
"Bos, apa yang dikatakan Saudara Chandra?" Mat Codet bertanya, panik juga saat Perampok Botak meletakkan telepon.
"Saudara Chandra meninggalkan kita. Semuanya sudah selesai!" Perampok Botak menjawab sembari menghantam ponselnya ke dinding hingga hancur. "Apa? Saudara Chandra meninggalkan kita!?" Mat Codet menatapnya dengan dingin. "Apa maksudmu, Saudara Chandra meninggalkan kita?"
"Ya, karena kita kehilangan gadis Angkara Elvira itu! Bodoh!" Perampok Botak menghela napas berat saat dia menjatuhkan bokongnya ke tanah. Semuanya kacau sekarang. "Kau-kau!? Sucah cukup, ini adalag salahmu, dasar botak! Dia tidak akan kabur jika kau tidak disandera oleh anak lain itu!" Mat Codet mengutuk, menarik kerah Perampok Botak dan memukulnya.
"Apa-apaan kamu? Dasar pengkhianat!" Perampok Botak menatap marah saat Mat Codet meninjunya. "Masih bertingkah seperti pria tangguh sampai sekarang, ya? Mau merasakan mati di tangan anak buahmu sendiri?" Mat Codet menyeringai dingin.
"Dasar brengsek, kamu pikir kita akan berada dalam kekacauan ini jika kamu tidak membiarkan anak itu mengambil senjatamu?! Jangan berpura-pura tidak bersalah!" Dengan itu, Perampok Botak melepaskan pukulan sebagai pembalasan, dan keduanya mulai bertarung satu sama lain. Tidak lama, dua tembakan terdengar, baik Perampok Botak maupun Mat Codet tewas dalam genangan darah.
Pistol jatuh ke tanah dari tangan gemetar seorang pria bernama Jaya Nugraha, orang kedua yang memimpin kelompok itu. "Saudara Jaya, kamu baru saja..." Kedua orang yang tersisa menatap Jaya Nugraha, mereka sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
"Keduanya sama saja!" Jaya Nugraha berteriak, dia menjelaskan, "Lihatlah kekacauan yang kita hadapi saat ini dan mereka bukannya memikirkan solusinya, malah berkelahi di antara mereka sendiri. Jadi bagaimana jika Saudara Chandra meninggalkan kita, kita punya tangan dan kaki, bukan? Lebih penting lagi, kita punya uang! Jika kita melewati semua ini hidup-hidup kita akan menjalani kehidupan yang sangat nyaman!"
__ADS_1
Kedua antek itu memikirkannya dan berpikir bahwa yang dilakukan oleh Jaya Nugraha sudah benar. Pertarungan Perampok Botak dan Mat Codet adalah hal terakhir yang seharusnya terjadi saat ini. Tidak ada waktu untuk berkelahi di antara mereka sendiri, bahkan mungkin akan membawa polisi langsung ke mereka jika mereka tidak hati-hati. Bekerja sama sebagai saudara, tanpa diragukan lagi, adalah satu-satunya jalan keluar.
Memikirkan itu, mereka mengangguk. Perampok Botak sudah mati, dan itu menjadikan Jaya Nugraha bos baru, bos tempat mereka menaruh harapan baru. "Uang ini cukup untuk mengatur hidup baru untuj kita bertiga!" kata Jaya Nugraha sambil membuka tasnya, memperlihatkan tumpukan uang di dalamnya. "Kita akan mendapat hampir seratus ribu dollar masing-masing jika kita membagi ini!" Mendengar jumlah uang, kedua antek itu bernyanyi serempak, menjanjikan kesetiaan mereka.
Jaya Nugraha mengangguk, sangat senang dengan nyanyian itu, dia menyeringai saat dia melirik dengan acuh tak acuh ke mayat Perampok Botak dan Mat Codet yang tergeletak di sampingnya.
***
Ardian Prasetya, di sisi lain, sudah lama bangun. Dia bahkan sudah menyiapkan tiga mangkuk mie, dan sudah memasukkannya ke dalam panci berisi air panas saat dia mendengar aktifitas duabgadis itu di lantai atas. Dia membuat mie yang sama seperti kemarin. Masih ada sisa ayam rebus dari kemarin. Jadi, Ardian Prasetya akan menambahkannya, dia tidak melihat alasan untuk menyia-nyiakan makanan.
Mie baru saja selesai ketika gadis-gadis itu turun. "Wah, baunya sangat enak!" Hidung Tinia Atmaja memanjang saat dia mencium aroma mie buatan Ardian Prasetya. Dia berjalan ke dapur dengan bersemangat, menoleh ke belakang untuk memanggil Angkara Elvira juga. "Elviea, Ardian Prasetya membuatkan kita mie lagi pagi ini!"
Angkara Elvira berencana untuk pergi dengan Tinia Atmaja, tetapi kata-katanya menghentikannya. Itu adalah masakan Ardian Prasetya, haruskah dia memakannya juga? Makanan itu adalah sebuah mie dan di masak oleh orang yang ia benci. Jika mengikuti sedikit harga dirinya Angkara Elvira harus segera berbalik ke arah lain, seolah-olah dia tidak mencium bau apapun sebelumnya, tetapi mienya terlalu menggodam
__ADS_1
Suara menyeruput bisa segera terdengar saat Tinia Atmaja masuk ke ruang makan. Hidung Angkara Elvira menjadi gatal karena tidak senang, gadis itu tidak pernah sekeras itu saat makan sebelumnya. Jelas sekali kalau Tinia Atmaja saat ini sedang menggodanya!
"Hebat, mie kali ini lebih baik dari sebelumnya!" Tinia Atmaja berkomentar saat mulutnya masih penuh dengan mie. Angkara Elvira tidak bisa untuk tidak meneguk ludah ketika masuk ke ruang makan, dia bertanya-tanya, apa Tinia Atmaja jujur bahwa mie kali ini lebih enak dari sebelumnya atau itu hanya karena dia ingin menggodanya saja. Ardian Prasetya, di sisi lain, tersenyum, dia amat menikmati setiap keraguan Angkara Elvira, tingkah gadis itu cukup menarik meskipun cukup menyebalkan.
"Nona Muda, silahkan duduk, sarapan Anda udah siap!" Ardian Prasetya tersenyum, berharap bisa mendorongnya untuk melawan harga diri. "Ya, terimakasih..." Suara lembut Angkara Elvira mengejutkan Tinia Atmaja dan Ardian Prasetya, mereka bertanya-tanya, apakah ini masih Angkara Elvira yang sama dengan yang mereka kenal?
Angkara Elvira duduk dan mengambil sumpit. Dia merasa ingin menangis sedikit saat dia menatap mie yang tampak lezat yang baru saja disiapkan untuknya. Apakah selama ini dia salah telah memperlakukan Ardian Prasetya seperti sampah? Sejujurnya, dia pria yang cukup baik, kuat, dan melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati. Dia benar-benar cerminan Tameng Manusia terbaik. Lagipula, pria ini pilihan ayahnya, Presdir Angkara. Mana mungkin beliau memilih sembarang orang untuk putri yang paling dia sayangi.
Jam menunjukkan pukul tujuh, dan Paman Ken tiba tepat waktu, mobilnya diparkir tepat di luar vila. Angkara Elvira, Tinia Atmaja, dan Ardian Prasetya berjalan ke mobil dengan Angkara Elvira yang secara mengejutkan diam saja, tidak mengeluh tentang Ardian Prasetya sama sekali seperti hari sebelumnya. Dia tampaknya telah menerima Ardian Prasetya, tidak ada lagi permusuhan.
"Nak Ardian, Dokter Anda mengatakan bahwa Anda harus melakukan kunjungan rutin ke rumah sakit hari ini," kata Paman Ken. "Aku akan mengantarkan Nona Muda ke sekolah sebelum membawamu ke rumah sakit, aku akan mengantarmu ke sekolah nanti."
"Baiklah kalau begitu." Ardian Prasetya setuju setelah beberapa pemikiran. Luka di kakinya sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi dia tetap menurutinya, dia tidak ingin orang melihatnya sebagai semacam monster. Dia belum masuk dalam tahapan itu, dan mungkin, tidak akan pernah. Dia tidak pernah melihat celah sama sekali dari tembok batas seorang manusia.
__ADS_1