Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 56 : Chen Sisi (4)


__ADS_3

Chen Sisi, pada saat itu, menghadap membelakangi pintu sementara tangannya bergerak di sekitar paha bagian dalam Ardian Prasetya yang mengerang, wajar bagi para gadis untuk salah paham. Seperti itulah yang telihat di sudut pandang Tinia Atmaja dan Angkara Elvira.


Chen Sisi bingung pada percakapan mereka pada awalnya, tetapi setalah dia meneliti lebih lanjut kata-kata mereka, dia akhirnya mengerti. Berpikir gadis-gadis bodoh itu akan berpikir separah ini, mereka pasti melihat wajah Ardian Prasetya yang memerah, mereka salah paham. Wajah Chen Sisi mulai memerah semerah gadis-gadis itu, dia berbalik dan ingin menjelaskan ketika dia mendengar seseorang berdehem.


Itu adalah Paman Ken, yang berdiri bersama Angkara Elvira dan Tinia Atmaja. "Ehem, Petugas Chen, Tuan Muda Prasetya masih belum pulih. Juga, kita masih berada di rumah sakit. Menurut Saya ini bukan tempat yang tepat untuk melakukan hal seprivasi ini.",


"Tunggu, ini tidak seperti yang kalian pikirkan!" Chen Sisi panik. Bagaimana dia bisa keluar dari kekacauan ini sekarang? Dia berdiri dan mencoba memperlihatkan bahwa dia hanya melakukan sesuatu pada luka di kaki Ardian Prasetya, tetapi bersamaan dengan kakinya terangkat, wajah tiga orang di depan pintu itu juga berpaling. Mereka tidak ingin menodai mata mereka dan membuat Ardian Prasetya malu.


"Ti-tidak masalah, Saya paham. Saat masih muda dulu, Saya juga mendapatkannya dari beberapa gadis. Ini hal yang normal... mungkin? Ehem, ka-kalau begitu, kami akan kembali lagi nanti." Paman Ken menggelengkan kepalanya saat dia menarik kedua gadis itu dari sana.


Paman Ken sedikit merenung tentang usianya. "Waktu sangat cepat berlalu, aku ingat Petugas Chen dulu gadis kecil yang bertingkah seperti anak laki-laki, kapan dia tumbuh menjadi wanita liar begitu? Apakah itu karena cinta pada pandangan pertama kepada Ardian Prasetya? Namun, meski dia..." Paman Ken Larut dalam pikirannya sendiri.

__ADS_1


"Elvira, Chen Sisi itu tidak bisa dibiarkan!" Tinia Atmaja berkata dengan marah saat dia keluar dari ruangan, mengayunkan tinjunya. "Apa? Maksudmu apa?" Angkara Elvira tersipu, jantungnya berdetak kencang saat pemandangan itu terlintas lagi di benaknya.


"Apanya yang apa? Ardian Prasetya adalah perisai dagingmu, tahu! Kamu seharusnya marah saat dia mencoba mencurinya seperti itu!" Tinia Atmaja mengernyit. "Elvira, kamu harus menghentikannya!"


"Bicara apa sih? Kamu nonton apa sih akhir-akhir ini sampai punya pikiran aneh semacam ini. Apa yang mereka lakukan, itu bukan urusanku!" Angkara Elvira menjawab dengan acuh tak acuh. Tepat ketika dia mulai menghargai kehadiran Ardian Prasetya, si wajaj bodoh itu justru melakukan kesalahan vatal lagi di depannya. Pandangannya tentang Ardian Prasetya masih sama, pria ini tidak bisa dimaafkan!


"Apa yang aku tonton? Kitakan selalu nonton bersama, Elvira. Kamu yang aneh! Lihatlah baik-baik, Ardian Prasetya melindungimu, mengalahkan perampok untukmu, dan mie buatannya sangat enak. Kamu harus menjaganya di sisimu, Elvira! Jangan sampai dia direbut, bahkan kecantikan dingin seperti Chen Sisi melakukan itu untuknya." Tinia Atmaja sangat tidak senang, dia tidak akan begitu marah jika itu adalah orang lain, tetapi ini Chen Sisi yang terkenal dingin terhadap laki-laki.


Tinia Atmaja tumbuh di lingkungan yang sama dengan Chen Sisi, dan keduanya selalu menjadi fokus utama karena betapa cantiknya mereka. Chen Sisi, bagaimanapun, lebih tua darinya, dan dia entah bagaimana mencapai pubertas lebih awal, membuatnya disukai banyak anak laki-laki.


Apa yang benar-benar membuat Tinia Atmaja membencinya adalah kenyataan bahwa anak laki-laki yang menjilatnya termasuk saudara laki-lakinya sendiri. Dia tidak akan pernah melupakan tingkat depresi yang dialami kakaknya setelah ditolak oleh Chen Sisi.

__ADS_1


Chen Sisi benar-benar pergi dan berkata bahwa dia tidak akan pernah menerima pria yang lebih lemah darinya. Hal ini juga yang menggerakkan Alan Atmaja untuk bergabung dengan tentara, dia yang hangat dan ceria, berubah menjadi dingin dan berhati besi, dia mati-matian ingin menjadi lebih kuat, demi wanita bodoh itu.


"Hah? Apa kamu punya masalah dengan Chen Sisi ini? Apa yang membuatmu begitu kesal padanya? Kamu tidak jatuh cinta dengan Ardian Prasetya itu kan?" tanya Angkara Elvira, dia memasang wajah jijik yang penuh dengan kecurigaan, ini bukan pertama kalinya Tinia Atmaja begini karena Ardian Prasetya. Pikirannya disibukkan dengan adegan itu sebelumnya, tapi jelas ada yang salah dengan kemarahan Tinia Atmaja.


"Apa? Aku? Jatuh cinta padanya? Tidak mungkin, tentu saja tidak!" Tinia Atmaja ingin tertawa, itu adalah hal paling konyol yang dia dengar sepanjang hari. "Kalau begitu berhenti mengungkitnya, dia itu hanyalah masalah berjalan!" Angkara Elvira juga tidak tahu apa yang membuat dia sangat bermasalah. Apakah itu karena air liur Ardian Prasetya atau yang lain yang lebih privasi di kamar mandi. Angkara Elvira merasa ada penyumbatan di hatinya, sesuatu yang tidak dia mengerti. Itu membuatnya sangat tidak nyaman.


Chen Sisi masih belum pulih dari apa yang baru saja terjadi, wajahnya masih merah karena malu. Dia tidak mengerti, bagaimana bisa kesalahpahaman terjadi sesepele ini, buruknya Tinia Atmaja juga melihat hal ini. Chen Sisi tidak tahu bagaimana dia bisa kembali ke kampung halamannya dengan wajah terangkat lagi. Tinia Atmaja mungkin akan memperburuk keadaan dengan sisi ceritanya, yang terburuk, dia akan dikenal sebagai wanita murahan di sana.


Chen Sisi menatap Ardian Prasetya dan kesal padanya, dia yakin pria berwajah bodoh ini pembawa sial. Chen Sisi marah kemudian membenturkan kepalanya ke kepala Ardian Ardian Prasetya, yang duduk di sana seperti orang idiot, seolah-olah dia tidak melakukan apa-apa.


"Dasar brengsek!" Air matanya tergenak, tinjunya sudah terkepal kuat, siap untuk dilepaskan. Dia benar-benar ingin meledakkan tengkoraknya saat itu juga. Ardian Prasetya tidak paham. Jadi, dia dengan polos bertanya, "Memangnya apa yang salah? Semua baik-baik saja menurutku."

__ADS_1


Chen Sisi menggigit bibirnya, dia ingin memarahi Ardian Prasetya, menuntut mengapa dia mengerang di waktu yang tidak tepat, tetapi dia tidak bisa mengatakannya. Chen Sisi menggertakkan giginya. "Kamu benar-benar sampah, kamu merencanakan ini, kan? Dasar, sekarang bagaimana aku bisa bertemu teman dan keluargaku setelah apa yang kamu perbuat!? Penjahat!"


"Hey, hey, tenanglah dulu, oke? Nona, aku tidak pernah percaya mitos tentang gadis berdada besar itu bodoh, tapi kamu saat ini terlihat seperti itu. Jadi, tenanglah, oke?" Ardian Prasetya bercanda sambil tertawa. Namun, itu keputusannya yang paling idiot.


__ADS_2