Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 46 : Bank


__ADS_3

"Apa? Apa yang kamu lakukan?" Tinia Atmaja menatap Ardian Prasetya, dia tertegun dan tersipu. Dia tidak pernah berpegangan tangan dengan laki-laki sepanjang hidupnya, kecuali dengan kakaknya. Dia hanya bisa berdiri di sana dengan hampa saat Ardian Prasetya memegang tangannya dengan erat, tidak yakin dengan reaksi tepat yang harus dia ambil dalam posisi ini.


"Kita harus pergi dari sini, sekarang. Saya tidak punya cukup waktu untuk menjelaskan." Ardian Prasetya mulai panik, dia terlalu santai karena berpikir bahwa dunia barunya ini damai, menyerang Bank di siang bolong? Mereka jelas bukan perampok biasa. Ardian Prasetya hendak menarik Tinia Atmaja ketika sebuah pukulan memotongnya.


Angkara Elvira memukul tangan Ardian Prasetya. Reaksi kejut membuat Ardian Prasetya melepaskan tangan Tinia Atmaja. "Ardian Prasetya, menurutmu apa yang sedang kamu lakukan? Mencoba mencari kesempatan untuk mendekati Tinia?" Angkara Elvira berkata sambil memelototi Ardian Prasetya, matanya berkilat, terbakar oleh amarah.


"Bukan itu!" Ardian Prasetya menghela napas saat dia melihat lagi ke luar jendela. "Kita sudah tidak punya waktu lagi. Kalian harus keluar dari sini bersama Saya, sekarang!"


Berkencan dengan setan kecil ini terdengar menarik, tetapi mereka sudah tidak punya cukup waktu. Orang-orang idiot itu bersenjata dan sudah mulai bergerak. "Hmph! Mengapa aku harus menuruti perintahmu? Apakah kamu gila, kamu pikir kamu siapa? Pergi saja sendiri jika kamu sedang terburu-buru, kami berdua masih punya urusan di sini!"


Tinia Atmaja juga bingung dengan perubahan perilaku Ardian Prasetya yang tiba-tiba pucat, padahal pria itu begitu tenang sebelumnya.


"Kita bisa membicarakan ini setelah kita keluar!" Ardian Prasetya tidak repot menjelaskan lagi. Dengan itu, dia kembali meraih tangan Angkara Elvira dan Tinia Atmaja. "Apa sih? Lepaskan!" Angkara Elvira kehilangan akal sehatnya saat dia menggeliat dengan sekuat tenaga. Dia sangat marah dengan pria ini yang tidak puas bahkan setelah dia menganiaya Tinia Atmaja, sekarang dia juga meletakkan tangan iblisnya padanya.


"Em, Elvira, ayo ikuti saja kemauannya, setidaknya untuk saat ini." Tinia Atmaja sedikit lebih pengertian daripada Angkara Elvira, setelah pulih dari keterkejutannya sebelumnya. Ardian Prasetya memiliki ekspresi panik yang tulus di wajahnya, bukan ekspresi bejat.

__ADS_1


Tinia Atmaja mengenal Ardian Prasetya sedikit lebih baik daripada Angkara Elvira, dan dia mengerti bahwa tidak masuk akal baginya untuk bersikap kasar dengan mereka begitu tiba-tiba, apalagi, di Bank umum. Sebelumnya, mereka bertiga sudah menghabiskan malam bersama di bawah satu atap dan hanya ada mereka di sana. Jika dia memang sangat bejat, maka dia bisa menyerang mereka waktu itu.


Angkara Elvira tidak mengharapkan kata-kata dari Tinia Atmaja. Dia menatapnya dengan tercengang, tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba berada di pihak Ardian Prasetya.


Ardian Prasetya menghela napas pasrah. Sudah terlambat sekarang. Saat ini, sepasang pria berjaket hitam sudah membuka pintu Bank dan memojokkan penjaga.


Suara tembakan terdengar dan pemandangan Bank yang teratur berubah menjadi kacau. Orang-orang berteriak, anak-anak menangis, dan alarm segera berbunyi. "Diam! Aku akan membunuh siapa saja yang bergerak!" Seorang pria botak dengan topeng hitam mengancam, sepertinya dia pemimpin kelompok itu.


Ardian Prasetya menghembuskan napas perlahan, dia telah membuang terlalu banyak waktu dengan Tinia Atmaja dan Angkara Elvira, kesempatan untuk melarikan diri telah menghilang. Mereka tidak akan bisa lolos lagi.


Ardian Prasetya bukan pahlawan, dia lebih condong ke seorang pembunuh. Dia selalu bergerak dengan tujuan yang jelas dan dengan informasi yang akurat. Dia memahami dengan pikiran jernih hal-hal yang harus dan tidak boleh dia lakukan.


Dalam situasi di mana baik itu medan, musuh, dan informasi tidak ada, dia hanya bisa menempatkan keselamatan Angkara Elvira dan Tinia Atmaja sebagai prioritas utama. Tugas menangkap perampok Bank, bukanlah sesuatu yang harus ia lakukan.


Ini lebih buruk daripada yang Ardian Prasetya bayangkan. Gadis-gadis ini terlihat tidak memiliki pengalaman apapun dengan situasi seperti ini. Mereka hanya berdiri di sana dalam keadaan membatu lumpuh, tidak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


"Semuanya dengarkan! Pegang kepala kalian dengan kedua tangan dan berjongkoklah di lantai! Aku jamin tidak ada yang akan terluka. Kamu bergerak, kamu mati!" Perampok botak melepaskan tembakan lagi ke langit-langit, sehingga Bank yang kacau kembali teratur dengan paksaan.


Para laki-laki menelan harga dirinya sendiri, menggigit bibir menahan malu. Gadis-gadis bungkam dan para ibu membekap mulut putra dan putri mereka dalam pelukan penuh tangis. Semua orang berjongkok atas kemauannya sendiri, memejamkan mata dan berdoa atas keselamatan. Hanya doa satu-satunya cara mereka bertahan hidup di hadapan penjahat bersenjata.


Kelompok Perampok sudah menyerang di konter ketika dia melepaskan tembakan keduanya. Mereka memecahkan kaca dengan palu dan mulai menodongkan senjata ke para staf. Mereka kemudian diperintahkan untuk mengisi karung dengan uang.


"Cepat!" Salah satu perampok berteriak dan mengancam. Dia tidak dalam posisi untuk bersabar. "Aku akan meledakkan kepalamu jika kamu mencoba mengulur waktu lagi!"


"Ba-baik!" Tangan pria itu gemetar, sangat takut dengan ancaman perampok itu. Akibatnya, uang tunai yang dipegangnya terlepas dari tangannya dan jatuh berhamburan ke lantai.


"Dasar bangsat! Sudah aku bilang jangan coba buang-buang waktu, kan!" Perampok itu berteriak dengan tatapan tajam, dia menembakkan peluru ke lengan pria itu, membuatnya berteriak kesakitan sambil meremas lukanya.


Dua tembakan sebelumnya diarahkan ke langit-langit, dan berfungsi untuk membuat massa ketakutan. Tembakan baru ini, bagaimanapun, ditujukan pada seseorang. Hal itu menyebabkan staf dan pelanggan menahan napas mereka karena ketakutan. Tidak ada dari mereka yang berani bergerak sama sekali.


Perampok botak, di sisi lain, mengalihkan pandangannya ke arah para korban yang ketakutan, merasa senang dengan gerakan anak buahnya. Sekarang, domba-domba sial ini sepenuhnya berhenti terisak. "Elvira, aku takut." Tinia Atmaja memucat saat dia mencengkeram lengan Angkara Elvira dengan erat, kepribadiannya yang keras dan ceria ditekan oleh ketegangan.

__ADS_1


"Ja-jangan takut, orang tua kita pasti akan datang. Mereka akan menyelamatkan kita." Angkara Elvira sendiri ketakutan, tetapi Tinia Atmaja setahun lebih muda darinya. Jadi, dia harus menjadi orang yang menghiburnya di situasi seperti ini. "Jangan khawatir, aku akan menjamin keselamatan kalian berdua dengan nyawaku," kata Ardian Prasetya dingin. Ardian Prasetya tidak yakin apakah dia bisa menangkap para perampok hidup-hidup, tetapi menjaga kedua gadis itu dari bahaya bisa dia lakukan dengan kemampuannya. Dia hanya sedang mencari tahu tujuan mereka dan menunggu waktu yang tepat.


__ADS_2