
"Untuk alasan apa kalian menculiknya?" Ardian Prasetya menyipitkan matanya penasaran. Uang tampaknya tidak menjadi masalah di sini, karena orang-orang ini mungkin mendapatkan setidaknya satu juta dollar perorang dari pencurian tadi. Apakah mereka tidak puas, atau mereka mengharapkan kekayaan yang lebih besar dari Angkara Adam? Namun, melakukan ini hanya akan menempatkan mereka pada posisi yang sangat beresiko, seandainya itu memang rencananya. Anggota kelompok Pengadilan tidak akan sebodoh ini.
"Mengapa kami menculiknya? Pertanyaan bodoh!" Perampok Botak tersenyum sambil menunjuk kantong uang di dekatnya. "Memangnya apa lagi, tentu saja untuk uang!" Tidak ada yang paling kuat di dunia ini selain uang. "Kamu menculiknya untuk itu?" Ardian Prasetya mengerutkan kening. "Jadi, kalian menculik Angkara Elvira. Lalu, menggunakannya untuk mendapatkan tebusan dari Presdir Angkara?"
"Benar. Jadi, diamlah." Perampok Botak tidak suka bagaimana Ardian Prasetya meludahi pertanyaan padanya. "Tidak bisakah aku setidaknya mati dengan mengetahui apa yang terjadi?" Keingintahuan Ardian Prasetya didukung oleh wajah polos cenderung bodoh di wajahnya yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun. Perampok Botak menatap Ardian Prasetya dan secara ajaib tersihir oleh wajah dongo itu. Mungkin dia bisa membiarkan anak ini tahu apa yang mereka lakukan, toh dia sama saja dengan sudah mati, begitulah pikirnya. "Dengar pahlawan kesiangan, kami ini hanyalah pasukan yang dibayar untuk menculik Nona ini di tempat ini. Semuanya sudah di atur dengan baik. Jadi, berputus asalah, kodok-kodok itu tidak akan bisa menyelamatkan kalian."
"Begitu? Lalu, karena kamu sudah berhasil menculiknya, apa selanjutnya yang akan kamu lakukan dengannya?" Ardian Prasetya kembali bertanya, ini membuat Perampok Botak muak melihat wajahnya yang benar-benar bodoh. Jadi, dia memalingkan wajahnya. "Tidak ada, kami hanya perlu menunggu panggilan telepon dari pembayar," jawab Perampok Botak.
"Kamu terus saja mengatakan kalau kamu dibayar. Jadi, siapa sebenarnya yang membayarmu ini?" Ardian Prasetya terus bertanya dan perampok botak menjawabnya dengan ringan, "Entahlah, Saudara Chandra mengenalkannya pada kami." Wajah bodohnya sudah sampai ke titik bisa melakukan hipnotis.
"Saudara Chandra? Siapa lagi orang itu?"
__ADS_1
"Dasar setan! Tutup mulut busukmu itu! Astaga, aku akan benar-benar membunuhmu jika kamu bertanya sekali lagi!" Perampok Botak sudah muak dengan serangan pertanyaan Ardian Prasetya. Dia mengepalkan tinjunya, memalingkan wajahnya, dan bersiap untuk memukul pingsan Ardian Prasetya. Namun, belum sempurna ia berbalik, ujung pistol telah tertodong di pelipis wajahnya. Membuat tubuhnya berhenti bergerak secara alami.
Mata Perampok Botak terbuka lebar. Dia sama sekali tidak mengerti, padahal anak bodoh itu tadinya diikat, dan juga, darimana datangnya senjata di tangannya. Perampok botak merasa dingin, seperti ada sebilah pisau yang menancap di dadanya. "Apa ini... asli? Ah, tidak mungkin. Bagaimana bisa anak SMA memiliki satu. Ini pasti pistol mainan, kan? Aku benar, kan?" Perampok Botak meragu.
Perampok lain di dalam Van hitam juga tercengang. Mengapa tiba-tiba anak itu yang menodongkan pistol ke kepala bos mereka? Situasi macam apa ini "Sial, apa-apaan ini? Bocah, bagaimana kamu bisa membebaskan dirimu?" Perampok Botak tidak mengerti. Dia sendiri sudah memastikan ikatannya kuat dan sempurna.
"Botak, kamu yang bilang sendiri, kan? Aku ini Pahlawan. Tali temali tidak akan mampu menghentikan langkah keadilan. Ini adalah kekuatan pahlawan, jangan melawannya." Ardian Prasetya menjelaskan dengan geli. Jika waktu bisa terulang, dia ingin menarik kembali kata-kata bodohnya.
Mat Codet menepuk sakunya dan mendapati senjatanya benar-benar hilang dan kini berada di tangan Ardian Prasetya. Perampok Botak benar-benar diam pada saat ini, "Jadi, ini beneran, terus nasibku bagaimana? Dasar anak buah tidak berguna, bagaimana bisa dia membiarkan senjatanya direbut! Kenapa mengarahkan pistolnya ke kepalaku, sih? Harusnya arahkan ke mereka dulu, bukannya bos selalu diurus terakhir? Sangat tidak adil!" Perampok Botak mengutuk Ardian Prasetya dan Mat Codet di dalam hatinya.
"Terus apa? Hah? Me-memangnya kenapa kalau kamu punya senjata asli sekarang? Apa kamu benar-benar bisa menembakkannya? Lebih baik kamu melepaskannya dan jadilah penurut, kamu bisa melukai dirimu sendiri jika salah melakukannya." Perampok Botak menyeringai dan mengirim isyarat mata pada rekan-rekannya. Saat bocah SMA ini bimbang, rebut senjata itu darinya!
__ADS_1
Ardian Prasetya menganggukkan kepala, itu benar, kamu mungkin bisa menusukkan pisau ke udara atau menembakkan peluru ke papan target, tetapi mengarahkannya ke seseorang yang hidup itu jauh berbeda. Nyawa seseorang bisa melayang hanya dengan satu tusukan atau satu tarikan pelatuk. Seseorang yang tidak pernah melihat kematian dengan kedua matanya sendiri tidak akan mampu melakukannya.
"Jangan berusaha terlalu keras." Ardian Prasetya berkata dengan santai, menarik pelatuknya dan menembak paha Perampok Botak. Seketika, Perampok Botak menggigit bibir bawahnya dan meringis di dalam hati, "Bocah ini sangat sinting, dia menarik pelatuk tanpa ragu. Daripada itu, apa-apaan sorot mata itu!? Dia baru saja menembak orang, tetapi hatinya tidak goyah. Seolah-olah dia sudah terbiasa melakukannya. Ini tidak masuk akal! Bagaimana bisa anak SMA dari Selatan memiliki mata seperti itu?!"
Ardian Prasetya mengetukkan pistol ke kepala Perampok Botak yang berkeringat. "Kamu paham bahasa manusia, kan? Botak, bertahu mereka apa yang harus mereka lakukan." Perampok Botak merasa tidak berdaya dengan ancaman ini, bocah sinting ini benar-benar menembaknya. Dia berseru dengan panik, "Jangan ada yang bergerak!"
"Bagus sekali." Ardian Prasetya mengangguk dan senang. "Sekarang katakan, siapa itu Saudara Chandra?" Dia bertanya.
"Dia bisa dikatakan seorang bos, tetapi aku tidak tahu banyak lagi selain panggilannya." Perampok Botak tidak peduli dengan harga dirinya, dia lari dari Utara untuk bertahan hidup, sekarang bukan waktunya untuk bersikap tangguh. Bagaimanapun, nyawanya sekali lagi dipertaruhkan. Dia menerima pekerjaan itu untuk kehidupan yang nyaman, tidak ada gunanya jika nyawanya dipertaruhkan.
Ardian Prasetya mengerutkan kening mendengar jawaban Perampok Botak. Pria itu hanya mendengus, dia tidak akan tahu sesuatu yang signifikan. Mereka kabur ke Selatan dan menjadi tentara bayaran untuk bertahan hidup, ini kurang lebih sama seperti dirinya yang ke Utara untuk melakukan misi, ditanya dengan siksaan pun, tidak ada gunanya, mereka benar-benar tidak tahu siapa dan kenapa. "Sudahlah. Hentikan saja mobilnya." Ardian Prasetya memerintahkan.
__ADS_1