Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 33 : Pistol Air


__ADS_3

Ardian Prasetya menyeringai. Dari pantulan jendela, dia menyadari bahwa Roland Pratama sedang mendekat. Ketika Roland Pratama berada tepat di belakangnya dan mengangkat kakinya untuk menedangnya ke depan, Ardian Prasetya tiba-tiba berbalik dan menghindar, membuat sepatu mahal Roland Pratama terperosok jatuh dan basah oleh cairan urin.


Roland Pratama sangat terkejut dan berteriak sekencang yang ia bisa. Dia merasa sangat jijik dan terburu-buru mengangkat kakinya, membuat percikan urin mengenai wajahnya. Terlebih lagi, karena dia berteriak, mulutnya terbuka lebar. Jadi, dia tanpa sadar telah mencekoki mulutnya sendiri dengan air seni Ardian Prasetya.


Setelah teriakan Roland Pratama, dua teriakan lagi terdengar. Mereka datang dari Angkara Elvira dan Tinia Atmaja.


Kedua gadis itu dengan kesadaran sendiri berjalan ke toilet dan mengintip ke dalam untuk menonton pertarungan. Sedikit yang mereka tahu bahwa hal pertama yang akan mereka lihat adalah pemandangan pistol air besar Ardian Prasetya yang menggantung di celananya yang melorot.


Melihatnya Angkara Elvira berpikir bahwa dia sudah menjadi gila. Angkara Elvira menutup matanya dengan kedua tangan dan berteriak, "Uah! Tidak senonoh!" Setelah berteriak, dia melesat pergi dari sana.


Meskipun Tinia Atmaja juga berteriak, tetpi dia tidak menutup matanya. Karena penasaran, dia melirik beberapa kali lagi sebelum mengejar Angkara Elvira. Sambil berlari dia bergumam pada dirinya sendiri. "Alat kelamin laki-laki, seperti yang diajarkan di buku pelajaran, benar-benar bisa berubah ukurannya. Ajaib sekali. Aku ingat dengan jelas bahwa benda itu sebelumnya jauh lebih besar pagi tadi, tetapi sekarang jauh lebih kecil. Ini sangat menarik!"

__ADS_1


“Apa yang kamu bicarakan, Tinia bodoh?" tanya Angkara Elvira yang bingung ketika dia mendengar Tinia Atmaja bergumam pada dirinya sendiri. "Em? Ti-tidak ada tuh!" Tinia Atmaja tersipu. "Sial. Syukurlah Angkara Elvira tidak mendengar apa yang aku katakan atau itu akan terlalu memalukan untukku."


"Ah! Aku sudah tidak tahu lagi, benar-benar brengsek!" Angkara Elvira berbelok dan melesat kembali ke ruang kelas, mengutuk dirinya sendiri saat dia berlari. "Benar-benar brengsek. Bagaimana dia bisa menunjukkan benda jelek itu padaku? Aku majikannya dasar budak hina!"


Tinia Atmaja menyeringai dan berpikir dengan malas, "Kenapa kamu malah yang jadi kesal? Harusnya Ardian Prasetya yang merasa begitu. Bagaimanapun, itu kan toilet laki-laki. Lagipun, sejak kaman hubungan kalian menjadi budak dan majikan?" Ketika dia menyadari itu, Tinia Atmaja mencoba menghibur dan meluruskan Angkara Elvira, "Hentikan itu, Elvira. Menurutku justru kitalah yang salah."


"Ah, sial. Apa-apaan ini." Angkara Elvira akhirnya menyadari apa masalahnya. Benar kata Tinia Atmaja, Ardian Prasetya tidak bersalah. Tidak ada salahnya dia buang air di sana karena itu toilet laki-laki. Faktanya, mereka berdualah yang bersalah karena mencoba mengintip. Kemudian, Angkara Elvira mengerutkan kening mengingat akar masalahnya. "Tunggu sebentar, kamulah yang menarikku untuk mengintip. Jadi, bukankah ini salahmu!?" Dia balik marah kepada Tinia Atmaja.


"Eh? Kenapa kamu malah menyalahkanku? Jelas-jelas aku tidak bersalah. Jika ada yang bisa disalahkan, itu adalah Roland Pratama. Dia memberi tahu kita bahwa tidak ada yang akan menggunakan toilet saat ini dan menyarankan kita untuk masuk. Bukankah menurutmu ini salahnya?" Tinia Atmaja menolak untuk mengakuinya dan secara naluriah melemparkan semua kesalahan ke kambing hitam yang tersedia, Roland Pratama.


"Urgh! Aku harus menyingkirkan Ardian Prasetya secepatnya, dia pasti sumber ketidakberuntunganku ini. Aku harus mendapatkan kembali gaya hidup damaiku sebelumnya. Sejak pria ini muncul, setiap hariku diliputi kekacauan. Baru dua hari berlalu, dan aku tidak hanya kehilangan ciuman pertamaku, tetapi juga dibuat untuk melihat benda menjijikkan seperti itu. Bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia diizinkan tinggal bersamaku selama 2 bulan. Aku bisa gila!" Angkara Elvira telah mengambil keputusan. Saat ayahnya kembali, dia harus menyingkirkan Ardian Prasetya dengan segala cara. Atau kesuciannya mungkin dalam bahaya.

__ADS_1


Teriakan Roland Pratama bukanlah kejutan bagi Ardian Prasetya. Itu hanya membuat lelucon ini lebih menyenangkan. Namun, teriakan Angkara Elvira dan Tinia Atmaja mengejutkan Ardian Prasetya. "Hedeh, apa sih yang coba dilakukan kedua gadis ini di toilet pria?" Ardian Prasetya mengerutkan kening, "Mengapa mereka berteriak ketika mereka adalah orang yang mengintip? Cih, dengan kemampuan seburuk itu, mereka tidak akan pernah bisa menjadi mata-mata."


Ardian Prasetya merapikan kembali celananya dan berjalan dengan santai menuju pintu keluar. "Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja setelah melakukan hal ini?" Roland Pratama marah dan memberi isyarat pada Seok Ma dan Kevin Dura untuk menghalangi jalan Ardian Prasetya.


Ardian Prasetya berbalik dan mengait kaki Roland Pratama yang berdiri di belakangnya. Roland Pratama jatuh ke belakang dan mendarat di pantatnya yang bengkak. Itu menyebabkan Roland Pratama sangat kesakitan sehingga dia tidak bisa berdiri.


"Kalian bawahannya, ya? Sebagai bawahan, seharusnya kalian lebih memperhatikan Tuan kalian. Coba lihat kondisinya dengan benar, tidakkah menurut kalian akan lebih baik jika dia bisa mendapatkan sesuatu untuk mengganti pakaiannya. Siswa lain akan segera kembali. Reputasinya akan ternoda jika mereka melihatnya dalam keadaan ini. Tuan Muda Seni, itu terdengar baik, tetapi memiliki arti yang bodoh. Bagaimana menurutmu?" Ardian Prasetya mencibir sambil melirik Roland Pratama yang masih terbaring di lantai yang tergenang, dia mengerang kesakitan.


"Ugh, ini..." Kevin Dura berada dalam dilema. Apa yang disebutkan Ardian Prasetya memang penting. Reputasi sangat penting bagi mereka, terutama jika mereka ingin terus berkuasa di sekolah ini Jika seseorang melihat ketua mereka, Roland Pratama dalam keadaan ini, dia akan menjadi bahan tertawaan satu sekolah dan semua orang akan meremehkannya.


"Sialan, kamu sangat beruntung!" Seok Ma tahu bahwa ini bukan waktu terbaik untuk terus bermain-main dengan Ardian Prasetya dan memutuskan membiarkannya keluar adalah yang terbaik. "Kami akan menagih ini nanti, awasi saja punggungmu dengan baik!"

__ADS_1


"Terserah." Ardian Prasetya mengangkat bahu dan melangkah keluar dari toilet dengan tenang.


"Sialan, apa yang kalian berdua tunggu? Ayo bantu aku!" Perintah Roland Pratama. Setelah peringatan Ardian Prasetya, Roland Pratama menyadari keseriusan situasi saat ini. Dia benar-benar tidak mampu membiarkan siapapun melihatnya seperti ini. Jadi, dia harus cepat-cepat membereskan ini sebelum ada yang masuk.


__ADS_2