Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 24 : Protein Mentah


__ADS_3

"Nona Tinia, tolong angan memikirkan hal ini dengan cara yang salah. Saya baru saja datang ke selatan, tubuh Saya belum menyesuaikan diri. Jadi, Saya masuk angin. Itu adalah tisu yang Saya gunakan untuk menyeka hidung Saya. Ini tidak seperti yang Nona pikirkan." Ardian Prasetya mencoba menjelaskan, dia mengambil gumpalan tisu itu dan membukanya agar Tinia Atmaja melihat isinya.


"Hentikan, dasar gila!" teriak Tinia Atmaja, "Aku tidak ingin melihat hal yang menjijikkan seperti itu. Dasar brengsek!"


Ardian Prasetya merasa sedikit canggung. Jika sudah seperti ini, tidak ada yang bisa dia lakukan jika Tinia Atmaja tidak mau percaya padanya. Dia juga tidak mungkin memaksanya untuk percaya, karena melakukan itu sama saja dengan mengakui perbuatannya. Ardian Prasetya kemudian mengembalikan tisu ke tempatnya dan berkata dengan sedih, "Bahkan jika Nona Tinia tidak percaya pada Saya, itu benar-benar bukan seperti yang Nona Tinia pikirkan."


Tinia Atmaja mempertimbangkan sejenak dan keluar dengan sebuah rencana, "Aku merubah pikiranku. Aku sudah tidak ingin makan mie instan lagi. Kamu harus memasak untukku sebagai gantinya!"


"Apa?" Ardian Prasetya merasa bingung dengan perubahan topik yang sangat tiba-tiba, dia seharusnya merasa lega, tetapi ada perasaan was-was yang dingin di sisi hatinya. Jadi, dia bertanya, "Kenapa Saya harus memasak untuk Nona Tinia?"


"Heh? Heh? Jangan banyak tanya, kamu! Sekarang kelemahanmu ada di tanganku, jika kamu tidak melakukan apa yang aku perintahkan, aku akan mengeluh kepada Presdir Angkara bahwa Angkara Elvira dan aku terkejut ketika kami menangkapmu sedang... em... bermain tangan? Sambil menonton film dewasa di televisi. Kamu mau aku mengatakan itu?" Tinia Atmaja tersenyum licik.


Ardian Prasetya terdiam. Dia berada di posisi yang sangat sakit dan tidak berkuasa. Dia tahu bahwa Tinia Atmaja akan memanfaatkannya dengan menggunakan kejadian ini sebagai ancaman, tetapi apa yang bisa dia lakukan? Tidak masalah dengan Presdir Angkara atau pemecatan, masalah terbesar bagi Ardian Prasetya adalah ketika Kakeknya tahu tentang ini. Dia pasti akan hancur dan kolam renang di atas gedung hanya akan menjadi mimpi yang tidak tergapai.


Ardian Prasetya mengambil dua napas dalam-dalam, dan bergumam, "Rubah jahat."


"Apa tadi yang kamu bilang? Rubah jahat? Lebih baik menjadi rubah jahat daripada melakukan hal yang begitu menjijikan, eugh!"

__ADS_1


Ardian Prasetya tidak tahu bagaimana menjawabnya. Meskipun dia tahu dia selalu kalah dalam pertarungan lisan, tetapi itu tidak mencegahnya untuk membalas Tinia Atmaja. Dia mengatakan, "Sebelum itu, apakah Nona berani memakan makanan yang dibuat menggunakan tanganku?"


"Tidak masalah. Di buku tertulis bahwa em... benda itu tidak lain adalah semacam protein. Dikatakan bahkan, cairan itu akan memiliki efek mempercantik jika dikonsumsi!" Tinia Atmaja menjawab dengan santai.


Sekarang, Ardian Prasetya benar-benar terdiam. Sebelumnya dia berperilaku berbeda, dia mengeluh tentang betapa menjijikannya hal ini, tetapi sekarang dia menyebutkan bahwa memakan benda itu tidak masalah dan malah sangat bagus.


"Dasar wanita, semua dimakan. Kanibal," gumamnya lebih pelan.


Iblis kecil ini adalah lawan yang lebih sulit daripada Angkara Elvira dan lebih mengerikan daripada Kakek Prasetya. Angkara Elvira hanya membencinya dan Kakek Prasetya hanya mencegah hartanya diambil, tetapi Iblis ini keluar untuk memberinya lebih banyak pikiran negatif hanya karena dia merasa bosan.


"Semuanya baik-baik saja. Aku tidak tahu apa yang ada di dapur. Mengapa kamu tidak pergi melihatnya sendiri," jawab Tinia Atmaja sambil mengubah postur tubuhnya dan berbaring di sofa.


Postur tubuhnya saat ini sangat mempesona. Kakinya yang putih mulus terlihat menyembul dari balik piyamanya. Pemandangan itu terlalu berat untuk ditangani Ardian Prasetya. Bagian tubuhnya yang baru saja pulih mau tidak mau bereaksi.


"Baik." Ardian Prasetya takut Tinia Atmaja akan melihat reaksinya. Jadi, dia membungkukkan tubuhnya dan melanjutkan ke dapur. Sayangnya, segera setelah dua langkah, dia dihentikan oleh Tinia Atmaja.


"Hey, Tuan Tameng! Ada apa denganmu? Mengapa berjalan seperti itu? Kamu terlihat seperti udang." Tinia Atmaja memperhatikan gerakan Ardian Prasetya yang tidak biasa dan sangat penasaran. Tak lama setelah itu, dia memperhatikan benjolan panjang dan besar di tubuh bagian bawah Ardian Prasetya, dan segera mengerti alasannya. Rona merah menyebar ke seluruh pipinya karena malu. Dia segera memalingkan muka dan berteriak, "Dasar cabul!"

__ADS_1


Ardian Prasetya sudah tidak punya sisa kesabaran dan kewarasan yang cukup untuk terus berada di situasi seperti ini. Dia juga sudah tidak punya cukup tenaga untuk menjelaskan penomena alami ini. Karena dia sudah ketahuan, dia berdiri tegak dan berjalan menuju dapur tanpa peduli apapun lagi.


Tinia Atmaja menatap punggung Ardian Prasetya saat dia berjalan pergi, senyum licik pun terlihat di wajahnya. "Hmpf! Dasar udik, tentu saja aku tahu itu hanya lendir, apakah menurutmu aku sama sepertimu, seorang idiot? Diajarkan di kelas pendidikan kesehatan bahwa zat itu berwarna seperti susu dan akan memiliki bau aneh yang tercium seperti pandan."


Meskipun Tinia Atmaja tidak pernah tahu seperti apa bau cairan jtu yang sebenarnya, tetapi dia telah duduk di sofa untuk waktu yang lama, dan dia tidak bisa mencium bau yang aneh.


Yang terpenting, disebutkan di internet, begitu pria itu buang air, tubuh bagian bawahnya akan menjadi lunak. Dari penampilan Ardian Prasetya, dia sepertinya tidak merasa lega sama sekali. Bahkan justru terlihat sangat menderita.


Tinia Atmaja tidak akan mengatakan ini pada Ardian Prasetya. Dia akan membiarkan kesalahpahaman tetap ada. Jadi dia menggunakannya untuk bermain-main dengan Ardian Prasetya. "Siapa yang suruh tidak mendengarkan permintaanku? Inilah yang kamu dapat karena menolak Dewi Tinia!" Rasanya sangat menyenangkan memiliki seseorang untuk diperintah.


***


Ketika Ardian Prasetya sampai di dapur, dia cukup terkejut. Dapurnya dilengkapi dengan sangat baik, itu pasti lebih baik daripada tungku batu yang dia miliki di desa. Semuanya sangat modern, bahkan ada celemek beruang yang lucu. Karena masih sangat baru, Ardian Prasetya menyimpulkan bahwa itu tidak terlalu sering digunakan. Kedua wanita muda itu dirawat dengan sangat baik. Jadi, tentu saja mereka tidak harus menyiapkan makanan mereka sendiri.


Ardian Prasetya mengenakan celemek dan mulai melihat-lihat dapur untuk mencari bahan yang bisa dia gunakan. Dia menemukan beberapa tomat, bayam, seledri dan telur di lemari es. Pasti disiapkan oleh Arnold Ken untuk Angkara Elvira karena tidak banyak bahan yang tersedia. Melihat hanya ini yang ada, Ardian Prasetya tidak yakin tentang kemampuan memasak Angkara Elvira.


"Seperti yang diharapkan dari orang yang dipercaya oleh Presdir Angkara. Arnold Ken tahu persis seperti apa kemampuan orang-orang yang ia. Dia bijaksana, kapan waktu aku harus berbicara dengannya."

__ADS_1


__ADS_2