Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 53 : Chen Sisi


__ADS_3

"Tertembak, aku sudah menghentikan pendarahannya, ini bukan masalah besar," jelas Ardian Prasetya sambil tertatih-tatih saat dia mencoba berjalan ke arah mobil. Arnold Ken sangat terkesan, bagaimana bisa dia mengatakan bahwa ini bukan masalah besar? Ada peluru yang sedang bersarang di pahanya, tetapi raut wajahnya tetap sama, masih terlihat datar dan kosong, dia terlihat bodoh.


"Ardian Prasetya, bukan? Silakan ikut kami ke kantor polisi untuk membuat laporan." Chen Sisi berkata secara resmi saat dia berjalan ke Ardian Prasetya.


Ardian Prasetya hanya mengerutkan kening. Dia merasa sangat kesal, alih-alih membantu, polisi wanita ini malah menyuruh-nyuruhnya dengan wajah tanpa bersalah. "Ada apa dengan polisi ini, apa dia buta atau sedang terpengaruh obat-obatan terlarang? Tidak bisakah dia melihat semua darah di kakiku?"


Ardian Prasetya tidak berencana membalasnya dengan baik, itu sudah pasti. "Candaan Anda sangat tidak lucu, apa perlu Saya melepas ****** ***** di depan Anda?" Lihat, candaan siapa yang lebih tidak lucu.


"Hah!?" Chen Sisi tersipu dan sedikit gemetar karena menahan marah. Pria yang bukan siapa-siapa ini tidak menghormatinya di depan umum dan menyerangnya dengan kata-kata vulgar. Dia pasti sudah menampar wajahnya yang bodoh jika bukan karena Arnold Ken.


"Wakil kapten Chen, apa yang dikatakan Ardian Prasetya adalah bahwa dia terkena peluru di kakinya. Dia menawarkan untuk menunjukkan kepadamu bukti jika kamu meragukan kata-katanya." Arnold Ken menjelaskan untuk Ardian Prasetya setelah melihat wajah Chen Sisi yang memerah, gadis muda itu jelas sudah salah paham. Dia tidak bisa berpikir jernih karena apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


Chen Sisi akhirnya menyadari noda darah di celana Ardian Prasetya, dia merasa sangat malu karena ini. "Oh? Ah? Begitu... begitu, ya? Kaldu begitu, aku akan menunggu saat kamu selesai dari rumah sakit." Ini sangat memalukan, dia bahkan bisa mendengar suara anak buahnya menahan tawa di belakang. Chen Sisi tidak bisa memaafkan Ardian Prasetya karena sudah menjebaknya. Dia pria brengsek yang tidak punya sopan santun. Lihatlah betapa bodoh wajahnya itu, sangat jauh dari peradaban.


"Pikiran yang dingin adalah dasar bagi polisi yang kompeten mana pun, kamu seharusnya melakukan survey area tiap kali kamu memasuki tempat baru, dan jika kamu melakukannya, kamu seharusnya menemukan kakiku yang berlumuran darah!" Ardian Prasetya melihat papan nama di seragamnya kemudian melanjutkan, "Chen Sisi, seorang wakil kapten? Heh, kamu terlihat masih sangat muda dan naif, apakah kamu mendapatkan pangkat itu dengan uang atau koneksi keluarga atau sesuatu?"


Ardian Prasetya menjawab dengan wajah datar khasnya, memberikan dampak yang lebih besar bagi hati lawannya. Dia sendiri tidak senang, orang-orang berseragam ini punya nama yang akan di kenang dan kehormatan tinggi, padahal kemampuan dan kontribusi mereka sangat rendah jika dibandingkan dengan mereka yang bertaruh nyawa di medan perang. Mereka secara alami menjadi serakah, lupa diri, dan mulai membesarkan gentong perut.


"Kamu!" Chen Sisi tidak berpengalaman, itu benar, itu adalah kelemahan terbesarnya, dan sesuatu yang selalu mengganggunya. Namun, dia sama sekali tidak menyalahgunakan koneksi keluarganya. Dia sangat marah dengan ini, pria yang tidak tahu apa-apa tentangnya, berani mengatakan itu.


Dia adalah instruktur tempur operasi khusus, dengan pangkat mayor militer. Mentransfer ke posisi wakil kapten dalam tim polisi kriminal benar-benar dapat diterima jika memperhitungkannya. Dia juga memiliki kemampuan tempur tertinggi dalam tim, lebih kuat dari semua orang kecuali Kapten Tang San sendiri. Kata-kata Ardian Prasetya memukulnya dengan keras karena kebenaran di dalamnya, dia adalah petarung yang kuat, tetapi seorang pemimpin yang tidak dapat diandalkan. Kurangnya perhatian terhadap detail inilah yang menyebabkan kegagalannya dalam pekerjaannya.


Namun, kapten tidak ada kali ini, dan Chen Sisi harus mengambil alih kendali. Kemudian datanglah Ardian Prasetya ini, yang memiliki racun alih-alih kata-kata baik untuk dimuntahkan. Bagian yang membuat frustrasi adalah bagaimana kata-kata Ardian Prasetya terdengar benar, dan tidak ada kemungkinan jawaban balik dari sisi Chen Sisi. Yang bisa dia lakukan hanyalah mengertakkan gigi karena serangan fakta.

__ADS_1


Sementara itu, Ardian Prasetya sedang memeriksa lukanya. Itu sepenuhnya sesuatu yang bisa dia tangani sendiri, lagipula itu hanya peluru, tubuhnya sudah terbiasa menerima benda asing. Tidak ada waktu untuk pergi ke rumah sakit di dalam perang.


Ardian Prasetya tidak ingin melewati Chen Sisi ini yang juga mengincarnya. Gadis itu sudah berencana mengikutinya ke rumah sakit untuk diambil pernyataannya, dan Ardian Prasetya tidak ingin ada masalah lagi dengannya. Lagipula ini tidak seperti dia akan menyembunyikan apapun. Chen Sisi tidak akan meminta apa pun dari Nona Muda Angkara Elvira seperti yang dia lakukan dengan Ardian Prasetya. Dia bermaksud menyelesaikan laporan gadis itu tanpa membawanya ke kantor polisi sama sekali.


"Tinia bagaimana kabar kakakmu?" Chen Sisi dan Tinia Atmaja sama-sama mengenal satu sama lain, tetapi hubungan mereka tidak baik. Dia masih merasa bersalah atas apa yang terjadi pada saudara laki-laki Tinia Atmaja.


"Hmph! Dia bukan lagi urusanmu!" Tinia Atmaja mencibir, berbalik ke arah lain, dia tidak akan bersikap baik sama pada wanita ini. Chen Sisi hanya tersenyum pahit saat dia kembali ke Angkara Elvira. "Jadi, Nona Muda Angkara, mari kita lanjutkan."


Tinia Atmaja memastikan untuk ikut campur terus-menerus saat Angkara Elvira menceritakan kisah itu, berseru kaget beberapa kali saat dia mendengarkan. "Ardian Prasetya melakukan itu? Elvira, kamu serius? Lihat, bukankah aku sudah bilang padamu kalau ayahmu tidak akan mengecewakanmu, pilihannya tidak mungkin salah! Dia tameng yang terbaik untukmu, dia akan mengurus semua pengganggu!"


"Diamlah! Ambil saja untuk dirimu sendiri!" bentak Angkara Elvira, dia semakin kesal ketika dia mengingat wajah Ardian Prasetya saat menguliahinya tadi.

__ADS_1


Chen Sisi juga tertarik dengan ini. Jika dia adalah orang pilihannya Presdir Angkara, cerita yang klise ini pasti benar apa adanya, pria bernama Ardian Prasetya ini bukan hanya bisa bicara dia memiliki keterampilan nyata untuk menarik minat Presdir Angkara.


Dia tidak senang dengan apa yang dia putuskan untuk katakan tentang posisinya, tapi dia bukanlah seseorang yang mengabaikan fakta. Sejauh yang dia tahu dari narasi Angkara Elvira, lelaki itu memiliki kecerdasan dan keberanian, mempertahankan ketenangannya, dan mampu berpikir jernih untuk membalikkan keadaan bahkan dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.


__ADS_2