
Orang-orang seperti Angkara Elvira dan Tinia Atmaja menjalani hidup mereka dengan penuh warna, menghabiskan waktu mereka di istana yang tidak bisa diinjak-injak oleh rakyat jelata dan Lee Rion hanyalah salah satu dari rakyat jelata tersebut. Rakyat jelata yang beruntung bisa masuk ke sekolah elite ini dan menjadi tokoh sampingan yang ciri-ciri fisiknya saja tidak digambarkan.
Itu menyakitkan untuk mengakuinya. Semua di kelas tahu bagaimana Angkara Elvira menolak keras pendekatan Roland Pratama, tetapi kenyataannya sangat jelas, di antara semua siswa di kelas ini, Roland Pratama adalah satu-satunya yang memenuhi syarat untuk menjalin hubungan dengan putri keluarga konglomerat.
Pendaftaran kartu berjalan lancar, dan Ardian Prasetya di sambut dengan sangat ramah. Bagaimanapun, itu meningkatkan pendapatan sekolah, terlepas dari kebohongan yang mereka katakan, tentang bagaimana kantin tidak mencari keuntungan dari para siswa.
Ardian Prasetya mengeluarkan kartu pelajarnya, memasukkan seribu dollar ke dalam kartu kantinnya. Dia berbalik untuk meninggalkan kantor dan melihat Lee Rion menatapnya dengan duka. "Ardian, tidakkah menurutmu memasukkan seribu dollar ke sana terlalu banyak?"
"Apa? Em, aku pikir ini jumlah yang cukup untuk makan setahun. Memangnya kenapa?" Ardian Prasetya tidak mengerti di mana kesalahannya. Lee Rion sudah mencoba memberinya petunjuk selama dia mendaftar, tetapi Ardian Prasetya sepertinya tidak menyadari isyarat halusnya.
"Yah, kamu tidak tahu seperti apa kantin sekolah, kan? Jadi, kamu benar-benar berasal dari gunung, ya? Tidakkah kamu melihat wajah staf itu tadi? Saat kamu mengisi ulang kartumu senyum mereka sangat lebar, tetapi tunggu sampai kamu meminta uangmu kembali. Mereka akan menuli dan tidak akan mengembalikan uangmu. Lagipula kita ini sudah kelas dua belas!" Ardian Prasetya menemukan Lee Rion sedikit bereaksi berlebihan tentang uangnya. Hidup temannya ini mungkin lebih berat darinya dalam masalah keuangan.
"Tidak masalah, aku sudah menghitungnya baik-baik. Jadi, jangan khawatir." Ardian Prasetya menggerakkan kedua tangannya, berusaha mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. "Bahkan jika nanti ada sisa dan mereka tidak mau mengembalikannya, kita bisa mentraktir beberapa teman untuk melakukan pesta kecil-kecilan. Tidak masalah."
__ADS_1
"Kedengarannya menyenangkan." Suara Lee Rion terdengar lesu. "Jika saja makanan di luar lebih murah, aku tidak akan makan di kantin ini. Maksudku, makanan di jalanan bahkan lebih enak dari kombinasi aneh makanan di kantin ini." Di menggerutu.
"Benarkah? Aku tidak masalah dengan makanan di sini." Ardian Prasetya tidak pernah pilih-pilih soal makanan. Makanan kantin tidak sebagus yang dikirim Arnold Ken kepada mereka kemarin, tetapi itu jauh lebih baik daripada ransum perang.
Mereka kembali ke kelas hanya untuk menemukan sebagian besar siswa masih belajar. Kelas dua belas adalah yang paling berharga dari semuanya, sekaligus yang paling menegangkan. Itu adalah titik yang menentukan bisa atau tidaknya siswa pergi ke perguruan tinggi yang bagus, terpaksa tinggal di perguruan tinggi yang biasa saja, atau bahkan tidak kuliah sama sekali.
Mereka yang masuk ke Sekolah ini kebanyakan adalah orang-orang yang kompetitif dan mereka tidak ingin melihat diri mereka tertinggal dari yang lain. Namun, orang kaya dibebaskan dari aturan ini, mereka bebas menghabiskan waktu mereka di lapangan basket atau pergi ke warnet di luar sekolah. Bersenang-senang dan menikmati waktu-waktu bahagia mereka sebelum akhirnya mengambil alih bisnis milik orang tua.
Ardian Prasetya memutar kepalanya ke sekeliling, semua siswa laki-laki tampak damai dan tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Padahal cekikikan itu cukup keras, tetapi sama sekali tidak ada yang mengganggap itu sebagai gangguan. Lucunya, Ardian Prasetya menyadari bahwa tawa gadis-gadis ini sudah dianggap sebagai melodi cantik yang menambah warna dari kering dan gersangnya kehidupan sekolah anak-anak laki-laki ini. "Menyedihkan."
Di sisi lain, Ardian Prasetya juga menyadari bahwa gadis-gadis memiliki ekspresi tidak senang. Ada yang membuat gestur iri, cemburu, dan bahkan menghina. Hanya ada beberapa yang tidak peduli sama sekali.
Tinia Atmaja mengangkat kepalanya untuk melirik Ardian Prasetya yang lewat di depannya sebelum dia menundukkan kepalanya lagi. Ardian Prasetya hanya mengangkat bahu saat dia berjalan kembali ke tempat duduknya. Lee Rion mulai belajar juga dan Ardian Prasetya memutuskan untuk membolak-balik beberapa buku teks kelas dua belas karena bosan.
__ADS_1
Tidak lama, Roland Pratama datang, dia berhasil kembali ke kelas sebelum kelas berikutnya dimulai. Dia baru saja berganti pakaian dan mandi, ini juga sama dengan Seok Ma dan Kevin Dura yang berjalan di belakangnya.
Secara alami, Roland Pratama menembakkan tatapan penuh kebencian ke arah Ardian Prasetya saat dia memasuki ruang kelas. Namun, dia tidak melakukan apa-apa padanya, dia menahan diri dengan keras, dan hanya berjalan ke tempat duduknya. Itu adalah hari paling memalukan sepanjang hidupnya. Lebih buruk lagi Itu bahkan terjadi tepat di depan kekasihnya. Roland Pratama bersumpah untuk membalas dendam.
Satu-satunya hal yang menghentikannya dari menyerang Ardian Prasetya sekarang adalah fakta bahwa kelas dimulai dalam sepuluh menit dan itu bukan kelas sembarang orang. Dia memutuskan untuk mengejar Ardian Prasetya pada waktu yang lebih tepat, di ruang belajar, misalnya.
Tinia Atmaja tidak bisa tidak mengingat bagaimana Ardian Prasetya membiarkan Roland Pratama membasuh sepatunya dengan air seni. Dia nyaris tidak berhasil menahan tawanya saat suara tawa kecil keluar dari bibirnya, wajahnya memerah pada saat yang sama ketika gambaran alat vital Ardian Prasetya yang imut muncul di kepalanya.
Roland Pratama mendengar tawa kecil yang berusaha di tahan-tahan itu dan menjadi sangat tidak senang. Dia sangat marah, sehingga dia ingin memukul semua orang tampa ampun, tetapi dia tidak bisa melakukan apapun pada Tinia Atmaja.
Berbeda dengan yang lain, Roland Pratama sangat memahami betapa menakutkannya latar belakang Tinia Atmaja. Dia tahu kausu si bodoh Jeromi Sian dari kelas dua belas tahun lalu. Dia mengincar Tinia Atmaja sejak dia masih kelas sepuluh. Namun, mentalitasnya berubah setelah Tinia Atmaja menolaknya beberapa kali.
Pernah ada acara menonton film untuk seluruh sekolah, dan Jerome Sian itu mengambil kesempatannya untuk duduk di sebelah Tinia Atmaja, berharap bisa mendapatkan beberapa momen yang menyenangkan. Namun, yang ia dapatkan sebagai balasan hanyalah dua tamparan di wajah.
__ADS_1