
“Oh, Aku? Pekerja konstruksi udik ini tidak tahu tempatnya. Jadi, aku ingin memberinya pelajaran di mana dia seharusnya berdiri." Roland Pratama masih belum yakin bahwa Ardian Prasetya berhubungan dengan Angkara Elvira. Tidak ada bukti sejauh ini selain kata-kata Ardian Prasetya sehari sebelumnya, untuk tidak menggangu Nona Mudanya.
Dia merasa bahwa kebanyakan gadis tertarik pada pria yang kuat. Jadi, dengan menunjukkan kehebatannya di hadapan mereka, dia akan terlihat kuat dan dengan demikian menanamkan rasa aman pada mereka. Karena kepercayaan ini, Roland Pratama selalu berusaha sebaik mungkin untuk terlihat sombong dan berkuasa saat berada di hadapan Angkara Elvira. Sedikit yang dia tahu bahwa itu hanya membuat Angkara Elvira dan Tinia Atmaja semakin membenci dan jijik dengan tingkahnya yang kekanak-kanakan.
"Benarkah? Kalau begitu, lakukan sesukamu. Beri dia pelajaran atau apapun itu," jawab Angkara Elvira sambil menatap Ardian Prasetya dengan dingin. Dia berpikir, "Bagaimana? Jangan berpikir Nona Muda ini akan melindungimu, hmp!"
"Ya, Ya! Aku akan melakukannya dengan baik!" Roland Pratama sangat senang bahwa Angkara Elvira menunjukkan persetujuan atas tindakannya. Dia berpikir, Angkara Elvira suka melihatnya menggertak orang. Dengan begini dia menjadi yakin bahwa Nona Muda yang berhati dingin ini juga menyukai laki-laki yang nakal. Kalau saja dia tahu tentang ini sebelumnya, dia pasti sudah menunjukkan semua perbuatan jahatnya.
"Hey, Ardian Prasetya! Semangat dan semoga beruntung. Aku mendukungmu!" Tiba-tiba, Tinia Atmaja mulai bersorak untuk Ardian Prasetya.
Roland Pratama sangat bingung. "Apa ini? Aku pikir kedua gadis ini sahabat sehati. Jadi, aku pikir karena Angkara Elvira menyukai Hooligan dia juga menyukainya. Apakah Tinia Atmaja berbeda? Lalu, apa dia menyukai Ardian Prasetya? Orang udik berwajah bodoh ini?"
Meskipun Roland Pratama sedikit tidak senang karena Tinia Atmaja mendukung Ardian Prasetya, tetapi dia tidak berani memprovokasi setan kecil ini. Dia takut dengan saudara laki-laki Tinia Atmaja yang dapat dengan mudah mengirimnya ke Langit dengan satu dua pukulan.
__ADS_1
"Tinia, kenapa kamu malah bersorak untuknya?" Angkara Elvira mengerutkan kening tidak suka. "Em? Apa salahnya? Kamu bersorak untuk Roland Pratama. Jadi, aku akan bersorak untuk Ardian Prasetya. Bukankah ini adil?" Tinia Atmaja membantahnya dengan jawaban yang masuk akal, sehingga Angkara Elvira tidak bisa lagi melawannya.
Ardian Prasetya tidak berhenti menunggu mereka. Dia langsung pergi ke toilet. "Hey, tidak bisakah kalian melakukannya di sini saja daripada di toilet?” tanya Tinia Atmaja. Dia sangat penasaran dan tidak mau ketinggalan aksi apapun yang mereka lakukan.
Roland Pratama menunjuk ke arah toilet tanpa daya, memberi isyarat padanya bahwa Ardian Prasetya sudah pergi ke toilet duluan. Jadi, tidak ada yang bisa dia lakukan. Melihat ketertarikan gadis-gadis itu, Roland Pratama ingin mengubah rencananya dengan melakukan tindakan di koridor. Meski ada resiko aksi ini sampai ke telinga Kepala Sekolah Tang, tetapi selama gadis-gadis itu senang, dia bersedia mengambil resiko apapun itu.
Berbeda dengan Hooligan yang tidak takut pada apapun di jalanan, siswa seperti Roland Pratama takut pada Kepala Sekolah dan guru. Mereka mungkin nakal, tetapi pada saat yang sama, mereka masih seorang pelajar. Mereka tetap akan mendapat masalah serius jika sekolah melaporkan kesalahan mereka kepada orang tua mereka.
"Oh, benar. Mengapa kalian tidak mengikuti kami dan menikmati pertunjukannya bersama?" Roland Pratama memberi saran setelah ragu-ragu beberapa saat. "Kau gila? Bukankah itu toilet laki-laki?" Tinia Atmaja menunjuk ke simbol laki-laki di pintu dan berkata, "Roland Pratama, apakah kamu mencoba membuat kami mendapat masalah?"
Roland Pratama tidak senang dengan cara Tinia Atmaja memanggilnya, tetapi dia memutuskan untuk menelan harga dirinya karena Tinia Atmaja dekat dengan Angkara Elvira. Dia memaksakan senyum dan menjawab, "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tidak ada yang pergi ke toilet saat ini, kalau tidak yakin, kami bisa pergi terlebih dahulu. Hey, ayo cepat!"
Roland Pratama terburu-buru masuk ke toilet, dia sedikit khawatir Ardian Prasetya akan mengunci dirinya di salah satu bilik atau mencari jalan lain untuk melarikan diri.
__ADS_1
"Elvira, haruskah kita masuk juga?" Tinia Atmaja benar-benar tidak mau ketinggalan aksi apa pun. Dia ingin melihat Ardian Prasetya mengalahkan Roland Pratama atau sebaliknya. "Ugh, aku punya perasaan yang buruk tentang ini." Angkara Elvira ragu-ragu dan sedikit tidak nyaman karena dia belum pernah masuk ke toilet pria.
"Em, Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bukankah Roland Pratama meyakinkan kita bahwa tidak ada yang pergi ke toilet saat ini? Jadi, ayo!" Tinia Atmaja yang tidak sabar mulai menyeret tangan Angkara Elvira masuk ke toilet. Angkara Elvira menghela napas panjang dan menyerah pada tarikan Tinia Atmaja setelah memberontak beberapa kali. Namun, dia masih memiliki firasat jelek bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Sebenarnya, Ardian Prasetya sangat ingin pergi ke toilet. Di pagi hari, dia makan semangkuk mie kuah yang sangat besar. Selain itu, karena ingin membiasakan diri bersekolah, ia tidak sempat pergi ke toilet karena harus berkeliling dan berkenalan. Dia adalah seorang pengawal, yang pertama harus ia lakukan adalah mengenali lingkungan sekitar dan menghapalkan rute. Dengan begitu dia bisa melakukan pencegahan dan perlawanan yang jauh lebih baik jika terjadi sesuatu.
Toilet di sekolah ini dalam kondisi yang sangat baik. Mungkin Karena rata-rata murid yang bersekolah di sini berasal dari keluarga kaya, meskipun ini toilet laki-laki, tempatnya terjaga dengan bilik dan urinal yang bersih. Sangat jauh berbeda dengan ****** di pedesaan yang mengapung di atas sungai.
Saat Ardian Prasetya sedang buang air kecil, dia mendengar langkah kaki mendekatinya. Dari pantulan jendela, dia bisa dengan jelas melihat Roland Pratama, Seok Ma, dan Kevin Dura mendekat.
"Dasar bocah gila. Bisa-bisanya dia buang air kecil di saat seperti ini!" Kevin Dura mulai meragukan kewarasan Ardian Prasetya. "Si brengsek ini takut mengompol rupanya?" Roland Pratama mencibir saat dia berjalan menuju Ardian Prasetya.
Dia ingin balas dendam atas apa yang Ardian Prasetya lakukan padanya kemarin. Setelah dia pikirkan, ini situasi yang sangat bagus. Dia bisa membalas perlakuan Ardian Prasetya sebelumnya, dia bisa menendangnya dari belakang dan membiarkannya jatuh ke depan dan masuk ke tabung peturasan. Hanya dengan memikirkannya membawa senyum miring ke wajah Roland Pratama.
__ADS_1