
Mendengar cerita Angkara Elvira soal Ardian Prasetya yang melepaskan para penculik itu di saat mereka bisa saja membawa mereka ke kantor polisi, dia menetapkan hati untuk menahan Ardian Prasetya karena membiarkan para perampok itu pergi.
"Karena Polisi tidak membayarnya? Alasan yang tidak dapat diterima. Apa salahnya berbuat baik untuk masyarakat, Ardian Prasetya ini sangat tidak berbakti!" Namun, matanya sedikit melebar ketika Angkara Elvira menjelaskan proses pemikiran di balik tindakan Ardian Prasetya melepaskan mereka. Ardian Prasetya mengambil langkah yang benar, dia membuat suasana membeku kemudian menjaga suasana itu agar para perampok itu tetap tenang, itu merupakan rute terbaik untuk menjamin keselamatan mereka berdua.
Chen Sisi merinding ketika menyadari bahwa para perampok bersenjata ini melakukan seluruh perampokan bank hanya untuk menculik Angkara Elvira. Mereka berpura-pura merampok Bank, membuat keluarga Angkara tidak curiga, dalang yang merencanakan ini luar biasa. Kelompok Perampok Botak adalah satu-satunya petunjuk sekarang, dan mereka harus ditangkap terlebih dahulu.
"Syukurlah Nona, sejujurnya saat Saya mendengar Tuan Muda Prasetya tertembak, Saya berpikir bahwa dia sudah meninggal. Ketua tidak salah memercayainya, dengan keadaan seperti itu dia masih bisa menyelamatkanmu. Aku juga akan merasa nyaman dengan dia melindungimu." Arnold Ken akhirnya sepenuhnya mengerti keinginan Presdir Angkara untuk mempekerjakannya. Ardian Prasetya ini adalah seseorang yang sangat spesial.
Bibir Angkara Elvira berkedut saat dia menyiapkan jawaban selanjutnya, tetapi adegan Ardian Prasetya mengorbankan diri untuknya terus diputar berulang-ulang di kepalanya. Membuatnya gelisah. Rumah sakit tidak terlalu banyak bertanya, Chen Sisi hadir, dan mereka tidak mengambil risiko apa pun saat merawat pasien yang dibawa oleh polisi.
Ahli bedah utama sedang berbicara dengan seorang asisten saat Ardian Prasetya didorong ke ruang operasi. "Siapkan anestesi, Saya akan mengeluarkan peluru."
"Tidak, tanpa itu pun tidak masalah." Ardian Prasetya tidak menyukai anestesi, sekali atau dua kali baik-baik saja, tetapi terlalu banyak akan menyebabkan efek samping tertentu terjadi. Apalagi karena pekerjaannya, dia akan selalu terluka dan terluka. Tubuhnya sangat berharga dia tidak boleh menghancurkannya dulu sebelum gedung sembilan lantai dengan kolam renang di bagian atap ia bangun.
__ADS_1
Dokter bedah berhenti. Bocah itu dibawa masuk oleh beberapa orang yang kelihatannya cukup kaya, tentunya dia mampu membeli obat bius? Sarafnya padat di sekitar paha, dan itu akan sangat menyakitkan tanpa itu, meskipun prosedurnya cukup sederhana.
"Siswa, apa kamu yakin? Ini akan sangat sakit tanpa anestesi." Ahli bedah berusia tiga puluh tahunan itu memperingatkannya. "Tidak apa-apa, sungguh." Ardian Prasetya tersenyum, dia menanggapinya dengan sangat santai. "Ini bukan pertama kalinya, jangan khawatir. Saya tidak ingin mengalami efek samping akibat anestesi."
Dokter bedah berhenti sekali lagi sebelum mengangguk, pasien telah mengajukan permintaannya, tidak ada alasan untuk menentangnya. Bagaimanapun, operasi itu tidak mengancam jiwa. "Tahanlah sebenartar, tidak akan lama," kata ahli bedah sambil mulai memberikan arahan kepada asisten.
Ardian Prasetya bisa menahan rasa sakit yang sangat besar, tetapi itu tidak berarti dia tidak bisa merasakannya. Operasi seperti ini, bagaimanapun, berada dalam jangkauan toleransinya, terutama jika dibandingkan dengan kejatuhan dari puncak Gunung bertahun-tahun yang lalu. Hari itu, dia merasa sepertinya semua organnya telah tercabik, intensitas rasa sakitnya luar biasa.
"Bagaimana kamu mendapatkan luka ini? Membawa pistol ayahmu ke sekolah dan tidak sengaja menembakkannya ke kakimu sendiri?" Dokter Ronald Asrahan adalah seorang ahli bedah muda, dia genius dan sangat baik saat merawat pasiennya, tetapi kadang kata-katanya menyakitkan untuk di dengar.
"Di bank, ditembak oleh perampok." Ardian Prasetya, tentu saja, memahami niat ahli bedah itu, tetapi pikirannya tidak mudah teralihkan, dia telah melalui pelatihan yang membentengi kesadarannya sejak dia masih kecil. Dia harus selalu menjadi pengendali, tidak sebaliknya.
"Itu terdengar keren." Dokter Ronald Asrahan memuji, dia cukup terbuka kepada Ardian Prasetya setelah mengetahui identitasnya sebagai korban, bukan penjahat. "Haruskah aku menghubungi rumah sakit jiwa untukmu? Mentalmu pasti terluka."
__ADS_1
"Tidak perlu, ini bukan apa-apa." Ardian Prasetya tersenyum canggung. Dia cukup bingung dengan jalan berpikir Dokter satu ini. "Sebenarnya aku bisa mengelak, tetapi ada gadis di belakangku, jika aku bergerak, dia akan terluka . Jadi, aku memutuskan untuk menerimanya. Aku tahu itu gerakan yang sangat bodoh."
Ardian Prasetya telah banyak melihat laporan berita yang merinci peristiwa serupa, itu adalah kecenderungan umum bagi orang baik untuk dicap sebagai idiot, mereka yang dianggap pintar justru sebaliknya. Mereka selalu menjadi yang egois. Ardian Prasetya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengejek dirinya sendiri saat dia mengingat informasi itu.
"Hebat sekali, aku sangat kagum. Cobalah menulis cerita tentang itu, beri label diangkat dari kisah nyata. Aku yakin itu akan terkenal." Dokter Ronald Asrahan menanggapinya dengan kasar, tetapi Ardian Prasetya tidak mendapati emosi negatif apapun pada kata-katanya. Sebaliknya, itu penuh dengan niat murni. "Menurutku itu bukan langkah bodoh. Kamu adalah pahlawan bagi gadis itu. Aku yakin, dia akan menganggapmu sebagai cinta pada pandangan pertama untuknya? Cari dia setelah kakimu membaik."
Dokter itu terus saja memuntahkan omong kosong padanya. Namun, bukan berarti Ardian Prasetya tidak senang, dia justru mau meladeninya. "Siapa yang tahu dia jatuh cinta atau tidak. Mereka menyanderaku setelah itu." Ardian Prasetya tersenyum pahit. "Dia mungkin bahkan tidak tahu aku melindunginya. Maksudku, ada air terjun di matanya."
"Sayang sekali, tetapi itu bagus juga, kamu semakin terlihat seperti pahlawan. Tidak mengumbar jasa, tidak mengharap imbalan, itu luar biasa." Dokter Ronald Asrahan terkesan dengan Ardian Prasetya. Tubuh anak ini terbentuk dengan sempurna, sama persis seperti adik juniornya, kebetulan sekali mereka juga seumuran. "Siapa namamu tadi?" Dia bertanya.
"Aku Ardian Prasetya, tidakkah kamu memilikinya di file sana?" Ardian Prasetya tersenyum. "Aku tahu, aku hanya takut kamu kehilangan ingatanmu atau semacamnya setelah melakukan operasi." Operasi berjalan lancar. Ardian Prasetya tidak pernah berteriak atau bergerak-gerak, dan tidak butuh waktu lama bagi ahli bedah yang terkejut itu untuk menyelesaikan operasinya.
***
__ADS_1
Di lorong rumah sakit, Chen Sisi sedang berjalan ke ruangan Ardian Prasetya ketika dia bertemu Dokter Ronald Asrahan, yang tidak membuang waktu untuk memuji Ardian Prasetya. "Petugas Chen, aku sangat menyukai pasien kali ini, dia mengorbankan dirinya untuk orang lain, bukankah menurutmu dia benar-benar seorang panutan yang baik? Aku akan menangis jika kalian tidak memberinya medali keberanian."