
"Kamu menyukai Sintia Wang, bukan?" Ardian Prasetya menggodanya sambil tertawa. "Yah, itu benar. Tidak seperti aku menyembunyikannya atau malu. Maksudku, ini tidak seperti hanya aku yang menyukainya. Aku jamin banyak anak laki-laki lain di sekolah kami juga memperhatikan Sintia Wang. Hanya dia yang bisa digapai." Lee Rion tidak menyangkal itu dan menjawab dengan pasti. "Kamu akan mengerti sendiri ketika kamu melihat Sintia Wang."
Mengejar kisah cinta di sekolah, itu gagasan itu menarik, tetapi Ardian Prasetya menepisnya. Dia di sini karena misinya sebagai penjaga dan teman belajar yang ditugaskan untuk Nona Muda Angkara Elvira, dia tidak bisa begitu saja meninggalkannya dan mengejar seorang gadis.
Bahkan jika Angkara Adam tidak akan mengatakan apa-apa dan bersikap ramah dengannya. Ini tidak menutup fakta bahwa dia sudah lalai. Terlebih, Ardian Prasetya bahkan tidak yakin apa kesepakatan Angkara Adam dengan Kakek Prasetya. Dari gerak gerik aneh mereka berdua, sepertinya dia ingin menyatukan Ardian Prasetya dengan Angkara Elvira.
Dalam kasus ini, kesepakatan macam inilah yang paling memungkinkan. Ardian Prasetya tidak masalah sama sekali jika pada akhirnya dia menikah dengan Angkara Elvira, bagus baginya memiliki mertua yang kaya raya. Sayangnya, hubungan ini terlalu memaksa, Ardian Prasetya sama sekali tidak bisa berhubungan baik dengan Angkara Elvira. Misi ini sudah pasti gagal, tetapi dia akan tetap bermain, upah perbulannya terlalu bagus untuk pekerjaan yang aman dan damai.
***
Kantin Sekolah sangat besar dan dibagi menjadi tiga lantai. Kantin utama untuk para murid ada di lantai bawah, di tengah ada restoran dengan ruang pribadi, sedangkan di paling atas ada kantin khusus staf dan guru.
Kantin utama dikelilingi oleh berbagai kedai makanan. Jadi, meja serta kursinya berkumpul di tengah gedung. Di sanalah sebagian besar siswa pergi untuk makan siang.
__ADS_1
Di sisi lain, lantai tengah adalah tempat siswa yang lebih kaya berkumpul, meskipun masih ada beberapa siswa dengan latar belakang keluarga yang lebih umum menyewa kamar pribadi sesekali, tetapi itu hanya untuk acara seperti pesta ulang tahun. Lantai kedua berisi restoran mewah, tidak perlu dikatakan lagi bahwa kualitas makanan yang disediakan di lantai dua lebih tinggi daripada kantin utama, bagaimanapun juga, makanan di sana disiapkan oleh koki profesional.
Kantin staf di lantai tiga disediakan hanya untuk para guru dan siswa tidak diizinkan naik ke sana. Makanannya tidak terlalu berbeda dengan makanan di lantai pertama, tetapi lingkungannya lebih berkelas. Lee Rion menunjuk ke sebuah kantor di sebelah kanan mereka saat mereka memasuki kantin. "Kamu bisa mendapatkan kartumu di sana."
"Ah? Kalau begitu, aku akan mendapatkannya sekarang." Ardian Prasetya berkata sambil memberi anggukan. Kepala Sekolah Tang tidak memberi tahu Ardian Prasetya hal semacam kartu ini. Jadi, Ardian Prasetya berasumsi bahwa hal ini sama seperti kartu perpustakaan.
"Tunggu." Lee Rion menghentikan Ardian Prasetya bahkan sebelum dia mulai berjalan. "Kali ini biarkan aku mentraktirmu, anggap saja ini sambutan selamat datangku padamu, hahaha!" Dia mengeluarkan kartunya dan tersenyum lebar. Itu senyum yang tulus, Ardian Prasetya merasa ikut senang melihatnya. "Benarkah? Kalau begitu, aku akan pergi ke kantor setelah kita selesai makan." Dia setuju.
"Bagus. Aku akan menemanimu ke sana nanti!" kata Lee Rion sambil membawa Ardian Prasetya berkeliling kantin. Ada cukup banyak variasi makanan di sana, bahkan ada pilihan khusus untuk vegetarian.
Ardian Prasetya dan Lee Rion menemukan tempat duduk dan meletakkan piring di tengah meja, membaginya di antara mereka sendiri. Ardian Prasetya memutar pandangannya ke seluruh kantin saat dia duduk, tetapi dia gagal menemukan Tinia Atmaja atau Angkara Elvira. Mereka kemungkinan besar sedang duduk di restoran mewah di lantai dua.
"Apa yang kamu cari-cari? Para Permata itu? Hahaha." Lee Rion menertawakannya. "Tinia Atmaja dan Angkara Elvira selalu makan bersama di lantai kedua, tidak mungkin siswi elite seperti mereka makan bersama kita di sini. Yah, kita masih bisa bertemu Sintia Wang, jika kita beruntung."
__ADS_1
"Jadi, begitu." Ardian Prasetya tidak terlalu peduli tentang Sintia Wang, Angkara Elvira adalah prioritasnya di sini.
"Keluarga Sintia Wang cukup normal. Jadi, dia selalu membawa bekal makan siang ke sekolah." Lee Rion menghela napas. "Padahal dengan penampilannya itu, dia bisa saja meminta siswa laki-laki untuk mentraktirnya makan. Aku yakin tidak ada yang bermasalah tentang pengaturan ini. Kalau aku, dengan senang hati melakukannya, hahaha."
"Yah, gadis yang baik tidak peduli tentang hal-hal seperti itu." Ardian Prasetya berkomentar dengan datar. "Yap, itu dia, kamu benar. Seperti itulah Sintia Wang. Gadis yang tidak mata duitan sepertinya benar-benar langka sekarang. Dia murah hati dan tidak suka menyombongkan diri." Lee Rion berkata dengan bangga untuk sesaat, tetapi dia menjadi sedih ketila melanjutkan, "Sayang sekali, kebajikan itu hanya membuatnya lebih terkenal. Gadis-gadis yang tidak mengejar kekayaanmu adalah favorit para laki-laki kelas menengah ke bawah. Sainganku menjadi terlalu banyak sampai-sampai aku selalu merasa inferior."
Lee Rion terus membahas tentang gadis itu, tetapi Sintia Wang, sayangnya, tidak pernah muncul di kantin. Ardian Prasetya tidak terlalu memikirkannya, tetapi Lee Rion merasa agak sedih. Ada banyak orang seperti dia yang datang ke kantin setiap istirahat makan siang berharap bisa melihatnya sekilas, sampai-sampai itu telah menjadi sesuatu yang mereka nantikan.
Angkara Elvira dan Tinia Atmaja menuruni tangga dari lantai dua, pada saat itu, sebagian besar anak laki-laki menoleh untuk melihat mereka. Namun, bagi mereka semua, keduanya bagaikan Dewi Langit yang tak mampu mereka jangkau.
"Hey, Ardian. Kamu tadi melamun karena menatap mereka berdua, kan?" tanya Lee Rion setelah kedua gadis itu pergi. "Haish, aku hanya melihat-lihat." Ardian Prasetya menjawab dan menjadi sedikit malu dengan pertanyaan itu.
Lee Rion hanya menghela napas. "Yah, kamu akan mengerti beberapa hari kemudian, para Permata itu tidak ditakdirkan untuk kita." Lee Rion menatap Ardian Prasetya dengan kasihan, tapi bukannya dia tidak mengerti. Dia sendiri tidak berbeda ketika dia baru saja masuk sekolah, dia jatuh pada pandangan pertama kepada Tinia Atmaja dan Angkara Elvira juga. Tahun-tahun membuatnya dewasa dan dia menyadari kenyataan pahit dari perbedaan kasta di antara mereka.
__ADS_1
Setiap orang dilahirkan sama, omong kosong yang indah. Hanya butuh sedikit kedewasaan bagi seseorang untuk memahami ketidakmungkinan keindahan itu. Sejak dahulu kala, tidak ada orang dilahirkan sama, juga tidak akan pernah sama. Itulah hidup.