
Ardian Prasetya tidak mengatakan apa-apa lagi kepada Arnold Ken. Dia hanya mengangguk dan turun dari mobil.
"Apakah kamu berhasil menemukan siapa pekerja itu?" tuntut Roland Pratama kepada pengawalnya. Wajahnya terlihat pucat dan masam, sementara itu lengannya mengusap pantatnya yang masih sakit. "Karena orang aneh itu, aku tidak bisa berbaring dan tidur dengan nyenyak!"
"Tidak. Tadi malam, Seok Ma dan Saya pergi ke beberapa lokasi konstruksi, tetapi kami tidak dapat menemukan orang itu di manapun." Kevin Dura menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tuan Muda Roland, menurut Saya laki-laki itu mungkin anak gelandangan yang dibayar oleh Nona Muda Elvira."
"Aku tidak peduli apa yang kamu lakukan dan siapa orang itu sebenarnya. Temukan orang itu! Dia berani menendang pantatku! Aku tidak akan melepaskannya semudah itu!" Roland Pratama mengancam. "Saya mengerti, Tuan Muda!" jawab Kevin Dura dengan sangat yakin.
Ardian Prasetya membawa tas itu dan pergi ke sekolah. Dia sangat menikmati perasaan ini. "Jadi, beginilah Sekolah Menengah Atas itu. Tempat legendaris di mana orang-orang jatuh cinta dan merelakannya demi masa depan. Suka dan duka, tangis dan tawa. Dunia damai yang cukup kacau. Sangat mendebarkan!" batinnya.
Tas sekolah Ardian Prasetya adalah tas selempang standar yang dikeluarkan sekolah. Itu terlihat sangat polos dan membosankan. Jadi, kebanyakan siswa seperti Angkara Elvira dan Tinia Atmaja, lebih suka menggunakan tas mereka sendiri. Hanya siswa yang tidak mampu yang akan mengenakan seragam sekolah dan menggunakan tas sekolah gratis.
Segera setelah Ardian Prasetya memasuki gerbang sekolah, dia melihat Roland Pratama dan anak buahnya. "Bukankah mereka orang yang mengganggu Nona Muda Elvira kemarin? Mereka merokok sepagi ini?" Karena mereka tidak memprovokasi, Ardian Prasetya memutuskan untuk mengabaikan mereka. Jadi, Ardian Prasetya hanya akan berjalan melewati mereka seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Huh? Tuan Muda, tidakkah menurutmu siswa itu terlihat sangat familiar?" tanya Seok Ma sambil menunjuk dan menatap punggung Ardian Prasetya. "Familiar apa? Aku sedang berbicara tentang sesuatu yang sangat serius di sini, siapa yang peduli apakah ada orang yang terlihat familiar atau tidak. Dasar keparat!" Roland Pratama mengerutkan kening.
__ADS_1
"Eh? Tuan Muda, menurutku orang itu juga sangat familiar. Aku merasa pernah melihat punggung lurus itu sebelumnya." Kevin Dura menggaruk kepalanya, dia berusaha keras untuk mengingat sesuatu. "Punggung lurus? Apa kamu pikir hanya ada satu orang yang punya punggung lurus dan kekar seperti itu? Keparat ini, jika kamu memiliki sesuatu yang mau kamu katakan, pikirkan dengan baik, kalau tidak tahu, lebih baik diam saja!" Roland Pratama mengangkat tangan hendak mengancam Kevin Dura dengan pukulan palsu.
"Ah, Saya ingat. Siswa itu terlihat seperti pekerja konstruksi yang menendang Tuan Muda kemarin. Ya, punggung segitiga itu, dia pasti si pekerja!" Seok Ma berseru dan Kevin Dura juga ikut melakukannya, "Benar, itu dia! Tidak salah lagi, siswa tadi itu pasti dia, Tuan Muda!"
"Kalian yakin?" Roland Pratama menyeringai, dia menjadi bersemangat ketika mendengar penyerangnya ditemukan. Terlebih, penyerangnya ternyata anak cupu yang bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Dia bisa merundungnya dengan lebih baik. "Lalu, apa yang kalian tunggu!? Kejar dan bawa dia ke hadapanku!"
"Laksanakan!" Kevin Dura dan Seok Ma segera berlari ke arah yang dituju Ardian Prasetya.
Ardian Prasetya sedang dalam perjalanan ke kantor Kepala Sekolah untuk menyerahkan data pribadi dan dokumen lainnya. Angkara Adam telah membuat pengaturan yang diperlukan. Jadi, yang harus dilakukan Ardian Prasetya hanyalah melapor ke kantor.
Menyadari hal itu, Ardian Prasetya bersandar di pintu kantor Kepala Sekolah dan menunggu dengan sabar kedatangannya. "Hmm..." Suara merintih samar terdengar. Sejak Ardian Prasetya mulai berkultivasi menggunakan: Perintah Melawan Langit, pendengarannya menjadi sangat sensitif. Meskipun dia masih tidak dapat mendengar sesuatu jika terlalu jauh, dia masih dapat mendengar lebih banyak dari orang normal. Pada dasarnya dia berada di atas manusia normal, tetapi tidak dapat melampauinya.
Setelah menyadari bahwa suara rintihan itu berasal dari kantor Kepala Sekolah. Segera, Ardian Prasetya tersenyum, dia akhirnya menyadari apa yang sedang terjadi.
Tepat pukul tujuh pagi, pintu kantor Kepala Sekolah dibuka. Seorang wanita menawan berusia sekitar tiga puluh tahunan dengan hati-hati mengintip dari celah pintu. Ketika dia melihat Ardian Prasetya berdiri tepat di luar kantor, dia terkejut, "Kamu... Apa yang kamu lakukan di sini?" Dia bertanya dengan gugup.
__ADS_1
Ardian Prasetya tersenyum, dugaannya terjawab sudah. Reaksi anomali di wajah wanita itu sudah cukup sebagai bukti. "Saya di sini untuk melapor kepada Kepala Sekolah," jawab Ardian Prasetya, dia tidak mau repot-repot mengekspos hasil tebakannya. "Oh, Kepala Sekolah ada di dalam." Wanita itu berusaha sangat keras untuk tetap tenang dan berkata, "Kamu bisa masuk."
Ardian Prasetya mengangguk dan memasuki kantor. Ada seorang pria paruh baya berkepala botak duduk di meja, berusaha terlihat seperti seorang profesor yang berwibawa. Pemandangan itu membuat Ardian Prasetya ingin tertawa.
"Hm? Siapa? Apa urusanmu di sini?" Tang Ryuji, Kepala Sekolah, sedikit panik karena dia tidak mengharapkan seorang siswa datang untuk menemukannya tepat setelah kekasihnya pergi.
"Saya Ardian Prasetya. Saya di sini untuk melapor kepada Anda." Ardian Prasetya mengeluarkan dokumennya dan memberikannya kepada Kepala Sekolah Tang.
"Oh, pantas wajahmu tidak familiar. Jadi, kamu adalah Ardian Prasetya. Baik-baik." Kepala Sekolah Tang menganggukkan kepalanya, dia segera memahami situasinya. Ini adalah sesuatu yang diatur secara pribadi oleh seorang anggota direktur dewan sekolah. Jadi, tidak mungkin dia bisa melupakan hal seperti itu. Setelah dia menerima dokumen Ardian Prasetya, dia mulai menjalankan prosedur standar yang sudah ditentukan.
Dengan cepar, semuanya sudah selesai disetujui. Kepala Sekolah Tang berdiri dan berkata, "Mari, Bapak akan membawamu ke ruang kelas."
"Maaf atas masalah ini dan tolong bantuannya, Kepala Sekolah Tang." Ardian Prasetya meminta maaf dengan nada hormat. Ardian Prasetya tahu bahwa Kepala Sekolah memiliki otoritas yang sangat tinggi di sekolah. Jadi, agar urusannya di sekolah tetap lancar dan terjaga, sebaiknya dia tidak menyinggung Kepala Sekolah Tang.
"Haha, tenang saja Tuan Muda. Ini sesuatu yang harus aku lakukan." Demikian pula dengan Tang Ryuji, dia juga tidak berani bertindak terlalu mengekang, karena siswa ini diatur ke sekolah oleh seorang anggota dewan direksi dengan posisi tinggi. Jadi, dia harus memperlakukannya dengan baik.
__ADS_1