Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 76 : Halu


__ADS_3

Ardian Prasetya memalingkan muka untuk menghindari mata Tang San. "Kebetulan sekali!" Tang San tersenyum sambil mengangguk pada Chen Sisi. Dia kemudian memperhatikan siswa di sampingnya. "Jadi, apa ini murid yang mengalahkan Eksekutif Kim?"


"Ya, dia!" Chen Sisi menjawab dengan anggukan. Dia menoleh untuk melihat Ardian Prasetya, yang benar-benar diam dan patuh dengan kepala menunduk. Peegerakan tidak biasa Ardian Prasetya membuat harga diri Chen Sisi terluka sekali lagi. Pria itu arogan bermain-main saat dengannya, tetapi sekarang, dia menunduk di depan kapten Tang San. Pria itu jelas-jelas meremehkannya! "Hey, Ardian Prasetya, apa yang kamu lakukan? Angkat kepalamu!"


"Wakil Chen, ada apa denganmu, kamu tampak frustrasi. Dia hanya seorang siswa, kamu tidak bisa sekasar itu padanya." Tang San mengerutkan kening melihat perilaku Chen Sisi. Lagi pula, wajar baginya untuk berpikir bahwa Ardian Prasetya bukan orang jahat dari bagaimana dia memakai seragam sekolah yang lengkap sementara anak-anak lain selalu saja berusaha untuk membuat pakaian mereka berbeda. Dengan itu, dia melangkah maju dan menepuk pundak anak itu dengan lembut. "Ada apa, Kawan? Kamu bisa mempercayaiku, beri tahu saudaramu ini apa yang terjadi."


Ardian Prasetya terdiam, kepalanya masih tertunduk. Kawan? Siapa yang saudaranya? Tang San mengenalinya adalah hal terakhir yang diinginkan Ardian Prasetya terjadi. Dia menundukkan kepalanya lebih jauh sebagai tanggapan, tidak repot-repot untuk mengatakan apa pun. "Kapten Tang sedang berbicara denganmu!" Chen Sisi tidak tahan lagi melihat perbedaan sikap Ardian Prasetya. "Tidak aku... juga tidak tahu." Ardian Prasetya bergumam pelan.


"Tidak, apa?" Tang San mengerutkan kening mendengar jawabannya, tidak bisakah anak itu menunjukkan rasa hormat, ada apa dengan sikapnya? Dia telah merencanakan untuk menyelesaikan masalah tanpa surat atau prosedur resmi, agar tidak mencemari catatan anak itu. Anak itu, bagaimanapun, tidak terlalu kooperatif, atau sangat memahami kebaikannya sama sekali.


"Mereka mendatangiku untuk mencari masalah, jadi aku menghajar mereka untuk membela diri, itu saja." Ardian Prasetya mulai benar-benar kesal, ada apa pula dengan Tang San ini, tidak bisakah dia mengurus urusannya sendiri, seperti biasa?


Tang San terdiam cukup lama setelah jawaban itu, dan Ardian Prasetya merasakan tatapan berapi-api sang kapten menatap tepat ke arahnya dan itu sangat tidak nyaman.

__ADS_1


"Bisakah kamu mengangkat kepalamu?" Tang San merasa geli dengan apa yang dia tanyakan. Ada terlalu banyak orang yang mirip di dunia. Meski mirip, tidak mungkin anak ini adalah seseorang yang dia kenal, itu pasti hanya suara yang mirip, anak itu adalah seorang siswa yang kebetulan memiliki postur tubuh yang sempurna, sama seperti orang itu.


"Maaf, tetapi aku tidak memiliki wajah yang cantik dan aku bukan perempuan atau apa pun. Jadi..." Ardian Prasetya menghela napas, dia sangat tegang sehingga mengumpat beberapa kali di dalam hati. Dia gugup dan tidak pernah menduga akan ada situasi macam ini. Pria itu terkenal karena betapa perseptifnya dia.


Chen Sisi menjadi sangat bingung dengan pemandangan di hadapannya, bertanya-tanya mengapa Ardian Prasetya bertingkah seperti itu, dan mengapa sang kapten masih begitu baik tentang hal itu. Chen Sisi hendak mengangkat kepala Ardian Prasetya sendiri ketika Tang San mulai membungkuk untuk melihat wajah Ardian Prasetya.


Itu benar-benar dia! Tidak ada kesalahan tentang itu, itu benar-benar dia! Tang San sembilan puluh persen yakin tentang hal itu sekarang. Orang di hadapannya ini adalah seseorang yang dia cari selama ini! Dia tidak mengerti mengapa pria itu tiba-tiba menjadi seorang murid, tetapi matanya tidak mungkin keliru.


"Aviator?" Tang San mendesak dengan keras saat dia mencoba menahan kegembiraan yang meledak di dalam hatinya. "Ap-apa?" Ardian Prasetya mengutuk sekeras yang dia bisa di dalam, tetapi tetap mempertahankan wajah bingung.


Tang San tidak akan menyerah semudah itu. Dia sangat memahami kualitas pria di hadapannya, tidak mungkin pria yang dia puja akan mengekspos dirinya di bawah desakan sederhana seperti itu.


"Menyebalkan sekali. Aku bisa menganggapmu idiot." Ardian Prasetya menatap ke arah Chen Sisi. "Namun, ternyata kaptenmu sama saja, bahkan lebih parah." Wajahnya telah terlihat, dan tidak ada gunanya bersembunyi lagi. Ardian Prasetya mengangkat kepalanya. "Kalian pasti sedang stres karena semua pekerjaan yang kalian lakukan, kalian benar-benar perlu mendapatkan terapi, bersantailah sedikit atau semacamnya!"

__ADS_1


"Apa? Mengapa kamu berbohong?" Penghinaan Ardian Prasetya paling tidak menjadi perhatiannya, lengannya berkilat dalam kilasan amarah, mencengkeram bahu Ardian Prasetya dan mengguncangnya dengan keras. "Aku Biter! Biter! Apakah kamu tidak ingat aku?!"


Chen Sisi baru saja akan memarahi Ardian Prasetya ketika dia mendengar kapten menyebut dirinya 'Pengigigit'. Matanya terbuka lebar, berusaha mencerna apa yang sebenatnya sedang terjadi di sini. Dia kemudian menjadi kepikirkan bahwa ada kemungkinan stres itu benar-benar menimpa mereka, itu sebabnya kapten Tang sampai berbicara tentang omong kosong.


"Lihat, kan? Seperti yang aku katakan, Petugas Chen, kaptenmu sudah mengalami delusi, dia menyebut dirinya sebagai anjing." Ardian Prasetya menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya. "Dia bahkan memanggilku dengan nama yang aneh setelah melihat wajahku, cedera kepalanya pasti parah."


Chen Sisi berkedip, tidak bisa berkata-kata dan bingung pada adegan konyol itu. Kapten selalu merupakan sosok yang cerdas dan berwibawa, apa yang sebenarnya terjadi dengannya hari ini?


Sepuluh persen sisa dari ketidakpastian Tang San tersapu pada saat itu juga, inilah yang dia cari selama ini, sama sekali tidak ada keraguan tentang itu! Seorang rekan yang melalui neraka perang bersama, tidak salah lagi, siswa ini benar-benar Aviator. Seorang sahabat yang melalui masa-masa sulit bersama.


Nada bicara Ardian Prasetya yang tidak masuk akal dalam percakapan menegaskannya. Namun, sebuah pemikiran tiba-tiba terlintas di benak Tang San, mungkinkah rekannya ini sedang dalam operasi penyamaran dan dia tidak ingin identitasnya terungkap? Ini masuk akal! Lagipula, dia seharusnya tidak ada di sini.


"Wakil Chen, serahkan dia padaku. Aku akan menangani kasus ini secara pribadi," kata Tang San, meraih lengan Ardian Prasetya seolah-olah dia sudah tidak sabar untuk membawanya melarikan diri.

__ADS_1


"Eh? Oh? Ba-baikah?" Chen Sisi tidak tahu apa yang membuat Ardian Prasetya tertarik pada kapten, sehingga menyebabkan dia bertingkah aneh juga. Namun, perintah adalah perintah, dan dia mematuhi Tang San karena kebiasaan.


Tanpa penundaan lebih lanjut, Tang San menarik Ardian Prasetya saat dia berjalan cepat di dalam gedung. Ardian Prasetya hanya tersenyum pahit, tidak ada jalan keluar dari situasi ini.


__ADS_2