Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 44 : Sesudah


__ADS_3

"Mana?" Ardian Prasetya mengalihkan pandangannya ke pintu masuk atap hanya untuk melihat dua sosok yang berlari menjauh. Tidak mungkin orang lain selain Angkara Elvira dan Tinia Atmaja. Ardian Prasetya tidak akan berasumsi lagi bahwa Angkara Elvira dan Tinia Atmaja mulai menyukainya atau semacamnya, dia tahu bahwa mungkin Tinia Atmaja yang usil menarik paksa Angkara Elvira ke atap bersamanya.


"Mereka mungkin di sini hanya untuk menonton. Abaikan saja. Daripada itu, aku tidak menyukai panggilan 'Bos' itu, tolong panggil aku seperti sebelumnya saja, itu lebih nyaman untukku." Ardian Prasetya menjelaskan.


"Baiklah, aku akan tetap memanggilmu Ardian kalau begitu. Ngomong-ngomong, saat melihat mereka tadi, aku merasa mereka adalah Angkara Elvira dan Tinia Atmaja. Dua gadis itu dari kelas kita. Jadi, mereka tahu tentang masalah ini. Mereka paling memungkinkan sebagai pengintip." Lee Rion menjadi sedikit bersemangat, tetapi setelah dia berpikir lebih jauh, dia menjadi curiga dan sedikit dengki. "Hey, Ardian, jangan bilang kamu sudah menarik perhatian dua wanita cantik di kelas kita, kan!? Sialan, ini hari pertamamu, bagaimana bisa!?"


"Kamu terlalu banyak menghayal. Apa kepalamu terpukul tadi?" Ardian Prasetya berkataa dengan santai, tetapi di dalam dia sedikit gelisah. "Seharusnya aku membiarkan Seok Ma memukulmu untuk mereset isi kepalamu. Dari awal kita berkenalan kamu berbicara tentang wanita, kamu pasti akhir-akhir ini membaca Novel romantis, kan? Dasar." Ardian Prasetya mencoba mengalihkan topik.


"Hahahah, itu lucu. Soalnya itu benar." Lee Rion terkekeh, dia merasa jauh lebih baik sekarang. Dia telah menghabiskan tahun demi tahun sebagai seorang pengecut, tetapi sekarang, dia ikut berkontribusi menaklukan sekolah. Itu kisah heorik yang sama seperti Novel persahabatan yang ia baca.


Bahkan seseorang seperti dia melakukan sesuatu yang berani dan berharga di tahun terakhirnya. Kegembiraan yang tak terlukiskan menguasai Lee Rion saat dia menoleh ke belakang untuk melihat mantan penakluk sekolah. Tidak ada kebahagiaan yang lebih baik bagi karakter sampingan dibanding terlibat secara langsung dengan tokoh utama.


"Tuan Muda! Apakah Anda baik-baik saja?" Cedera Kevin Dura tidak terlalu parah dan perutnya tidak terlalu sakit lagi. Dia berlari ke sisi Roland Pratama dan membantunya bangkit setelah Ardian Prasetya pergi.


"Ak-aku, aku baik-baik saja?" Roland Pratama meracau. Wajahnya pucat pasi. Dia tidak baik sama sekali. "Sialan, salah, kita sudah kalah karena kita salah. Si Psikopat itu!" Keasadaran Roland Pratama belum pulih sepenuhnya, rasa takut masih menggerogoti tubuhnya dan dia mengutuk untuk meredam perasaan dingin kematian ini. "Dia bukan cecunguk biasa, dia bukan serangga biasa. Dia... punya sayap. Sial, ini sangat kacau!"

__ADS_1


“Maaf, Tuan Muda. Ini salah Saya karena meremehkannya. Kekacauan ini terjadi karena kesalahan Saya, tolong maafkan Saya." Kevin Dura segera meminta maaf, dia sudah cukup dipukuli, dia tidak ingin menderita kemarahan Roland Pratama setelah ini, apalagi sekarang wajah Tuan Mudanya itu menunjukkan betapa dia sangat kesal atas semua yang terjadi.


"Lupakan saja, itu bukan salahmu. Cecunguk itu saja yang tidak normal!" kata Roland Pratama dengan lambaian tangannya, Kevin Dura segera mengerti dan berbalik untuk membantu Seok Ma berdiri. Roland Pratama tidak bisa menyalahkan siapa pun. Kedua pengawalnya ini bisa dikatakan sangat kuat, mereka adalah orang-orang yang masih bisa bangkit bahkan ketika tertabrak mobil. Hanya saja mereka berada di bawah level Ardian Prasetya, beginilah jadinya.


"Sial, aku tidak ingin menyerah begitu saja. Kita tidak bisa membiarkan Ardian Prasetya, tetapi mustahil melawannya hanya dengan kita bertiga. Cecunguk lain yang kita bawa sama sekali tidak berguna, kita harus mencari bantuan lain." Roland Pratama mengigit kuku jari tangannya dan berpikir keras.


"Bagaimana jika kita meminta bantuan Marsel Hernandez dan rekan-rekannya?" Kevin Dura memberi saran. "Tidak, dia tidak bisa. Posisi kita di sekolah ini akan benar-benar hancur jika dia tahu tentang ini!" tolak Roland Pratama sambil menggelengkan kepalanya. "Daripada dia, aku akan mencari seseorang dari pihak ayahku. Benar, sekalian saja kita membawa gangster. Hahahaha!"


***


Di sisi lain, Ardian Prasetya dan Lee Rion melangkah ke ruang kelas tanpa cedera. Ada banyak siswa yang mengkhawatirkan mereka bernapas lega saat melihat mereka masuk dengan tawa. Sebagian besar dari mereka membenci Roland Pratama karena bagaimana dia di sekolah, tetapi beberapa dari mereka yang bersemangat tentang ini merasa kecewa karena para korban muncul tanpa cedera.


"Kenapa? Bagus, kan? Tidak ada pertengkaran."


Namun, yang tidak bisa mereka pahami adalah absennya tiga orang lainnya yang naik ke atap bersama Ardian Prasetya dan Lee Rion. Hanya Roland Pratama, Kevin Dura, dan Seok Ma yang masih belum kembali bahkan setelah kelas terakhir dimulai. Semua orang mengerti bahwa ada sesuatu yang salah terjadi pada mereka.

__ADS_1


"Hey, jangan bilang Roland Pratama dan antek-anteknya kalah?"


"Bicara apa, sih? Jangan beromong kosong!"


***


Saat Roland Pratama turun, sialnya, dia bertemu dengan pria yang paling ingin dia hindari, Marsel Hernandez. Seok Ma merangkul Kevin Dura, mereka berdua berjalan perlahan di belakang Roland Pratama, mereka bertiga terlihat sangat lemas dan benar-benar menggambarkan orang yang baru saja kalah dari perkelahian.


"Suadara Roland? Apa yang terjadi padamu?* Marsel Hernandez sedang bermain bola basket di lapangan ketika dia mengenali ketiganya dari jauh. Saat dia melihatnya lebih lama, ternyata itu adalah kelompok Roland Pratama. Penampilan mereka sangat membuatnya terkejut. Jadi, dia menghampiri mereka dengan rasa penasaran.


Roland Pratama hanya bisa mengutuk di dalam hati atas kemalangannya. Reputasi sangat penting bagi pentolan kelas seperti dirinya. Mempermalukan diri di depan pentolan kelas lainnya seperti ini hanya akan menghancurkan posisinya. "Tidak, kami tidak apa-apa." Roland Pratama menggelengkan kepalanya, dia tidak mau memberikan terlalu banyak informasi. Jadi, dia sedikit mempercepat langkahnya.


Marsel Hernandez segera mengerti bahwa ketiganya kalah dalam pertarungan. Jawabannya sudah tertulis dengan jelas di wajah masam mereka. "Saudara, bukankah kamu tadi mengatakan kalau kamu bisa membereskan masalahmu sendiri? Lihat penampilanmu sekarang! Siapa itu? Beri tahu aku, biarkan aku mengurus mereka untukmu!" Marsel Hernandez menawarkan jasa. Dia menjentikkan jarinya, meberi isyarat bahwa dia meminta imbalan sebagai ganti jasanya.


Roland Pratama tahu seberapa kuat Marsel Hernandez, dia adalah petarung terbaik di antara semua Pentolan kelas. Dia juga memiliki koneksi dengan banyak orang di luar sekolah. Dia punya banyak anak jalanan yang menghormatinya sebagai pemimpin, kekuatan totalnya patut diperhitungkan.

__ADS_1


Apa yang terjadi hari ini sangat memalukan, bagaimanapun, Roland Pratama berharap untuk menyembunyikan kebenaran dari sebanyak mungkin orang. Dengan itu, dia melambaikan tangannya sekali lagi. "Bukan apa-apa, kami hanya berlatih sedikit di antara kami sendiri, masalah yang sebelumnya sudah selesai."


Marsel Hernandez memutuskan untuk tidak menyelidiki lebih jauh, karena Roland Pratama sangat keras kepala untuk tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika dia melihat ketiganya pergi. “Melatih? Omong kosong macam apa itu?" Dia tidak mempercayainya sama sekali. "Bagaimanapun, kamu akan tetap mencariku pada akhirnya. Soalnya aku yang terbaik, kekeke!"


__ADS_2