Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 50 : Sandera (4)


__ADS_3

Angkara Elvira seketika membeku saat dia mengetahui kemarahan Perampok Botak. "Siapa sebenarnya kalian?" Bibir Ardian Prasetya berkedut saat dia melihat Perampok Botak dengan tatapan dingin. "Kalian sampai bermain trik kecil dengan berpura-pura merampok Bank hanya untuk menutupi penculikan Angkara Elvira!"


"Haha, memangnya kenapa jika aku berpura-pura merampok Bank dan menculik gadis ini? Apa kamu akan menjadi Pahlawan lagi? Hahaha, memangnya apa yang bisa kamu lakukan? Kamu diikat di mobilku, kamu tidak bisa berbuat apa-apa!" Perampok Botak tidak melihat perlunya menyembunyikan apa pun pada saat ini. Baginya, Ardian Prasetya hanyalah seorang siswa pemberani yang masih hidup di bawah belas kasihannya, siswa ini tidak berdaya dan dia bisa melakukan apa pun yang dia inginkan padanya. Tidak masalah sedikitpun bahwa tujuannya terungkap.


"Kalian santai sekalu, padahal kalian tidak akan bisa pergi jauh. Polisi akan mati-matian membuntuti kalian setelah mengetahui Angkara Elvira diculik, dan kalian semua akan kacau." Ardian Prasetya menjelaskan kepada Perampok Botak sambil menatapnya dengan mata kasihan.


"Para Polisi itu cuman kodok yang melompat di lumbung tani, mereka tidak akan pernah menangkapku dan tidak akan bisa menyelamatkan kalian! Kami menyiapkan banyak rencana, kami tidak akan gagal!" Perampok Botak tertawa dengan sangat gembira . "Kodok-kodok itu mungkin sedang berputar-putar saat ini, mereka hanya akan menghabiskan waktu dengan melacak mobil yang salah, hahaha!"


"Benarkah begitu?" Ardian Prasetya sedikit terkesan. Orang-orang ini profesional, mereka bukan orang bodoh dan bukan orang biasa. Dari cara Perampok Botak menyebut Polisi dengan sebutan kodok, Ardian Prasetya menjadi teringat dengan kelompok 'Pengadilan' yang pernah dia lawan saat masuk ke regu pembunuh di operasi pembersihan Provinsi Utara. Organisasi yang berdiri saat perang empat tahun yang mengerikan berkecamuk di Provinsi Utara.


Ardian Prasetya mengingatnya dengan sangat jelas. Mereka berbaris dengan tangisan darah dan berteriak menyanyikan Mars kelompok mereka dengan lantang di hadapan mayat rekan-rekan mereka yang tercerai berai. Itu sebuah mimpi buruk dan terlihat seperti neraka dengan kobaran api yang mengelilingi. Ingatan itu sangat membekas, sehingga Ardian Prasetya memimpikannya dan menjadi hafal.


Sobat seragam berotak jongkok


Kau kira dirimu sebangsa kodok


Demi melompat ke lumbung tani


Mudah membuang hati nurani


Demi ke tempat yang lebih terang


Kau tangkap sembarang orang


Terheran-heran, adik terheran


Ternyata hidup sebatas mainan


Sebut saja, Pak Terni Mareling


Pedagang pisau keliling


Menjaja hingga kaki mati— pegal

__ADS_1


Dikekang tuduhan pengedar sajam— ilegal


Ada Sulastron putra Pak Slashibu


Genggam parang ke kebun tebu


Niat pelindung dari yang buas


Malah ditangkap pemabuk emas


Kau tembak dengan saran kedunguan


Minta kami membuat lingkaran


Amarah bertumbuk, mula cemberut


Anda kira, Beruang Laut?


Kodok pun mengeram Buaya


Dirawat seperti anak sendiri


Dipanen kala rakyat mati berdiri


Yang kaya jadi miskin


Yang miskin tambah miskin


Kodok tahu itu jebakan


Laporan pun sudah bersemburan


Dasar Kodok pemakan jerami

__ADS_1


Menunggu besar baru dibasmi


Telaga asri butuh sang Ular


Pemilik racun penghapus gelar


Ardian Prasetya tidak tahu apa artinya lirik ini bagi mereka dan tidak ingin mencari tahu. Ekspresi wajah mereka terlalu mengerikan dan penuh dengan niat membunuh yang tajam. Kebanyakan dari anggota meraka adalah penduduk asli Provinsi Utara yang kehilangan tempat tinggal serta sosok yang menjadi pusat gravitasi kehidupan mereka. Mereka tidak punya apa-apa lagi, mereka menjadi gelap mata, dan mulai mengarahkan taring mereka kepada Pemerintah yang mereka anggap bersalah dalam perang ini.


Di bawah dendam dan kegilaan, mereka berkembang dengan bakat ekstrem. Kelompok mereka yang gila balas dendam sudah dibasmi habis pada hari itu, dan melihat ada satu di sini, Ardian Prasetya berpikir bahwa orang ini salah satu petinggi mereka atau orang luar yang suka memprovokasi. Bagaimanapun, bukti dia masih hidup dan tidak menggila lalu mati pada hari itu seperti anggota lain, orang ini pastinya pengecut yang suka cari aman. Sayang sekali, kali ini dia melakukan kesalahan besar. Kesalahan besar bagi Perampok Botak karena memutuskan untuk menarik Ardian Prasetya bersama mereka. Operasi mereka sekarang tidak memiliki peluang untuk berhasil sama sekali dengan adanya dia di sini.


Chen Sisi, di sisi lain, menyibukkan diri dengan menjaga kontak dengan regu-regu lain. "Burung Dara Satu, lapor! Ini Roman Theodor dari Sektor Beta, mobil Van hitam SUV42003 terlihat di sini! Regu Burung Dara Dua, menunggu perintah!"


"Burung Dara Dua, laporan masuk! Lacak pergerakan mereka dan pastikan untuk tidak membiarkan mereka melihat kalian! Bergerak dengan hati-hati!"


"Baik!"


Chen Sisi menghela napas lega. "Hmph, kalian pikir kalian sangat pintar. Orang-orang bodoh yang beruntung, kalian pasti tidak mengharapkan kami memiliki petugas yang ditempatkan di semua persimpangan jalan sekarang, bukan? Mari kita lihat bagaimana kalian lolos sekarang." Chen Sisi cukup senang dengan dirinya sendiri ketika laporan baru masuk.


"Burung Dara Satu, lapor! Ini Vin Ramsel dari Sektor Alfa! Mobil Van hitam dengan plat nomor SUV42003 muncul di sini. Regu Burung Dara Lima menunggu perintah!"


"Apa!?" Chen Sisi membeku. "Burung Dara Lima, apa kalian yakin melihat mobil Van hitam itu?" Dia bertanya dan sedikit berharap bahwa mereka melakukan kesalahan. "Burung Dara Satu, tolong beri perintah! Mobil Van hitam sudah dipastikan terlihat di bundaran Timur." Vin Ramsel menjawab.


"Apa? Kenapa sekarang ada di bundaran Timur, ini... tidak benar, Roman Theodor dari Regu Dua melaporkannya di Distrik Beta di selatan bagaimana mobil itu sekarang ada di timur?!" Chen Sisi mulai bingung dengan apa yang dilakukan oleh para perampok ini. Mereka seperti berputar-putar. Meski begitu, dia mengeluarkan perintah yang sama seperti yang dia lakukan pada Regu Dua. "Burung Dara Lima, laporan masuk. Ikuti mereka, pastikan untuk tidak ketahuan!"


"Dimengerti!"


"Burung Dara Satu, lapor! Ini James Apethi dari Sektor Pusat, mobil Van hitam telah terlihat, plat nomornya sudah dipastikan sama. Regu Burung Dara Empat siap menunggu perintah!"


"Sialan, lagi?" Sekarang, ini sudah jelas bagi Chen Sisi, dia sepertinya sudah bermain-main di telapak tangan para perampok itu sejak awal. Kemungkinan besar, musuh menyiapkan beberapa plat nomor dan beberapa Van. Mereka tidak bodoh seperti yang ia pikirkan. Chen Sisi tidak senang dengan ini, sangat tidak senang.


Betapa memalukan baginya untuk jatuh pada tipuan seperti ini. Kalau saja Kapten Tang ada di sini, dia sudah melihat jebakan itu sejak awal, dia tidak akan tertipu.


Pada saat itu, regu lainnya juga meminta laporan, hanya untuk diinterupsi oleh Chen Sisi bahkan sebelum dia mendapat sepatah kata pun. "Van hitam itu hanya ekor. Yang asli pasti tidak ada di antara mereka." Chen Sisi putus asa, mereka licik dan licin, tidak mungkin mereka akan mengendarai Van Hitam yang sama dengan bertaruh pada keberuntungan. Mereka pasti sudah mengganti plat nomor mobil mereka atau berganti mobil di tengah perjalanan. Mereka sudah gagal dan dia akan mati. "Aku... harus menulis surat wasiat sekarang."

__ADS_1


__ADS_2