Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 62 : Serigala Cupu


__ADS_3

"Nona Muda, bisakah Anda menyebutkan masalah ini kepada Wali kelas Anda?" Paman Ken meminta dengan lembut.


"Em.. aku..." Angkara Elvira tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak benar-benar membenci Ardian Prasetya lagi, tapi tidak mungkin dia bisa membantu menjelaskan ketidakhadiran Ardian Prasetya. Semua orang akan tahu bahwa dia tinggal bersamanya jika dia melakukan itu.


Paman Ken hanya berasumsi bahwa ada hal-hal yang belum diselesaikan di antara keduanya, dilihat dari tanggapan Angkara Elvira. Dengan itu, dia malah beralih ke Tinia Atmaja. "Nona Tinia, bisakah Anda membantu Ardian Prasetya meminta cuti?"


"Aku baik-baik saja dengan itu, tapi Elvira tidak ingin ada yang tahu Ardian Prasetya tinggal bersama denganya." Tinia Atmaja berbicara dengan wajah polos, tapi tidak ada yang melewatkan penekanannya pada kata-kata, tinggal bersama. Itu menyebutkan bahwa dia juga tidak ingin mendapat masalah dari hal ini.


"Ah..." Paman Ken menepuk keningnya, akhirnya menangkap perhatian Angkara Elvira. Memang benar, Nona itu seorang perempuan muda, tinggal bersama laki-laki yang bukan bagian dari keluarganya itu bukan sesuatu yang bisa diumumkan kepada semua orang.


Angkara Elvira memelototi Tinia Atmaja. Memikirkannya adalah satu hal, tetapi memalukan untuk benar-benar mengatakannya dengan lantang. Tinia Atmaja menjulurkan lidahnya sebagai jawaban, tetapi tetap diam. Dia telah mengatakan apa yang perlu dikatakan, Paman Ken pasti tahu apa yang terbaik.


"Tidak ada masalah, Pimpinan Ken. Kebetulan Saya cukup dekat dengan Kepala Sekolah Tang. Jadi, Saya punya nomornya. Saya hanya perlu meminta beliau untuk menyebutkan cuti Saya kepada guru wali kelas, kan?" Ardian Prasetya berkata sambil tersenyum.


Angkara Elvira dan Tinia Atmaja hanya menatap Ardian Prasetya dengan bingung. Mereka tidak mengerti, bagaimana bisa Ardian Prasetya cukup dekat dengan kepala sekolah Tang. Bukankah kemarin adalah hari pertama Ardian Prasetya pergi ke sekolah itu, mereka bahkan masih belum lupa bagaimana wajah bodoh udiknya ketika pertama kali menginjakkan kaki di halaman depan. Meski begitu, jika memikirkannya dari sudut pandang lain, bagaimanapun, tidak ada alasan bagi Ardian Prasetya untuk berbohong, itu hanya akan lebih memalukan baginya jika dia akhirnya ketahuan.

__ADS_1


Paman Ken juga terkejut. Dia tidak bisa tidak bertanya-tanya, bagaimana Ardian Prasetya yang datang dari jauh bisa kenal dengan Kepala Sekolah Tang. Ardian Prasetya tidak melewatkan tatapan curiga dari kedua gadis itu. Namun, dia tidak ingin repot-repot menjelaskan, aksi jelas jauh lebih baik daripada dialog. "Pimpinan Ken, bisakah kamu meminjamkan ponselmu?"


"Ah, tentu saja!" kata Paman Ken, dia menyerahkan teleponnya kepada Ardian Prasetya. Ardian Prasetya mengeluarkan kartu yang diberikan Kepala Sekolah Tang kepadanya. Dia mengetik nomornya di telepon, dan Kepala Sekolah mengangkat beberapa dering kemudian.


"Halo, Kepala Sekolah Tang?"


"Ya, siapa ini?!" Tang Ryuji saat ini berada di tengah-tengah sesi pribadi dengan kekasihnya, dan dering telepon dari Ardian Prasetya mengejutkannya hingga burungnya menjadi trauma. Ketidaksenangan yang besar terlihat melalui nada suaranya.


"Saya murid pindahan, Ardian Prasetya! Kepala Sekolah Tang, panggilan Saya tidak mengganggu apapun, bukan?" Ardian Prasetya bertanya sambil terkekeh.


"Haha, baiklah, Saya hanya ingin meminta tolong. Itu pun, jika Kepala Sekolah Tang tidak menganggap ini hal yang merepotkan." Ardian Prasetya tertawa, dia awalnya hanya ingin bergurau dan mengingat Kepala Sekolah Tang bahwa dia memegang rahasianya, Ardian Prasetya sama sekali tidak menyangka bahwa orang tua ini benar-benar sedang melakukannya. Pria itu panik sendiri membeberkan semuanya.


"Apa itu? Aku akan mendengarkanmu." Tang Ryuji menghela napas pelan. Anak ini benar-benar nakal, baru satu hari, tetapi dia sudah meminta sesuatu darinya. Benar-benar nakal!


"Yah, ada sesuatu yang harus Saya lakukan pagi ini. Jadi, Saya mungkin akan sedikit terlambat masuk kelas. Bisakah Anda memberi tahu wali kelas bahwa Saya akan sampai di sana sekitar jam sepuluh?" pinta Ardian Prasetya.

__ADS_1


"Aku mengerti, aku mengerti. Tidak ada masalah." Kepala Sekolah menghela napas lega, senang betapa kecilnya permintaan itu. "Terima kasih banyak, Pak! Yah, Saya tidak ingin mengganggu Anda lagi. Jadi, jika bisa, lanjutkan. Sampai bertemu kembali, Kepala Sekolah Tang!" Ardian Prasetya mengisyaratkan, bahwa dia akan meminta bantuannya lagi di masa depan. Tang Ryuji ingin mengutuknya saat itu juga, tetapi dia berhasil menahan kemarahannya, dia meletakkan teleponnya tanpa daya sebelum kembali ke pelukan kekasihnya.


"Ardian Prasetya, kamu benar-benar mengenal Kepala Sekolah? Dari yang aku dengar, kamu juga sepertinya sangat dekat dengannya, bagiamana bisa!?" Tinia Atmaja bertanya, mulutnya terbuka lebar saat dia menatap Ardian Prasetya dengan kejutan.


"Saya bertemu dengannya kemarin, yah... kami rukun." Secara alami, Ardian Prasetya tidak akan membocorkan rahasia tentang Kepala Sekolah Tang. Dia memutuskan untuk membawanya dengan penjelasan yang tidak jelas. "Hem? Terserahlah!" Tinia Atmaja bersorak, "Bagus sekali! Kedepannya, aku akan meminta bantuanmu saat aku butuh cuti!" Dia terlihat sangat senang, sehingga kakinya bergerak untuk melompat.


Ardian Prasetya hanya tersenyum pahit ketika dia melirik Paman Ken dari sudut matanya, pria itu tidak bereaksi sama sekali, kemungkinan besar sudah terbiasa dengan sifat bolos kelas perempuan-perempuan ini. "Baik."


Paman Ken, di sisi lain, mengevaluasi kembali pemuda di hadapannya. Ardian Prasetya tidak terlihat istimewa, tetapi ternyata dia sangat ramah, selain keberanian dan kecerdasannya. Dia juga sangat baik dalam hubungan dengan para gadis, dia bahkan mendapatkan 'tangan' dari polisi cantik, Chen Sisi.


Paman Ken mulai pusing memikirkan hal itu. Apakah kedua putri ini juga akan menjadi mangsanya? Sepertinya sudah waktunya berbicara dengan Presdir tentang Ardian Prasetya, dia harus memastikan dengan benar, apa tidak masalah menyatukan serigala ganas yang terlihat cupu ini bersama dengan para gadis polos yang seperti domba. Dia benar-benar harus mendiskusikannya!


Paman Ken mengantar gadis-gadis itu ke sekolah sebelum pergi ke Rumah Sakit bersama Ardian Prasetya. Dia kemudian melihat toko ponsel dan memutuskan untuk mampir. "Tuan Muda Prasetya, Anda juga harus mendapatkan telepon, untuk tetap berhubungan." Ardian Prasetya mengangguk setuju, lagipula dia tidak bisa terus meminjam ponsel Paman Ken. Paman Ken memarkir mobil di dekatnya, dan menuju ke toko bersama Ardian Prasetya.


Ardian Prasetya masuk ke dalam toko, melihat ponsel pintar yang sama dengan yang Angkara Elvira dan Tinia Atmaja gunakan. Dia menyukainya pertama kali dia melihat gadis-gadis itu menggunakan milik mereka, dan dia memutuskan untuk mendapatkan model yang persis sama untuk dirinya sendiri. Dia memilihnya tanpa banyak ragu, dan baru saja akan membayar beberapa ribu dollar untuk itu ketika Arnold Ken menghentikannya.

__ADS_1


__ADS_2