Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 60 : Chandra


__ADS_3

Ardian Prasetya menutup matanya, dan mulai berlatih. Dia selalu menantikan terobosan setiap malam, tetapi harapan itu tidak pernah membuahkan hasil. Sinar matahari yang malas dan hangat menyinari kamar Ardian Prasetya dan ke punggungnya. Dia menggeliat, membuka jendela sambil menghirup udara pagi.


Itu adalah hari yang benar-benar baru, penuh kemungkinan, dan hari sekolah yang baru untuk dinanti-nantikan. Dia menghargai kesempatan itu dengan baik. Bangun di hari sekolah seperti ini selalu menjadi mimpinya. Dia tidak tahu kapan Nona Muda akan benar-benar mengusirnya karena masalah gengsinya yang tinggi. Jadi, dia sebaiknya menikmati hidup ini sebisa mungkin.


Chen Sisi menghela napas tak berdaya saat dia menatap sekelompok orang di depannya di ruang interogasi. Sepanjang malam, menggunakan segala cara, tidak ada kemajuan sama sekali. Informasi dari orang-orang ini semuanya tidak berguna. Mereka adalah pengemudi mobil Van hitam, tetapi tidak ada dari mereka yang tahu sesuatu yang berharga.


Chen Sisi awalnya meragukan fakta tersebut, tetapi penelitian lebih lanjut tentang latar belakang mereka mengungkapkan bahwa mereka sopir angkutan umum yang mengambil kerja selingan. Mereka di minta mengantarkan mobil ke tempat tujuan.


Para pengemudi ini bahkan belum sampai ke lokasi saat ditangkap, mereka bahkan mengira petugas yang menghentikan mereka hanyalah petugas polisi lalu lintas, karena mereka sama sekali tidak melalui prosedur hukum untuk mengendarai Van tersebut.


Baru setelah mereka diberi tahu tentang hubungan mereka dengan perampokan bank, mereka menyadari bahwa mereka telah dimanipulasi oleh kelompok kriminal. Para tersangka ini bukan lagi tersangka, dan akan dikirim ke polisi bagian lalu lintas untuk ditangani. Chen Sisi tidak bisa begitu saja melampiaskan amarahnya pada orang-orang ini.


Sepanjang malam tanpa hasil. Lagipula, itu adalah pertama kalinya dia bertanggung jawab atas sebuah kasus, dan Chen Sisi tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa cemas, ada banyak hal yang membebani pundaknya.


"Wakil kapten, apakah kita memperluas radius pencarian kita?" Roman Theodore dari regu dua bertanya.

__ADS_1


Mereka telah mencari sepanjang malam, tetapi tidak ada hasil. Melanjutkan pencarian bahkan setelah fajar menyingsing pasti akan menghambat pergerakan warga sipil. Chen Sisi tidak mau melakukan sejauh itu. Pencarian skala besar akan melibatkan pengaturan blokade hingga menghentikan mobil yang lewat, sehingga mereka dapat diselidiki.


"Aku akan berkonsultasi dengan Kapten Tang." Chen Sisi telah mencapai batasnya, dia mau tidak mau membutuhkan nasihat kapten untuk yang satu ini.


Dia benar-benar merasa seperti pecundang kadang-kadang, pria yang dipindahkan ke tim dari militer pada saat yang sama dengannya, tetapi memiliki kemampuan observasi dan detektif seratus kali lebih besar. Kasus apapun yang berada di tangan Tang San pasti akan terbuka di bawah analisis dan deduksinya.


Namun, sesuatu seperti ini terlalu berat untuk dia tangani. Ardian Prasetya benar, posisi wakil kapten yang dia pegang, benar-benar terlihat seperti uang dan hubungan keluarga, bukan hasil usahanya sendiri. Dia... tidak berguna.


Chen Sisi mengerti bahwa dia masih pantas mendapatkan gelar itu, terutama ketika pangkat mayor dan prestasi militernya diperhitungkan. Namun, ada banyak hal yang juga dalam posisi ini, yang tidak bisa ia pecahkan dengan kapasitasnya saat ini.


"Bos! Kita tidak bisa terus bersembunyi di sini seperti ini!" Mat Codet juga frustrasi. "Persediaan makanan kita sudah habis!"


"Cukup, berhentilah merengek. Kita akan tetap menunggu di sini sampai Saudara Chandra memanggi. Perampok Botak melambaikan tangannya dengan tidak sabar, untungnya telepon berdering segera setelah dia menyelesaikan kalimatnya.


"Apakah ini Saudara Chandra? Saudara Botak di sini!" Nada bicara Perampok Botak sedikit menyanjung, lagipula itu adalah bosnya. "Dasar beruang bodoh, apa yang kamu lakukan?!" Suara dingin terdengar dari ujung telepon. "Eh? Saudara Chandra, apa maksudmu?" Perampok Botak memucat.

__ADS_1


"Apakah kamu membawa semua uang bank bersamamu?" Saudara Chandra mendesak. "Aku… Ya, aku membawanya saat kita pergi, apa masalahnya, bukankah ini bagus? Dengan ini kami lebih terlihat seperti perampok sungguhan." Perampok Botak tidak paham sama sekali, kedok mereka adalah perampokan Bank. Akan sia-sia jika dia merampok Bank, tetapi tidak membawa uang tunai, bukan?


"Kamu daging cincang sialan! Apa yang aku katakan, aku katakan untuk tidak mengambil apapun. Apakah kamu benar-benar tuli!?" Saudara Chandra berteriak memarahi. "Satu-satunya alasan polisi mati-matian mengejarmu adalah karena kantong-kantong besar uang tunai yang kamu bawa!"


"Ah!" Perampok Botak mengerti setelah beberapa pemikiran, sepertinya memang begitu. Itu semua salahnya karena menjadi serakah dan terlalu santai dengan membawa sandera tambahan, mereka tidak akan berada dalam kekacauan ini sejak awal jika dia berjalan sesuai rencana. Dengan itu, dia mulai memohon. "Saudara Chandra! Aku telah mempertaruhkan nyawaku untukmu, jangan tinggalkan aku! Kamu harus datang untuk menyelamatkanku!"


"Hah... bisa gila aku. Bagaimana kabar anak itu sekarang?" Saudara Chandra bertanya dengan dingin. "Anak? Anak apa?" Perampok Botak bertanya, dia sangat bingung. "Anak mana lagi? Itu Angkara Elvira! Targetmu! Kamu brengsek, kamu tidak melakukan apa pun padanya, bukan?" Suara Saudara Chandra mulai terdengar cepat. "Brengsek, semuanya berakhir jika kamu melakukan sesuatu padanya!"


"Dalam hal ini..." Perampok Botak tidak bisa meneruskan kata-katanya. Sejak mereka melarikan diri ke sini, Angkara Elvira sudah tidak terlintas dalam pikirannya sebelum Saudara Chandra menyebutkannya. "Maaf Saudara Chandra. Angkara Elvira ini... dia telah diselamatkan."


"Apa?!" Saudara Chandra berteriak. "Kamu sialan! Jadi, kamu tidak memiliki gadis itu dan kamu juga berarti tidak menjalankan perintahku selanjutnya? Sialan!"


"Tidak. Aku tidak melakukannya," jawab Perampok Botak pelan. "Dasar bangsat, pantas saja polisi mengejarmu dengan semua yang mereka punya, ini bukan soal uang lagi. Namun, upaya penculikan konglomerat generasi ketiga! Dasar orang Utara bodoh, kalau begini mati saja sana. Aku sudah muak denganmu!" Saudara Chandra berteriak lagi. "Seharusnya aku tidak memberimu pekerjaan sejak awal, harusnya aku tahu kalau orang Utara semuanya tidak berguna. Ras rendahan sepeti kalian memang sepantasnya di bumi hanguskan!" Dengan itu, Saudara Chandra menutup telepon.


"Apa!? Saudara Chandra, apa katamu tadi, sialan, hah?! Brengsek!" Perampok Botak dipenuhi oleh amarah dan kepanikan. Dia pada dasarnya sudah setengah gila sekarang. Sehingga dia terus mengumpat Suadara Chandra, sebelum dia menyadari bahwa Saudara Chandra sudah menutup telepon.

__ADS_1


__ADS_2