
"Apakah Tuan Muda sudah lama menunggu?" tanya Kepala Sekolah Tang. "Sekitar setengah jam, mungkin?" jawab Ardian Prasetya dengan jujur. Tidak ada alasan mengapa dia harus berbohong. Ada kamera pengawas di koridor. Jadi, Kepala Sekolah Tang bisa memeriksa rekaman kamera pengawas jika dia ingin tahu yang sebenarnya.
"Ehem. Jadi, apakah..." Kepala Sekolah Tang merasa ragu untuk mengatakannya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Itu semua salahnya yang tidak memiliki disiplin waktu yang baik, hasilnya dia tertangkap basah oleh seseorang saat bercinta.
"Tenang, Kepala Sekolah Tang, pintunya tertutup. Jadi, Saya tidak melihat apa-apa. Anda bisa menganggap Saya tidak mendengarnya juga jika Anda mau." Ardian Prasetya menjawab sambil menyeringai saat Tang Ryuji menoleh ke arahnya.
Ketika Kepala Sekolah Tang mendengar apa yang dikatakan Ardian Prasetya, dia tertegun. "Mampus aku, anak ini pasti tahu apa yang terjadi!" Kepala Sekolah Tang tidak akan terlalu khawatir Jika Ardian Prasetya hanya menunjukkan ekspresi terperangah. Namun, dari apa yang baru saja dia katakan, bahkan seorang idiotpun akan mengerti bahwa Ardian Prasetya tahu apa yang terjadi.
Untungnya hanya itu yang dikatakan Ardian Prasetya. Dia tidak membahasnya lebih jauh dan seperti mengisyaratkan untuk tidak mempersulitnya di masa depan. Ini membuat Kepala Sekolah Tang sangat lega. Jika kejadian ini sampai ke telinga murid dan pengajar lain atau yang lebih buruk hal ini sampai ke telinga orang-orang atas, dia pasti akan kehilangan pekerjaannya.
"Hahaha!" Kepala Sekolah Tang mengeluarkan tawa yang sangat canggung. "Tuan Muda, di masa depan, jika Anda menemui masalah, jangan ragu untuk menghubungi Saya! Ingatlah untuk menyimpan nomor Saya ke dalam daftar kontak Anda nanti!"
"Terima kasih banyak Kepala Sekolah Tang." Ardian Prasetya segera menunjukkan rasa terima kasihnya. Alasan Ardian Prasetya bersekolah di sekolah ini adalah untuk melindungi Angkara Elvira. Jadi, posisinya di sekolah agak istimewa. Sebagai pengawal, dia pasti akan menyebabkan beberapa masalah dan akan agak merepotkan jika dia harus menghubungi Angkara Adam untuk membantu mengurangi masalah tersebut. Tidak ada salahnya jika seseorang di sekolah seperti Kepala Sekolah Tang membantunya.
__ADS_1
Dari kelihatannya, Ardian Prasetya telah berhasil. Selama masalah yang dia timbulkan tidak terlalu serius, Tang Ryuji seharusnya bisa menyelesaikan masalah itu untuknya. Setelah itu, Ardian Prasetya mengikuti Kepala Sekolah Tang ke ruang kelas tiga ruangan lima. Saat mereka sampai di pintu masuk, Kepala Sekolah Tang membuka pintu dan memasuki ruang kelas. Dia melambai ke guru wali kelas dan berkata, "Ehem, dia adalah siswa pindahan, namanya Ardian Prasetya. Mulai hari ini, dia akan berada di kelas ini."
Roland Pratama menatap tajam ke arah Ardian Prasetya ketika dia melihatnya memasuki ruang kelas. "Bukankah anak ini yang menendangku kemarin? Para bedebah tidak berguna itu terus menerus gagal dan membiarkannya kabur. Siapa yang tahu pekerja konstruksi ini akan muncul sendiri di hadapanku, ini sangat bagus!"
"Saya Ardian Prasetya, salam kenal semuanya." Ardian Prasetya memberikan perkenalan diri yang sederhana dan berjalan ke kursi kosong yang telah diatur oleh guru wali kelasnya.
Meskipun wali kelas tahu bahwa Ardian Prasetya adalah seseorang dengan latar belakang tertentu karena kepala sekolah Tang terlihat cukup dekat dengannya, tetapi dia tidak bisa begitu saja mengubah pengaturan tempat duduk siswa yang sudah diputuskan di awal tahun. Jadi, dia tidak punya pilihan selain mengatur Ardian Prasetya ke meja kosong di belakang kelas dan memikirkan tentang ini bersama kepala sekolah Tang lain kali.
Ardian Prasetya sendiri tidak peduli di mana tempat duduknya. Jadi, dia menganggukkan kepalanya dan melanjutkan berjalan ke tempat duduknya.
Menyadari bahwa untuk mencapai tempat duduknya, Ardian Prasetya harus melewati, Seok Ma, orang yang sehari sebelumnya ia hantam sampai dua giginya lepas, Roland Pratama diam-diam memberi isyarat kepada Seok Ma dengan matanya, yang langsung dibalas oleh Seok Ma dengan tanda patuh.
Tentu saja, gerakan itu diperhatikan oleh Ardian Prasetya yang sensitif. Faktanya, bahkan sejak Ardian Prasetya menyadari bahwa Roland Pratama juga seorang siswa kelas tiga ruang lima, dia diam-diam mengamatinya.
__ADS_1
Seok Ma menjulurkan kakinya saat Ardian Prasetya hendak melewati kursinya. Jelas, dia mencoba membuat Ardian Prasetya tersandung dan jatuh. Ketika Ardian Prasetya memperhatikan uluran kakinya, dia cukup kesal. Sepatu yang Ardian Prasetya kenakan sudah dimodifikasi. Jadi, jika dia mau, dia bisa menusuk kaki Seok Ma dengan mata pisau di ujung sepatunya.
Namun, niat itu batal setelah dia mengingat bahwa sehari sebelumnya dia sudah menusuk kaki Seok Ma. Mengingat ini, dia tersenyum meremehkan, dan mengangkat kakinya dan menendang kaki yang terentang. Kaki Seok Ma sudah terluka. Jadi, untuk membuatnya sakit, yang perlu Ardian Prasetya lakukan hanyalah menginjak kakinya merangsang luka di punggung kakinya yang jauh dari kata sembuh.
"Hm? Ah!" Ardian Prasetya berpura-pura polos saat dia menginjak kaki Seok Ma dengan keras. Dia menyeringai ke arahnya dan meminta maaf dengan tatapan mata yang dingin, "Maaf, Saya tidak melihat ada kaki di sana."
"Siswa Seok Ma, apakah ada masalah?" Wali Kelas Hans, tahu orang seperti apa Seok Ma itu, tetapi karena dia juga memiliki latar belakang keluarga yang kuat, dan dia bergaul dengan Roland Pratama. Jadi, Wali Kelas Hans tidak berani mendiktenya secara terang-terangan.
"Ti-tidak ada masalah, Wali Kelas Hans. Kaki Saya terluka kemarin. Jadi, Saya cukup kesulitan mencari posisi duduk yang nyaman," jawab Seok Ma sambil menggelengkan kepalanya. Wajahnya pucat dan keringatnya menetes deras saat mencoba menahan rasa sakit. Agar tidak malu di depan kelas, Seok Ma menolak untuk mengatakan yang sebenarnya.
Roland Pratama yang duduk di dekat Seok Ma, tahu apa yang sebenarnya Seok Ma ingin lakukan. Namun, ketika dia melihat Seok Ma mengerang kesakitan dan tidak ada yang terjadi pada Ardian Prasetya, dia merengut pada Seok Ma.
Yang bisa dilakukan Seok Ma hanyalah menatap Ardian Prasetya, bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dia akan membalasnya suatu saat nanti. Satu hal yang membuat Seok Ma bingung adalah apakah Ardian Prasetya sengaja melakukannya atau tidak. Reaksi Ardian Prasetya ketika dia menyadari bahwa dia menginjak kakinya, dan cara dia meminta maaf, sepertinya itu benar-benar kebetulan. Namun, di sisi lain suaranya yang dingin dan tatapan matanya yang haus darah membuat suasana seketika terasa horor.
__ADS_1
Kursi Ardian Prasetya tidak jauh dari kursi Angkara Elvira dan Tinia Atmaja. Cukup dengan memiringkan kepala, mereka akan terlihat jelas. Karena tugasnya adalah menjaga Angkara Elvira, memastikan kedua gadis itu tetap terlihat sangatlah penting.