
Khawatir Ardian Prasetya akan kewalahan, Lee Rion memutuskan untuk menyerang Seok Ma, dia menerjangnya agar menjauh. Kevin Dura dan Seok Ma adalah antek paling kuat yang dimiliki oleh Roland Pratama. Dia mengetahui bahwa Ardian kuat dari pengakuan Kevin Dura, tetapi jika Seok Ma juga ikut bergabung Lee Rion khawatir Ardian Prasetya akan kalah.
Seok Ma menjadi sangat marah saat melihat bagaimana anak pendiam di kelas berani melawannya. Dia memutuskan untuk mengganti target dan mengurus Lee Rion terlebih dahulu.
Ardian Prasetya memiliki penilaian yang bagus tentang seberapa kuat Lee Rion. Cara dia mendekati musuh dengan gerakan mendorong menggunakan tangan saja sudah menunjukkan bahwa pria itu tidak memiliki pengalaman dalam pertempuran apa pun. Dia datang bersamanya hanya karena rasa pertemanan belaka. Namun, Ardian Prasetya harus mengakui keberaniannya, dia melakukan gerakan spontan mengikuti instingnya, tetapi dia tidak menutup matanya sama sekali.
Jantung Lee Rion berdebar kencang saat dia terlibat dalam pertarungan pertamanya, dia tidak yakin apa yang harus dilakukan, sementara Seok Ma hanya menatap si idiot ini saat Lee Rion mengayunkan tinjunya dengan asal-asalan. Harga dirinya cukup terluka karena harus melawan bocah konyol ini.
Sambil menyeringai, Seok Ma menghempakan kaki bangku ke arah Lee Rion. Melihat Lee Rion benar-benar tidak memasang sikap defensif apapun, Ardian Prasetya memutuskan bahwa sudah waktunya untuk mengakhiri semuanya. Lagipula, dia tidak ingin Lee Rion dihancurkan demi dirinya.
"Mari akhiri di sini." Ardian Prasetya mendorong batas kekuatan genggaman tangannya, meremukkan tongkat bisbol. Saat Kevin Dura terkejut atas sesuatu yang menakjubkan ini, Ardian Prasetya memukul ulu hati Kevin Dura sekali, membuatnta terhuyung-huyung. Tidak mau menunggu dia jatuh sendiri, Ardian Prasetya kemudian memberinya tendangan ke pelipis. Kevin Dura jatuh ke lantai. Dunia terasa berputar dan organ dalamnya terasa terbakar. Rendang daging yang dia makan siang ini bergejolak, sesuatu akan segera naik dan keluar dari mulutnya.
Lee Rion tidak bisa mempertahankan pandangannya lagi saat dia merasakan angin bertiup dan kaki bangku sudah berada tepat di depan wajahnya. "Sial, sudah berakhir," pikirnya. Lalu, memejamkan mata.
__ADS_1
Lee Rion ingat ibunya di rumah, ayahnya di pabrik, dan saudara perempuannya di tempat kerja. "Selamat tinggal uang tabungan." Saat mata Lee Rion terpejam sepenuhnya, sebuah suara pukulan terdengar diikuti dengan suara jeritan. Namun, itu bukan suaranya.
Lee Rion membuka matanya kemudian meraba dahi dan hidungnya, tidak ada cairan, dia sama sekali tidak terluka. Sebaliknya, dia melihat Seok Ma berguling-guling di lantai dengan dahinya yang berlumuran darah.
Ardian Prasetya masih sulit memahami kekuatannya sendiri, dia tahu untuk menghindari memukul pelipis dan bagian belakang kepala ketika memukul dengan senjata tumpul. Dahi adalah bagian tengkorak yang lebih kuat, tongkat bisbol tidak akan terlalu merusak. Dia cuman mencoba membuat Seok Ma menderita dengan hematoma di dahi, tetapi malah berakhir membuat dahinya robek. Dia sudah menahan diri, tetapi tetap saja kebiasaan susah untuk dilepaskan.
Ardian Prasetya sudah selesai dengan Kevind Dura dan Seok Ma pada saat Tinia Atmaja dan Angkara Elvira tiba di atap. Tinia Atmaja hanya bisa menghela napas dengan kecewa pada dua anak laki-laki yang terkapar di lantai. Bagaimana bisa mereka kalah secepat ini, tanpa memberinya ruang untuk menonton pertunjukan.
"Lalu apa? Aku tidak peduli, mau dia kuat atau tidak, itu tidak ada hubungannya denganku!" Angkara Elvira sejujurnya juga sedikit terkejut. Dapat dikatakan bahwa Ardian Prasetya menggunakan cara kotor untuk mengurus Roland Pratama dan antek-anteknya. Di hari pertama, dia menyerang saat lawannya lengah dan menggunakan pisau, dia juga menggunakan trik kotor di kamar kecil sebelumnya.
Dari dua kasus ini, Angkara Elvira berpikir bahwa Ardian Prasetya adalah tipe yang mengandalkan otak daripada otot, tetapi rupanya ototnya juga kalah kuat, tidak diragukan lagi bahwa kemenangan ini sekarang dimenangkan melalui kemampuan murni, tanpa tipuan sama sekali.
Angkara Elvira belum pernah berbicara dengan Lee Rion sebelumnya, tetapi dia memahami karakternya dengan baik dari bagaimana dia selama ini bereaksi dan betapa menyedihkannya bentuk badannya. Lee Rion bukan tipe laki-laki yang suka berolahraga, tubuhnya kurus dan beratnya tidak mungkin melebihi empat puluh kilogram. Dia adalah tipe laki-laki kutu buku pengecut yang menghindari perkelahian. Jadi, dapat diasumsikan bahwa pria itu tidak memberikan kontribusi apa pun dalam pertarungan ini. Ardian Prasetya telah bertarung sendirian.
__ADS_1
Angkara Elvira mengalihkan pandangannya ke arah Seok Ma dan Kevin Dura, mereka bukan orang yang lemah, mereka dilatih khusus untuk melindungi Tuan Muda mereka. Mereka dilatih untuk terbiasa menahan rasa sakit dan untuk selalu bangkit demi keamanan Tuan Muda mereka. Namun, orang-orang itu sekarang terbaring di tanah dengan ekspresi tersiksa. Mereka tidak bangun bukan karena mereka tidak bisa, tetapi karena rasa takut. Melihat ini, Angkara Elvira dapat menilai bahwa Ardian Prasetya lebih kuat daripada pelatih para penjaga di keluarga Pratama.
"Wow, ayahmu benar-benar memberikan perisai manusia yang terbaik. Ayahmu hebat sekali dalam masalah koneksi, ya?" kata Tinia Atmaja sambil tersenyum. "Bukankah ini hebat? Orang-orang akan mendengar tentang apa yang terjadi, dan Ardian Prasetya juga akan segera menjadi terkenal, kamu tidak perlu khawatir ada orang yang mengganggumu lagi."
Angkara Elvira hanya menjawab dengan anggukkan kecil dan bertindak seolah-olah dia tidak peduli. Ardian Prasetya pindah ke Lee Rion, menepuk pundaknya sambil tersenyum. "Lee Rion, kamu baik-baik saja?"
"Ah, iya... aku baik-baik saja?" Lee Rion masih belum pulih sepenuhnya dari keterkejutannya, dia tidak menyangka Ardian Prasetya akan menjatuhkan dua ksatria yang melindungi Roland Pratama dengan sangat mudah, berkat ini, tidak ada lagi anak lain yang mencoba menyerang mereka.
Semuanya ditaklukan oleh rasa takut. Mereka menjatuhkan tongkat mereka dan menundukkan kepala. Seok Ma dan Kevin Dura adalah yang terbaik di antara mereka, tetapi Ardian Prasetya dapat mengalahkan mereka berdua dengan sangat mudah, bagaimana mereka bisa mengalahkan Ardian Prasetya jika begini? Lebih baik cari aman dan menyerah saja.
"Roland Pratama. Sejujurnya aku tidak ingin melakukan ini, aku pikir aku sudah cukup memberimu ancaman kemarin, tetapi kamu terus saja mendorongku." Ardian Prasetya berkata dengan polos sambil berjalan menuju satu-satunya orang yang masih menatapnya dengan niat membunuh.
Roland Pratama, tahu dia tidak bisa menang, tetapi dia mencoba untuk tetap tenang. Ardian Prasetya kuat, tetapi di mata Roland Pratama, lebih banyak keberuntungan daripada keterampilan yang memberi Ardian Prasetya kemenangan. Dengan gerakan halus, dia mengulurkan tangan ke saku dan mengeluarkan belati, dia merasa lebih aman dan berani saat dia mempersenjatai diri.
__ADS_1