
"Wah!" Lee Rion mengerutkan kening dan wajahnya seketika memperlihatkan rasa khawatir yang berat. "Jadi, Roland Pratama mendatangimu karena anak buahnya, ya? Ini menjadi merepotkan. Kamu tidak akan dibiarkan lolos dengan mudah, orang itu tidak pernah lupa dengan orang yang tidak ia sukai."
"Biarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan, aku tidak mempermasalahkan ini. Lagipula kita hanya akan bertemu di sekolah, tidak akan ada banyak hal yang bisa dia lakukan kepadaku." Ardian Prasetya mengangkat bahu sebagai tanggapan. Meski dia punya hak dan kekuasaan yang lebih besar dari murid lainnya, Roland Pratama masih seorang siswa, pergerakannya terbatas di bawah hukum lingkungan sekolah.
Situasi seperti ini tidak gawat sama sekali bagi Ardian Prasetya, ada banyak masa di mana dia terjebak di tengah-tengah medan perang, bertahan hidup di bawah hujan peluru berbekal rompi bekas dan dua pisau lipat. Musuh seperti Roland Pratama tidak lebih dari seorang anak kecil bagi Ardian Prasetya.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, yang perlu Ardian Prasetya pikirkan adalah bagaimana dia harus menahan diri untuk tidak melukai Roland Pratama dan antek-anteknya, dia tidak boleh bertindak terlalu kasat seperti yang ia lakukan pada Seok Ma Sebelumnya, dia hanya harus mengerjainya sedikit dengan cara lain selain kekerasan. Anak manja seperti Roland Pratama hanya akan tidur di peti mati jika Ardian Prasetya memutuskan untuk benar-benar menghukumnya.
"Dasar kamu, bisa-bisanya bertingkah setenang itu." Lee Rion menghela napas berat. Ardian Prasetya adalah pendatang baru, wajar baginya untuk tidak mengetahui situasi di sekitar sini. "Kelompok Roland Pratama saat ini hampir menguasai sekolah ini. Banyak siswa yang sial berurusan dengan mereka akhirnya dipukuli begitu parah sehingga mereka mengambil cuti sekolah selama beberapa waktu."
"Eh? Mereka separah itu?" Ardian Prasetya tidak menyangka aksi sekejam itu dilakukan oleh Roland Pratama dan antek-anteknya. "Jadi, bahkan serangga jika mereka bersama benar-benar bisa menjadi bencana. Inilah kenapa insektisida dibutuhkan di tempat seperti sekolah, pelajaran baru," batin Ardian Prasetya.
__ADS_1
"Aku tidak bercanda sama sekali, ini benar-benar berbahaya. Hedeh, seharusnya aku memperingatkanmu lebih cepat." Lee Rion sekali lagi menghela napasnya. "Ck, kamu mungkin bisa lolos jika kamu mengatakan sesuatu yang baik ketika dia menghadapimu barusan, tetapi..."
"Tetapi? Tetapi apa?" Ardian Prasetya bertanya dengan penuh minat. Dia sudah bersandiwara sekali. Jadi, dia harus bersandiwara sampai akhir. "Ugh, yah, pokoknya aku akan membantumu menghadapi mereka nanti." Lee Rion meneguk ludah, dia akhirnya terlibat masalah setelah dua tahun menahan diri.
Saat dia berpikir dan meninjau masa depan, dia menjadi kesal dengan satu hal. "Hey, Ardian, tidakkah kamu berpikir si Seok Ma itu sangat tidak masuk akal? Kamu hanya menginjak kakinya yang menghalangi jalan, kenapa dia membuat masalah? Dialah yang mencoba menjahilimu lebih dulu. Dia lebih picik dari yang terlihat, bagaimana bisa dia mengadu kepada Roland Pratama hanya karena masalah ini? Lalu, kenapa Roland Pratama menanggapi keluhannya dengan serius? Maksudku, Seok Ma bahkan bukan gadisnya atau semacamnya. Betapa tidak masuk akal."
Ardian Prasetya merasa sedikit bersalah dengan ketidakjujurannya mengenai masalah ini sehingga teman barunya itu memikirkan sesuatu yang konyol. "Sudahlah, tidak apa-apa, biarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Jangan khawatir kawan, aku berasal dari desa, aku bukan target yang mudah." Ardian Prasetya berkata dengan memamerkan otot lengannya. Dia menepuk bahu Lee Rion dan tersenyum agar teman barunya itu berhenti khawatir. Lee Rion hendak mengatakan sesuatu, tetapi dia tidak bisa mengeluarkan suaranya jika Ardian Prasetya setenang ini.
Ardian Prasetya tentu saja adalah seorang pria, tetapi dia tidak akan terpancing oleh ejekan kecil seperti ini. Pria itu sepertinya tipe yang tidak akan pernah melepaskannya sampai semuanya selesai dan Ardian Prasetya mengenalinya sifat seperti ini dengan sangat baik. "Baiklah, aku akan datang." Ardian Prasetya mengangguk saat dia berdiri.
Banyak teman sekelasnya belum keluar ruangan dan tidak ada dari mereka yang melewatkan dua kejadian di mana Roland Pratama mengunjungi meja Ardian Prasetya dengan ekspresi menahan diri. Mereka semua menatap tajam dan bergosip di antara mereka sendiri saat Ardian Prasetya memberikan persetujuannya, dengan asumsi bahwa dia tidak mengerti bagaimana keadaan di sini, entah bagaimana dia yang baru pindah berhasil membuat marah pentolan sekolah. Namun, sebagian besar siswa lebih banyak yang mengasihani Ardian Prasetya.
__ADS_1
"Tunggu, aku akan ikut denganmu!" Lee Rion berseru dengan putus asa, seolah dia telah membuat keputusan besar yang sangat bodoh. Semua orang menoleh padanya saat dia berdiri. Yang dilakukannya tadi terdengar seperti pengumuman kematian, tetapi semua orang tidak bisa untuk tidak memujinya. Dia baru saja bertemu Ardian Prasetya hari ini, tetapi dia bersedia melalui duka dengannya. Jarang ada teman dekat yang seperti ini.
Roland Pratama adalah jagoan di sekolah, dia bukanlah seseorang yang bisa dilawan oleh kutu buku seperti Lee Rion. Hal yang paling bisa dia lakukan saat ini adalah tetap di pinggir lapangan dan mencoba yang terbaik untuk melunakkan konflik.
"Apa-apaan kamu, Lee Rion? Kamu sudah bosan hidup? Bodoh sekali mencoba membela orang udik yang baru kamu kenal!" Roland Pratama sangat marah, seorang anak laki-laki dari kelasnya menentangnya dan malah mendukung anak pindahan. Itu adalah sebuah penghinaan yang besar bagi harga dirinya. Ini adalah pemberontakan, dia harus menghukumnya dengan baik untuk memberi contoh kepada anak-anak lain yang memiliki pemikiran yang sama.
Tekanan niat membunuh Roland Pratama semakin menebal saat Lee Rion berdiri di tengah perhatian semua orang, tetapi dia tidak mencoba untuk mundur. "Roland Pratama, Ardian Prasetya baru di sini, dia tidak tahu aturannya, tolong beri dia kesempatan."
"Puhahaha! Sepertinya aku terlalu santai akhir-akhir ini sampai-sampai kutu buku menceramahiku sekarang. Kamu pikir kamu ini siapa, hah!?" Roland Pratama meledak. Dia tidak akan memaafkan sikap Lee Rion melebihi apa yang dilakukan Ardian Prasetya padanya. "Baguslah, kamu memang seharusnya ikut dengan kami, dasar cecunguk brengsek. Lihat saja, aku akan mengganti nama keluargaku jika aku tidak meremukkan kalian berdua hari ini!"
Lee Rion sedikit gemetar, wajahnya pucat, dia selalu menjadi tipe siswa yang baik dan meskipun dia pria yang jantan dan sama sekali tidak takut dengan perkelahian, tetapi dia takut dengan dampak setelahnya. Bagaimanapun, kapasitas keluarganya tidak sanggup untuk sekedar berhadapan dengan keluarga Roland Pratama.
__ADS_1