Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 27 : Menantu


__ADS_3

Ardian Prasetya merasakan bahan seragam sekolah itu. Perasaan familiar di kulit membuatnya sangat senang dan berpikir, "Seragam ini dibuat dengan bahan yang sangat bagus, ini memakai bahan yang sama seperti pakaian yang biasa aku gunakan untuk misi. Lentur dan kuat, tahan panas dan menyerap dingin. Ini jauh lebih baik daripada semua pakaian yang aku bawa."


Meskipun Ardian Prasetya mendapat kesempatan untuk mengenakan beberapa pakaian berkualitas tinggi ketika dia menemani Kakek Prasetya bertemu dengan orang-orang penting, tetapi semua pakaian itu disewa. Jadi, pada akhirnya harus dikembalikan.


Tepat pukul tujuh malam, mobil Arnold Ken tiba di depan pintu vila. Angkara Elvira dan Tinia Atmaja membawa tas sekolah kecil mereka yang lucu dan keluar dari vila dengan Ardian Prasetya mengikuti tepat di belakang mereka.


Seperti sebelumnya, Ardian Prasetya duduk di kursi penumpang depan sementara Angkara Elvira dan Tinia Atmaja duduk dengan nyaman di belakang. Arnold Ken kemudian menyalakan mesin, menoleh ke Ardian Prasetya dan bertanya, "Bagaimana? Apa Anda sudah terbiasa, Tuan Muda?"


"Saya baik-baik saja." Ardian Prasetya menganggukkan kepalanya, ada banyak sekali masalah, tetapi tidak cukup untuk membuatnya menyerah.


"Dia baik-baik saja, tapi aku tidak!" Sebelum Arnold Ken bisa bertanya lebih jauh kepada Ardian Prasetya, Angkara Elvira menyela dan berkata, "Aku akan menelepon ayah sekali lagi!"


"Nona Muda, Presdir Angkara berangkat ke Distrik Pusat untuk menghadiri perjamuan keluarga Yon pagi ini. Dia seharusnya sudah berada di pesawat sekarang." Arnold Ken memberitahunya. "Nona Muda, Presdir ingin Saya memberi tahu bahwa dia tidak akan ada beberapa hari ini karena setelah perjamuan, dia akan mengurus bisnis di sana. Jadi, beliau berpesan kalau membutuhkan sesuatu, mintalah kepada Tuan Muda Ardian Prasetya, dia akan menjagamu."


"Apa-apaan? Dia? Menjaga aku?" Angkara Elvira menatap seolah tidak percaya, "Paman Ken, bagaimana bisa orang udik ini mengabulkan keinginanku?"

__ADS_1


"Saya hanya menyampaikan pesan Presdir Angkara. Dari yang saya lihat, beliau sangat mempercayai Tuan Muda Ardian Prasetya." Sejujurnya, Arnold Ken sendiri juga bingung, dia juga tidak tahu apa yang istimewa dari Ardian Prasetya, tetapi menjadi bawahan setia Angkara Adam, dia tidak akan pernah meragukan keputusannya.


Angkara Elvira cemberut. Dia tahu bahwa Arnold Ken adalah juru bicara ayahnya. Jadi, dia tidak akan pernah menentang keputusan ayahnya. Selain itu, karena ayahnya masih di pesawat, dia pasti tidak bisa menjawab telepon. Angkara Elvira tidak punya pilihan selain bertahan dengan Ardian Prasetya selama beberapa hari, saat ayahnya kembali, dia akan membuangnya.


Ardian Prasetya selalu ingin merasakan kehidupan sekolah menengah di mana masa-masa percintaan dimulai seiring kedewasaan, tetapi gunung tempat tinggalnya tidak memiliki sekolah menengah, hanya ada sekolah dasar saja di sana. Jadi, tidak banyak orang berpendidikan di sana.


Selain Kakek, satu-satunya orang lain yang cukup baik adalah teman masa kecil Ardian Prasetya, Han Maru. Saat Ardian Prasetya sedang belajar di gunung, Han Maru kadang datang dan ikut membaca bersamanya. Sekarang dia memikirkan Han Maru dan merasa sangat merindukan momen-momen bersamanya. "Di mana dia sekarang, ya?"


Segera mobil mencapai gerbang perguruan tinggi dan Arnold Ken menepikan mobil. Tepat ketika Ardian Prasetya hendak meninggalkan mobil, dia dihentikan oleh Angkara Elvira. "Tunggu sebentar!"


"Jangan pergi dulu. Tunggu sampai Tinia dan aku masuk sekolah sebelum kamu pergi. Aku tidak ingin orang lain salah paham ketika melihat kita bersama, mengerti?" kata Angkara Elvira dengan nada sombong lagi arogan.


Ardian Prasetya baik-baik saja dengan pengaturan itu. Angkara Elvira adalah Nona Muda. Keinginannya adalah perintah untuk Ardian Prasetya.


"Hahaha, Nona Muda kami memang seperti itu, dia sedikit egois, tetapi dia baik. Tolong jangan pedulikan beberapa hal kecil." Merasakan permusuhan Angkara Elvira terhadap Ardian Prasetya, Arnold Ken sebenarnya ingin membantu, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan tentang itu.

__ADS_1


"Tidak masalah. Saya mengerti." Ardian Prasetya menggelengkan kepalanya, "Paman Ken, Saya akan langsung saja ke intinya. Keberadaan Saya di sini sepertinya tidak terlalu penting. Angkara Elvira tidak membutuhkan teman belajar atau penjaga. Dia cukup mandiri. Jadi, bisakah Anda memberi tahu Saya yang sebenarnya? Alasan sebenarnya mengapa Presdir Angkara mempekerjakan Saya? Pakan Ken, Saya cukup tersinggung jika Saya dipekerjakan hanya untuk menjadi perisai Angkara Elvira dan menyingkirkan lalat pengganggu di sekitarnya."


Ini adalah masalah yang mengganggunya sejak kemarin. Seandainya Angkara Adam benar-benar menginginkan seorang tutor, dia akan menggunakan tutor profesional daripada teman belajar yang sesungguhnya sudah ada di sisinya. Kesepian? Angkara Elvira terlihat sangat membenci orang lain ada di sekitarnya, dan jika dia butuh orang untuk bicara, sudah ada Tinia Atmaja. Kehadiran Ardian Prasetya di sini hanya gangguan bagi mereka.


Karena hasil studinya buruk? Itu malah semakin aneh menurut Ardian Prasetya. Untuk seseorang dengan latar belakang keluarga seperti itu, nilai di sekolah seharusnya tidak penting. Terlepas dari apa hasilnya, bahkan jika dia gagal, Angkara Adam seharusnya masih bisa membawanya ke salah satu universitas terbaik melalui koneksi pribadi.


"Jadi, Tuan Muda juga menyadarinya?" Arnold Ken sedikit terkejut, dia tidak berharap Ardian Prasetya menyadari masalah ini begitu cepat. Dia tidak terlihat seperti seorang profesional, tetapi bisa menilai situasi secepat ini. "Aku rasa, aku sudah meremehkannya," batin Arnold Ken.


"Jadi, apa yang Paman Ken tahu?" Ardian Prasetya bertanya.


"Dalam masalah ini. Sebenarnya, Saya tidak yakin apa rencana Presdir Angkara." Arnold Ken mengeluh. "Meskipun Saya sangat dekat dengan Presdir Angkara, Saya masih belum begitu mengerti apa maksud sebenarnya dari setiap tindakannya."


Ardian Prasetya memutar matanya saat mendengar jawaban Arnold Ken yang tidak berguna sama sekali.


"Namun, Presdir Ken memintaku menyampaikan pesan padamu. Dia memintamu untuk menjaga Nona Muda dan tidak perlu terlalu memikirkan tentang pekerjaan." Arnold Ken dengan hati-hati mengulangi pesan Angkara Adam kepada Ardian Prasetya. "Cobalah untuk memberinya cin- Kasih sayang! Anak itu tumbuh tanpa mendapatkan banyak kasih sayang dari orang tuanya."

__ADS_1


Ardian Prasetya terdiam. Dia hanyut dalam pikirannya, "Apa yang keluarga ini coba lakukan kepadaku? Angkara Elvira kurang cinta? Lalu, mereka ingin aku memberinya cinta? Lelucon Kakek Prasetya bahkan lebih baik dari ini. Kemarin, sebelum bertemu Angkara Elvira, aku pikir cara Angkara Adam untuk mencari menantu agak aneh. Namun, aku mengabaikannya dan berpikir bahwa itu mungkin bukan hal yang buruk jika menjadi menantu dari saudagar kaya. Setelah bertemu dengan Angkara Elvira yang muda dan cantik, aku bahkan berpikir bahwa ini sangat menguntungkan bagiku, tetpi apakah Angkara Elvira akan jatuh cinta padaku? Belum dua puluh empat jam saja kami bersama, dia lebih cenderung menjadi membenci daripada cinta padaku."


__ADS_2