
Tinia Atmaja saat ini sedang meminum sup, ketika dia mendengar apa yang dikatakan Angkara Elvira. Sebelum Tinia Atmaja bisa mengatakan apa-apa, Angkara Elvira sudah mengambil sumpit dan mulai memakan mie Ardian Prasetya.
Tinia Atmaja menghela napas. Dia terdiam kemudian berpikir, "Kenapa ini terjadi lagi? Dasar, padahal baru tadi malam dia menyesal melakukan hal seperti ini, tetapi sekarang dia malah mengulanginya lagi. Haduh, ini benar-benar bukan salahku, siapa suruh melakukan sesuatu dengan cepat. Kamu tidak memberiku kesempatan untuk mengatakan apa pun, Elvira."
"Aromanya sangat sedap dan rasanya lebih sedap lagi!" Angkara Elvira benar-benar lapar. Dia tidak bisa berhenti makan setelah mencicipinya. "Mie ini sangat luar biasa, Tinia, dari mana kamu membeli ini? Aku akan meminta ayah untuk membeli restoran itu untukku!"
"Aku tidak membeli ini, Elvira." Dia menurunkan pandangannya berusaha menahan tawa. "Ardian Prasetya yang membuatnya," jawab Tinia Atmaja. Dia mengangkat bahu dan menatap Angkara Elvira dengan penuh simpati. Tinia Atmaja tidak tahan untuk menyampaikan berita dan menyakiti hatinya yang rapuh lagi.
"Apa!?" Angkara Elvira berseru, "Mie ini dibuat olehnya? Uah, aku tidak ingin makan apapun yang dibuat olehnya!" Angkara Elvira hendak meletakkan sumpitnya. Namun, rasa spesial yang masih tersisa di lidahnya membuatnya meragu.
Tinia Atmaja berpikir dalam hati, "Kamu bilang kamu tidak mau memakannya, tetapi kamu sudah memakannya, bahkan dengan sangat lahap. Juga, sekali lagi, kamu sudah mencicipi air liur Ardian Prasetya. Yah, karena kamu sudah dua kali merasakannya, itu seharusnya tidak terlalu menjadi masalah, karena kamu pasti sudah terbiasa dengan itu." Memikirkannya, Tinia Atmaja kesusahan menahan tawanya.
"Hmpf, sudahlah. Masalah itu tidak ada hubungannya dengan makanan. Jadi, aku akan memakannya." Ketika Angkara Elvira meletakkan sumpitnya, dia merasa mulutnya akan mulai berair lagi. Dia tidak dapat menahan godaan, dia mengambil sumpitnya lagi dan berkata, "Hmpf, makan makanan yang dia siapkan bukan berarti aku memaafkannya. Aku tidak makan kemarin. Jadi, aku lapar. Bukan begitu, Tinia?"
__ADS_1
"Jika kamu bilang begitu…." Meskipun Tinia Atmaja ingin melihat reaksi Angkara Elvira jika dia mengetahui bahwa dia telah sekali lagi mengonsumsi air liur Ardian Prasetya, tetapi dia merasa bahwa Angkara Elvira cukup menyedihkan. Jadi, dia memutuskan bahwa lebih baik tidak mengatakan apa-apa.
"Ini minumanmu, Nona." Ardian Prasetya kembali dengan minuman dari dapur. Yang mengejutkan, dia melihat Angkara Elvira duduk di kursinya dan dengan sangat lahap memakan porsi mienya.
"Hey, Elvira berkata kalau mie yang kamu buat sangat enak!" kata Tinia Atmaja sambil menoleh ke arah Ardian Prasetya dan menerima cangkir darinya. Dia menatap Ardian Prasetya dan mengisyaratkan padanya untuk tidak mengatakan apa-apa tentang mie yang sedang dilahap oleh Angkara Elvira.
"Terimakasih," jawab Ardian Prasetya sambil menganggukkan kepalanya dengan kaku, dia mengerti pesan Tinia Atmaja. Ada sedikit rasa sesal di hatinya. Dia belum kenyang, jika dia tahu ini akan terjadi, dia akan mempersiapkan mie lebih banyak lagi.
“Apa yang kamu lakukan? Pergi! Kamu membuatku kehilangan napsu makan!" Angkara Elvira mengerutkan kening. Secara alami, dia tidak memperhatikan percakapan kecil yang dilakukan Tinia Atmaja dan Ardian Prasetya. Angkara Elvira sama sekali tidak terbiasa melihat seorang pria menatapnya saat dia makan.
Ardian Prasetya kemudian pergi ke kamarnya untuk mengemasi barang-barang yang dibutuhkan untuk pergi ke sekolah. Ardian sendiri sudah mempelajari semua mata pelajaran tingkat sekolah menengah dari Kakeknya. Jadi, dia tidak perlu merasa khawatir tidak dapat mengikuti pelajaran atau semacamnya.
Ardian Prasetya mempersiapkan segalanya, pulpen perekam suara, pelacak, dan penanda. Tidak lupa juga beberapa senjata yang di didesign khusus menyerupai peralatan anak sekolah. Keluarga Angkara menyiapkan permintaannya dengan cepat dan sangat baik, mereka pantas untuk dipuji.
__ADS_1
"Apa-apaan mie ini? Sangat enak! Apakah ada lagi?" Segera, semangkuk besar mie dihabiskan oleh Angkara Elvira.
"Tidak, yang terakhir adalah yang barusan kamu makan. Jika kamu menginginkan lebih, perintahkan saja Tuan Tameng untuk membuatkan lebih banyak untukmu." Tinia Atmaja melirik tubuh Angkara Elvir dan dia menjadi sangat cemburu padanya. "Mengapa dia tidak menjadi gemuk? Dia selalu mengkonsumsi lebih banyak makanan daripada aku, tetapi beratnya masih lebih ringan. Aneh sekali, apa dia memelihara cacing di perutnya?"
Tinia Atmaja sebenarnya tidak gemuk sama sekali. Dia hanya lebih pendek dari Angkara Elvira. Jadi, dia akan terlihat sedikit gemuk jika dibandingkan. Untungnya semua daging ekstra ini lebih banyak tumbuh di bagian pantat dan dadanya. Hal ini justru membuat Tinia Atmaja sedikit bangga.
"Ugh, jangan menyebut dia!" Angkara Elvira marah sambil sekali lagi mengisap ujung sumpitnya. Meskipun sedikit disesalkan, dia tidak akan pernah meminta apapun dari Ardian Prasetya. Melihat tindakan Angkara Elvira, Tinia Atmaja sedikit berkeringat dingin, dan berpikir, "Elvira, mengapa kamu menjilati sumpit bekas Ardian Prasetya? Apa kamu sangat menyukai air liurnya?"
Ketika kedua gadis itu menghabiskan mie, mereka bergegas ke atas untuk mandi dan mengganti pakaian mereka. Ardian Prasetya kemudian masuk ke dapur dan membersihkan piring di atas meja. Meskipun bukan tugas Ardian Prasetya untuk melakukan tugas-tugas ini, karena Arnold Ken akan selalu datang membawa seseorang untuk membersihkan rumah setiap hari, tetapi Ardian Prasetya sudah terlalu terbiasa dengan tugas-tugas ini. Jadi, dia melakukan semuanya secara alami.
Saat Ardian Prasetya sedang mencuci piring, anjing Angkara Elvira masuk ke dapur. Ketika menyadari Ardian Prasetya, ia menatap Ardian Prasetya dengan hati-hati. Ardian Prasetya memperhatikan anjing itu, tetapi dia memilih untuk mengabaikannya. Segera, hewan itu berbalik dan pergi.
Sejujurnya, anjing adalah makhluk yang sangat sensitif. Mereka dapat dengan mudah merasakan mereka yang lebih kuat dari dirinya sendiri. Karena Ardian Prasetya tidak menunjukkan permusuhan terhadapnya, Iblis yang menguasai surga itu tidak berani mengganggunya.
__ADS_1
Segera, piring dibersihkan dan dimasukkan ke dalam mesin desinfektan. Angkara Elvira juga selesai mengganti pakaian rumahnya menjadi pakaian yang menarik perhatian.
Meskipun peraturan sekolah menyatakan bahwa siswa diharuskan untuk mengenakan seragam sekolah kecuali ada alasan yang sah, tetapi sebagian besar siswa yang berada di usia pemberontak ini memilih untuk tidak mematuhi peraturan tersebut. Meski melarang para guru tidak bisa menegur mereka, latar belakang para siswa terlalu kuat untuk diganggu. Bahkan jika para guru bisa mengadukan ini di media sosial, keluarga mereka tetap tidak akan damai setelah mengusik keluarga kaya dan berkuasa. Jadi, mereka memperbolehkannya kecuali di hari-hari khusus.