperti Dewa Perang yang biasa muncul di banyak Novel aksi. Dia benar-benar kuat. Ada pria yang tidak bisa membuat Tinia Atmaja menjadi pacarnya dua tahun lalu, dan dia mencoba melakukan sesuatu karena rasa dendam. Saudara laki-laki Tinia Atmaja mengetahuinya beberapa saat kemudian, dan dia memukuli pria itu dengan sangat buruk sehingga dia menghabiskan setengah tahun berikutnya di rumah sakit. Masalahnya di sini adalah bagaimana bisa orang tua murid itu tetap diam tentang semua penganiayaan ini, bahkan keterbalikannya mereka mengunjungi rumah Tinia Atmaja untuk meminta maaf!"
Lee Rion terus menjelaskan sambil membungkuk, nadanya dibuat dengan kesan misterius, impersonate-nya sangat bagus, dia cocok menjadi pendongeng handal. "Hanya itu saja yang membuktikan betapa pentingnya keluarga Tinia Atmaja. Meski begitu, Tinia Atmaja bukan gadis yang suka cari masalah. Jadi, dia masih sangat populer. Banyak pria naksir padanya, hanya saja tidak ada yang punya nyali untuk mencoba."
"Bukan gadis yang suka mencari masalah? Omong kosong!" Ardian Prasetya berteriak di dalam hati. Tinia Atmaja selalu membuat masalah, baik itu dengan Angkara Elvira atau dengannya. Dia terlihat sangat ingin Ardian Prasetya berkelahi melawan Roland Pratama. Selain itu ada rahasia yang selalu dia ancam dengannya juga. Lalu, ada insiden kamar kecil sebelumnya. Gadis yang tidak suka mencari masalah itu bahkan melihat barangnya. "Bagaimana bisa si setan kecil itu menyembunyikan taringnya selama ini? Menyeramkan sekali!"
"Ada apa? Tunggu, kamu tidak berencana mengejar mereka, kan?" Lee Rion menepuk bahu Ardian Prasetya lagi ketika dia melihatnya terdiam. Ardian Prasetya menggelengkan kepalanya dan tersenyum pahit. "Tidak, itu tidak benar." Lagipula dia adalah Nona-nya. Itu akan seperti drama seorang pelayan di zaman kuno yang kawin lari dengan majikannya. Sangat tidak lucu.
__ADS_1
"Yah, jangan berkecil hati. Yah, masih ada satu Permata lagi di sekolah ini yang berada dalam jangkauan kita, hahaha!" Lee Rion memancing dan Ardian Prasetya tidak bisa untuk tidak menangkap umpannya. "Siapa?" Ardian Prasetya tidak terlalu tertarik dengan berhubungan dengan para gadis saat ini, tetapi dia harus belajar lebih banyak tentang sekolah ini.
"Namanya, Sintia Wang dia dari kelas sembilan." Lee Rion menjawab, "Ehem. Dia adalah gadis cantik biasa di sekolah. Sangat cantik, tetapi dia sama seperti kita dalam hal latar belakang keluarga, dia selalu pergi ke sekolah dengan seragamnya, tidak menggunakan riasan. Namun demikian, kecantikan alaminya terpancar dan mempesona."
"Sintia Wang?" Ardian Prasetya menyukai nama itu, tetapi tidak yakin apakah dia benar-benar luar biasa seperti yang digambarkan Lee Rion. "Yah, dia tidak seistimewa itu jika kita menempatkannya di sebelah Permata lain seperti Angkara Elvira atau Tinia Atmaja." Ardian Prasetya memperhatikan kegembiraan dalam nada suara Lee Rion saat membahas Sintia Wang dia pasti menyukai gadis satu ini. "Meski tadi aku mengatakan yang satu ini berada dalam jangkauan kita, tetapi itu tidak sepenuhnya benar. Bagaimanapun, kita ini bukan orang kaya." Dia menjadi sedih sekali lagi.
Sekolah ini dibagi menjadi dua kelompok, mereka yang berharta dan mereka yang berbeasiswa. Mereka yang berharta selalu berkumpul bersama, mengejar gadis-gadis cantik saat mereka menghabiskan hari-hari mereka di sekolah ini. Mereka tidak khawatir tentang prestasi atau nilai, toh pada akhirnya tumpukan uang akan digunakan untuk menempatkan mereka di perguruan tinggi kelas atas atau pergi ke luar negeri.
Kelompok siswa berbeasiswa selalu fokus pada studi mereka, bekerja keras, mengejar perguruan tinggi ideal mereka melalui usaha keras. Orang miskin sebagian besar, tidak peduli dengan bagaimana orang kaya menghabiskan masa sekolah mereka, dan orang kaya tidak peduli dengan bagaimana orang miskin menghabiskan waktu mereka terkubur dalam buku.
__ADS_1
Perpecahan itu tidak mutlak, tetap ada anak-anak kaya yang belajar, dan ada anak-anak miskin yang terlibat perkelahian dan bahkan terlibat dalam kelompok perundung. Orang-orang yang bersifat sama akan bersatu. Antek-antek Roland Pratama, misalnya, selain pengawal, yang lainnya memiliki keluarga kaya seperti dia.
Akibatnya, Lee Rion percaya Angkara Elvira dan Tinia Atmaja berada di liga di atas level mereka, sebuah mimpi yang tidak dapat dicapai. Keindahan sekolah yang biasa-biasa saja, setidaknya, adalah target yang realistis. Senyum Lee Rion memiliki sedikit kerinduan dan harapan, dan Ardian Prasetya menghela napas pelan menanggapinya. Kisah cinta di sekolah tidak sesederhana dan sejujur yang dia bayangkan.