Pengawal Untuk Tuan Putri

Pengawal Untuk Tuan Putri
Bab 8 : SMAN Terbit Tenggara


__ADS_3

"Tuan Muda Prasetya, dalam permintaanku ini, mulai hari ini dan seterusnya Anda akan menjadi siswa SMAN. Arnold Ken akan mendaftarkanmu ke SMAN Terbit Tenggara, sebagai siswa tahun ke tiga di kelas ke lima. Kamu akan berada di kelas yang sama dengan putriku Angkara Elvira. Anda harus mengantarnya ke sekolah dan kembali ke rumah. Selain itu, kamu harus menjaganya dan mengawasi sekolahnya." Matanya sedikit gelisah ketika dia menarik napas untuk meneruskan kata-katanya.


"Dengan kata lain, kamu harus menemaninya dan menghabiskan waktu untuknya. Selama beberapa tahun terakhir, aku telah mengabaikan putriku dan seterusnya mungkin juga akan begitu. Aku merasa sangat bersalah. Jadi, aku ingin memiliki seseorang yang dapat dipercaya, dapat diandalkan, dapat menjaganya, dan dapat menolongnya. Dengan alasan inilah aku membawamu yang memenuhi semua kriteria itu dan kebetulan memiliki umur yang sama dengannya." Angkara Adam tersenyum, menunjukkan betapa seriusnya masalah ini baginya dan betapa tinggi harapannya pada kinerja Ardian Prasetya.


Ardian Prasetya yang mengetahui isi misinya sekarang terdiam. Kliennya mencari seseorang yang dapat dipercaya, dapat diandalkan, dan dapat menjaga putrinya. Dia menginginkan orang yang berkemampuan tinggi, tetapi juga yang bisa membuat putrinya nyaman. Dalam kasus ini, kliennya seperti sedang mencari suami terbaik untuk putrinya.


Hal ini membuat Ardian Prasetya yang berdarah dingin menjadi merinding. Dia dengan bodoh berpikir bahwa putri Tuan Angkara mungkin memiliki masalah fisiologis atau semacamnya, sehingga tidak ada yang mau menikahinya, dan Ardian Prasetya di sini untuk memainkan peran itu. Sehingga dalam hal ini dia tidak perlu khawatir dengan masalah uang karena menjadi menantu orang paling kaya di Distrik Timur. Sekarang semuanya tampak masuk akal di pikiran Ardian Prasetya.


"Tuan Muda Prasetya, Anda baik-baik saja?" Ketika Angkara Adam melihat ekspresi heran Ardian Prasetya, dia tahu apa yang ada dipikiran Ardian. "Saya pikir Penatua Prasetya sudah memberi tahu Anda detail misinya. Namun, sepertinya bukan itu masalahnya?" Dia bertanya.


"Tuan Angkara, tolong panggil aku sebagai Ardian saja. Canggung sekali jika dipanggil Tuan Muda." Ardian Prasetya tersenyum pahit dan berkata, "Anda benar, Tuan Angkara. Sejujurnya, Saya benar-benar tidak diberi tahu detail misi ini ketika Saya datang. Kakek hanya memberitahuku bahwa ini adalah misi yang sangat penting dan jika aku menyelesaikannya, aku bisa pensiun dan tidak perlu bekerja lagi. Lalu, karena pemulihan lukaku dari misi sebelumnya lebih lambat dari yang diperkirakan, aku tidak punya cukup waktu untuk memaksanya menjelaskan detail misi ini."


"Pensiun dan tidak perlu bekerja lagi?" Angkara Adam sedikit terkejut saat mendengar niat asli Ardian Prasetya pada misi ini. Namun, dalam hitungan detik hening, dia segera tertawa terbahak-bahak, "Hahahahaha, benar, Kakekmu mengatakan yang sebenarnya. Hadiah dari misi ini cukup untuk Anda habiskan seumur hidup Anda." Penatua Prasetya adalah orang licik yang pelit dan punya selera yang aneh, jika Angkara Adam berada di posisi Ardian, dia juga akan mencoba untuk melarikan diri. Dia dapat memahami mengapa Ardian Prasetya ingin pensiun di usianya yang masih sangatlah muda.

__ADS_1


"Kalau begitu, Tuan Angkara." Ardian Prasetya masih sangat bingung tentang spesifikasi pekerjaan ini. Apa dia benar-benar akan menjadi menantunya atau misi ini sama seperti pengawalan berkedok teman bermain. Jadi, dia bertanya, "Apa sebenarnya inti dari misi ini?"


"Hm? Saya pikir Saya sudah memberi tahu Anda sebelumnya. Tuan Muda Prasetya harus menemani putriku dan belajar dengannya. Tentu saja, Anda juga bertanggung jawab atas keselamatannya. Jangan biarkan siapapun menggertaknya." Jelas Angkara Adam.


"Tidak-tidak, yang Saya tanyakan adakah apakah Saya akan berperan sebagai semacam... Pengasuhnya?" Ardian Prasetya tidak dapat menemukan kata-kata yang lebih baik untuk menggambarkan pekerjaan itu.


"Pengasuh? Ya, benar. Itu cara lain untuk menjelaskan peran Anda!" Angkara Adam mengangguk. Sebelum Ardian Prasetya bisa mengatakan apa-apa, beberapa dokumen diberikan kepadanya oleh Arnold Ken. "Ini adalah informasi tentang SMAN Terbit Tenggara, Anda dapat membiasakan diri lebih mudah dengan itu."


Di masa lalu, Kakek Prasetya pernah menyuruhnya pergi untuk menyelamatkan penculikan satu orang, tetapi pada akhirnya, itu bukan satu orang, tapi ratusan orang yang diperbudak di dalam tambang.


Ardian mulai membuka dokumen SMAN Terbit Tenggara dan menggelengkan kepalanya. "Sudahlah. Gajinya bagus dan risikonya rendah. Bahkan jika aku harus menjadi antek Nona Muda bermasalah, aku akan menganggap ini sebagai liburan dari melihat pertumpahan darah. Ya, setelah aku pikirkan lagi, ini kondisi yang bagus untukku."


SMAN Terbit Tenggara mungkin disebut sebagai Sekolah Negeri, tetapi sebenarnya itu adalah Sekolah Swasta sejak beberapa tahun yang lalu. Nama itu tidak diubah saat dibeli oleh Angkara Murka Grub dan pada waktu ini Angkara Adam adalah salah satu dari tiga pemegang saham utama.

__ADS_1


Hal inilah yang menjadi alasan mengapa Ardian Prasetya, orang yang bahkan tidak masuk Sekolah Dasar, bisa didaftarkan ke sekolah itu dengan mudah. Ardian Prasetya mungkin belum pernah bersekolah sebelumnya, tetapi dari internet, dia tahu betapa sulitnya orang pedesaan untuk belajar di kota.


"Baik, Saya akan melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan pekerjaan ini." Ardian Prasetya mengangguk setelah dia membaca sekilas dokumen-dokumen itu.


"Putriku, Angkara Elvira mungkin gadis yang sedikit pemarah, tetapi dia bukan anak yang jahat." Angkara Adam tersenyum pahit saat dia menyebutkan ini. "Aku tahu kamu sangat berbakat. Aku harap kamu bisa bergaul dan menjadi dekat dengannya."


Ardian Prasetya mengangguk sekali lagi. Sejujurnya dia tidak cukup percaya diri bisa bergaul dengan Nona Muda ini dengan mudah. Dia tidak memiliki pacar dan tidak punya waktu untuk mencari pacar. Kebanyakan perempuan yang ia temui adalah gadis yang disekap dan diperbudak atau wanita yang ada lubang di tubuhnya.


Meskipun Ardian Prasetya merasa seperti itu, dia menyanggupinya, "Baik, Saya akan mencoba yang terbaik." Angkara Adam memperhatikan tekad untuk mengerjakan misi dengan kesungguhan di mata Ardian Prasetya. Dia tersenyum dan memanggil ke arah pintu, "Arnold Ken, kelas Elvira seharusnya sebentar lagi akan berakhir, mengapa kamu tidak membawa Tuan Muda Prasetya agar dia dapat membiasakan diri dengan lingkungan di sana."


"Tuan Angkara, tolong panggil Saya Ardian Prasetya saja. Ardian juga baik-baik saja. Rasanya sangat canggung jika Anda memanggil Saya Tuan Muda dan berbicara formal seperti ini." Ardian Prasetya memgeluh.


Angkara Adam tertegun sejenak. Dia memanggilnya Tuan Muda karena tahu siapa sebenarnya dirinya dan siapa sebenarnya Penatua Prasetya yang membesarkannya. Memanggilnya dengan normal rasanya kurang baik. Namun, dia juga berpikir secara terbuka. Sebagai Presdir Angkara Murka Grub, menghormati anak muda berwajah bodoh mungkin akan membuat kehebohan di mata orang yang tidak tahu siapa itu Ardian Prasetya. Ini akan membuat luka di kedua pihak, identitas Ardian akan menjadi masalah dan harga dirinya sebagai Presdir juga akan dipertanyakan. Jadi, dia akhirnya setuju.

__ADS_1


__ADS_2