Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 49 : Sandera (3)


__ADS_3

"Nona Kuda!" Arnold Ken panik sambil berlari ke arah mobil yang pergi. Dia telah mencoba menelepon Presdir Angkara, tetapi salurannya tidak tersambung.


"Tolong tenangkan diri Anda Paman Ken, kami dari Kepolisian akan mengurus ini dengan baik." Setelah mengatakan itu, wakil kapten segera mengeluarkan protofon. "Perhatian semua regu, perhatian semua regu! Perampok Bank kabur dengan Van hitam, catat. Perampok kabur dengan Van hitam dengan nomor plat SUV42003!"


"Apa-apaan perampok ini, mereka bukan cuma merampok di siang bolong, tetapi juga terang-terangan mengejek kepolisian kami?" Chen Sisi menjadi marah saat dia memikirkannya, dia menggumamkan nomor plat itu pada dirinya sendiri kemudian menghubungi seseorang menggunakan ponselnya, "Korlantas, Saya Chen Sisi, dari detasemen khusus. Tolong bantu carikan nomor plat untuk Saya, ini sebuah Van hitam, SUV42003... Apa? Tidak ada data? Apa Anda yakin? Oke, Saya mengerti."


Chen Sisi menghembuskan napas berat. "Dasar Perampok terkutuk! Jadi itu sebabnya mereka meletakkan plat nomornya dengan layar penuh." Chen Sisi tidak tahan lagi, karena rasa panik dia terus menerus tidak bisa berpikir jernih. Sementara itu di sisi lain para petinggi terus mengganggunya dengan ancaman. Situasi ini membuatnya gila.


***


Perampok Botak meminta antek-anteknya mengikat Ardian Prasetya dan Angkara Elvira begitu mereka menjauh dan membaur di antara kepadatan lalu lintas. Dia menatap Ardian Prasetya yang pucat dan merasa geli serta gembira. Membuat ekspresi kacau di wajah seorang pemberani adalah kesombongan yang paling nikmat. "Hahaha, bagaimana? Apa yang kamu pikirkan, keputusasaan? Hahaha, nikmatilah saat-saat terakhirmu, kami hanya menginginkan Nona Muda Angkara di sini, dan tidak peduli dengan yang lain. Seharusnya kamu tidak berusaha menjadi pahlawan, perbaiki cara berpikirmu di masa depan, bodoh! Hahaha!"


Ardian Prasetya sekarang paham dan menjadi yakin bahwa ini adalah seratus persen kesalahannya sebagai pengawal. Perampok Botak ini tahu Angkara Elvira, itu artinya semua ini sedari awal bertujuan untuk menculiknya. Hal ini tidak terpikir sama sekali oleh Ardian Prasetya maupun Angkara Elvira sendiri, mereka berdua hanya berasumsi bahwa sandera dipilih secara acak.

__ADS_1


Ardian Prasetya bahkan berpikir kotor bahwa desakan Perampok Botak adalah karena dia suka dengan penampilan Angkara Elvira dan ada keinginan untuk bergaul dengannya. Tidak pernah terpikir oleh mereka bahwa semuanya adalah penculikan yang ditargetkan.


"Ap-apa? Kamu mengenalku?" Angkara Elvira bertanya tanpa sadar. "Heh? Siapa yang tidak tahu itu? Kamu adalah pewaris Angkara Murka Grub, hahaha!" Perampok Botak menjelaskan dengan gembira. "Kenapa aku menculikmu, jika aku tidak mengenalmu? Otak udang!"


"Ke-kenapa kalian menculikku?" Angkara Elvira tidak mengerti. Jelas bahwa kelompok itu telah merencanakan semuanya dengan baik dan mereka juga bukan orang biasa mengingat mereka mempunyai senjata, di negara di mana penjualan pisau saja di awasi dengan ketat, darimana mereka bisa mendapatkannya? Mereka pasti berasal dari Utara!


"Kenapa kamu diculik? Fuhahaha, pertanyaan yang sangat bodoh!" Perampok Botak tersenyum lebar, sehingga gigi emasnya terlihat. "Menurutmu kenapa kamu diculik?"


"Ak-aku!?" Angkara Elvira terkejut dan bulu kuduknya berdiri. Dia berpikir bahwa Perampok Botak inimengincar tubuhnya. Dengan pemikiran itu, Angkara Elvira menyimpulkan bahwa itu memang sangat mungkin. Dia sangat cantik, lekukan tubuhnya luar biasa, matanya besar, dan kulitnya pun cerah. Selain itu, dia juga punya dada yang berbentuk sempurna, dia juga tinggi untuk ukuran anak perempuan. Wajar jika seorang pria tertarik pada tubuh seperti miliknya.


Nama Ardian Prasetya muncul di hati Angkara Elvira. Hanya dia lawan jenis yang bisa dipikirkan Angkara Elvira, sisa laki-laki yang cukup dekat dengannya adalah orang-orang menyebalkan seperti Roland Pratama. Ada yang lebih baik, tetapi orang itu adalah Paman Ken. Dia mengutuk betapa gagalnya dia sebagai seorang wanita. Dia seharusnya tidak jual mahal dan berhati dingin, karena kesombongannya ini, lingkup sosialnya terlihat sangat sempit.


"Kenapa Aku selalu tidak beruntung?" Angkara Elvira mulai memikirkan rencana untuk keluar dari kekacauan ini saat dia merenungkan hidupnya yang selalu berakhir dengan negatif.

__ADS_1


Wajah Angkara Elvira yang membiru dan ekspresinya yang menunjukkan rasa jijik hanya memberi tahu satu hal kepada Perampok Botak, gadis bodoh ini salah paham. "Persetan! Aku punya banyak wanita, oke? Aku tidak tertarik dengan anak bawang sepertimu! Aku menculikmu karena ada yang membayar!"


Angkara Elvira langsung menghela napas, sangat senang penculik itu tidak mengincar tubuhnya. "Bos, aku baik-baik saja dengan anak seperti dia, kamu tahu? Malah dia tipeku! Mungkin kita bisa bermain dengannya sedikit?" Mat Codet menyeringai penuh saat dia menatap Angkara Elvira dengan air liur yang hampir menetes.


"Tutup mulutmu, sebelum benda itu aku cabut! Para petinggi mengatakan bahwa gadis itu tidak boleh disentuh, kita membutuhkannya tanpa cacat." Perampok Botak memarahinya dan menjelaskan padanya.


"Yah, sayang sekali." Mat Codet menyapu air liur yang sudah mengalir ke dagunya, dia langsung berbalik, tampaknya takut pada Perampok Botak. "Cih, aku akan mati sebagai pria, jika aku mendapatkan seorang gadis yang berbentuk sempurna seperti gadis ini. Petinggi tega sekali, bagaimana jika aku mati tidak tenang? Aku akan menghantui mereka!"


"Berhentilah beromong kosong, cari saja beberapa siswi dengan bayaranmu setelah pekerjaan selesai! Ada banyak siswi bodoh di luaran sana!" Perampok Botak memarahinya lagi.


Angkara Elvira semakin lega. Orang-orang ini tidak akan melukai tubuhnya, itu bagus, dia tidak perlu khawatir terjadi sesuatu. Namun, dia masih cukup kesal saat Perampok botak mengikat tangannya dengan tangan Ardian Prasetya. Menyentuh tangan kasar Ardian Prasetya hajya mengingatkan Angkara Elvira pada adegan di dalam Bank, di mana pria ini mendorongnya ke bawah untuk menggantikannya sebagai sandera. Itu memberi Angkara Elvira sensasi yang gagal dia mengerti dan tidak ingin dia mengerti.


"Sialan! Ada apa denganku? Mungkinkah gerakan kecil itu mengubah pandanganku terhadap Ardian Prasetya? Tidak, itu terlalu cepat! Aku bukan gadis yang bisa ditaklukkan dengan mudah, Hmp! Namun, apa laki-laki lain akan melakukan apa yang dilakukan Ardian Prasetya, mengingat keadaan yang sama? Apa yang dipikirkan Ardian Prasetya ketika dia memutuskan untuk mempertaruhkan tubuhnya untukku? Meskipun dia dibayar, tetapi, dia jadi... sekarat karenaku." Angkara Elvira menjadi bimbang, dia tidak tahu lagi apa dia membenci atau...

__ADS_1


"Gadis bodoh! Untuk apa kamu tersenyum?! Kamu pikir kamu akan vaik-baik saja!?" Perampok Botak tidak senang. Gadis itu tersipu dan tersenyum, apa-apaan ini? Apakah dia tidak mengerti situasinya? Itu adalah penghinaan terhadap harga dirinya! Gadis itu jelas tidak melihatnya sebagai ancaman.


__ADS_2