
"Saya setuju, sepertinya pencapaian pria itu dilebih-lebihkan. Tidak cuma dia pemilik nama besar, dia bahkan membawa senjata di tangannya. Jika itu Saya, Saya akan mengirim peluru ke tubuh Ardian Prasetya," ucap Kevin Dura yang kesal.
Kevin Dura dan Seok Ma tidak terbiasa dengan keadaan di luar, dan pemahaman mereka tentang kemampuan Eksekutif Kim hanya berasal dari deskripsi dari Roland Pratama saja. Maka, tidak mengherankan jika penampilannya hari ini terlihat sedikit mengecewakan jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Ardian Prasetya.
Namun, Roland Pratama berbeda, dan dia mengerti level operasi Eksekutif Kim tidaklah rendahan. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa bahkan orang seperti itu akan jatuh di bawah kekuatan Ardian Prasetya.
Saudara Marsel masih belum pulih dari keterkejutannya juga. Gambaran anggota tubuh bengkok Eksekutif Kim dan wajah berlumur darah telah memberinya satu pelajaran sederhana, yakni menjauh dari Ardian Prasetya. Pria itu adalah monster tanpa ampun, dan dia belum siap menghadapi orang gila seperti itu.
Itu tidak cocok dengannya, terutama mengingat posisinya sebagai berandalan teratas di sekolah. Dia akan kehilangan posisinya jika rumor dia kalah telak melawan seorang murid pindahan. Logika Marsel sederhana, selama dia tidak menggangu Ardian Prasetya, maka Ardian Prasetya secara alami juga akan menghindarinya.
Pikiran itu membuat Marsel lega saat dia merenungkan situasi Roland Pratama. Pria itu sudah menggali kuburnya sendiri, apa yang dilakukan si idiot itu benar-benar fatal. Dia mengejar murid pindahan sementara sama sekali tidak siap dan tidak menyadari latar belakangnya, atau siapa pria itu sebenarnya. Tuan Muda itu terlalu percaya diri dengan status keluarganya.
"Hey, Elvira, apa menurutmu Ardian Prasetya akan baik-baik saja? Chen Sisi itu terlihat sangat marah sebelumnya, aku tidak akan terkejut jika dia datang ke Ardian Prasetya, memberinya masalah cuman untuk membalas dendam!" Tinia menyuarakan pikirannya dengan lembut kepada Elvira, yang sibuk dengan buku teks bahasa Inggrisnya.
__ADS_1
"Siapa peduli? Aku justru berharap dia dihukum penjara atau semacamnya, aku benar-benar lebih suka tidak melihatnya lagi." Elvira hanya menjawab dengan dingin. "Itu juga akan menghemat uang untuk ayahku."
"Kamu yakin itu yang hatimu inginkan?" Tinia menguji, menyeringai sedikit pada temannya. "Apa!? Tinia! Ada apa dengan tatapan itu?!" Elvira mengerutkan kening. "Tentu saja itu yang hatiju inginkan! Bisakah kamu berhenti berbicara denganku, aku sedang belajar di sini!"
"Benarkah? Oke-oke...." Seringai Tinia melebar saat dia menunjuk ke buku teks bahasa Inggris di tangan Elvira. "Kamu tahu, bodoh, bukumu terbalik."
"Ah... Ini...." Wajah Elvira memerah, dia menatap buku teks terbalik beberapa saat sebelum membantingnya ke meja hingga tertutup. Apakah selama ini dia melihat buku teks terbalik, tepat di depan Tinia? Dia melirik Tinia sebelum membukanya lagi. "Dengar, aku hanya tidak ingin dia mendapat masalah karena perbuatanku, oke? Dia menyebabkan masalah dengan Roland Pratama karena perintahku, ingat? Aku sudah memanggil Paman Ken, dia akan mengurusnya! Tidak perlu mengkhawatirkannya lagi!"
"Fuhahaha!" Tinia tertawa, wajahnya masih penuh kecurigaan. Elvira berpaling dari tatapan Tinia, mencoba untuk fokus pada buku teks di depannya, tetapi sia-sia, mata Tinia terus tertuju padanya. "Kamu tahu, Tinia, kamu selalu saja berkata: Ardian Prasetya ini dan Ardian Prasetya itu, sebenarnya ada apa denganmu? Kamu tidaj jatuh cinta padanya, kan?"
"Huh? Apa!?" Mulut Elvira terbuka lebar saat dia menatap dengan sangat tidak percaya. "Ti-Tinia? Ka-kamu menyukainya?!"
"Hm? Kalau benar kenapa? Laluz mengapa kamu panik? Kamu tidak cemburu, kan?" Tinia mulai tertawa saat dia melihat ekspresi bingung Angkara Elvira. "Cemburu? Pergi sana! Kejar dia jika kamu sangat menyukainya, dia akan sangat senang jika itu terjadi, aku yakin itu," kata Elvira, ekspresinya kembali normal saat dia memasang wajah acuh tak acuh.
__ADS_1
"Ya, akan aku kejar dia, hehehe. Aku akan mengaku padanya dan semacamnya, jangan menyesali apa pun saat aku melakukannya, oke?" balas Tinia, terdengar sangat serius dan berkomitmen pada klaimnya.
"Ya, lakukan saja sana. Apa peduliku? Aku tidak akan menyesali apa pun, lakukan sesuka hatimu," kata Elvira dengan goyangan lembut di kepalanya. Dia tidak tahu mengapa, tetapi ketidaknyamanan yang tak terlukiskan melanda dirinya saat dia berbicara.
"Fuhaha! Aku cuma bercanda! Hahaha!" Tinia memutuskan untuk berhenti menggoda Elvira, gadis itu tampaknya tidak terpengaruh seperti yang dia perkirakan. "Aku hanya kesal pada Chen Sisi, dia mencoba melakukan sesuatu pada Ardian Prasetya kita, kamu tahu apa yang aku katakan bukan?"
"Iy-iya, tentu saja. Ardian Prasetya adalah penjagaku, dia tentunya adalah orang kita!" Elvira, tentu saja, tidak mengerti mengapa dia merasa lega. Sensasi selalu muncul entah dari mana, tanpa alasan sama sekali lagipula. Elvira memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.
Roland Pratama mempertahankan ketenangan dan perawakannya di depan para bawahannya, tetapi dia, pada kenyataannya, yang paling takut di antara mereka semua. Bukan karena balas dendam Ardian Prasetya terhadapnya, tetapi kemungkinan Eksekutif Kim akan membuka mulutnya dan melibatkannya dengan polisi.
Dia akan menjadi pelaku utama jika keadaan berjalan seperti itu, dan keterlibatannya kemungkinan besar akan menghasilkan sebuah pukulan bagi ayahnya, dia mungkin akan dipindahkan ke sekolah lain jika itu bisa diselesaikan dengan rapi, tetapi jika tidak, sesuatu yang lebih buruk dan yang terburuk mungkin akan terjadi.
Perenungannya membuatnya mengalihkan pandangan ke Angkara Elvira dan Tinia Atmaja yang sedang mengobrol dengan gembira. Dia merasa sangat bermasalah, secara teknis dia adalah seorang selebriti di sekolah ini, dan dia bahkan tidak punya pacar. Seberapa besar lelucon itu? Pentolan sekolah lainnya seperti Saudara Marsel telah mengacak-acak banyak gadis sementara dia tetap saja melajang! Pria lain sudah mengincar kecantikan tanpa memandang bahwa gadis itu orang biasa, sementara itu apa yang dilakukan Roland Pratama? Dengan bodoh mencoba mengambil berlian yang paling indah di sini.
__ADS_1
Roland Pratama sebenarnya mulai memperhatikan Sintia Wang karena bualan-bualan Saudara Marsel. Gadis itu seperti permata yang halus, dan bahkan seragam sekolahnya gagal menyembunyikan kecantikan lembut itu. Padahal dia hanyalah gadis yang datang dari kalangan biasa yang jauh berbeda levelnya dengan Angkara Elvira maupun Tinia Atmaja.
Latar belakang keluarga yang kuat benar-benar mengubah banyak hal secara drastis, kedua gadis itu bersikap dingin tentang mereka, seolah-olah mereka adalah Dewi yang tidak dapat didekati. Roland Pratama tidak melihat itu sebagai hal yang buruk, itu memberinya keuntungan, toh dia adalah satu-satunya yang berani dan cukup memenuhi syarat untuk mengejar seorang gadis seperti Nona Muda keluarga Angkara.