
Gadis-gadis sekolah muda yang manis ada di mana-mana, dan Ardian Prasetya tidak bisa tidak melihat saat mereka berjalan ke kantin. "Bagaimana? Luar biasa bukan? Rata-rata perempuan yang bersekolah di sini, cantik-cantik dan manis-manis." Lee Rion terkekeh setelah melihat sekilas telinga merah Ardian Prasetya. Dia mendekat dan berbisik. "Meski ada banyak dari mereka, sebenarnya hanya ada sedikit yang benar-benar 'Permata' di sekolah ini."
"Permata? Maksudmu?" Ardian Prasetya memang melihat beberapa gadis di jalan, tetapi dia benar-benar hanya memperhatikan lingkungan sekolah serta fasilitasnya. Dia tidak sedang mengintai para gadis atau semacamnya.
"Pfft, berpura-pura tidak mengerti, ya? Baiklah-baiklah, kalau begitu cara mainmu, aku akan menjelaskannya. Maksudku Permata itu gadis yang punya tubuh sesuai dengan kriteria aktor film dewasa." Lee Rion blak-blakan, dia sedikit menggoda sambil menepuk bahu Ardian Prasetya. "Kita berada di usia itu, kamu tahu? Tidak perlu malu, bukan hal yang tidak wajar tentang bernafsu pada gadis-gadis cantik. Semua orang pasti punya fantasi memiliki satu, tidak perlu malu dengan itu, hahaha."
Ardian Prasetya hanya bisa tersenyum pahit saat mendengarkan ocehan Lee Rion yang sangat jujur dan seperti tidak punya masalah sedikitpun meski kata-katanya akan di dengar oleh orang lain. Orang ini sebenarnya adalah serigala buas yang menakutkan. Dia terlihat seperti seorang pria terhormat dan sopan dengan seragam rapi dan kacamatanya, tetapi sebenarnya dia hanyalah seorang remaja mesum.
Melihat Ardian Prasetya diam memberi Lee Rion alasan untuk membuat lebih banyak asumsi bahwa Ardian Prasetya tidak setuju dengan apa yang dikatakannya. "Hei, jangan marah atau apapun, tetapi itu benar, kan? Kamu berusaha menyembunyikannya, tetapi wajahmu memerah kamu tahu? Hahaha." Lee Rion tertawa di telinga Ardian Prasetya dan itu cukup untuk membuatnya kesal dan hampir memukulnya.
__ADS_1
"Hahaha, yah, meski begitu, untuk mendatangkan gadis, nilai saja tidak banyak membantu. Kamu tahu? Gadis-gadis hanya menginginkan laki-laki yang punya dompet penuh, tidak masalah jika dia tampan atau tidak, itulah hidup. Laki-laki tampan dan pintar, tetapi tidak kaya raya seperti kamu dan aku, mereka sama sekali tidak tertarik. Lupakan saja." Ekspresi Lee Rion berubah menjadi sedih. Seperti ada arti lain dari ucapannya barusan.
"Benarkah? Yah, menurutku itu logika yang menarik, tetapi tidak semua gadis seperti itu." Ardian Prasetya tersenyum, dia tidak setuju dengan sudut pandang Lee Rion. Untuk seorang gadis seperti Nona Mudanya, Angkara Elvira, dan si setan kecil licik, Tinia Atmaja, uang sama sekali tidak berarti bagi orang kaya sekaliber itu. Mengapa lagi seseorang seperti Roland Pratama selalu ditolak, jika itu benar-benar uang yang dicari oleh gadis-gadis ini?
"Ya, benar sih, memang ada gadis yang seperti itu di sekolah ini. Meski begitu, mereka adalah bagian dari 'Permata' yang aku sebutkan sebelumnya, mereka gadis yang lahir dengan sendok emas, tentu mereka tidak membutuhkan uang." Lee Rion menggelengkan kepalanya. "Ironisnya, gadis-gadis ini tidak bisa memutuskan pernikahan mereka sendiri. Kasus yang lebih ekstrem, mereka akan hidup dalam pola pikir seperti ini, 'Aku tidak ingin hidup dengan orang yang aku cintai, tetapi hidup bersama dengan orang yang bisa membantuku meraih sesuatu.' Begitulah kira-kira."
Ardian Prasetya menganggukkan kepalanya. Tidak pernah terkira di pikirannya bahwa obrolan tentang gadis cantik bisa sampai sedalam ini. Berkat ini, dia merasa nyaman. "Kamu mengatakan sesuatu tentang Permata sebelumnya, memangnya siapa yang kamu maksudkan itu?" Ardian Prasetya memutuskan untuk bergosip sedikit dengan teman barunya, lagipun tidak banyak yang bisa dilakukan di sekolah yang damai ini. Memiliki seseorang yang dekat dan menyenangkan ketika diajak bicara di sekolah tidaklah buruk sama sekali.
Ardian Prasetya hanya tahu dua nama gadis dari kelasnya, dan dia mengetahui dengan sangat jelas bahwa Angkara Elvira adalah gadis yang paling cantik di sekolah. Sahabatnya, pada saat yang sama, kebetulan adalah Tinia Atmaja, si setan kecil ini juga cantik. Memilih mereka adalah tebakan yang bagus.
__ADS_1
"Wah, luar biasa!" Lee Rion bertepuk tangan. "Hebat sekali, belum juga tengah hari, tetapi kamu sudah mengetahui nama mereka?" Rahang Lee Rion terjatuh karena terkejut saat dia menatap Ardian Prasetya dengan kagum.
Kejutan Lee Rion hanya berarti satu hal, dan Ardian Prasetya tidak akan membuang waktu untuk menjelaskan hubungan aneh yang dia miliki dengan Angkara Elvira. Dia tidak ingin dicap cabul dengan bertindak terburu-buru untuk mendapatkan nama gadis-gadis paling cantik di sekolah, tetapi dia tidak punya pilihan lain. Jika dia mengatakan hubungannya dengan mereka berdua, rasanya suasana sekolah yang damai ini tidak bisa ia nikmati lagi.
"Haha, kamu tidak perlu terlihat bermasalah seperti itu. Terus terang saja, aku berani bertaruh sembilan puluh persen anak laki-laki di kelas kita menyukai salah satu dari keduanya." Lee Rion tersenyum melihat ekspresi Ardian Prasetya yang bermasalah, dia mendorong kacamata hitamnya ke atas dengan seringai dingin yang puas. "Yah, sayangnya. Karena si bodoh Roland Pratama itu, anak-anak lain hanya bisa mengubur mimpi mereka untuk mengobrol dengan kedua gadis itu."
"Ah, benar, ada pria itu. Dia cukup kaya, bukan?" Meski merepotkan, tetap menjadi fakta bahwa Ardian Prasetya sekarang adalah musuh Roland Pratama. Selama dia ditugaskan untuk melindungi Angkara Elvira, bentrokan dengan pria itu tidak terhindarkan kecuali Tuan Muda yang keras kepala dan sombong itu tiba-tiba memutuskan untuk berhenti mengejarnya.
Ardian Prasetya mengambil kesempatan untuk mengenal lebih jauh tentang lawan dari Lee Rion meskipun jika informasi itu bernilai sedikit. "Hm? Kamu tidak tahu dia?" Lee Rion tersenyum sambil menjelaskan. "Benar juga, aku lupa, kamu bilang kamu bukan berasal dari sekitar sini, kan? Maafkan aku kalau begitu, haha. Baik, akan aku jelaskan. Jadi, keluarga Roland Pratama bukan hanya orang kaya biasa. Ayahnya Dimas Pratama adalah bos dari Hotel Jewelraya, selain itu dia juga memimpin bisnis berskala besar lainnya seperti Saweraya Karaoke dan Pancaraya Pub."
__ADS_1
Ardian Prasetya mengangguk. "Bisnis hiburan, ya?" Orang-orang yang mengelola bisnis seperti Karaoke atau Pub, sebagian besar, memiliki kurang lebih semacam koneksi dengan dunia bawah. Itu tidak mengherankan sama sekali, mengingat bagaimana tempat-tempat seperti ini tunduk pada kebanyakan Hooligan dan kelompok gangster yang mengarah pada sindikat Mafia. Tidak mudah untuk bertahan hidup tanpa latar belakang yang cukup kuat di bisnis ini.