Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 47 : Sandera


__ADS_3

Angkara Elvira hendak melontarkan beberapa hinaan pada Ardian Prasetya secara refleks, tetapi dia berhasil menghentikan dirinya sendiri setelah melihat tatapan mata penuh tekad Ardian Prasetya.


Sekelompok perampok baru saja akan meninggalkan Bank dengan karung uang mereka ketika sirene polisi mulai meraung di luar. Orang-orang di Bank yang mulai bernapas lega karena kelompok perampok bersenjata itu hendak pergi, kembali memasang wajah suram. Kehadiran polisi memang baik, tetapi suatu kebodohan jika muncul sekarang. Polisi sudah mengepung, dan para perampok tidak punya tempat untuk lari. Satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan untuk melarikan diri adalah melakukan sesuatu kepada para korban.


Tidak ada yang mau disandera. Kebanyakan orang egois, tidak peduli berapa banyak uang yang hilang dari Bank, yang penting adalah keselamatan diri mereka sendiri. "Kalian telah dikepung! Segera letakkan senjata kalian! Menyerah adalah satu-satunya pilihan!" Suara keras megafon terdengar dari luar gedung.


Perampok botak mendengus saat mendengar suara megafon ini. Dia menoleh ke salah satu anak buahnya. "Katakan pada para idiot itu untuk tidak melakukan hal bodoh, kalau tidak, aku akan mulai menyembelih babi-babi ini!"


Antek itu mengangguk, berlari ke pintu sebelum meneriaki polisi di luar. "Diam! Terus menggonggong dan bos kami akan mulai membunuh sandera!"


Polisi langsung terdiam, mereka ingin memulihkan kerugian bank jika memungkinkan, tetapi ada korban di dalam bank yang harus dipertimbangkan juga.


Chen Sisi, wakil kapten tim detasemen khusus, telah mengambil alih atas perintah direktur departemen kepolisian. Tang San, kapten tim yang tidak hadir, saat ini sedang menghadiri pertemuan di luar negeri, memaksa direktur untuk menghubungi Chen Sisi secara langsung, menyiratkan kepadanya bahwa Putri Angkara Adam ada di Bank bersama dengan putri Penatua Atmaja juga. Tugas itu sangat memberi tekanan yang besar bagi Chen Sisi, kegagalan tidak akan pernah dimaafkan.

__ADS_1


Bahkan pejabat yang mengawasi direktur akan mendapat masalah jika sesuatu terjadi pada Tinia Atmaja, sehingga seluruh susunan organisasi akan terguncang. Karena ketakutannya, Chen Sisi tidak bisa berpikir jernih dari awal. Dia yang ketakutan kemudian memerintahkan petugas yang menangani megafon untuk mundur setelah mendengar ancaman perampok itu, dia tidak punya cukup keberanian untuk membuat orang-orang gila itu marah.


Perampok Botak sangat senang dengan kerja sama dan keheningan itu. Dia kemudian berjalan ke sekitar ruangan, dengan senjata di tangan, dan banyak pelanggan mengerti, sebagian dari mereka akan menjadi sandera dan sebagain lainnya akan mati.


Hampir semua korban kemudian menundukkan kepala sedikit lebih jauh, takut akan apa yang akan terjadi setelah ini. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada mereka setelah terpilih sebagai sandera. Perampok Botak mengambil beberapa waktu sambil menatap semua orang sambil tersenyum. Tatapannya kemudian tertuju pada Angkara Elvira, yang sedang berjongkok tepat di samping Ardian Prasetya.


"Kamu berdiri!" Perampok Botak sudah berada di depan Angkara Elvira, pistolnya diarahkan ke kepalanya. Jantung Angkara Elvira seperti berhenti, sekarang giliran dia untuk menggenggam erat tangan Tinia Atmaja. Dia mengangkat kepalanya ke si arah Perampok Botak perlahan dan setiap gerakkan yang ia lakukan terasa sakit seolah rohnya ikut tertarik.


"Oho? Yang satu ini sangat cantik, cukup bagus." Perampok Botak menyeringai penuh saat dia mengarahkan senjatanya ke kepala Angkara Elvira lagi. "Bangun, kamu!" Dia memaksa. Angkara Elvira sama sekali tidak siap untuk menghadapi situasi seperti ini, dia tergagap dan jantungnya berdebar kencang. Dia tidak tahu bagaimana harus melewati situasi ekstrem ini, tetapi dia mencoba untuk memaksa batas dirinya agar tetap kuat bagaimanapun juga.


"Aku akan menjadi sanderamu, jangan memilih gadis ini." Ardian Prasetya berdiri, dengan tenang bernegosiasi.


Angkara Elvira tidak bisa mempercayai apa yang telinganya tangkap. Dia heran, bagaimana bisa Ardian Prasetya membelanya dalam situasi seperti ini? Apa dia tidak takut mati? Tentu, dia memang dibayar, Angkara Elvira mengerti itu, tetapi apa gunanya uang jika bayarannya adalah nyawa? Dia percaya bahwa tidak ada satu orang pun yang tidak peduli dengan hidup mereka sendiri kecuali seorang ibu demi anaknya.

__ADS_1


Egois bukan sebuah dosa melainkan sifat alami manusia. Dengan demikian, Angkara Elvira mengakui bahwa Ardian Prasetya tidak bertindak atas dasar uang ayahnya, bahwa ada lebih dari itu. Pada saat itu, Angkara Elvira tidak menganggap Ardian Prasetya sebagai kehadiran yang menjengkelkan lagi. Paling tidak, pria itu adalah pria sejati dan penjaga yang setia. Angkara Elvira tahu dengan kepastian yang jelas bahwa Roland Pratama atau orang yang semacamnya tidak akan pernah bisa melakukan seperti yang dilakukan Ardian Prasetya, pria itu mungkin akan lebih ketakutan daripada dia.


"Apa-apaan, kamu Angkara Elvira. Mengapa kamu malah membandingkan Roland Pratama dengan Ardian Prasetya? Dasar bodoh!" Angkara Elvira menyingkirkan pikiran itu dalam-dalam. Ini bukan waktunya untuk memikirkan topik yang tidak berguna seperti itu.


"Apa? Dasar orang bodoh!" Tawaran Ardian Prasetya mengejutkan Perampok Botak. Semua orang menundukkan kepala, takut mereka yang akan dipilih sebagai sandera, tetapi orang ini malah melompat keluar dan menjadi sukarelawan.


"Siapa kamu? Kenapa wajahmu terlihat sangat bodoh? Duduk! Aku tidak memilihmu, bocah!" Perampok Botak mengerutkan kening saat dia menatap Ardian Prasetya dengan niat membunuh. "Singkirkan raut wajah bodohmu itu jika kamu tidak ingin mati!" Dia mengancam dengan pistolnya.


"Kamu hanya butuh sandera, bukan? Bukankah itu sama saja, bahkan jika aku sanderanya?"Ardian Prasetya mengangkat bahu. "Aku akan kooperatif. Jadi, kamu tidak perlu khawatir."


"Diamlah! Aku tidak pernah mengijinkanmu untuk bicara!" Perampok botak mengamuk pada saat itu. Harga dirinya terluka dengan penentangan Ardian Prasetya, dia murka, mengangkat senjatanya kemudian menembaknya.


Meskipun itu ditembakkan dari jarak dekat, Ardian Prasetya sudah memperkirakannya dan dia punya cukup refleks untuk menghindari serangan pada tingkat ini berkat pengalaman dan seni beladirinya. Yang diperlukan hanyalah sedikit putaran ke samping agar Ardian Prasetya menghindari serangan itu.

__ADS_1


Namun, Ardian Prasetya mengambil langkah lain saat dia menerka lintasan peluru. Ada seorang gadis tepat di belakangnya. Peluru itu pasti akan mengenainya dilihat dari sudut tembakkan senjata dan itu akan melukai gadis itu secara fatal jika Ardian Prasetya menghindar.


Sambil menggertakkan giginya, Ardian Prasetya menggunakan sisa waktu dan refleksnya untuk membalikkan tubuhnya sebelum peluru mencapai dirinya, dia berencana menabrakkan diirnya ke peluru itu sendiri. Peluru menembus ke paha Ardian Prasetya, membuat wajah Ardian Prasetya yang datar dan terlihat bodoh kini pucat dan masam. Rasa sakit pada tingkat ini tidak terlalu berat baginya, tetapi dia merasa terhina.


__ADS_2