Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 55 : Chen Sisi (3)


__ADS_3

"Berhenti melebih-lebihkan seperti itu. Gaya bicaramu masih sangat menjijikan, ya? Ck, inilah kenapa kamu terlihat lebih tua dari usiamu." Chen Sisi kesal dan menendang lutut Ronald Asrahan. Dokter gila ini salah satu genius teratas di negara ini? Dia tidak bisa mempercayainya.


Lalu, apa juga yang orang ini katakan. Chen Sisi memang mengakui rasa hormatnya atas penilaian dan eksekusi yang dikumpulkan Ardian Prasetya ketika berhadapan dengan para perampok, tetapi bagian mana dari itu yang termasuk pengorbanan diri? Angkara Elvira tidak menyebutkan sesuatu yang penting tentang peristiwa yang terjadi di Bank, dia hanya menyebutkan saat adegan tembakan ke paha Ardian Prasetya. Karena itu, Chen Sisi berasumsi bahwa Angkara Elvira pasti melewatkan sesuatu yang cukup penting, entah disengaja atau tidak.


"Pftt, kamu tidak tahu? Bocah berbau darah itu... Siapa tadi namanya? Ardian Prasetya? Bocah itu dia berkata dia bisa menghindari peluru jika dia mau, tetapi karean ada seorang gadis di belakangnya, dia dengan sengaja tertembak." Dokter Ronald Asrahan memuji, "Luar biasa, kan? Sangat jarang menemukan seseorang yang seperti 'Monster,' tetapi tidak bersikap egois. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan seorang manusia 'Sempurna' dengan rasa keadilan dan kasih sayang seperti dia."


Chen Sisi mengerutkan kening. Dia tahu meskipun Ronald Asrahan selalu beromong kosong, tetapi dia tidak akan menipu. Dia berkata iya untuk iya dan berkata tidak untuk tidak. Dia hanya senang melebih-lebihkan dan melencengkan topik. Masalahnya adalah, yang dia katakan ini semuanya terdengar seperti sesuatu yang keluar dari buku cerita.


Menghindari peluru? Bahkan Chen Sisi, seorang instruktur pertempuran operasi khusus sendiri, tidak dapat mengklaim untuk menjamin prestasi seperti itu. Jadi, Ardian Prasetya lebih baik darinya? Dia merasa itu terlalu sulit untuk dipercaya. "Dokter Roland, dari mana kamu mendengar ini?"


"Bocah itu memberitahuku sendiri." Dokter Ronald Asrahan menjawab dengan datar. "Dia sendiri yang memberitahumu?" Chen Sisi kehilangan minatnya. Bagaimana bisa orang ini mempercayainya hanya dari pengakuan sendiri. Bocah itu mungkin bahkan tidak serius dan hanya beromong kosong. Yang seperti ini seorang genius? Pasti terjadi kesalahpahaman! Chen Sisi yang dinilai bodoh oleh masyarakat tidak terima dengan ini.


Dokter Ronald Asrahan tidak melewatkan keraguan dalam reaksi Chen Sisi. Dia menanggapi dengan tertawa. "Petugas Chen, menurutku, dia mirip dengan iblis itu. Cara dia mengatur napas, cara dia melangkah, dan bagaimana otot-otot di tubuhnya tersusun sempurna. Itu sangat mirip, untuk sesaat, aku salah mengira orang." Dokter Ronald Asrahan berubah serius saat dia membicarakan ini.

__ADS_1


Chen Sisi menerka apa maksud Ronald Asrahan dan tidak percaya dengan terkaannya, "Apa maksudmu iblis di sini itu, Tuan Muda ke empat dari keluarga bangsawan Yon, Tuan Muda Darel Yon?"


Dokter Ronald Asrahan tidak menjawab lagi dan kemudian pergi, hanya meninggalkan kata kalau dia masih memiliki banyak hal lain untuk diurus. Chen Sisi, menghela napas berat, dia memilih untuk tidak memikirkannya dan pergi juga untuk membuka pintu kamar Ardian Prasetya.


"Ardian Prasetya, bisakah aku mendapatkan pernyataanmu sekarang?" Dia tidak mengerti mengapa, tapi postur Ardian Prasetya yang duduk seperti preman di atas tempat tidur membuatnya sangat kesal. Dari sisi mananya dia terlihat seperti Tuan Muda Darel Yon? Besar tubuh dan tinggi mereka mungkin sama-sama tipe paling ideal, tetapi selain itu tidak ada kemiripan lainnya. Lihat wajah bodohnya itu menggelikan.


"Ya, tidak masalah." Ardian Prasetya menjawab dari tempat tidur, memperhatikan ukuran luar biasa dari wanita ini, benda itu hampir sebesar milik wanita yang ia lihat dari saluran pagi sebelumnya. Setelah diperiksa lebih dekat, Ardian Prasetya menemukan wanita itu adalah tipe yang makin cantik ketika marah.


Chen Sisi menggembungkan pipinya. Pelatihan intensif jangka panjang telah menyehatkan dadanya dengan sangat baik, sampai-sampai menjadi beban, memantul saat dia berjalan. Dia bahkan harus memakai korset hanya untuk mencegahnya, dan bahkan sempat mempertimbangkan untuk menjalani operasi untuk mengurangi ukurannya.


Lihat pria ini, dia menatapnya dengan mata berliur bahkan ketika dia masih berseragam. Dokter Ronald Asrahan terlalu menilainya tinggi, dia juga pasti belum yakin. Jadi, dia pergi setelah mengatakan ada kemiripan dengan Darel Yon yang memiliki fisik terlatih sempurna.


Chen Sisi menatap Ardian Prasetya dengan dingin saat dia duduk di kursi samping. Dia ingin memberi Ardian Prasetya pelajaran dan kebetulan sekali dia ingat tentang luka di kakinya. Chen Sisi tersenyum jahat saat dia beralih menatap Ardian Prasetya. "Ardian Prasetya, di bagian mana kamu tertembak?"

__ADS_1


"Kaki kiri, di paha bagian dalam." Ardian Prasetya menjawab dengan jujur, dia mengira bahwa pertanyaan sudah dimulai. "Biar aku coba lihat. Apakah itu di sini" Chen Sisi menekan paha bagian dalam Ardian Prasetya saat dia berpura-pura memeriksa lukanya.


Emosinya tersalurkan, wajah Chen Sisi memerah penuh semangat. Dia sudah bisa membayangkan Ardian Prasetya melolong dan menangis kesakitan. Inilah yang harus didapatkannya karena tidak punya sopan santun!


Ardian Prasetya mendesis sedikit. Dia bertanya-tanya, ada apa dengan wanita ini, kenapa dia menekan luka tembaknya dengan keras. Untung saja dia punya tolerasi yang cukup baik tentang rasa sakit, jika tidak, dia akan berteriak kesakitan.


Chen Sisi, di sisi lain, merasa kecewa, dia amat bersemangat sebelumnya menanti lolongan dan tangisan.Dia masih belum puas, dia berpikir alasan Ardian Prasetya tidak berteriak, mungkin karena dia menahan diri. Dengan itu, dia tanpa ragu memukul lukanya.


Ardian Prasetya yang terkejut langsung berteriak dan menyeret kakinya menjauh. Ardian Prasetya baru saja ingin meneriaki Chen Sisi ketika langkah kaki berhenti di depan pintu. "Elvira, menurutmu apa yang mereka lakukan di dalam sana?" tanya Tinia Atmaja, pipinya memerah, senyum canggung terukir di wajahnya.


"Tinia Atmaja, diamlah. Ayo kita kembali saja, kita mungkin akan kehilangan kepolosan kita jika masuk ke dalam." Wajah Angkara Elvira juga merah padam. "Mereka pasti melakukan sesuatu yang dewasa, kan?"


"Se-serius?" Tinia Atmaja secara ajaib tertarik dengan hal-hal seperti ini. "Hey, Elvira. Apa menurutmu, Kak Chen Sisi melakukan itu dengan tangannya atau yang lain? Wanita dewasa sangat gila, dia melakukannya di rumah sakit. Sangat legendaris!" Dia menekan suara teriakannya agar tidak terdengar oleh Chen Sisi.

__ADS_1


__ADS_2