Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 34 : Teman?


__ADS_3

"Anu... tubuhmu, Tuan Muda." Seok Ma merasa jijik saat melihat seragam Roland Pratama yang basah dengan cairan yang dia tidak tahu apa saja yang ada di dalamnya. Dia sedikit takut jika cairan yang tidak dikenal itu sampai mengenai seragamnya juga. Kevin Dura memiliki pemikiran serupa. Dia mengulurkan tangannya, tetapi sangat hati-hati dan penuh keraguan.


"Dasar sialan!" Menyadari ketakutan keduanya, Roland Pratama mengerutkan kening dengan marah. Dia mengulurkan tangannya dan menyekanya pada Seok Ma dan Kevin Dura. Tak lama kemudian, keduanya juga berlumuran dengan cairan lantai toilet yang terkontaminasi dengan air seni Ardian Prasetya.


Keduanya memberikan senyum pahit. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menerima nasib mereka dan membantu Roland Pratama berdiri. Kembali ke kelas bukan lagi pilihan. Jadi, mereka harus mencari tempat untuk mandi dan berganti pakaian.


Mereka bertiga menyelinap keluar dari sekolah melalui pintu belakang sekolah. Mereka awalnya ingin memberi pelajaran pada Ardian Prasetya, tetapi malah mereka yant diberi pelajaran olehnya. Ini membuat Roland Pratama sangat marah, tetapi bukannya menghindari Ardian Prasetya, kejadian ini malah meningkatkan rasa haus mereka akan balas dendam.


Mereka merasa Ardian Prasetya sudah tidak termaafkan lagi. Apalagi itu terjadi saat dia bergaya untuk menunjukkan kehebatannya pada Angkara Elvira. Rasanya benar-benar sakit ketika dan Roland Pratama merasa bahwa kejadian ini membuat wanitanya merasa malu.


Meskipun Angkara Elvira belum menjadi wanitanya, tapi dia yakin hari itu akan segera tiba. Angkara Elvira pasti akan menyukai seseorang yang luar biasa seperti dirinya. Penampilan yang tampan dan dengan keluarga yang begitu berpengaruh. Roland Pratama merasa lebih baik setelah dia menghibur dirinya sendiri dengan itu.


Ardian Prasetya mencapai ruang kelas, tetapi kelas pendidikan jasmani belum berakhir. Ketika Angkara Elvira melihat Ardian Prasetya memasuki ruang kelas, dia memalingkan wajahnya dejgan kesal. Beberapa saat yang lalu dia masih berharap Roland Pratama dan anak buahnya akan memukuli Ardian Prasetya, dengan itu, dia bisa memadamkan amarahnya. Rupanya, Roland Pratama dan anak buahnya sama sekali tidak berguna, mereka kalah lagi. Mereka tidak kembali, malah Ardian Prasetya yang datang dalam keadaan segar bugar.

__ADS_1


"Kamu lihat itu? Aku memenangkan taruhannya!" Seru Tinia Atmaja saat Ardian Prasetya muncul. "Apasih?" Angkara Elvira menatapnya dan menjadi kesal. "Apa kamu lupa? Kamu bertaruh pada Roland Pratama dan aku Ardian Prasetya, masa kamu tidak ingat?" Rona merah muncul di wajahnya saat Tinia Atmaja mengingat adegan dari kamar kecil. Dia mungkin tidak penakut dan lebay seperti Angkara Elvira, tetapi melihat sesuatu yang tidak semestinya tetap saja membuatnya tersipu.


Keheningan di sisi Angkara Elvira memperjelas bahwa dia belum pulih dari pengalaman itu. Ardian Prasetya menyela gadis-gadis itu saat dia berjalan kembali ke tempat duduknya. "Saya tidak menang atau apapun, mereka hanya pergi untuk mengganti pakaian."


Angkara Elvira bukan satu-satunya yang merasa canggung. Ardian Prasetya juga merasa sangat malu. Benda itu lebih dari sekedar bagian tubuh, itu adalah sesuatu yang berharga baginya. "Argh! Ini sesuatu yang seharusnya hanya aku perlihatkan kepada istriku yang jumlahnya ada sekitar enam belas? Sial, mereka akan cemburu jika mengetahui pusakaku sudah dilihat oleh dua gadis acak." Ardian Prasetya membatin.


Roland Pratama dan antek-anteknya tidak pernah muncul lagi sepanjang pagi. Lagipula, mereka harus mandi dan berganti pakaian. Prosesnya pasti memakan waktu yang sangat lama.


"Tidak, Aku tidak menyiapkan bekal. Apakah ada kantin di sekolah ini?" Ardian Prasetya menjawab dengan pertanyaannya sendiri secara instan, senang bahwa pria itu cukup baik untuk menawarkan makan bersama di saat dia kebingungan ke mana harus pergi makan siang.


"Benarkah, bagus kalau begitu. Mari, ikuti aku!" Pria itu mengulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya. "Aku Lee Rion, salam kenal." Ardian Prasetya menyambut dengan hangat uluran tangannya dan membalasnya. "Aku Ardian Prasetya. Senang berkenalan denganmu."


Angkara Elvira dan Tinia Atmaja menghilang begitu bel berbunyi, tetapi Ardian Prasetya tidak mengkhawatirkan mereka. Mereka seharusnya aman di lingkungan sekolah. Tidak ada orang jahat yang begitu bodoh untuk menyerang sekolah, kecuali di Amerika. Lee Rion menopang bahu Ardian Prasetya saat mereka berjalan keluar kelas. Dia cukup ramah dan asik. Meskipun tingkahnya cukup menggangu.

__ADS_1


"Oh, benar. Aku lupa menanyakan ini." Lee Rion menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, lalu bertanya, "Hey, Ardian, dari sekolah mana kamu berasal? Maksudku, biasanya saat memperkenalkan murid pindahan, Kepala Sekolah Tang akan menjelaskan dengan terperinci, tetapi untukmu tidak."


Ardian Prasetya menghembuskan napasnya, dan dengan malas menjawab, "Saya sebenarnya berasal dari desa di suatu pegunungan." Dia tidak berusaha menyembunyikan latar belakangnya sedikit pun. "Aku tidak benar-benar pergi ke sekolah sebelumnya. Maksudku, tidak ada sekolah di tempat terpencil itu. Jika kamu bertanya bagaimana tempat itu, maka aku akan menjawab bahwa itu tempat yang buruk untuk hidup."


"Benarkah? Kalau begitu, apa itu artinya kamu di sini karena memiliki nilai yang bagus? Pasti sulit belajar di tempat terpencil seperti itu. Kamu luar biasa, ya?" Lee Rion memandang Ardian Prasetya dengan saksama. Di sekolah ini, hanya ada dua macam orang, mereka yang memiliki uang dan mereka yang memiliki nilai. Kedua-duanya bermanfaat bagi sekolah.


Dari cerita Ardian Prasetya, Lee Rion menarik kesimpulan bahwa Desa itu hanya memiliki sekolah yang tidak layak dan Lee Rion dapat tahu dari wajahnya bahwa dia tidak memiliki latar belakang keluarga yang kuat. Dengan wajah yang sekaku dan bodoh itu, sudah pasti bukan uang yang membawanya ke sekolah ini. Pihak sekolah pasti khusus membawanya karena dia mendapat nilai yang bagus.


"Tidak, aku baik-baik saja." Ardian Prasetya tersenyum pahit. Situasinya cukup rumit dan sulit dijelaskan. Dia memutuskan untuk membiarkan Lee Rion membuat asumsinya sendiri soal kedatangannya yang tidak normal.


"Hey, tidak perlu disembunyikan. Asal kamu tahu, aku juga berada di sini karena nilai, bukan harta atau kekuasaan. Tidak perlu malu, posisi kita di sekolah ini sama. Benar, sekedar bumbu di dalam semangkuk mie, hahaha!"


Bagi orang seperti Lee Rion yang masuk ke sekolah ini dengan nilai. Dia selalu memandang rendah orang-orang seperti Roland Pratama yang dapat bersekolah di tempat elite ini hanya karena harta dan kekuasaan orang tua mereka. Tidak masalah jika mereka bersungguh-sungguh saat belajar di sekolah ini, tetapi mereka tidak melakukannya dan malah bermain-main sepanjang waktu. Wajar jika Lee Rion menyukai Ardian Prasetya, yang sama dengannya.

__ADS_1


__ADS_2