
"Eh? Hentikan mobilnya? Untuk apa?" Perampok Botak bertanya, menatap Ardian Prasetya dengan tatapan kosong. "Untuk kami turun, memangnya apa lagi? Apakah kamu masih berpikir menculiknya? Berapa banyak lubang yang ingin kamu miliki?" Ardian Prasetya menantang saat dia menatap dengan dingin. Niat membunuhnya menyebar, sehingga udara menjadi sesak. Rasa takut segera menghantui dan dengan cepat menyebar ke sum-sum tulang belakang.
"Bu-bukan itu, maksudku, apa kamu tidak mengirim kami ke polisi?", Perampok Botak bingung, tidak menyangka Ardian Prasetya akan melepaskannya. Ardian Prasetya tersenyum, mendekat ke arahnya dan berbisik, Angkara Elvira mencoba untuk mendengar apa yang dikatakan Ardian Prasetya sehingga Perampok Botak itu menahan napasnya, tetapi suaranya terlalu kecil. Jadi, dia tidak mendengar dengan baik.
Setelah itu, Ardian Prasetya balik bertanya, "Saya bukan polisi, Saya tidak cukup dibayar untuk melakukan itu." Bagi Ardian Prasetya. Jahat dan baik itu tidak ada bedanya, dia sudah merasakan berada di dalam keduanya dan di antara keduanya. Orang-orang ini juga tentara bayaran sama seperti dirinya dulu, mungkin lebih buruk, karena mereka adalah sekumpulan pengecut.
Mata Perampok Botak berbinar setelah mendengar kata-kata Ardian Prasetya. Dia bergembira bahwa pria ini sama sekali tidak berencana untuk menyerahkannya. Misinya gagal, tetapi tidak masalah, uang masih bisa dicari selama dia masih hidup. Dengan itu, Perampok Botak dengan bersemangat memerintahkan agar mobil berhenti. Ardian Prasetya kemudian mengeluarkan pistol dari saku Perampok Botak dan melemparkannya ke Angkara Elvira. "Ambil ini. Tembak ban mobil ini jika ada dari mereka yang bergerak."
"Apa? Ba-baik." Angkara Elvira tidak tahu apa yang Ardian Prasetya rencanakan, tetapi dia tetap mengambil pistolnya dan membidik ban mobil Van hitam itu dengan tangan dan kaki yang lemas. Ardian Prasetya membiarkan Angkara Elvira turun sebelum dia ikut bersamanya, dia juga memastikan untuk mengeluarkan peringatan kepada kelompok perampok itu sebelum keluar. "Cobalah untuk berbuat sesuatu dan akan aku pastikan kalian juga merasakan hal yang sama!"
"Ti-tidak, kami tidak akan melakukan sesuatu seperti yang kamu pikirkan!" kata Perampok Botak, rasa dingin kembali mengalir di punggungnya. Dia tidak tahu siapa bocah yang terlihat idiot ini, tetapi yang pasti orang sekaliber ini harusnya orang suruhannya Presdir Angkara untuk menjaga putrinya. Pilihan orang itu bukanlah seseorang yang bisa orang seperti Perampok Botak ajak main-main.
__ADS_1
Ardian Prasetya memeriksa kalung gioknya saat dia turun dari mobil, benda itu sudah tidak bereaksi lagi. Jadi, akhirnya Ardian Prasetya bisa menghela napas lega. Mobil Van Hitam itu pun kini menghilang dalam garis asap saat Ardian Prasetya membanting pintu hingga tertutup, mereka telah memutuskan untuk meninggalkan dia dan Angkara Elvira sendirian dan menyerah padanya.
"Seberapa banyak lagi Anda akan menatap Saya Nona Muda? Bisakah kamu memanggil Paman Ken untuk menjemput kita?" Ardian Prasetya tidak tahu apakah dia harus marah atau geli pada Angkara Elvira, gadis congkak ini terus saja menatapnya dengan wajah kosong. Ini menciptakan suasana yang sangat canggung baginya.
"Baik... Akan aku lakukan." Angkara Elvira masih tidak bisa mempercayainya. Mereka selamat setelah diculik oleh kelompok kriminal bersenjata dan salah satu senjata itu sekarang ada di genggaman tangannya. Dia melihat ke arah mobil Van hitam yang sekarang sudah jauh, mereka benar-benar selamat.
Angkara Elvira merasa ada yang salah dengan dirinya ketika dia melihat Ardian Prasetya. Dia tidak boleh memiliki sesuatu seperti ini, Ardian Prasetya adalah subjek yang harus ia benci, dia harus memarahinya dengan cara apapun sekarang.
"Mobil itu penuh dengan pengecut dari Utara. Apa Anda tahu apa itu pengecut, Nona Muda? Mereka penakut dan munafik yang menghargai hidup mereka di atas segalanya. Mereka memang menuruti perintah ketua, tetapi mereka pada akhirnya tidak peduli dengan hal itu jika aku mencoba mengendalikan mereka." Ardian Prasetya menjelaskan.
"Kenapa? Bukankah kita memiliki nyawa bos mereka?" Angkara Elvira tidak terlalu paham dia hanya membual sebelumnya, tidak menyangka Ardian Prasetya akan menjawabnya dengan sangat serius. "Seperti yang Saya katakan sebelumnya, mereka itu pengecut, mereka tidak akan peduli apa yang terjadi pada bos mereka saat mereka semua akan dikirim ke penjara. Melucuti senjata mereka? Yang ada malah nyawa kita yang dilucuti. Nona Muda, dengan keadaan Saya saat ini, Saya tidak mampu melindungi Anda jika mereka mulai menembak." Ardian Prasetya menjawab tanpa daya.
__ADS_1
"Kita bisa lolos hanya karena keberuntungan, oke? Daripada memikirkan ini, lebih baik Nona memikirkan orang macam apa yang Anda buat kesal, sehingga orang-orang itu mengejarmu sampai menyewa kelompok khusus, mereka bahkan membuat rencana dan menyiapkan segalanya."
"Hmph, berhenti mencoba mengguruiku, dasar wajah bodoh!" Angkara Elvira tidak senang dengan sikap Ardian Prasetya. "Kamu itu cuman budakku! Budak macam apa yang berbicara kepada tuannya dengan tidak sopan seperti itu? Hmp!" Ardian Prasetya terdiam. Gadis ini sama sekali tidak beruaaha mendengarkan alasan dan penjelasannya.
Tinia Atmaja, sebaliknya, dia saat ini sedang menyeka air matanya saat dia duduk di dalam mobil Arnold Ken. "Apa yang akan terjadi pada Angkara Elvira dan Ardian Prasetya, setelah mereka ditangkap? Mereka mungkin bisa kembali dengan selamat jika mereka beruntung, tetapi jika tidak…" Dia terus bergumam dengan emosi yang naik turun. Arnold Ken mencoba menghubungi Presdir Angkara, tetapi tidak kunjung berhasil, ketika teleponnya berdering. Wajahnya menjadi khawatir sekaligus merasa gembira saat melihat nama di kontak. Itu adalah panggilan dari Nona Muda Angkara Elvira, tetapi bisa jadi para perampoklah yang meneleponnya, mereka pasti akan meminta uang tebusan dari Presdir Angkara saat tahu siapa sebenarnya yang mereka culik.
"Halo?" Arnold Ken mengangkat, dia sangat gugup dan dipenuhi oleh rasa takut. "Paman Ken, tolong jemput kami, aku akan mengirimkan lokasi. Cepatlah!" kata Angkara Elvira yang langsung menutup panggilannya ketika mendengar suara Arnold Ken yang menjadi jauh lebih manis dari sebelumnya.
Arnold Ken tiba beberapa saat kemudian bersama anak buah Chen Sisi di belakangnya. "Elvira!!" Tinia Atmaja adalah orang pertama yang keluar dari mobil. Dia menerjang Angkara Elvira untuk memeluknya seerat yang ia bisa. "Bodoh, kamu menakutiku! Aku pikir aku tidak akan pernah melihatmu lagi!"
"Kamu yang bodoh! Bisa-bisanya membayangkan hal buruk terjadi padaku!" Angkara Elvira sudah pulih dari keterkejutannya, dan tidak tahu apakah dia harus menangis atau menertawakan apa yang tadi terjadi padanya. Badai sudah berlalu yang tersisa hanya tangisan bahagia yang jatuh dari mata Tinia Atmaja. "Huh? Tuan Muda Prasetya, apakah Anda baik-baik saja?" Arnold Ken bertanya, dia sangat khawatir dengan darah di kaki Ardian Prasetya.
__ADS_1