Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 48 : Sandera (2)


__ADS_3

"Tentara bayaran terbaik dengan tingkat kepuasan pelanggan sembilan puluh persen apanya, pada akhirnya aku cuma manusia. Ini salahku karena terlalu arogan dan mencoba menikmati hidup baru yang damai. Bodoh sekali, memangnya dirimu pahlawan?" Ardian Prasetya membatin untuk dirinya sendiri. Untungnya, posisinya memungkinkan dia menerima peluru dengan benar dan meredamnya. Itu hanya mengenai tubuhnya, tidak merusak sesuatu yang vital.


Namun, efek samping dari lukanya cukup untuk membuat penurunan kemampuan seperempat dari kemampuan Ardian Prasetya. Saat darah mengalir, kerumunan berteriak histeris secara bersamaan. Angkara Elvira dan Tinia Atmaja menutup mulut mereka dengan tangan sementara mata mereka tidak bisa berhenti memproduksi air secara berlebihan. Ardian Prasetya telah ditembak, dia akan mati!


Itu sangat dekat, keduanya dapat melihat bahwa Ardian Prasetya bisa sepenuhnya menghindari peluru jika dia tidak menyadari kehadiran gadis lain di belakangnya. Memikirkan itu, Angkara Elvira mengalihkan pandangannya ke gadis yang Ardian Prasetya lindungi, sedikit kemarahan tercermin di matanya yang basah.


"Ya, itulah yang kamu dapatkan, serangga?" Perampok Botak menatap pria di depannya dengan puas. Dia ingin menembak sekali lagi karena kemarahannya, tetapi salah satu anak buahnya berlari terengah-engah menghampirinya dan berkata, "Bos, sekarang ada lebih banyak Polisi di jalan!"


"Para kodok jongkok itu!" Perampok Botak mengutuk sebelum menaikkan ujung pistol ke kepala Ardian Prasetya. "Karena kamu sangat ingin menjadi sandera, maka aku akan menggunakanmu dengan baik. Jadi, bocah bodoh, putus asalah! Mat Codet, kamu jaga bocah ini!"


"Baik, Bos!" Saat ini giliran Mat Codet yang mengarahkan senjatanya ke kepala Ardian Prasetya. "Ayo pergi, bocah, ini yang terjadi ketika kamu mencoba untuk bertindak seperti Pahlawan, hahaha!"


Ardian Prasetya tetap diam saat dia mempertimbangkan pilihannya. Perampok itu terlalu jauh satu sama lain dan mata mereka terlatih untuk mengawasi punggung rekan-rekan mereka. Di situasi seperti ini, akan sulit baginya untuk menjatuhkan mereka dengan lancar. Selain fakta bahwa orang-orang ini bukan perampok biasa, di sisi lain ada juga warga sipil tak berdosa yang terlibat, efek kekacauan dari kerumunan Polisi juga akan semakin memperumit keadaan.

__ADS_1


"Kamu, Nona kecil! Bangun!" Perampok Botak mengarahkan senjatanya ke Angkara Elvira, dia masih tidak mau melepaskannya. Untuk beberapa alasan, Angkara Elvira mendapati dirinya lebih berani dari sebelumnya. Polisi sudah mengepung, hanya menunggu waktu sebelum mereka dibebaskan. Oleh karena itu, mereka harus bisa mengulur waktu.


Tinia Atmaja hendak berdiri bersamanya juga, ketika Angkara Elvira menghentikannya dengan isyarat mata. Tinia Atmaja telah merencanakan untuk pergi dengan Angkara Elvira, tetapi tatapan sahabatnya itu memintanya untuk tidak bertindak berdasarkan dorongan hati, mereka akan lebih baik jika Tinia Atmaja tetap tinggal untuk menyelamatkan mereka nanti.


"Ayo jalan!" Perampok Botak menggonggong sambil mengarahkan pistol ke Angkara Elvira. Ardian Prasetya, di sisi lain, merasa bermasalah. Dia bertanya-tanya mengapa si botak ini begitu terpaku pada Angkara Elvira. Apa dia tahu bahwa Angkara Elvida putri Angakara Adam atau karena otaknya yang punya pikiran tidak senonoh. Keduanya adalah penjelasan yang paling masuk akal, tidak ada alasan lain mengapa pria itu begitu ngotot untuk menjadikan Nona Mudanya sebagai sandera.


Satu sandera seharusnya sudah cukup untuk bernegosiasi dengan polisi. Tidak peduli berapa banyak sandera yang dia miliki, yang dibutuhkan hanyalah agar Polisi menjauhkan senjata mereka.


"Dengarkan aku dasar kodok pemakan jerami!" Perampok Botak berteriak dari pintu tempat perampok lainnya berada. "Mundur dua ratus meter dan jangan kirim siapa pun mengejar kami! Aku akan membunuh para sandera ini jika kamu melakukannya!"


Chen Sisi sudah tahu situasi bodoh seperti ini akan terjadi, awalnya dia memilih untuk tidak mengepung Bank secara langsung, dia paham betul tekanan yang akan ditimbulkannya pada para perampok. Stres seperti itu mewujud dalam berbagai bentuk dan rawan menimbulkan tindakan tak terduga dari pihak yang dilingkupinya. Pengepungan yang halus dan tersembunyi, di sisi lain, akan menjadi langkah yang lebih bijaksana, mengingat kemungkinan tidak akan ada sandera sejak awal jika mereka melakukan penyergapan di rute pelarian.


Sayangnya, petinggi menolak saran tersebut dengan alasan yang berbelit-belit dan penuh amarah. Perampok Botak kemudian membuka pintu dan berbaris keluar dengan Ardian Prasetya dan Angkara Elvira sebagai sandera, senang dengan kepatuhan yang datang dari para Polisi. Ini kemenangan telak!

__ADS_1


"Nona muda?!" Arnold Ken yang berdiri di samping Chen Sisi, berseru saat dia melihat Angkara Elvira.


"Pak Tua Ken, jangan bilang sandera itu?" Chen Sisi bertanya dengan gelisah. "Dia Angkara Elvira, putri Presdir Angkara!" Arnold Ken panik. Ketua sedang dalam perjalanan bisnis, dan merupakan tanggung jawabnya untuk menjaga Angkara Elvira. Dia akan berada dalam masalah besar jika sesuatu terjadi padanya.


"Apa!?" Chen Sisi membeku, ikut panik juga. Dari sekian banyak orang, bagaimana bisa putri Presdir Angkara yang terpilih. Bisa-bisannya Tuhan begitu kejam dengan menjadikan hal yang paling dia takuti menjadi kenyataan.


Chen Sisi yang mengetahui hal ini tidak bisa membuang waktu untuk menghubungi direktur. "Laporan, Pak! Salah satu sandera telah diidentifikasi sebagai putri Presdir Angkara, gadis itu adalah Angkara Elvira!"


Direktur departemen kepolisian mulai berkeringat setelah mendengar kata-kata itu. "Lakukan operasi penyelamatan baru dengan aman dan melangkahlah dengan sangat hati-hati! Lakukan negosiasi atau apapun itu! Lebih dari apapun, kita tidak boleh sampai kehilangan Angkara Elvira!"


"Namun, Pak! Pihak kita sebelumnya sudah menyiapkan penembak jitu! Mereka sembilan puluh persen yakin bahwa mereka akan membunuh para perampok!" Chen Sisi mencoba berdebat.


"Itu dia masalahnya dasar otak udang! Kamu sendiri yang mengatakannya, kemungkinannya sembilan puluh persen! Bagaimana dengan sepuluh persen lainnya, dan bagaimana jika terjadi kesalahan dan yang termbak adalah Putri Presdir Angkara, kita berdua tidak akan mampu bertanggung jawab atas kesalahan ini!" Direktur memarahi. "Sudah kubilang untuk bermain aman, kan? Dengarkan permintaan mereka sebelum yang lainnya! Aku akan mengambil alih keputusan tindakan kalian setelah itu!"

__ADS_1


"Baik, Pak!" Chen Sisi sangat bermasalah. Dia telah merencanakan untuk memainkan rencana yang minim resiko lepas target dengan membidik para perampok, tetapi itu tidak mungkin lagi mengingat bagaimana situasinya. Bahkan petinggi melarangnya, apa lagi yang bisa dia lakukan?


Sebaliknya, Perampok Botak sangat senang dengan ketidakberdayaannya para Polisi. Dengan penuh tawa, dia naik Van hitam bersama kru lainnya dan pergi. Chen Sisi hanya bisa menonton tanpa daya saat mobil menghilang ke kejauhan, dengan sandera paling berharga di tangan mereka. Dia sepertinya harus mengirim surat cinta terakhir untuk keluarganya di rumah.


__ADS_2